Amarah Mira

1197 Words
Kiara keluar dari toilet, dengan kemeja putih kebesaran milik Ricco yang memang selalu tersedia di ruanganya, berjaga-jaga jika ada meeting atau acara, sehingga tidak perlu pulang ke rumah untuk sekedar ganti baju. "Sayang," Rama menghampiri Kiara, lalu membenarkan letak kerah kemeja itu. Sedang dari kejauhan, sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Kia, menaikan simpul bibirnya. "Kegedean, Mas," ujar Kiara, pada Rama yang sedang menuntunnya duduk. "Ri, lu suruh tuh staff yang tadi ke sini, dan minta maaf sama Kiara, sekarang!" titah Rama, sedangkan Ari hanya menuruti sahabatnya itu yang sedang bucin. "Hmm, " jawab Ari, sembari menelfon divisi marketing. "Mas, udalah lah nggak usah di perpanjang, mungkin ini juga karna aku yang kurang hati-hati, " ucap Kiara, pada Rama. "Kamu tenang aja, Mas yang urus, oke," jawab Rama, sembari mengusap lembut tangan Kiara yang bertengger pada lengannya. Lima belas menit setelah Ari meminta Satria untuk datang bersama Mira ke ruang CEO, kini kedua orang tersebut duduk berhadapan dengan Kia dan Rama. "Saya minta maaf, atas kejadian yang menimpa Kiara, saya juga tidak menyangka kalau hal ini di sebabkan oleh Mira, salah satu staff divisi marketing juga," ucap Satria gusar, entah bagaimana nasibnya setelah ini. Ia tak akan sanggup melawan amarah CEO nya yang sudah mengingatkan agar menhaga gadis itu dengan baik. Dasar perawan tua! maki Satria dalam hatinya, sangat jengkel dengan ulah Miara yang selalu mencari masalah. "Saya nggak perlu penjelasan kamu!" Rama yang geram melihat tingkah Mira yang seolah tak bersalah, memotong penjelasan Satria. "Baik lah, Mira sebaiknya kamu minta maaf," titiah Satria pada Mira. "Ck," Mira berdecak dan tersenyum masam. "saya tidak perlu meminta maaf sama anak baru ini, dia yang tidak hati-hati sehingga menabrak OB, terlalu asik bergossip deng-" BRAKKK. Semua orang yang ada di ruangan terjungkit ketika Rama memukul meja di hadapanya. "Mas," Kiara menggelengkan kepala mengisyaratkan agar Rama tidak perlu melanjutkan perdebatan ini, namun Rama hanya melirik dengan ekor matanya tanpa menghiraukan peringatan Kiara. "KAMU PIKIR KAMU SIAPA BISA BICARA SEPERTI ITU, HAH!! " kali Ini Rama sudah sangat geram dengan Mira. "Ari, lu pecat dia sekarang kalo dia nggak mau minta maaf pada Kiara, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi," Rama bangun dari duduknya, menggandeng Kiara keluar ruangan. Ia khawatir tak bisa menguasai emosinya, dan malah akan membuat Kiaranya takut. "Saya, TIDAK akan pernah meminta maaf dengan perempuan murahan seperti dia," ucap Mira sembari menunjuk Kiara yang berada di samping Rama. "Seorang staff baru yang bisa begitu mudah mendapat kepercayaan bos. Saya yakin semua orang juga bertanya-tanya siapa, Kiara? ada hubungan apa dengan para atasan," sambung Mira, mencecar pada Kiara yang saat ini hendak melangkah keluar ruangan, genggaman tangan Kiara semakin erat pada Rama, mengisyaratkan jika wanita disampingnya ini sangat ketakutan. "Ternyata benar dugaan ku, Kiara simpanan salah satu bos di sini," ucapan Mira, berhasil membuat Kiara tertegun, airmata yang tadinya tertahan akhirnya luruh juga. Semua orang di ruangan itu terkejut mendengar tuduhan Mira. Rama melapas genggaman tangannya, berjalan cepat ke hadapan Mira. "KAMU!! " Rama mengacungkan telunjuknya, dengan geram di hadapan wajah Mira. "ARI, PECAATT DIA, RIC, sorry kali ini gue lancang untuk ambil keputusan ini," ucap Rama, menalihkan pandanganya pada Ricco, bukan untuk meminta persetujuan, bagaimanapun ia sedang ada di ruangan Ricco, dan Rama menghargainya. "Oh, sehebat apa Kiara sampai harus di bela seperti ini? bahkan saya di sini sudah 5 tahun, tidak ada yang membela saya? HAH? ini tidak adil!!!" ucap Mira bersungut-sungut, nafasnya naik turun meluapkan semua amarahnya. "Mas, sudah ayoo!" Kiara menggandeng tangan Rama, namun Rama menggelengkan kepalanya. "Ini harus di selesaikan, Kia, " ucap Rama, tangan kanannya terulur membelai pipi Kiara menghapus sisa airmata yang sempat menetes. "Hahaha... Lihat, Satria kamu lihat? ini alasan mereka membela w************n ini," tukas Mira, sembari menunjuk Kiara dengan jari telunjuknya. Satria yang sedari tadi diam, memperhatikan semuanya sebab ia pun bingung harus berbuat seperti apa, kini melangkah menghampiri Mira yang sepertinya sudah tak terkendali. "Awwww," Pekik Kiara saat tangan Mira menjambak rambutnya, sontak membuat Satria menarik tangan Mira dan Rama berusaha melepas jamabakan dari rambut Kiara. "STOPP !!!, apa-apaan kalian semua," teriakan Ricco, spontan membuat Mira melepaskan tanganya dari rambut Kiara. "Satria, bawa staff kamu, dan kamu Rama bawa Kiara pergi, saya tidak mau ada pertikaian di ruangan ini. Hargai saya sebagai CEO kalian. Untuk kamu Mira, saya tekankan jaga sikap kamu. Jika kamu tidak berkenan dengan aturan di perusahaan ini, silahkan keluar. Ari, kamu urus Mira beri dia sanksi atas perbuatannya," ucap Ricco tegas. Amarahnya tidak bisa dibendung lagi, saat melihat Mira dengan kejam melukai Kiara dihadapnya. Oh tentu, Ricco tak akan membiarkan siapapun lolos dengan mudah, setelah menyakiti Kiara. Satria segera menarik tangan Mira keluar ruangan CEO, tidak mau terkena amukan sang CEO nya, ia masih sayang pekerjaannya. Sedangkan Kiara yang kini ada di dalam mobil Rama masih terisak, ia memikirkan ucapan Mira yang memang benar. Ia seperti simpanan, ia murahan, bahkan mungkin Rama ikut campur dalam pekerjaanya, hingga ia bisa di percaya kembali untuk terlibat project baru. "Minum dulu." Rama mengulur kan sebotol air mineral, Kiara meminumnya perlahan lalu menyerahkannya kembali pada Rama. "Gimana, udah tenang? " tanya Rama lembut, dengan kedua telapak tangannya menempel pada pipi Kiara, kini mata mereka saling menatap, terlihat jelas betapa terlukanya Kiara mendapat cacian dan perlakuan kasar dari Mira. Kiara menundukan sedikit wajahnya, airmatanya menetes lagi, namun segera Rama hapus dengan ibujari yang masih bertengger di pipi Kiara. "Akuu, hiks, aku mau pulang." akhirnya hanya kalimat itu yang bisa Kiara ucapkan, mendengar cacian Mira membuat Kiara merasa hina dan mengingat masa lalunya yang kelam. Semuanya berputar dalam pikirannya membuat kepala Kiara menjadi sakit. "Oke, Kita pulang!" ucap Rama, mulai melajukan mobilnya keluar dari basement. Sebenarnya Kia masih kesal dengan Rama, sejak pristiwa di caffe semalam. Namun karna keadaanya seperti ini, usahanya untuk menghindari Rama dari pagi tadi berakhir gagal, sebab ia harus berada dalam satu mobil dengan Rama yang mengantarkannya pulang ke kosan. Kia memejamkan matanya, rasanya lelah sekali dengan semua ini, apa salahnya? hingga dimana pun ia selalu di benci dan hina. Papah, Kia lelah, Kia capek, Kia mau ikut papah aja... Airmata Kiara mengalir dari sudut mata yang terpejam itu, membuat hati Rama terenyuh, ia berjanji akan membuat Mira menyesal telah melakukan ini. Awas kamu Mira, berani-beraninya kamu berbuat seperti ini. **** Sedangkan di ruangan Direktur, terjadi perdebatan antara dua orang. "Kamu gila, Mira. Saya tidak mungkin tiba-tiba mengangkat kamu sebagai kepala divisi, bahkan manager, terlepas dari kontribusi kamu yang sangat kurang, bahkan tidak kompeten. Kamu juga sudah mendapat warning dari Pak Ricco!" bentak pria paruhbaya itu. "Aku nggak mau tau, terus untuk apa aku berhubungan sama kamu. Kalo kaya gini aja kamu nggak bisa bantu!" teriak Mira, tak kalah garang. Brakk "Jangan kurang ajar kamu, Mira. Saya sudah penuhi semua yang kamu mau, jadi jangan meminta lebih dari itu. Toh, kalau kamu kompeten, tentu mudah saja mendapatkan posisi yang bagus di perusahaan ini!" ucapnya dengan nada mengejek. Memang benar, jika saja Mira bisa bekerja dengan baik, atau setidaknya apa yang dikerjakan wanita itu bisa selesai dengan baik tanpa masalah. Mungkin Mira mendapat kesempatan menjadi kepala divisi. Andai saja dia tidak mendekati para petinggu perusahaan mungkin sudah lama ia dipecat karna kebodohannya. Mira yang kesal mendengar jawaban itu, langsung keluar, lalu membuka dan menutup pintu dengan kasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD