"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ricco, pada dua orang karyawatinya yang kini berdiri gugup, dan kebingungan menjawab pertanyaannya.
"Anu, Pak, itu ada. Awwwh." ucapan Zahra terhenti, saat kakinya di injak oleh Risa.
"Risa, bisa jelaskan? " pandangan Ricco, beralih pada Risa yang terlihat bingung menjawab pertanyaan atasanya.
"Hmm, istri-"
"Dimana dia? " tanya Ricco, seolah tau apa yang akan Risa katakan.
"Itu, di ruang tamu, Pak," jawab Risa sembari menunduk.
"Baik lah, kalian masuk saja ke kamar dan istirahat, saya akan urus semuanya." Ricco melangkah menuju ruang tamu, di iringi dengan pandangan heran Risa dan Zahra.
"Wah Ris, perang dunia, nih kayanya," ucap Zahra, saat melihat Ricco menemui istrinya, padahal sedang menyembunyikan wanita lain disini.
"Hussst, enggak boleh asal bicara, kalo Pak Ricco denger bisa habis kamu. Cukup diem, kita disini untuk bantu Kiara bukan jadi emak gosip yang akan memberikan hot news," tutur Risa, lalu melangkah menuju kamar.
"Gilee, sekarang lo, kalo ngomong kaga irit ya... Eh woy, tungguin, " tukas Zahra, sembari berlari mengejar Risa ke dalam kamar.
Tok... Tok...
Ceklek
"Eh, Bapak lagi, kenapa, Pak?" tanya Zahra, yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Saya akan pergi, ada yang perlu saya urus untuk beberapa hari. Jadi tolong jaga Kiara selama saya tidak disini, dan ini." Ricco menyerahkan debet card pada Zahra.
"Kamu bisa pake itu untuk membeli keperluan Kiara, dan keperluan kalian juga. Oh ya, Risa, Kiara sudah mendapat ijin karna sakit selama tiga hari. Tapi kalau dia masih kurang sehat, kamu bisa minta tolong Ari mengurus surat ijin sakit Kiara. " Lanjut Ricco, meminta Zahra dan juga Risa yang kini berdiri di ambang pintu untuk menjaga Kiara.
Mereka menganggukan kepalanya, lalu tersenyum membiarkan atasanya itu berlalu dari hadapan mereka.
"Ris,"
"Hem,"
"Lo, enggak penasaran?"
"Tentang? "
"Kedepan, yuk!" ujar Zahra, yang malah mendapat kerutan di wajah Risa.
"Aduh, makanya kita kedepan dulu, yuk! , penasaran gue, barusan terjadi perang dunia kaga." Zahra menarik tangan Risa, berjalan menuju ruang tamu.
"See? tidak terjadi apapun, Ra"
"Yah, nggak seru dong, harusnya kan istri Pak Ricco marah-marah, ya. Kaya di drama gitu, " ujar Zahra, kecewa padahal ia sudah membayangkan bila ada adegan seperti drama yang biasa ia tonton.
"Huffttt, makanya jangan keseringan nonton drama," ucap Risa kesal, meninggalkan Zahra.
"Tidur Ra, besok kerja." Risa menarik selimut, rasanya ia sudah lelah sekali dan ingin segera tidur.
"Ris,"
"Hem,"
"Kenapa istri Pak Ricco, enggak ngamuk ya?"
Mendengar itu, Risa yang kesal bangun dari tidurnya "Ya Ampun Ra, lo ngurusin banget hidup orang, mau dia marah mau nggak ya biarin. Bagus juga dong, kalo istri Pak Ricco, enggak marah itu artinya kita semua aman. Kenapa kamu yang bingung, sih, heran udah, ah, tidur kalo kesiangan gue enggak tanggung jawab!!" Risa kembali merebahkan dirinya membelakangi Zahra.
"Nggak asik, lo." Zahra mencebikkan mulutnya, menggerutu sendiri, tak lama ia pun memilih tidur.
****
"Kia, kamu udah bangun? " tanya Risa, sembari melangkah masuk ke kamar dengan kedua tangan membawa nampan, saat melihat Kiara sedang duduk termenung menatap balkon.
Kiara melirik sekilas, lalu tersenyum kecil, Risa mendekat meletakan bubur di atas nakas.
"Kenapa? makan dulu, yuk! " ajak Risa lembut, perlakuannya seperti seorang kakak pada adiknya yang sedang sakit.
"Dia pergi? "
"Siapa?" tanya Risa, namun tak mendapati jawaban dari Kiara.
"Pak Ricco? beliau ada urusan di luar kota, begitu selesai Pak Ricco segera kembali kesini," ucap Risa hati-hati, takut salah bicara yang malah membuat Kiara bersedih lagi.
"Hmm, selalu seperti ini. Kenapa enggak ada yang benar-benar menyayangi aku?" ucap Kia lirih, mengalihkan pandangannya pada Risa, terlihat jelas mata sendu Kiara menatapnya dengan tanya.
"Kia, kamu tenang ya, jangan mikir gitu, sekarang kamu harus semangat, agar segera pulih dan kita bisa kerja bareng lagi, kamu makan ya." Risa menyuapkan sesendok bubur ke mulut Kia, mengunyahnya perlahan.
"Kia, nanti pas aku sama Zahra pergi, akan ada orang yang jaga kamu di sini. Kalo perlu apapun kamu bilang aja ya. Nanti kita pulang cepet." Kiara mengangguk paham, sambil menerima segelas air minum dari Risa.
"Morningggg Girlsss... " suara brisik Zahra, menginterupsi keduanya untuk menoleh ke sumber suara.
"Ya elah, nih, toa masjid, masih pagi kali Ra, lu udah heboh aja, " oceh Risa, saat Zahra menghampiri mereka.
"Elah, si ibu sekertaris gitu amat dah, Kia udah sarapan? udah mandi? " rentetan pertanyaan Zahra, disertai gimik yang lucu membuat Kiara melebarkan senyumnya.
"Udah ko, ya udah kalian berangkat, aku udah gak apa-apa kok, " ucap Kiara meyakinkan, agar kedua temannya bisa focus kerja tanpa khawatir denganya.
"Oke, kita berangkat, kalo perlu sesuatu panggil Bi Sum ya, dia udah dateng. Dahhh ketemu lagi sore," pamit Zahra, sambil melambaikan tanganya manja ala miss Indonesia, membuat Risa dan Kiara tertawa.
"Hati-hati"
*****
"Serius Ri, gue nggak segila itu."
"Gue nggak tau, tapi itu yang gue temuin di HP si Kiara. Pasti itu yang jadi penyebab Kiara marah banget sama lo, mungkin Kiara kecewa sebab didepan Mira, lo belain dia. Tapi dibelakang, malah main gila sama Mira. Kalau gue jadi Kiara juga pasti marah kali, Ram."
sial
Rama mengingat percakapannya dengan Ari semalam, ia memandang wajahnya di cermin. Kedua tanganya bertumpu pada westafel, ia meringis saat mengingat bagaimana Ricco menghajarnya semalam, namun bukan itu yang Rama risaukan. Melainkan, mengapa Ricco sangat marah padanya? ada apa ini? apa Ricco juga menyukai Kiara?
Dimana, ?
Jam makan siang nanti kita ketemu di caffe biasa.
Rama menelfon seseorang, ia akan menyelesaikan ini semua agar tidak ada kesalah pahaman, antara ia dan Kiara lagi.
Rama tak mau masalah ini semakin larut, dan membuat hubungan nya dengan Kiara semakin renggang.
Siang ini, Rama duduk bersandar pada kursi, sesekali matanya focus pada tablet yang ada di tanganya. Ia tak tau lagi harus bagaimana menghadapi situasi ini.Ia tak perduli dengan Mira, tapi dengan Kiara? tidak, Rama tidak bisa kehilangan gadis itu.
"Sorry, terlambat." ucap seseorang yang di tunggu Rama, sambil menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Rama yang kini menatapnya dengan intens.
"Apa maksud kamu, bertindak seperti itu pada Kiara?" tanya Rama, to do poit dengan tatapan tajam.
"Haha, jadi jalang baru mu itu mengadu? " Mira menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, dengan kedua tangan menyilang.
"Ck, jadi benar anak baru itu-"
"Jangan sembarangan bicara, dia tidak seperti mu yang rela melemparkan tubuhnya kesiapa saja, " ucap Rama sarkas.
"Whattt... bahkan kau salah satu yang menerima tubuh ku." sudut bibir Mira terangkat sinis.
"Itu dulu, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, ingat apa yang kita lakukan just for fun, no more, camkan itu!. Bahkan, aku tak sudi lagi menjamah mu, setelah tau berapa banyak lelaki yang tidur dengan mu," ucap Rama meremehkan.
Nafas Mira naik turun, kedua tanganya terkepal menahan emosi saat Rama mengatakan semua itu. Ia benci di perlakukan seperti ini.
"Jangan ganggu Kiara, jika kau berani maka-"
Srakkk...
Byurrr....
Mira bangun dengan kasar dari duduknya, merah orange juice di meja dan menyiram nya ke wajah Rama.
"Maka apa? aku tidak takut Rama, kau bicara seolah kau orang paling suci. Kau lupa bagaimana kau memuja tubuh ku, menjamah setiap inci nya, kau bahkan memanjakan ku. Lalu, sekarang saat kau tidak menginginkan ku, kau buang aku? kau pikir aku apaaa... Hah ??? " teriak Mira, dengan emosi yang tak terbendung lagi. Namun, saat menyadari kehadiran seseorang di depanya, ia tersenyum sinis. Rama mengikuti arah pandang Mira, dan terkejut saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
"Kiara... "
Shittt....