Bruukkk ....
Rama menutup pintu apartement nya kasar, ia membuka jas melemparkan begitu saja pada sofa di ruang tamunya. Melangkah masuk sembari melepaskan dasi yang mebelit lehernya.
Sial ....
Rama menghempaskan tubuhnya pada sofa, mengusap kasar wajahnya menahan amarah. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, sehingga Kiara begitu histeris saat melihat kedatangannya.
Seingatnya, saat terakhir meninggalkan Kiara di kamar kost, gadis itu tidak menunjukan kemarahan, kecuali perasaan kacau sebab pristiwa siang tadi.
Sialan kau, Mira ....
Tangan Rama mengepal mengingat pristiwa tak kalah mengejutkannya, saat di apartement Mira. Mengingat semua itu membuat Rama geram sendiri.
Ting, tong....
Suara bel membuyarkan lamunan Rama, membuat lelaki itu menghembuskan nafas kasar. Siapa yang datang di jam segini. gerutunya sembari berjalan ke arah pintu.
Bughh....Bughh....
"Apa-apaan ini, Ric? " tanya Rama, sembari mengusap ujung bibirnya dengan ibujari, menatap sinis seseorang yang berdiri di hadapanya.
Bugh... bughh...
Ricco tak memberi Rama kesempatan untuk berdiri apalagi membalas.
"Ric, b******k lo, " teriak Rama, mencoba membalas pukulan Ricco.
"Lo yang b******k, beraninya lo buat Kiara seperti itu, " teriak Ricco, kembali memberi pukulan pada Rama kali ini tepat di pelipis nya.
"Silan lo, Ri, Bugh." Rama balas memukul sudut bibir Ricco, membuatnya terhuyung kebelakang, namun dengan segera memberi pukulan balik pada Rama. Seseorang yang berani mengganggu hidup Kiara.
Pranggg.... Bugh.... Bugh....
Suara gaduh saling pukul atau lempar barang menggema, seketika ruangan yang tadinya rapih kini seperti kapal pecah.
Sedangkan dari lorong apartement, terdengar suara orang berlari tergesa dengan rasa khawatir, ya, itu Ari bersama tiga orang petugas keamanan. Ari sudah menduga hal ini akan terjadi, saat ia memberi tahu Ricco tntang apa yang ia temukan di HP Kiara.
"Ric, gue enggak sengaja liat hp Kiara, kayanya yang buat Kiara semakin histeris adalah Rama," jelas Ari, sembari mengatur nafas nya menahan emosi.
"Si b******k itu, apa lagi yang di buat? " tanya Ricco, dengan tangan terkepal, memukul dinding di dekat nya, sembari memperhatikan Kiara dari jauh.
"Gue, gue. Gue nemuin vidio Rama sama Mira bermesraan, sepertinya itu tadi siang karna mereka masih pake baju yang sama," ucap Ari, dengan masih menahan emosi.
"Sialan, b******k lo, Ram."Ricco tidak menyangka jika sahabatnya sebrengsek itu, di hadapannya siang tadi seolah Rama sangat membela Kiara. Tapi di belakang mereka, ia justru bermesraan seolah tidak pernah terjadi perseteruan antara mereka.
Brakkk....
Suara pintu yang di buka paksa oleh Ari, tak membuat dua manusia yang bergelut dalam amarah itu saling melepaskan diri.
"Ric, Ram, stopp.... Ric, gila lo, stopp, bisa mati Rama." Ari segera lari, melerai perkelahian itu, ia khawatir melihat Ricco yang begitu membabi buta menghajar Rama yang hampir tak berdaya.
Tiga orang petugas keamanan, segera membantu melerai keduanya, meski sempat sulit sebab tenaga Ricco yang begitu kuat, mungkin sebab amarah yang memuncak.
"Pak, tolong bantu angkat teman saya ke kamar. " Ari meminta seorang petugas keamanan membantunya mengangkat Rama ke kamar, dan memanggil dokter pribadi Rama.
Hufttt.... Ari menghembuskan nafas kasar, ia duduk di sisi ranjang melihat beberapa lebam yang di buat oleh Ricco di wajah Rama, pengaruh seorang Kiara begitu besar bagi mereka bertiga. Mengingatkan ia pada seseorang yang berarti dalam hidupnya. Sofia
Ari mengusap kasar wajahnya, lalu melangkah keluar membereskan semua kekacauan yang di buat oleh kedua sahabat bodohnya ini.
Ari meminta bantuan ketiga petugas tadi, untuk membersihkan semua barang-barang, membuang yang sudah rusak, lalu memberi mereka beberapa lembar uang.
Ari melangkah menuju dapur, hanya tempat ini yang masih dalam ke adaan baik setelah perkelahian dua manusia itu. Ia melihat Ricco sedang duduk dengan menangkupkan wajahnya pada kedua telapak tangan. Terlihat letih dan bimbang.
"Minum dulu," ucap Ari, sembari mengulurkan gelas berisi air putih.
"Ric, gue enggak ngerti apa yang terjadi sekarang. Tapi yang pasti gue enggak mau hal itu terulang kembali," tutur Ari, dengan mata yang mulai memanas, perkataan Ari membuat Ricco menatap lekat mata sahabatnya itu, tersirat pancaran luka dari mata sendu itu.
"Gue enggak bisa bener-bener jagain Kiara, lo tau posisi gue sekarang, ada Sarah yang perlu gue perhatiin. Lo lebih bisa jagain Kiara, dan awasin si b******k Rama," pinta Ari tulus, Ricco menatap sahabatnya itu.
"Enggak lo minta pun, gue pasti jagain dia," ucap Ricco, sembari menepuk bahu Ari.
"Setelah keadaan membaik, gue minta penjelasan lo ,Ric. Gue tau, lo orang yang seperti apa, enggak mungkin lo sampe seperti ini, kalo enggak ada alasanya. Gue mau kompres muka si Rama yang udah lo bikin babak belur itu, kalo Dokter dateng suru langsung masuk ke kamar, " ucap Ari, yang di angguki oleh Ricco.
Kini tinggallah Ricco sendiri, mengusap kembali wajahnya lalu merogoh handphone di saku celana. Menatap sendu wajah ayu yang ia bidik diam-diam dari kejauhan.
Ricco mencari nomor Risa, ia ingin menanyakan keadaan Kiara. Tadi saat ia hendak pergi, Kiara sempat tersadar sebentar. Namun ia urungkan, lebih baik memastikan sendiri dengan datang langsung ke apartement nya.
*****
Tok.. . Tokk
Ricco mengetuk kamar tempat Kiara berada.
Ceklek. . .
"Pak Ricco, " ucap Zahra terbengong melihat atasan keren nya berdiri di ambang pintu kamar, Zahra pikir atasanya itu tidak kembali.
Ricco melangkah masuk kedalam kamar menuju ke arah Kiara yang sedang duduk di sofa bersama Risa.
"Hei, kamu udah makan?" tanya Ricco lembut, namun hanya di balas gelengan oleh Kiara, Ricco sedikit lega melihat Kiara tidak sehisteris tadi.
"Tadi sih makan sedikit pak, sesuap" Risa mencoba menjawab, lalu bangun dari duduk nya mempersilahkan atasanya duduk di samping Kiara, meski ia sendiri masih bingung dengan semua ini. Namun, untuk sekian kali ia tekan rasa ingin tahunya, mengingat situasi yang masih kacau.
"Mau makan apa? garang asam? " tanya Ricco lagi, tangan nya terulur mengusap rambut Kiara.
Darimana ia tahu makanan favoritku? . Ah, entahlah. ucap Kia dalam hati.
Kiara hanya menganggukan kepalanya, Ricco tersenyum lalu menelfon seseorang untuk mengirimkan pesanannya.
Kiara yang mulai sadar dengan sekitar sedikit bingung mengapa ia ada disini. Namun Risa sempat memberi penjelasan, Kiara yang lelah pun enggan berpikir macam-macam, bahkan mengapa atasanya ada di sini dan bersikap lembut padanya tidak ia pikirkan.
Sebab yang ia butuhkan adalah ketenangan dan rasa nyaman, tak perduli siapa yang memberikan kenyamanan itu. Hingga saat Ricco menariknya kedalam dekapan hangat yang menenangkan itu, Kiara hanya diam, tanpa penolakan sebab ini yang ia perlukan. Tak perduli kedua temannya itu akan berpikir apa tentangnya, toh namanya sudah tercemar oleh Mira, Ahhh, mengingat itu membuat Kiara geram sendiri.
"Pak, kita tidur di kamar sebelah ya." pamit Risa yang tentu saja canggung berada di situasi seperti ini.
"Oke, saya akan temani Kiara," ucap Ricco lirih.
"Kalian istrahat dan jangan berpikir apapun, sebab kalian tak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya." pesan Ricco pada kedua karyawannya itu, sebelum mereka keluar dari kamar.
Tidur Kia, semua akan baik-baik saja. ucap Ricco dalam hatinya, sembari memandangi wajah letih yang bersandar di bahunya.
Setelah yakin Kiara terlelap, barulah Ricco pindahkan ke atas kasurnya, menarik selimut hingga sebatas d**a, lalu mengecup kening Kia lembut. Lalu, berjalan keluar kamar.
"Apa yang kalian lakukan !!! "