Tentang Shofia

1172 Words
"Ini salep agar memarnya menghilang, btw ini ada apaan, sih, Ri?. Nih, si Don Juan kenapa mukanya bengep gitu," tanya Ryan, dokter sekaligus teman Rama sewaktu kuliah dulu, hanya saja mereka beda jurusan. "Ricco yang buat dia gitu, si b******k ini bikin ulah lagi," jawab Ari, dengan nada kesal. "Wait, kali ini apa yang dia perbuat? Ricco enggak mungkin hajar dia sampe segininya?" tanya Ryan penasaran, meski tak terlalu akrab dengan Ricco, tapi mereka sering pergi ke bar bersama atau dipanggil jika pria itu sakit. Namun ia tau karakter Ricco, tidak akan mengusik jika tidak di usik, kesimpulan nya saat ini mungkin Rama sudah mengusik Ricco, atau kepunyaannya. "Entahlah gue enggak tau pasti, jelasnya dia hampir mengulang peristiwa lima tahun lalu," ucap Ari, dengan suara parau sembari mengingat hal itu. "Whatttt, jangan bilang bini lo- " "No, bukan Sarah. Tapi ceritanya hampir mirip, gue cuma nggak mau karna kelakuan dia, ada seseorang yang di rugikan" potong Ari. Ryan mengamati raut wajah Ari dengan seksama, ia juga masih ingat peristiwa lima tahun lalu. Sebab, saat Ari menelfon Rama memintanya datang ke salah satu Rumah sakit di Bandung, ia ada disana dan mengantarkan Rama. Ryan masih ingat betul suara Ari yang kalut, sembari menahan tangis saat menelfon Rama. "Ram, lo dimana? dateng ke rumah sakit sekarang, gue kirim alamatnya," suara Ari tergesah. "Hei, ada apa, siapa yang sakit? " tanya Rama penasaran. "Shofi, Ram,Shofi, dia-" "Yaelah, kenapa lagi?, palingan sakit perut hari pertama atau magh nya kambuh, dah ah, males banget gue." belum sempat Ari menyelesaikan ucapan nya, Rama langsung menduga keadaan Shopia yang ia anggap hanya mencari perhatiannya sebab semalam bertengkar. "SILAN, b******k lo, Ram, dia, Shofia. Dia, ini semua gara-gara lo!" "Maks.... " "Shofia kritis, sialan! . Terserah lo mau dateng atau kaga, gue gak perduli!" Teriak Ari kesal. Tuttttt.... tutttt "Halooo, Ri, Ahhh sialll... Yuk, Yan, cabut temenin gue. " Rama bergegas memakai hoodie dan menyambar dompet serta kunci mobilnya. Dengan di selimuti perasaan khawatir, Rama memacu kendaraannya menuju rumah sakit yang di maksd oleh Ari. Sesampainya disana, Rama melihat Ari yang terduduk di lantai dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya, Ricco berjongkok di samping Ari, terlihat mencoba menenangkan, terdengar suara tangis bahkan histeris tak jauh dari tempat Ari. Nampak orangtua Shofia menangis bahkan Ibunya berteriak sembari menyebut nama Shofia. Ada apa ini? . tanya Rama dalam hati, sambil terus melangkah. Rama berlari kecil menghampiri Ari dan Ricco. "Ri, sorry gue." Bughhh.... Ari tak memberi kesempaan Rama untuk berbicara, saat tau Rama mendekat ia segera bangkit dan menghajar nya. "Ri, tenang, kita hargai Shofia, biarkan dia pergi dengan damai." Ricco melerai pertikaian. "Maksud, maksud lo apa Ric, pergi dengan damai? " Rama masih mencoba mencerna semua kalimat itu. "Lo masuk kedalam, dan lo lihat sendiri," ucap Ricco, sembari menunjukan sebuah ruangan dengan dagunya. Rama berlari masuk, disusul Ryan yang mulai hawatir akan situasi itu. "Pia, Pia. Bangun Pia, ini nggak lucu sumpah." Rama mengguncang kedua bahu seseorang yang kini berbaring kaku di hadapannya. "Pia, please." airmata Rama menetes, sembari terus memanggil gadis cantik yang biasa ia panggil 'Pia' itu. Rama menangis tersedu dengan apa yang ia lihat. Baru kemarin, baru saja kemarin ia mendengar gadis ini marah, bertengkar sebab sesuatu yang ia buat dan baru saja pagi tadi, ia berniat memperbaiki semua. Hingga Ari menelfon, sempat hampir menertawakan tingkah Shofia yang sepertinya ingin diperhatikan, agar mereka kembali berbaikan. Bahkan Rama meminta bantuan Ryan, untuk membuat dinner special bersama Shophia, lalu meminta maaf pada gadis itu dan berjanji akan memperbaiki semuanya. Sebab Rama mulai sadar akan ketulusan cinta yang Shofia berikan. Namun apa ini? apa ini hukuman untuknya? kenapa semua seperti ini, disaat ia mulai memperbaiki semuanya. "Please, Pia, sayang. Bangun, aku mau minta maaf dan kita, kita perbaiki semuanya, hiks, aku udah minta Ryan buat bantu bikin Dinner romantis yang selama ini kamu mau," tangan Rama menggenggam jemari Shofia yang dingin. "Please, kamu nggak percaya?" Rama menarik lengan Ryan agar mendekat ke sisi ranjang. "Liat, liat ini Ryan, kamu bisa tanya sama dia. Bahkan saat aku kesini, kita lagi buat hiasan untuk dinner nanti malam, ngomong Yan, lo bilang ke Pia kalo kita mau buat kejutan buat dia... Ayo, Yan," ucap Rama, dalam tangisnya sembari menggoyangkan lengan Ryan agar mau berbicara, membuktikan pada Shofia jika apa yang dikatakan nya adalah benar. Sedangkan Ryan, dia hanya diam melihat miris temanya itu, selama mengenal Rama, ia tak pernah melihat lelaki ini menangis dengan emosional seperti itu. Ryan menepuk bahu Rama, mencoba menguatkan temannya agar bisa menerima semua itu dengan ikhlas. Tubuh Rama luruh di atas lantai, menekuk kedua lututnya bersandar pada dinding, menyembunyikan wajah nelangsanya diantara kedua tangan, merutuki kebodohan dirinya. Sedangkan di luar Ruang rawat, Ricco mencoba meredam amarah Ari yang hendak meledak, bukan saat yang tepat untuk saling menyalahkan. Setelah Ari tenang, Ricco membantu mengurus kepulangan Shofia dan meminta sekertaris nya menyiapkan pemakaman. "Om, Tante, saya sudah mengurus semuanya. Kita bisa pulang sekarang, saya turut berduka cita, Shofia sudah seperti adik saya sendiri," ucap Ricco. "Andaikan yang Shofia cintai adalah kamu, Nak, atau Ari. Anak tante pasti bahagia, hiks." tangan nya terulur mengusap pipi Ricco. Ricco memegang lembut jemari yang menempel di pipinya, lalu tersenyum lembut. "Sudahlah, Mih, lebih baik kita pulang untuk persiapan pemakaman Shofia," ucap lelaki paruhbaya, sembari merengkuh bahu istrinya yang kini dirundung duka. "Terima kasih Ricco, kamu sudah membantu, kita bertemu di rumah, " ucap paruhbaya itu, dengan senyum dipaksakan, sebab didalam hatinya sedang merasakan kesakitan teramat dalam, melihat kepergian putri bungsu kesayangannya. "Pih, nanti kalo aku udah lulus kuliah mau langsung nikah sama Kak Rama boleh, Pih? " pertanyaan Shofia masih terngiang dalam ingatan. Bungsunya ini, sudah jatuh hati sejak lama pada Rama. Impiannya adalah menikah, dan menjadi istri dari lelaki yang sialnya, justru menjadi salah satu penyebab putri kesayangannya itu pergi untuk selama nya. Rama keluar dari ruangan bersama Ryan di sampingnya, berjalan menghampiri orangtua Shofia. "Tante." Rama menyapa, namun ibu Shofia membuang muka, enggan menatap pria yang telah menyakiti putri kesayangannya. "Om, Rama, aku, aku minta maaf," ucap Rama,sesenggukan menahan tangisnya. "Shofia, dia anak yang baik, periang, manja. Ia adalah bidadari kecil kami yang selalu di jaga dengan baik. Hingga suatu hari, ia bercerita dengan antusias tentang seorang pemuda yang membantunya membetulkan rantai sepedanya. Hampir setiap hari, ia menceritakan tentang mu, hingga saya sebagai Papihnya menyadari jika bidadari kecil kami telah jatuh cinta. Ia sangat bersemangat saat pertamakali kau mengajaknya nonton, kau seseorang yang membuat putri ku bahagia sekaligus menghancurkannya hingga tak tersisa." mendengar ucapan Papih Shofia, membuat hati Rama berdenyut sakit, membayangkan bagaimana gadisnya itu sangat bahagia dengan hal kecil yang ia berikan. Rama menyesal telah membuang waktu berharganya bersama Shofia, padahal gadis manja nan lugu itu terkadang mengganggunya, hanya karna ingin di temani nonton, atau sekedar jalan sore sembari membeli makanan di foodstreet. Tak ada hal berlebihan atau mewah yang Shofia tuntut darinya. Satu hal impian Shofia yang belum terpenuhi yaitu dinner romantis di atas rooftop, sembari menikmati pemandangan malam. Maafkan aku Shofia. Maaf kan aku Sayang. Lagi, Rama menangis teringat Shofia yang sangat ingin di panggil 'Sayang' oleh nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD