Tante Rinda, adalah adik bungsu Mamah. Selain Papah, Tante lah yang menyayangi ku, sejak kecil aku selalu di urus oleh Tante, sebab Mamah enggan mengurus semua keperluan ku.
Tante Rinda bahkan seperti Mamah ku sendiri, namun saat aku kelas 5 SD, Tante harus pindah ke Jogjakarta sebab Om Dani, suami dari Tante Rinda pindah tugas.
Saat pindah Tante mengajak ku untuk pindah juga bersamanya, namun aku enggan ikut sebab aku tak mau berjauhan dengan Papah dan Mamah. Meski ia tak pernah menganggap ku anaknya, tapi aku menyayanginya. Juga dua adik kembarku Rana dan Rani bisa menangis kalau aku pergi. Meski terkadang sifat mereka menjengkelkan, namun mereka menggemaskan.
Seperti halnya Papah dan Tante Rinda, Rana dan Rani pun menyayangi ku, mereka lah yang selalu membantu Papah protes, jika aku tak di ajak liburan atau apapun.
Entah lah, hanya Mamah yang seolah membenci ku, apalagi saat Papah meninggal. Mamah memaki, memarahi dan memukulku, dan selalu berteriak 'Pembunuh'.
Untung lah ada tante Rinda dan Om Dani yang membela, dan menenangkan ku. Meski Mamah masih saja membeci dan terus menyalahkan ku.
Untuk kedua kalinya, Tante Rinda menawari ku untuk tinggal bersamanya di Jogjakarta. Sebab Tante tau, Mamah pasti tidak akan senang dengan keberadaan aku di rumah. Namun aku menolak, tak tega meninggalkan mamah dan si kembar, beliau pasti kerepotan mengurus si Kembar.
Keadaan semakin memburuk saat depcollector datang ke rumah, ternyata Papah meninggal kan hutang membuat Mamah marah bukan main, lagi-lagi menyalahkan semuanya pada ku.
Mamah yang belum terbiasa untuk hidup sederhana semenjak Papah pergi, berimbas pada tabungan yang semakin menipis. Akhirnya rumah kami di jual, dan membeli rumah kecil di pinggiran kota.
Sekolah kami pun pindah, sebab Mamah tidak mampu membiayai pendidikan kami di kota.
Hingga saat kenaikan kelas 3 SMA, Mamah menyuruh ku berhenti sekolah, kata mamah aku tak perlu sekolah. Sebab, uang peninggalan Papah hanya cukup untuk membiayai ke dua adik ku.
Lagi-lagi tante Rinda lah yang membantu membiayai sekolah ku hingga lulus SMA, membuat Mamah marah pada adiknya sendiri.
Masih lekat dalam ingatan ku, bagaimana pertengkaran Mamah dan Tante Rinda yang menegangkan. Sebelumnya, aku tak pernah melihat mereka bertengkar seperti ini. Apalagi hanya karna aku.
"Sudahlah, Mbak. Dia itu juga kan anak mu, sama seperti Rana dan Rani," ujar Tante Rinda.
"Kamu jangan pura-pura lupa, Rin, tentang apa yang terjadi tujuh belas tahun lalu," teriak Mamah pada Tante Rinda.
"Dia itu-"
"Mbakk, cukup!" Tante Rinda memotong ucapan Mamah saat menyadari kehadiran ku.
"Lagi pula aku dan Mas Dani yang akan membiayai sekolah Kiara hingga lulus. Mbak enggak perlu khawatir, " tukas Tante Rinda. Sedangkan aku hanya bisa terdiam mendengar perdebatan mereka.
Ingin rasanya aku tau apa alasan Mamah sangat membenci ku.
Namun, setiap kali aku bertanya, beliau justru menatap ku sinis. Lalu, berujar "Karna aku sangat membenci mu."
Aku sangat menyayangi Tante Rinda, aku akan berusaha membanggakan mereka.
Terimakasih, Tante Rinda