Kiara yang malang

1231 Words
"Tante Rindaaaa." Kiara melepaskan genggaman Rama, lalu berlari memeluk tantenya meninggalkan Rama di depan gerbang kosan. Lelaki itu, tersenyum melihat moment Kiara melepas rindu dengan sang Tante. Pandangan Rama menyapu sekitar lingkungan kos Kiara, sederhana namun asri. "Mas, masuk!" Kiara mempersilahkan setelah menyadari, jika ia meninggalkan Rama di depan gerbang. Rama tersenyum dan menganggukan kepalanya, berjalan ke arah Kiara dan tantenya berdiri. "Loh, ini siapa, Kia? pacarmu?" tanya tante Rinda antusias. Akhirnya setelah sekian lama keponakannya itu, mau membuka hati untuk seseorang lagi. Setalah pristiwa memilukan beberapa tahun silam. "Bu-bukan tap- " "Saya Rama, Rama Purwadinata. Teman dekat Kiara." Rama mengulurkan tanganya memperkenalkan diri pada tante Rinda. "Ohh, temen, Tante kira pacar Kiara, saya Rinda tante Kiara dari kampung." sedikit kecewa, saat mendengar jika lelaki tampan di hadapannya itu bukanlah kekasih Kiara. Tapi tak apa, setidaknya keponakanya ini tidak menjadi antisosial seperti dulu, Kiara sudah terlihat lebih ceria lagi. "Ya tante, maunya sih, jadiin keponakan tante sebagai kekasih saya, tapi Kia nya nolak," kelakar Rama, membuat mata Kiara seolah mau keluar dari tempatnya. Ngajak pacaran aja gak pernah, malah bilang nolak. Emang aneh kalo orang kota, tuh. Gerutu Kiara dalam hatinya. "Ayo masuk, Tante, Mas, maaf ya kosan aku sederhana banget, kalo berkenan silakan masuk." Kia mempersilahkan. Lagi-lagi Rama terkejut, melihat kosan Kiara yang dari luar nampak biasa saja. Namun, saat masuk kedalam kamarnya sangat nyaman dan rapih, berbeda dengan kamar lainya. Kamar Kiara di lapisi wallpeper minimalis, ada kulkas, dan tv yang menempel di tembok, juga meja yang sedikit usang, diatasnya ada beberpa buku berjejer, laptop dan tab. Rama memerhatikan tempelan kertas di dekat meja dimana tertulis planing Kiara, impian liburanya, beberapa deadline tugas kuliah. Gadis yang penuh kejutan, ia terlihat sederhana dan biasa saja, namun ternyata didalamnya memiliki pribadi yang mengagumkan. Siapa yang menyangka, bahwa kamu memiliki Planning yang sangat detail. Rama membatin. Sedangkan Kia, gadis itu membuat minuman di dapur kecil di sudut kamar. "Silahkan, Tante, Mas Rama." Kia menyuguhkan teh manis dan bakpau isi coklat yang kemarin ia buat. "Wah, bakpau isi coklat ya? Tante kangen banget sama kue, dan makanan yang kamu buat Kia," ujar Tante Rinda. Rama berjalan mendekat dan duduk bersama kedua perempuan beda usia itu. "Memang Kia pinter masak tante?" tanya Rama, sembari menyeruput teh buatan Kia. "Ya jago, coba aja bakpaunya, nih," Tante Rinda menyodorkan sebuah bakpau pada Rama. "Minta Kia masak nanti ya, kamu bakal ketagihan deh, tante jamin," ucap tante Rinda, memuji Kiara. "Ah, Tante suka lebay tuh, Mas, aku aja di ajarin Tante, udah, ah, Kia mau mandi dulu ya!" ujar Kia, lalu berjalan menuju toilet yang letaknya di depan dapur mini. Tante tersenyum melihat Rama menikmati bakpau buatan Kia. "Enak?" "Iya tan, Tante bener, ini enak banget." "Kamu, ada rencana untuk mendekati Kiara? " pertanyaan Tante Rinda membuat Rama berenti mengunyah makananya. Tertegun dengan pertanyaan itu, dan mencoba menjawab meski Rama sendiri bingung harus menjawab apa, namun sebelum menjawab, Tante Rinda kembali berkata. "Jika ya, Tante harap kamu bisa menjaga Kiara dengan baik. Banyak hal buruk yang Kia alami selama hidupnya, ia terbuang, terabaikan, tak ada cinta untuknya selama hidup. Apalagi semenjak papahnya meninggal, semuanya semakin membuat Kia engan untuk hidup. Jadi, Tante minta sama kamu. Kalau kamu mencintainya, bahagiakan dia dengan semua cinta yang kamu miliki. Jika tidak, maka jangan berikan harapan. Jangan buat dia merasa terbuang dan tak di cintai lagi. Jangan buat jiwa Kiara yang kini hidup, kembali mati, sebab Tante tidak sanggup melihatnya," ucap Tante Rinda, sembari mengusap airmatanya, mengingat saat Kiara sempat mengalami depresi, mengurung diri di kamar dan enggan bertemu siapapun, ditambah makian dan u*****n dari sang Ibu yang harusnya menjadi tempat Kia berlindung. Namun, Rinda bersyukur sebab saat peristiwa itu terjadi, Rana menelfonya, sehingga ia bisa merawat dan menemani Kiara. Rama mendengarkan semua ucapan Tante Rinda, melihat betapa perempuan paruhbaya itu sangat sedih, menceritakan kemalangan hidup Kia selama ini. Membuat hati Rama gusar, tak menentu, ada rasa bersalah dan menyesal di hatinya. Namun, ia tak bisa berhenti. Ia menginginkan Kiara di hidupnya. Bagaimana jika ternyata aku juga, menjadi alasan Kia kembali terpuruk, dan sedih kembali?. Aku bisa saja membahagiakannya, dengan semua fasilitas yang kuberikan, namun seluruh cinta? apa aku bisa? aku menginginkanya tapi apakah aku juga benar mencintainya. Oh god. Ucap Rama dalam hatinya. Rama akui, ia lelaki b******k yang menginginkan Kiara di hidupnya. Namun tidak bisa memberikan kejelasan statusnya. Cintakah Rama pada Kiara, atau kah hanya sekedar ingin? Ting .... Where are you, Dad ...? Pesan masuk dari seseorang membuat Rama tersadar jika hari sudah semakin malam, dan ia melupakan janjinya. Aku masih ada beberapa pekerjaan sebentar lagi pulang, jangan tidur dulu ... Balas Rama, ia harus segera pulang, dan membelikan apa yang di janjikan untuk seseorang yang setiap malam menanti kepulanganya di rumah. Ceklekk ... Suara pintu terbuka, Kiara keluar dari dalam toilet bersamaan dengan aroma mulberry yang menguar hingga ke sudut ruangan, dengan rambut yang di bungkus handuk dan sudah mengenakan pakaian santai. Kiara duduk di antara tante Rinda dan Rama, tanganya terukur menggapai bakpau yang tadi ia hidangkan. "Lapar?" tanya Rama, saat melihat Kiara yang lahap memakan bakpaunya. "Lumayan lapar juga, hehe," jawab Kia, sembari mengelus perutnya yang rata. "Keluar makan yuk!, sekalian ajak Tante pasti belum makan," ajak Rama, namun tante Rinda menolak dengan alasan capek. Mencoba memberikan ruang lebih banyak pada Rama dan Kiara, berharap agar keponakanya itu memiliki sandaran hidup. "Kia pergi ya, tan."pamit Kia sembari mencium tangan sang tante, begitu pun Rama. Tak lama Kiara dan Rama sampai di sebuah caffe dekat kosan Kiara, mereka memesan beberapa makanan. Rama tersenyum melihat Kiara yang sepertinya tidak sungkan lagi terhadapnya. Dreeetttt.... dreettt Suara handphone Rama mengalihkan pandangan Kiara dari makananya, melihat Rama yang tak kunjung mengangkat panggilan itu. Membuat Kiara bingung, sebab biasanya lelaki di hadapnya itu tak pernah melewatkan satu panggilan pun. "Nggak di angkat?" akhirnya Kiara bersuara. "Gak apapa nanti aja," ucap Rama singkat. Dreeetttt ... handphone Rama berdering lagi, kali ini Kia penasaran dan mendongak melihat nama kontak si penelfon ... Deg ... My Wife calling ... Pandangan Kiara langsung tertuju pada manik mata Rama yang kini menatap Kiara juga. Ting ... tak lama sebuah notifikasi chat masuk, kia tak sengaja membacanya. Syg, cpt pulang, aku mau cobain lingerinya.... Uhuk... Kiara tersedak setelah membaca notifikasi itu, tanganya langsung menyambar gelas dan meneguk isinya hingga tandas. "Kia, maaf aku gak bermaksu- " "Kita pulang sekarang!" Kia bangun dari duduknya lalu mulai berjalan meninggalkan meja. Tak ada pembelaan dari Rama, sebab memang itulah yang terjadi, dijelaskan pun hanya akan menambah rumit sebab Kiara sedang dalam keadaan kesal. Dalama perjalanan yang terasa sangat hening, Rama mencoba membuka percakapan. Namun Kiara tak meresponya. "Besok, Mas jemput," ucap Rama, saat Kia hendak turun. "Gak perlu!" tolak Kia, lalu bergegas turun. Kiara merasa malu dengan dirinya sendiri, kenapa ia bisa berbuat seperti itu terhadap wanita lain? Sebelumnya ia tak menyangka akan seperti ini, namun panggilan dan chat dari istri Rama tadi menyadarkan gadis itu, jika ia bukan siapa-siapa, Rama adalah milik orang lain. Dia tak lebih dari seorang pemaian wanita, bahkan istrinya yang sudah pasti jauh lebih baik darinya saja, masih membuat Rama berpaling ke wanita lain. Guman Kiara dalam hatinya Huftt.... Rama menghela napas, sembari memperhatikan punggung seseorng yang berjalan dengan menghentak kan sedikit kakinya. "Ahh... " Rama memukul stir mobilnya, ia menyesal tak mampu menolak rayuan wanita yang telah sah menjadi istrinya hampir setahun ini. Kia, andai kamu hadir sebelum kedatangan dia.... sesal Rama dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD