Rindu Ayah

1146 Words
Sepulangnya dari kantor tadi, Rissa dan zahra mengajaknya pergi nonton filem terbaru di Mall. Namun Kiara menolaknya, gadis itu sedang kehilangan moodnya. Kiara menghela nafasnya, mengingat semua cerita hidup yang di lalui hingga bisa berada di ibukota. Jika bukan berkat bantuan tantenya yang baik hati itu, mungkin sampai hari ini Kiara masih dirundung pilu. Tangannya terulur, menggapai bingkai kecil di sudut meja kayu sederhana di dalam kosnya. Kia mengusap lembut, gambar seseorang di dalam foto itu. Airmata yang sempat tertahan akhirnya luruh juga, saat melihat wajah teduh sang Papah yang kini hanya bisa ia tatap fotonya di kala rindu melanda. Papahnya, satu-satunya orang yang selalu membela dan menyayangi. Ia sangat bersyukur sebab di anugrahi Papah yang baik, meski sang ibu tak pernah menyukainya. Bahkan seolah membenci Kiara, apalagi semenjak Papahnya meninggal, ia semakin di benci dan selalu dianggap penyebab kematian Papahnya. Jika saja bisa memilih, lebih baik ia saja yang yang pergi. Namun apalah daya ini sudah kehendak yang kuasa, ia hanya bisa menerima dan menjalani semuanya dengan tegar. Maafin Kiara Pah, Kia janji akan menjadi wanita hebat seperti yang Papah harapkan. Ucap Kia dalam hati, saat mengingat nasihat Papahnya dulu. Tangan Kia terulur membuka laci, mengambil album kecil bersampul coklat sederhana. Membukanya perlahan, terlihat foto ayahnya yang sedang memeluk kiara, dengan latar belakang candi borobudur, itulah foto liburan terakhir mereka, sebelum ayahnya pergi selamanya. Kia ingat perdebatan ayah dan ibunya, saat hendak pergi liburan ke Borobudur. Seperti biasa, ibunya tak mengijinkan Kiara untuk berlibur bersama, dengan alasan untuk menjaga rumah. Tapi ayahnya selalu berusaha agar Kia ikut meski harus berdebat. Hingga ibunya kalah dan membiarkan Kiara ikut, namun tentu tak membiarkan Kiara berlibur dengan tenang. Sebab seperti biasa, di hotel Kia hanya tidur di sofa, dan bertugas membawa juga membereskan barang-barang mereka, untung saja ayahnya yang baik itu selalu membantunya. Kia pun tak mempermasalahkan itu semua asal ia bisa ikut berlibur bersama. Setidaknya, ia bisa terlihat seperti keluarga harmonis di depan teman sekolahnya. Kiara membalik halaman album, terpampang foto keluarga. Itu adalah satu-satunya foto keluarga yang Kiara punya, sebab ibunya tidak pernah mau satu bingkai dengan Kiara, seolah dia bukanlah bagian keluarga itu. Namun hari itu, sehari sebelum kepergian sang Papah, mereka foto bersama sebab Papah belum sempat foto saat wisuda megisternya kemarin. Seperti biasa, Ibu Kiara menolak jika Kiara ada di antara mereka. Namun lelaki paruh baya itu, memohon pada istrinya untuk kali ini dan terakhir kali. Ia meminta agar kami foto bersama. Kiara berdiri di samping Papahnya, memakai gaun sederhana berwarna Navy yang terlihat anggun. Sedang Mamah mengenakan kebaya dengan warna senada begitupun kedua adik Kiara, dan Papah tentu saja memakai jubah wisudahnya. Mereka semua tersenyum bahagia dalam foto itu, orang yang tidak tahu mungkin akan melihat, mereka sebagai keluarga yang sangat bahagia. Kia melirik pada toga yang tergantung di samping lemari, teringat kala Papahnya memakai kan ia toga sesusai sesi pemotretan, Kia memejamkan matanya mengingat pesan terakhir Papahnya. "Kia, janji sama Papah. Kamu harus bisa meraih pendidikan yang tinggi, jadi wanita tangguh dan jangan mudah menyerah dengan segala keadaan yang akan menimpa kamu. Papah yakin kamu akan menjadi wanita yang hebat. Jangan berhenti, dan jangan pernah menyerah. Ingat kamu harus bisa meraih gelar sarjana, meski Papah mungkin nggak bisa liat kamu," ucap Pak Hermawan-papah Kiara. Lagi, airmatanya mengalir tak terbendung, Kiara sangat rindu Papahnya. Rindu lelaki yang mencintainya dengan tulus itu, bagi Kiara tidak akan ada lagi seseorang yang bisa memberikanya cinta setulus Papahnya. Pah, Kia rindu.... Rindu sekali. Sebentar lagi, sebentar lagi Kia akan memakai jubah dan toga milik Kiara, Pah. Papah pasti bangga, kan? ucap Kiara dalam tangisnya. Cukup sudah ia terbuai dengan segala perasaan cintanya pada seseorang, kini saatnya kembali dari mimpi dan menjalani realita hidup, untuk menggapai semua tujuan. Yaitu membahagiakan Papahnya, dengan cara menjadi wanita hebat seperti yang beliau harapkan. **** "Hallo, hallo. Kiara, sayang, kamu ada dimana?" "Dengarkan Papah, Nak. Dimana pun kamu segera pergi dari situ, jangan pulang kerumah, pergi dan sembunyi," "Pah, Papah, maksud Papah apa? Papah dimana?" Tiiiiinnnnnnn..... BUGH... BRAKKK.... "Papahhhhhh...." Kiara terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Mimpi itu muncul lagi, mimpi tentang kecelakaan maut yang membuat membuat sang Papah pergi meninggalkannya. Siang itu, saat jam istirahat sekolah Kiara menerima telfon dari Papahnya. Dengan nada tergesah dan terdengar kalut, Pak Hermawan menyuruh Kiara agar pergi jauh dan bersembunyi. Belum sempat Kiara mencerna semuanya, tiba-tiba terdengar bunyi klakson di susul suara benturan yang nyaring. Kiara terus berteriak memanggil Papahnya, namun tak ada jawaban hingga terdengar bunyi pecahan kaca, dan suara ramai orang-orang. "Hallo, maaf pemilik mobil ini mengalami kecelekaan, kami akan membawanya ke rumah sakit terdekat. Tolong segera datang." Kiara histeris sesaat setelah menerima informasi tersebut, dan bergegas pergi ke rumah sakit. Kiara berlari memasuki ruang IGD, mencari Papahnya, disana terlihat sang Papah terbaring lemah dengan beberapa luka yang terlihat parah, kemeja yang di pakai sudah berlumuran darah. Disambing brangkar terlihat seseorang lelaki berjas lengkap, Kiara segera berlari menghampiri Papahnya. "Pah, ini Kiara, Pah. Hiks. Hiks." Kiara terisak sembari memegang tangan Papahnya. "Ki-a, Kia-ra, saa-yang." "Pah, Papah ini Kiara, Pah," sahut Kiara. "Dengar, Nak. Papah, nggak banyak waktu lagi," ujar Pak Hermawan, dengan suara lemah. "Nggak, Pah, please. Jangan ngomong gitu." Kiara terisak sembari menggelangkan kepala. "Nak, apapun yang kamu dengar tentang Papah nanti, itu semua hanyalah fitnah. Orang-orang itu jahat, Nak. Papah tidak perduli jika mereka tak percaya dengan Papah, asal kamu percaya sama Papah, Papah tak perduli lagi dengan mereka." "Pah, Kiara selalu percaya Papah. Papah orang paling baik sedunia. Papah cepat sembuh biar bisa buktiin kalo Papah, nggak salah," ujar Kiara, terbata dengan airmata yang sejak tadi membasahi pipinya. "Ah, Ki-a, Pap-a-" ucapannya terhenti seiring dengan kedua mata yang menutup perlahan. "Pah, Papah, Papah bangunn.... Dokterrrr.... Papahhh," teriak Kiara histeris. Para petuas medis berdatangan memeriksa kondisi Pak Hermawan. Sedang Kiara di dekap dan di bawa keluar oleh orang yang sedari tadi berdiri di sampingnya. "Pahhh, hiks." Kiara terisak dalam dekapan lelaki itu, percayalah andai saja ia tidak dalam keadaan kalut seperti ini, pasti Kiara enggan berada dalam dekapan seseorang yang tak dikenalnya. "Sudahlah, berdo'a saja untuk Papah mu," ucap lelaki itu, sembari menepuk pelan pundak Kiara. Dari kejauhan, Ibu Kiara berjalan tergesah sambil menahan amarah. "Mamah," Plakkk "Anak kurang ajar, ini semua gara-gara kamu, anak sialan kamu," amarah yang sedari di tahan membuncah juga, Mamah Kiara menamparnya hingga hampir terjungkal, untung saja lelaki tadi menahan tubuh Kiara agar tidak jatuh. "Ibu, anda tidak boleh seperti ini. Tenangkan diri anda, ini rumah sakit," ujar lelaki itu. Tak lama setelahnya, dokter keluar dan menyampaikan kabar duka. Hari itu, Kiara tahu, hidupnya tak akan sama. Separuh jiwanya telah pergi, tak kan ada lagi yang memberinya senyuman, tak ada lagi malaikat plindungnya. Tubuh Kiara merosot di atas lantai, pandanganna kosong dengan mata di penuhi airmata yang menalir deras. "Dengar, Nak. Apapun yang kamu dengar itu fitnah." "Nak, mereka semua jahat" Kiara memejamkan mata, kedua tangan terkepal, ia berjanji akan menemukan orang-orang jahat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD