Dreeeettt .... Dreeeettt ....
Suara panggilan masuk mengalihkan perhatian semua orang yang ada di kamar Kia.
"Risa, tolong kamu cari asal suaranya itu, pasti handphone Kia, " titah Ricco, yang masih berusaha menenangkan Kiara, dalam dekapanya.
"Sepertinya Tante dari Kia, Pak," ujar Risa, saat membaca nama kontak yang tertera di layar. Ricco mengangguk, isyaratkan agar Risa mengangkat telfon itu.
Risa mengangguk lalu mengaktif kan loadspeaker .
" Ha ... " jawaban Risa terpotong oleh suara tante Rinda yang terdengar panik.
"Kia sayang, denger tante baik-baik jangan hiraukan ucapan Ibu mu, jangan pulang dan tetap di situ." suara tante Rinda yang terdengar panik, membuat perhatian Kiara, tertuju pada handphone yang masih mengeluarkan suara Tantenya.
"Apapun yang Ibumu katakan, jangan dengarkan, kamu anak baik, anak yang membanggakan Tante," ucap Tante Rinda yang segera menelfon Kiara, saat mendapat telfon dari Rana, jika Ibunya memarahi Kiara dan memintanya untuk segera pulang.
"Akhhhhh.... Aku engak berguna Tante, aku bukan anak baik, pasti Papah kecewa Hiks, hikss.Akhhh. Ini enggak adil. Semua jahat, semua ini karna Wira sialan itu, Papah jadi pergi ninggalin aku, dan semua jadi kacau." Ricco, dan ketiga orang yang berada di situ tercengang, saat mendengar Kiara menyebut nama Wira.
Mereka saling berpandangan, namun enggan berasumsi, sebab nama Wira itu banyak, entah Wira mana yang Kiara maksud. Kiara masih berteriak, maracau tak jelas, membuat Ricco semakin mengeratkan dekapnya, menahan Kia agar gadis ini terkendali.
"Kia, Kia sayang, tolong siapapun yang ada di situ, beri Kia obatnya. Coba carikan di tas atau laci-laci, " pinta Tante Rinda, panik akan keadaan Kia, sebab sudah lama keponakanya itu tidak kambuh seperti ini.
Zahra yang sedari tadi hanya diam di ambang pintu, kini bergegas mencari obat yang di maksud Tante Rinda.
"Ini dia." Zahra menemukan obat itu di laci meja, untunglah Kia tidak menyimpan jauh obatnya. Zahra segera membantu Ricco untuk memberikan obatnya pada Kia, tak berapa lama Kia sudah mulai tenang dan terlelap.
Ari melangkah masuk kedalam kamar, menggeleng pelan melihat kondisi kamar yang sudah berantakan. Sebenarnya ada apa Kia, tidak mungkin jika hanya karna si Rama b******k itu. tanya Ari dalam hatinya.
"Ric,"
"Kita bawa Kia ke aparterment gue, " Ricco yang paham maksud Ari, segera memberi jawaban, inilah yang Ari suka dari sahabatnya, cerdas dan cekatan. Meski kadang irit bicara, tidak seperti Rama yang selalu saja membuatnya geram, dengan sifat brengseknya itu .
"Oke, Risa dan Zahra bantu Pak Ricco mengurus keperluan Kia, saya urus yang disini," titah Ari, dan segera di angguki oleh kedua perempuan yang duduk di lantai kamar.
"Risa, kita pakai mobil kamu saja, " ucap Ricco sembari mengangkat tubuh Kia, di susul Risa dan Zahra yang segera berdiri dan melangkah keluar kamar, mengikuti Ricco yang sudah berjalan di depan dengan menggendong Kia.
Yakinlah, saat ini otak pintar Risa dan Zahra bertanya-tanya dengan apa yang di lihatnya, terbesit dalam benak Zahra jika apa yang di katakan Mira itu benar Namun segera ia buang jauh-jauh pemikiran buruk itu. Sebab sejauh ini, ia kenal Kiara bukan orang yang seperti itu, jika pun iya, pastilah para atasannya ini yang mendekati.
Lihat saja, buktinya tiga atasan tampan idolanya datang kemari hanya untuk Kia, see , bukan temannya itu yang menggoda. Tapi atasan mereka yang terlalu perduli dengan Kia.
"Jangan mikir yang engga-engga," ujar Risa, seolah tau apa yang ada di pikiran Zahra.
"Engga kok, gini-gini aku enggak langsung berburuk sangka. Aku tau Kia baik, " ucap Zahra, berbisik takut ucapanya terdengar oleh atasanya yang berjalan di depan.
"Biar saya yang nyetir, " ucap Ricco, saat Risa hendak membuka pintu kemudi, ia menyerah kan kunci nya pada Ricco dan masuk di pintu belakang duduk bersama Zahra.
Hening .... Tidak ada yang bersuara, mungkin juga mereka sudah lelah.
"Risa, nanti saya turun di lobbi aparterment, kamu dan Zahra bisa pergi ke butik sebrang, beli pakaian ganti yang nyaman untuk Kia dan keperluan lainya. Beli untuk kalian juga, nanti berangkat kerja dari aparterment saja, dan beli beberpa makanan di mini market karna saya tidak menyetok makanan di sana," ucap Ricco, saat berhenti di lampu merah dekat gedung apartermentnya.
"Ini, " Ricco memberikan debet card nya pada Risa.
Ricco memarkir kan mobil di lobbi aparterment.
"Belikan Kia roti dengan selai coklat kacang, dan s**u almont, dia menyukainya," pesan Ricco, tanpa perduli tatapan heran kedua karyawan nya itu, lalu turun dan membuka pintu di samping kemudi, mengangkat tubuh Kia masuk kedalam.
"Ris, lo denger ucapan Pak Ricco?" tanya Zahra yang masih terbengong.
"Hmm, entahlah kita cukup lihat saja," sebab ia tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi.
Ceklek ...
Dengan bantuan security, Ricco membuka pintu perlahan dan membawa Kia masuk kedalam kamarnya, membaringkan tubuh Kia di atas kasur.
Ricco duduk di pinggiran kasur, menatap wajah lelah yang kini terlelap. Ia menangkup kan wajah nya, menyugar rambut hitamnya kebelakang, lalu melangkah menuju toilet .
Wajah Ricco sedikit lebih segar setelah mencuci muka, lalu berjalan menuju balkon sembari menggulung lengan kemeja, pandangannya tertuju pada pemandangan kota, dengan kedua tangan menggenggam erat besi pembatas balkon. Semilir angin memberi kesejukan pada jiwanya yang karut.
Apalagi yang harus aku lakukan? Maaf kan saya, Pak Hermawan. Saya gagal menjaga anak Bapak. ucap Ricco dalam hatinya.
Ia teringat peristiwa kecelakaan beberapa tahun lalu yang membuat salah satu orang kepercayaanya-Pak Hermawan, meninggal.
Meski saat itu, Ricco amat kecewa karna penghianatan yang di lakukan oleh Pak Hermawan, namun saat menerima kabar dari rumah sakit, Ricco bergegas datang.
Sesampainya disana, Ricco menatap perihatin dengan apa yang terjadi pada Pak Hermawan, lukanya terlihat sangat parah. Saat menyadari kehadiran Ricco, lelaki paruhbaya itu memanggilnya agar mendekat.
"P-ak,"
"Sudahlah, Pak Hermawan, jangan banyak bicara dulu," ujar Ricco.
"Tti-dak, ssay-a harus bi-cara, percayalah, mereka memfitnah saya," ucapan Pak Hermawan terpotong, sebab nafasnya tersengal-sengal menahan sakit.
"Nanti kita bicarakan, setelah Bapak pulih," ujar Ricco lagi.
"Kecelakaan, ini, direncanakan. Ssay-a titip put-ri saya, Kiara, ya Kiara namanya. Setelah, saya pergi, mungkin hidupnya akan mengalami kesusahan. Tolong, Pak." Pak Hermawan memohon pada Ricco, meski sedang merasakan sakit, beliau tidak pernah melupakan putri kesayangannya yang malang itu.
"Baik, saya janji akan menjaga Kiara." Ricco menyetujui permintaan Pak Hermawan.
Tak lama setelah itu, seorang remaja berseragam putiha abu-abu datang menghampiri Pak Hermawan, lalu menangis.
Ricco menebak jika gadis itulah yang bernama Kiara, tapi setahun Ricco, Pak Hermawan memiliki tiga anak. Lalu mengapa hanya Kiara yang di khawatir beliau.
Dan sejak peristiwa beberapa tahun lalu, Ricco baru mengerti mengapa Pak Hermawan, sangat mengkhawatirkan Kiara.
Ricco kembali masuk kedalam kamar, mengamati gadis yang terbaring lemah di hadapanya. Melangkah mendekat dan duduk di samping Kiara, tangannya terulur merapihkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Kia, membelai wajah sendu itu, sembari memikirkan hal apa yang harus ia lakukan untuk Kiara.
Wanita itu, padahal ia selalu memberikan uang yang diminta padanya , Ricco bahkan menge-chek sendiri laporan pengiriman dari sekertarisnya. Tapi masih saja mengganggu Kiara.
Apa yang salah dari caranya? dia belum mengerti, mungkin nanti akan dia tanyakan saat Kia sudah pulih.
Ahh, sudahlah nanti akan ku pikirkan lagi caranya .
Pandangan Ricco kembali tertuju pada wajah Kia, ia berdiri dengan sebelah kaki nya menekuk bertumpu pada sisi kasur, tubuhnya sedikit membungkuk menatap lekat lekuk wajah Kiara yang masih terlelap.
cup ...
cup ...
Baiklah Ricco mungkin salah mengambil ciuman Kiara tanpa permisi, tapi tidak masalah sebab Kiara miliknya. Ya, hanya miliknya.
Heiii ... Kiara bukan barang yang bisa di miliki siapa pun seenaknya, banyak sekali yang menginginkan Kiara dalam hidup mereka. Bahkan seenaknya mengakui Kiara sebagai miliknya, egois bukan? mungkinkah Rama dan Ricco sama brengseknya?.
Jika iya, yakinlah Kiara tidak akan sanggup menahan segala caci maki, atau tuduhan dan perlakuan tidak menyenangkan yang mungkin akan ia terima dari sekitarnya. Tentunya hati lembut gadis itu, akan lebih terluka lagi.
Bisakah sebentar saja, membiarkan Kiara benar-benar bahagia tanpa perlu memikirkan perasaan orang lain.