inseden kecil

950 Words
"Baik, semua laporan sudah saya terima untuk saat ini saya rasa cukup. Saya harap untuk acara pucak nanti tidak ada masalah teknis atau apapun. Saya sangat mengharap kan kerjasama kalian, terimakasih!" ujar Pak Ari, mengakhiri meeting nya sore itu. Waktu menunjukan pukul empat sore, dan tentunya semua yang ada di ruang meeting pasti lembur karna banyak hal yang harus di persiapkan, menjelang acara ulang tahun perusahaan, di tambah project baru yang hendak berjalan. "Oh ya, Kia nanti tempat kerja kamu pindah lagi ke samping Risa, " titah Pak Ari sebelum keluar ruangan. "Yeyy," Risa gembira karana ia akan bekerja dengan Kiara lagi. "Hmm, apa hebatnya sih lo, sampe harus pindah sana sini, " ujar Mira, dengan nada kesal, membuat senyumam Kiara pudar. "Kamu harusnya sudah tau jawabanya kan? kalau kamu kompeten, tentu kamu akan mendapatkan kesempatan seperti Kiara. Jaga bicara kamu, sebelum saya adukan pada Pak Ari." Risa menjawab dengan tegas. "Iya, kalo kau protes sana aja ke Pak Ari, lah, lo dari dulu yang di urusin gossip doang, tuh, junior lo aja udah pada dapet apresiasi, lha lo apaan? " sambung Zahra membela teman baiknya itu. "Apaan lo, gue bisa kalo disini semua pada jujur, tanpamemanfaatkan kedekatan dengan para atasan, " jawab Mira, yang langsung berdiri dari duduknya saat mendengar ucapan Zahra. Jelas ia tak terima atas tuduhan Zahra itu, bagaimana pun ia adalah senior di divisi pemasaran. "So, secara nggak langsung kamu bilang kita semua disini kerja nggak bener, dan menggangap atasan disini enggak fair? Kalo gitu harusnya kamu dong yang dapet jabatan lebih tinggi dari kita," tukas Risa, dengan wajah sinis. "Maksud lo?" "Apa perlu gue kasih tau satu ruangan ini. Kalo lo ada affair sam-" "Kurang ajar lo, Ris." Mira memotong ucapan Risa. Ia lupa kalau Risa tau kartu As nya. "Sudah, sudah, Mira lebih baik kamu lanjut kerja. Saya nggak mau dapet complaint di divisi kita, kerjakan tugas masing-masing sesuai yang di insteruksikan Pak Ari," ucapan Satria, melerai pertikaian itu. "Maaf, Bu Risa atas keributan kecil ini. Untuk Kia, saya harap kamu bisa mewakili divisi kita dengan baik, " sambung Satria, dengan senyumnya. Risa, Kiara dan Zahra mengangguk paham dan bersiap keluar dari ruangan. Sedangkan Mira melangkah sambil menghentakkan kakinya kesal. Awas aja lo Kia, sialan banget lo ngerebut posisi gue. Mira membatin, lalu mempercepat langkah kakinya hingga. Srett, Pranggg.... Prakk!!! "Awwwww... Panasss," teriak Kiara, spontan saat tubuhnya menabrak nampan berisi kopi panas yang di bawa seorang OB. "Gila lo ya, Mir, " ucap Zahra, mendorong Mira, sedangkan Risa yang berada di dekat Kiara segera membantunya berdiri. "Kiara, apa-apaan ini? " ujar Pak Ricco, yang hendak masuk ke dalam ruangan, terhenti saat melihat Kiara yang kesakitan, di susul Rama yang penasaran dengan keributan di luar. "Kiaa, hei, kenapa bisa seperti ini?" tanya Rama, sembari membuka jasnya, lalu memakaikannya pada tubuh Kiara yang sudah basah terkena kopi panas. "Ric, telfon dokter, kita keruangan lo sekarang! Ari, lo urus semua karyawan lo itu, " ucap Rama, sebelum memasuki lift menuju ruangan Ricco "Sayang, tahan sebentar ya nanti dokter dateng, " ucap Rama, khawatir melihat kulit Kiara yang memerah, dan merintih kesakitan. Tangannya membelai lembut kepala dan pipi Kiara. "Sakit mas, hiks, panas, hiks, hiks, " rintih Kiara, menahan rasa sakitnya. "Ya sayang. Ric, cepetan mana dokter lo lama banget, sial. Gue juga nggak mau tau, lo harus cari tau kenapa Kiara bisa gini." Rama sangat marah, melihat Kiara terluka seperti ini, dan ia yakin ini bukan karna faktor ketidak sengajaan karna Rama melihat Zahra memarahi salah satu staff. "Udah gue urus, " jawab Ari, yang baru saja masuk ruangan Ricco, menarik atensi semua orang yang ada di ruangan itu "si Mira biang keladinya, senior di divisi Kiara," tambah Ari. Rama tertegun saat mendengar nama Mira, sialan. "Gue nggak perduli, mau dia jadi apaan yang jelas, lo harus kasih dia sanksi atas perbuatanya! " titah Rama, pada Ari yang sangat marah atas ulah Mira. "Suruh Mira ke ruangan saya sekarang! atau serahkan surat pengunduran diri," ucap Ricco, yang terlihat sedang menelfon seseorang. "Bagus, Ric. Thanks, " ucap Rama. "Gue cuma ngelakuin, apa yang harusnya gue lakuin sebagai atasan, " jawab Ricco singkat, sembari mengirim pesan pada seseorang. "Cari tahu tentang salah satu karyawan saya yang bernama Mira Andini, segera!" "Baik, Pak" Ricco menaikan sedikit sudut bibirnya. Ia tidak akan melepaskan siapapun yang sudah mengacaukan ketenanganya. Mira, tunggu saja nanti. ucap Ricco dalam hatinya. Mira masuk ke dalam ruangan saat dokter sedang memeriksa keadaan Kiara. "Kamu tau, kenapa saya panggil? " ucap Ricco, membuat Mira diam tertunduk. "Hmm, sudah lah kamu keluar dari sini. Ari kamu urus dia, setelah Kiara membaik, suruh dia meminta maaf langsung.Jika tidak mau pecat saja dia!" Mata Mira membelalak mendengar ucapan CEO nya ini. Sialan lo Kiara, siapa lo sampe ketiga bos ini belain lo. gue yakin pasti ada sesuatu. gerutu Mira dalam hatinya. "Kamu, keluar dari sini sekarang dan tunggu sampai saya memanggil kamu, " ucap Ari geram, pada Mira. Akhirnya, Mira keluar dari ruangan itu dengan wajah kesal. Ia sangat membenci Kiara, sebab dialah semuanya berantakan, hancur sudah harga diri nya sebagai marketing senior. Apalagi berkat mulut Zahra yang ember itu, semua karyawan jadi mengetahui peristiwa tadi. Awas lo, Kia. ucap Mira dengan amarah yang membara, lalu melangkah menuju ruanganya. "Gimana dok?" tanya Rama. "Untunglah lukanya tidak terlalu parah, saya sudah resep kan obat nanti kasih dia istrahat satu hari, dan ada obat salepnya nanti pakai di area yang luka, " ucap dokter, sembari memberikan kertas berisi resep obat. Setelah dokter keluar dari ruangan, Rama menuntun Kiara menuju toilet untuk membersihkan badan, dan berganti pakaian. Tanpa mereka tahu, ada sepasang mata yang memperhatikan dengan tajam, sedang berusaha menahan gejolak hatinya. Suatu saat nanti, di akhirnya kamu hanya akan menjadi milik ku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD