Kiara sempat tertidur, sebelum akhirnya terbangun saat menerima telfon dari adiknya-Rana.
Namun bukan Rana yang berbicara di ujung sana, melainkan Ibunya yang dengan tak berprasaan memaki Kiara tanpa jeda.
"Heh, dimana kamu anak sialan! pulang sekarang! jangan buat saya tambah malu, lagian apa sih yang kamu cari? asal kamu tau dia itu kaya, kapan lagi gadis seperti kamu bisa mendapatkan orang seperti dia, dan inget ya mungkin selain dia gak ada yang mau sama kamu setelah tau apa yang terjadi sama kamu Anggep aja ini balas budi kamu. Pulang, saya tunggu kamu!" ucap Jasmin-Ibu Kiara. Meski sudah di peringati oleh Ricco agar tak mengganggu Kiara nyatanya, wanita yang mengaku sebagai Ibu dari Kiara justru terus mangganggunya dan menyuruh gadis itu pulang. Tentunya agar Kiara segera menikah dengan lelaki kaya yang tak lain adalah Ricco.
Kiara kembali tergugu dalam tangisnya, belum juga dirinya tenang atas peristiwa siang tadi, sang Ibu malah menambah lukanya. Mengingatkan betapa hina dirinya sebagai seorang perempuan.
Kia mengerang, merasakan nyeri di dadanya. Ia sendirian, tidak ada yang memahaminya, tidak ada yang mau meraba luka hatinya.
"Akkhhhhh." Kia berteriak histeris, mengingat semua kisah hidupnya yang berputar dalam ingatan.
"Kaliann jahat, kalian tak punya hati, Aku bencii, benciiiii," teriak Kia lagi, sembari menangkupkan kedua telinganya dengan telapak tangan.
Teriakan Kiara itulah yang memancing penghuni kos keluar, begitu pun sang Ibu kost yang turut khawatir dengannya. Sebab selama yang ia tahu, Kiara adalah anak yang sopan dan halus bicaranya. Sehingga ia pun heran, gerangan apa yang membuat gadis itu berteriak histeris seolah tak terkendali.
Tak lama setelahnya, Risa dan Zahra yang baru datang turut khawatir dengan keadaan Kia, saat melihat beberapa orang berkumpul di depan kamar.
Kiara melamun, memandang foto yang terpajang di meja sambil terisak, sesak rasanya berada di situasi saat ini. Situasi dimana ia di cap sebagai w************n, lalu di tambah lagi sang Ibu yang memaki dan mengingatkan, jika ia tak pantas untuk dicintai siapapun.
Ting ...
Ting ...
Suara pesan masuk mengalihkan perhatian Kiara, dari nomor tak dikenal, membuat Kia enggan membukanya. Namun saat melihat notifikasi yang menampilkan sebuah pesan berisi vidio, Kia pun penasaran dan membukanya.
Kiara membulatkan matanya saat melihat isi vidio, di tambah lagi dengan pesan yang di kirim bersamaan dengan vidio itu, hati Kiara geram. Ia menggretakan giginya, menahan amarah dengan tangan terkepal sembari menggenggam erat ponselnya.
Sialan kau Rama. umpat Kiara.
Prakkk ....
Suara lemparan itu terdengar, membuat Risa semakin khawatir dan mengetuk pintu Kiara, berharap gadis itu mau membuka pintunya.
Sedangkan perempuan muda di sudut sana, diam-diam menelfon seseorang untuk melaporkan apa yang terjadi.
*****
"Ric, sorry banget gue harus pergi," ucap Ari, sembari membereskan semua file yang ada di meja Ricco. Mereka sedang membahas hasil meeting sore tadi, saat Ari menerima panggilan masuk di handphonenya, tak lama kemudian Ari kembali masuk kedalam ruangan dengan tergesah.
"Ada apa? Anak lo sakit lagi?" tanya Ricco, yang keheranan melihat kepanikan Ari.
"Bukan, bukan." sembari sibuk menelfon seseorang membuat Ricco semakin heran.
"Sialan, kemana nih orang!" Ari memaki seseorang yang tak kunjung menjawab panggilannya.
"Hey Bro, ada apa? panik gini?" tanya Ricco lagi.
"Kiara, Rama sialan banget lo, sumpah gue hajar kalo ketemu." Ari terus mengumpat seseorang yang tak kunjung mengangkat panggilannya. Rama, ya orang itu Rama yang sedari tadi di telfon oleh Ari.
"Kiara?"
"Ric, sorry gue tinggal, keadaannya semakin parah." Ari tak memberi kesempatan pada Ricco untuk bertanya lebih banyak, dan langsung berlari keluar ruangan.
sialan lo Ram.
Ricco mengambil handphone di atas mejanya lalu segera berlari mengejar Ari.
"Pake mobil gue." Ricco menyerahkan kunci mobilnya setelah berhasil mengejar Ari.
"Oke."
Keduanya masuk kedalam mobi sport milik Ricco dan langsung meluncur membelah jalanan ibukota yang sudah tidak terlalu padat.
"Lo seperduli ini sama Kia?" tanya Ricco, pada Ari yang focus di balik kemudi.
"Kia bawahan gue, dia juga sendirian merantau disini. Gue tau dia anak baik dan brengseknya, sahabat lo itu mempermainkan Kiara, gue enggak terima. Gue enggak mau kejadian lima tahun lalu terulang pada Kiara. Dia udah gue anggep kaya adek sendiri, dan karna dia juga-"
"Dia mirip dengan Sofia, see?" Ricco memotong ucapan Ari dan menebak apa yang ada di pikiran lelaki itu. Ari mengangguk membenarkan ucapan Ricco.
Masih lekat dalam ingatan Ari, bagaimana Sofia menangis dalam pelukannya. Lalu malamnya, ia menerima kabar, jika gadis itu menjadi korban kecelakaan beruntun di jalan tol menuju Bandung.
Berita itu tentu menjadi duka mendalam bagi Ari, sebab Sofia ialah cinta pertamanya, lalu dengan brengseknya Rama mempermainkan perasaan gadis baik itu.
Setelah kepergian Sofia, persahabatan Ari dan Rama jadi renggang. Baru hampir tiga tahun ini, mereka menjalin hubungan baik itu pun berkat Ricco yang mencoba mendamaikan mereka melalui pekerjaan, itulah sebabnya Ricco mengajak Rama bergabung di perusahaannya, agar mereka bertiga kembali seperti dulu.
Lalu sekarang, si b******k Rama, ingin kembali mempermainkan perasaan gadis sebaik Kiara? Oh, tidak akan Ari biarkan.
Sesampainya di kost an, Ricco dan Ari segera menemui Risa dan Zahra yang nampak khawatir, terdengar suara gaduh dari dalam kamar Kiara lagi.
"Minggir, saya mau dobrak pintunya!" ucap Ricco, pada Risa yang ada di depan pintu.
BRAKKK ...
Pintu terbuka, terlihat pemandangan kamar yang tak lagi serapih biasanya. Beberapa barang berceceran, disudut kamar terlihat Kiara yang sedang meringkuk sembari menangis.
Ricco masuk dan langsung mendekap Kiara, tanpa perduli ekspresi Risa dan Zahra yang terkejut melihat apa yang dilakukan Ricco pada Kiara. Mereka pikir bos nya itu, tidak akan seperduli ini pada Kiara yang hanya staff biasa, meski terbesit rasa penasaran. Namun segera mereka tepis. Ini bukan waktunya untuk berpikir atau bertanya yang bukan-bukan.
"Hey Kia, are you oke? " tanya Ricco, lembut sembari merenggangkan pelukanya, agar bisa melihat wajah Kiara, namun hanya isakan yang Ricco dengar.
"Risa, tolong ambil air mineral," titah Ricco, dan langsung di lakukan oleh Risa.
Ari yang masih di luar kamar, mencoba mengkondisikan situasi agar kembali tenang. Sedang Zahra, gadis itu bingung harus melakukan apa, sehingga hanya berdiri di dekat pintu menunggu instruksi saja.
"Ini Pak." Risa mengulurkan segelas air pada Ricco.
"Kia, minum dulu ya," ucap Ricco pelan, sembari menempelkan ujung gelas pada bibir Kiara, membantu gadis itu minum perlahan hingga tandas. Risa berada di sisi kiri Kiara, mencoba memberi elusan lembut pada pundak temannya itu.
"Ini." Ricco menyerahkan gelas kosong pada Risa.
"Gimana sudah tenang?" tanya Ricco lembut, menatap mata Kiara yang memerah, Kiara sendiri mungkin bingung kenapa sang bos ada disini bersamannya, namun entahlah tidak ada ruang di otaknya untuk berpikir tentang hal ini.
Ricco menyandarkan kepala Kiara di pundaknya, lalu mengelus lembut kepala Kiara, menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga gadis itu.
Sikap lembut Ricco, sontak membuat Ari dan kedua karyawan perempuannya itu tercengang, sang bos yang terlihat kaku ternyata bisa begitu lembut pada Kia.
Dari kejauhan seorang lelaki setengah berlari memasuki halaman kosan.
Ari yang melihat itu geram dan
Bugghh ...
Rama tersungkur
"SILAN lo, Ram, engak ada habisnya lo. Udah gue ingetin jangan permainkan dia. Kalo lo mau main-main, jalang di luaran sana banyak dan bahkan sangat rela untuk muasin nafsu lo itu, "maki Ari, pada Rama yang masih dalam posisi duduk di tanah, sambil memegang sudut bibirnya yang di pukul Ari.
Rama berdiri menatap Ari sinis, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Rama lebih memilih untuk masuk, dan melihat keadaan Kiara.
"Kia, sayang," suara Rama yang terdengar dari luar, menarik perhatian Kia yang masih menyandarkan kepalanya, pada pundak Ricco.
Mata Kia menatap tajam pada Rama yang kini berdiri di ambang pintu, kedua tangannya terkepal, ingin rasanya Kiara melampiaskan kemarahanya pada Rama.
"Pergii, Pergi kamu, lelaki jahat. Akkhhh." Kia mendadak histeris kembali saat melihat Rama.
"Hey, Kia sayang ini ak-"
Prakkk ....
Langkah Rama terhenti saat Kia melemparkan gelas yang ada di tangan Risa.
"Kiara," Rama kembali melangkah melewati pecahan gelas itu.
"Pergiiii, aku bilang pergiiiiii." Kia histeris dan meronta dalam dekapan Ricco. Kiara memukul kepalanya sendiri, dengan kedua tangan yang terkepal. Membuat Ricco mengeratkan kedua genggamannya, pada tangan Kiara dan mendekapnya lebih erat.
"Silan lo, Ram, lo enggak denger Kiara ngomong apa, KELUARR!" usir Ari, saat melihat semua itu, sedangkan Rama hanya bisa pasrah, dengan berat hati ia keluar dari dalam kamar Kia.
Ricco hanya bisa menahan emosinya, matanya menatap tajam Rama. Ia tak mungkin ikut meledak disini, sadar masih ada Kia yang perlu di tenangkan.
Jadi rued gini urusanya, terus gue kudu ngapain?. gerutu Zahra dalam hatinya, saat melihat semua yang terjadi di depan matanya, juga ia bingung harus berbuat apa? selain diam di ambang pintu.