Mengurung Diri

1017 Words
Setelah mengantarkan Kiara pulang ke kosnya, Rama segera pergi. Bukanya ia tak ingin menemani Kiara, tapi gadis itu menolak, beralasan ingin sendiri dulu. Rama pun mencoba memahami Kiara, yang mungkin masih syok atas peristiwa tadi. "Jam 7 kita bertemu di aparterment kamu." Rama mengirimkan pesan pada seseorang, setelahnya ia langsung kembali menuju kantor. Lalu segera menyelesaikan pekerjaannya, dan pergi menemui seseorang malam nanti. Sedangkan Kiara, gadis itu duduk lesu di kursi menatap wajahnya, pada cermin kecil yang bertengger di depanya. Memperhatikan wajahnya sendiri yang kacau, kusut, memerah, dengan airmata yang mulai mengalir lagi. Kia menangkupkan wajahnya, menangisi jalan hidupnya sendiri, menyalahkan semua hal yang terjadi pada dirinya. Ya aku hina, aku simpanan orang, aku gadis yang tak bermartabat. Lalu apa lagi? teriaknya dalam hati memaki dirinya sendiri, dengan tangan kanan yang mengepal dan memukul sisi meja belajarnya. Mata Kiara menyalak tajam, memperlihatkan wajah sendunya yang sedang mencoba terlihat kuat. Namun akhirnya tetap menangis kembali. Dreeettt... dreeett... Handphone Kia berdering, entah sudah berapa puluh panggilan masuk dari teman kantornya. Bahkan dari Ari dan Satria. Rama pun mencoba menelfonya, setelah menerima laporan dari Ari, jika Kia tidak bisa di hubungi. Tapi tetap tak di angkat juga. Mungkin dia sedang istirahat. begitu asumsi mereka pada Kiara yang tak menghiraukan panggilan mereka. **** Halo Pak, Mbak Kia, belum keluar dari kamarnya. Tadi saya cek depan kamarnya, cuma ada suara rintihan orang nangis. Tapi sekarang udah engga. Apa Bapak mau saya cek ke dalam? Lapor seseorang pada lelaki yang kini tangah bersandar di kursi kerjanya. Tangan kanannya terulur memijat ruang di antara matanya. Tidak perlu, cukup lihat dari jauh saja. ujarnya seraya menutup telfon, lalu meletakanya di atas meja kerja. Kiara, ucapnya lirih sembari menatap foto seorang anak yang memeluk ayahnya erat, dengan latar sebuah situs candi. Mengingat awal pertemuan mereka, yang berujung pada sebuah pristiwa buruk yang menimpa gadis itu. Membuatnya harus merubah semua rencana. Sejak saat itu ia berjanji tak akan melepaskan Kiara dari hidupnya. **** "Ris, kita jenguk, Kiara, yuk, sambil bawa makan pasti dia belum makan," ajak Zahra, gadis mungil itu sangat prihatin dan iba atas kejadian yang menimpa Kiara siang tadi. "Hayu, tapi kita ada lembur. Jam 7 an aja kita kesana. Yuk! cepet ngerjain ini semua biar kelar," jawab Risa, menyetujui ajakan Zahra. "Oke, kerjaan gue bentar lagi kelar. Nanti gue bantu ngerjain yang punya Kiara," sambung Zahra, lalu di angguki oleh Risa. Ceklek. "Ada apa?" Tanya Ari, melihat Zahra yang berada di meja Risa, saat ia keluar dari ruanganya. "Engga Pak, ini aku ngajak Risa jenguk Kia," jawab Zahra. "Bagus, kalian jenguk dia, kasian lagi sakit dan enggak ada keluarga di sini. Nanti kalau sempat, saya nyusul kesana ya. Bagaimana pun, dia sakit seperti itu di sebab kan oleh salah satu staff kita, dan terjadi di lingkungan kerja. Kalau bisa ajak Satria, dia lebih bertanggung jawab atas hal ini, " ucap Ari, yang di respon oleh kedua perempuan itu. Sedangkan Rama, lelaki itu sedang sibuk dengan segala urusan kantornya hingga tak melihat ada chat masuk. **** "Yuk, Ra, kamu udah kelar belum?" tanya Risa, pada Zahra yang kini bekerja di sebelah mejanya. Sebab mengerjakan tugas milik Kiara. "Bentar lagi, tinggal ubah format dan save aja. Bay the way, kita beliin Kia makan apa ya?" tanya Zahra. "Sop aja kali ya seger, deket kantor ada kedai yang jual, " saran Risa, lalu mereka segera bersiap, dan pergi menuju kosan Kiara setelah membeli sop dan beberpa makanan ringan, mereka berencana menginap menemani Kia. "Parkir disini aja Ris, biasanya depan ruko ini, " ucap Zahra memberi arahan. Mereka turun dari mobil dan berjalan menyusuri gang menuju kosan. Namun sesampainya disana, mereka di herankan dengan beberapa orang yang berdiri di depan kamar Kia, dan seorang ibu paruhbaya mengetuk kamarnya keras dengan wajah khawatir. "Neng Kia, keluar neng, ya Allah gusti." begitu ucap si ibu yang di ketahui adalah ibu pemilik kos. "Bu kenapa, bu?" ucap Zahra yang tak kalah panik. "Neng berdua temenya? aduh tulung, ini di bujuk Mbak Kia biar mau keluar. Soalnya tadi denger teriak marah-marah, saya takut terjadi apa-apa, " jelas Ibu Darmi-pemilik Kos, dengan wajah khawatir. "Kia, ini Gue Risa ama Zahra, please lo keluar, cerita sama kita ada apa?" Risa menggedor pintu kamar Kia, namun hening. Gubakkk... Prakk... Terdengar suara pecahan barang dari dalam kamar, membuat penghuni kos lainya menjadi panik, begitupun Risa dan Zahra. Sedangkan satu jam sebelumnya, di sebuah aparterment, dua orang manusia berlawan jenis saling menikmati dan berbalas ciuman. Tanpa disadari, jika adegan itu terekam oleh kamera tersembunyi yang merekam semua aktivitas mereka. Ya, lelaki yang ada di vidio itu ialah Rama, dan seorang perempuan yang siang tadi membuat onar di kantor. Mira, perempuan itu mengambil kesempatan ini, dan mengirimkan vidionya pada Kiara di iringi dengan kata-kata yang menyakitkan. Lihatlah gadis bodoh! Rama bahkan lebih senang bersama ku, saat ini dia bahkan tak menjenguk mu atau menghawatirkan mu kan? Asal kamu tau saja, dia tidak benar-benar marah dengan kejadian siang tadi. Tunggu saja, sampai Rama bosan dan kamu hanya akan menjadi sampah baginya. Setelah melihat vidio dan membaca pesan itu, Kiara melempar handphonenya di susul dengan suara ketukan Risa dan beberpa orang yang sepertinya khawatir. "Sialann, kalian semua, " teriak Kiara, dari dalam kamarnya tak lama setelah melemparkan handphonenya. Ia bukan marah lantaran Rama bersama wanita lain, tapi merasa dibodohi oleh lelaki itu yang terlihat baik dan membelanya. Tapi ternyata semua hanyalah tipuan. Membuat gadis itu merasa sendirian lagi, dan tak memiliki siapapun untuk melindunginya. "Kia, buka dulu pintunya biarin gue masuk, jangan buat kita khawatir Kia," bujuk Risa, yang khawatir dengan keadaan Kiara, bahkan sampai terdengar u*****n dari mulut gadis itu, sudah pasti terjadi sesuatu di dalam sana. ****** Cari tau apa yang membuat Kia hingga seperti itu, pasti ada penyebab lainya. Balas Pria itu dengan gelisah, sesaat setelah menerima pesan dari orang suruhannya. Mengetukkan jemarinya di atas meja, sembari memikirkan cara agar ia bisa pergi menemui Kiara, dan memastikan kondisinya langsung. Sedangkan di depan pagar kost-an, seseorang tersenyum sinis. "Ternyata tidak hanya hidup mu yang malang, Hermawan. Anak mu pun sama, aku tau tujuannya datang kesini. Kita lihat saja nanti," ujar lelaki paruhbaya yang tak lain adalah Wira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD