Pilihan kedua

1039 Words
Beberapa hari ini di lewati Kiara seperti biasa, hanya saja sealaman ia tidak bisa tidur sebab mimpi buruk itu kembali. Belum lagi, hatinya masih galau memikirkan Rama yang tak kunjung mengabari. Ah, sudahlah, mungkin dia sudah lupa. Lelaki seperti Rama kan memang seperti itu, bersyukur aku tidak lepas kendali dengan dia. Tutur Kia dalam hati merutuki kebodohanya, tapi sekarang Kia mengerti lelaki jenis apa si Rama itu. Kia mematut dirinya di depan cermin, mecoba kemeja dan celana baru yang kemarin ia beli bersama Zahra dan Risa. Tak apalah menggunakan sedikit tabunganya untuk memperbaiki penampilan, toh ini juga untuk menunjang pekerjaannya, Kia tidak mungkin selamanya memakai kemeja usang itu. Apalagi Kia bekerja di perusahaan besar di kawasan elit ibukota, kira-kira seperti itulah kedua temanya memberi Kia wejangan. Hingga untuk pertama kalinya Kia shopping di mall dan tentunya menghabiskan banyak uang, namun jumlah yang Kia habiskan tidak ada apa-apanya bagi Zahra dan Risa yang kerap sekali shopping, bahkan Kia melongo saat Zahra membeli tas seharga gajinya. Tak lupa Kia menyemprotkan pink Flambe yang kemarin di beli juga, ia tersenyum dengan percaya diri. dreettt... dreeett... Handphone Kia berdering tanda panggilan masuk, Kia hanya melirik pada screen hpnya. Lalu menghembuskan nafas kasar, tak menghiraukan panggilan itu, tak lama setelahnya bunyi notifikasi w******p masuk. 4 panggilan tak terjawab "Sayang? " "Kok gak di angkat? kamu belum pergi kerja, kan?" "Kia, are you oke?" Kia hanya membaca pesan itu tanpa berniat untuk membalasnya, sebab sudah sangat kesal dengan tingkah Rama yang seolah tidak terjadi apa-apa antara mereka. Padahal Kemarin Rama sangat dingin dan acuh. Enak saja dia pikir, dia siapa? bisa seenaknya datang dan pergi seperti ini. Kira-kira seperti itulah u*****n Kia saat ini pada Rama. Langkah Kia terhenti, saat melihat Rama yang bersandar pada badan mobilnya, Kia memundurkan langkahnya dan berjalan melewati jalan lain untuk menghindari Rama. "Kiaaa," teriak Rama, namun gadis yang di panggilnya itu tidak menoleh, entah karna tidak dengar atau sengaja tak mendengar. Tapi Rama yakin, Kiara, gadis itu pura-pura tak mendengar teriakannya. Dan memang benar, Kiara memang tak menghiraukan panggilan Rama, gadis itu justru buru-buru menaiki angkot yang melintas meninggalkan Rama sendiri. Kia menghela nafas saat memasuki lobbi setidaknya, hari ini dia selamat dari Rama, untung saja sekarang ia pindah ke lantai 7. Jadi kalau Rama pergi menemui Pak Ari, mereka tidak akan bertemu. Seusai jam makan siang, Kiara dipanggil oleh Pak Ari, membuat Kiara bingung ada urusan apa sampai harus ke ruangan Managernya. Bukankah semua kerjaan sudah selesai?, kalaupun ada tambahan biasanya Risa yang akan meminta. "Kia, jangan lama nanti Pak Ari marah," ucap Sakti, kepala divisi marketing. "Iya, Mas," jawab Kia, seadanya sembari bangun dari duduk, lalu melangkah menuju ruang atasanya. Tok ... tok ... tok... "Masuk, Kia," perintah Ari, yang memang sudah tahu siapa orang yang mengetuk pintu ruanganya. "Siang, Pak." Kia membuka pintu saat mendengar perintah managernya yang menyuruh Kia masuk. "Duduk, Kia." Ari mempersilahkan Kiara duduk di hadapanya. "Kenapa ya, Pak? kerjaan saya ada yang salah atau gimna pak? atau ada yang kurang?" mendengar pertanyaan beruntun itu membuat Ari sedikit ingin mengerjai Kiara, namun ia urungkan niat itu. Ari hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum, membuat Kia bertambah bingung. "Gue udah mintain izin selama 20 menit sama kepala divisinya. Selesaikan segera, dia banyak kerjaan bukan urusin perasaan lo aja!" Kia yang bingung dengan ucapan Ari, mengikuti arah pandang lelaki yang menjadi atasanya itu. Kiara terkejut melihat Rama sedang duduk di sofa sudut ruangan, dengan tangan menyilang dan matanya menyorot tajam pada Kia. "Apaa? Rama disini ? apa-apaan ini? " Karna terlalu gugup saat masuk tadi Kia sampai tak melihat, jika ada seseorang yang duduk di sudut ruangan. "Maksud Pak Ari? jadi ini gak ada hubunganya sama kerjaan? kalau gitu saya permisi!" ucap Kia, saat managernya itu berjalan menuju pintu. Dia hanya mengangkat kedua tanganya, mengisyaratkan kalau ia tak tau apapun dan tak ikut campur. Kia hendak mencapai hendle pintu, dengan sigap Rama menarik lenganya lalu mengunci pintu dan mengaktivkan peredam suara. Kiara menatap berani pada Rama, sebaliknya lelaki di hadapan Kia itu menatapnya sendu. Tangan Rama kini berpindah ke pinggagang Kiara mengikis jarak mereka. Seolah terhipnotis oleh tatapan Rama, Kia hanya diam saja, saat tangan kanan Rama membelai wajahnya. Jemari Rama kini membelai lembut bibir Kiara yang begitu menggoda. Ah sial, Rama Sepertinya menginginkan lebih dari ini. Cup. Rama tak tahan lagi akhirnya mengecup bibir manis yang mungkin akan menjadi candu baginya. Kia mendorong kasar Rama, namun lelaki itu segera menarik dan memasukan kiara dalam dekapanya. "Aku kangen kamu, kenapa kamu menghindar, hm?" "Bullshit, pembohong, kamu itu nggak lebih dari seorang playboy Mas dan aku, aku nggak menghindari kamu, bukannya kamu yang menghindar. Kamu yang sok sibuk sampe aku mikir, kalo kamu lupa pernah kenal sama aku," cerocos Kia, melampiaskan kemarahanya sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan dari Rama. "Kamu yang bohong sayang, kamu pikir untuk apa Mas minta Ari kasih waktu untuk kita di ruanganya, kalo kamu nggak menghindar, Mas nggak nahan kamu disni. Tadi pagi, Mas jemput, kamu malah lewat jalan lain dan memilih naik angkutan umum. Padahal, Mas panggil kamu, terus pas makan siang, Mas tunggu kamu di kantin tapi kata Risa, kamu nggak ikut makan. Apa itu namanya kalo bukan menghindar dari aku, sayang?, dan Mas nggak lupa sama kamu, hanya saja-" Rama menggatungkan kalimatnya saat menangkupkan kedua telapak tanganya pada pipi Kia, menatap intens mata yang sudah memerah menahan tangis. "Hei, jangan nangis sayang, kita duduk dan bicarakan semuanya. Masih ada 15 menit lagi sebelum bos rese kamu itu deteng," ucap Rama lembut, Kia tersenyum mendengar Rama yang mengatai bosnya sebagai bos rese. Kia akui Rama sangat pandai menyelami hatinya, lelaki itu tau bagaimana cara menghadapi Kiara yang sedang ngambek mode on. Rama mulai menjelaskan kenapa kemarin ia mengacuhkan Kia, meski Kia sendiri tak percaya sepenuhnya pada penjelasan Rama. "Jadi, jangan anggap diri kamu rendah. Nggak ada yang merendahkan kamu disini sayang dan apa yang kita lalui kemarin itu bukan untuk merendahkan kamu, dan Mas nggak akan pernah lupa sama kamu," ucapnya lembut, tangannya sibuk menyelipkan helai rambut Kia yang menjuntai menutupi wajah ayunya. "Yes, i know. Tapi kamu menjadikan saya pilihan kedua, ya kan? " Rama termenung memandangi Kiara. Lelaki itu bingung harus bagaimana menjelaskan pada Kiara. Tidak... Tidak bukan seperti itu. Ini bukan yang aku harapkan. Rama membatin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD