Sandwitch telur

1068 Words
Beberapa hari setelah acara makan siang di apartermen Rama, dan berakhir dengan teguran dari Ricco, mereka belum bertemu lagi. Sebab Rama tengah mengurus beberapa proyeknya di luar kota. Ini sudah hari ketiga Rama di luar kota, namun bukan itu yang Kiara risaukan. Entah itu karna sibuk atau apa tapi Kiara merasa Rama sengaja mengacuhkanya. Bukan ia tak paham dengan kesibukan lelaki itu, hanya saja chat nya kemarin membuat Kiara merasa, bahwa ia memang bukan seseorang yang Rama inginkan. Ah, tentu saja siapa aku? hanya gadis kampung sedehana yang sedang mencoba peruntungan baik di ibukota. ucap Kiara dalam hati. Me: Siang, lagi apa? Temenya Pak Ari: siang, sedang kerja. Kenapa? Me: Gpp, sibuk? Temnya Pak Ari: iya. Me: Kok bhsanya formal bgt sh, Mas? Temenya Pak Ari: Tidak, biasa saja. Saya memang gini sebelumnya. Me: oh, oke. baik. Terimakasih. Kiara membaca ulang isi chat dengan Rama di room chat whattsapp nya. Ia bingung kenapa Rama seperti ini, seperti orang yang tidak saling mengenal. Kiara termenung, pikiran negatif tentang Rama berkelebat dalam pikiranya. Hingga suara seseorang membuyarkan lamunan Kiara. "Kiaaa, honey, bunny, sweety.... Where are you?" siapa lagi yang memiliki suara maha dahsyat selain Zahra, gadis itu melangkah melewati kubikel menuju meja Kia membuatnya tersenyum. Kia yakin, para karyawan mengutuk suara Zahra yang sering membuat ke bisingan di sini semenjak ia resmi pindah ke lt 7. Untung aja senior, kalo kaga udh gw libas. Kia hanya tersenyum mendengar komentar teman di sebelahnya. "Kenapa. Ra?," tanya Kia, saat Zahra sudah di depan mejanya. "Ya makan siang lah, tuh liat udah jam 11:56." Zahra menunjukan arlogi di tanganya. "Ya udah bentar, aku beresin ini," ucap Kia, sembari membereskan beberapa file di atas meja kerjanya "Yuk, kita makan di caffe sebrang aja ya. Aku sama Risa lagi pengen Dessert Strawberry choco lava," cerocos Zahra, sembari berjalan menuju lift. Ting.... pintu lift terbuka, Zahra dan Kia bergegas keluar kantor, lalu berjalan kaki menuju caffe yang ada di sebrang jalan. "Panass banget deh ampun, untung pake sunscreen," cerocos Zahra, sembari mangangkat telapak tangan kanannya menutupi wajah beningnya itu, dari sengatan matahari. "Si Risa nih kerjaanya. Mending makan yang agak jauhan dikit, jadi bisa pake mobil. Ini deket sih, tinggal nyebrang tapi ampun deh panas gini," sambung Zahra, dengan langkah semakin cepat, membuat Kiara hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan temanya itu. Dari kejauhan, seseorang memperhatikan langkah mereka dengan sorot mata tajam. "Awasi mereka, aku tidak mau mendengar kalau laki-laki bernama Hans itu mengganggunya lagi," ucapnya, pada seseorang di balik telefon dengan mata yang terus memperhatikan kedua wanita itu-lebih tepatnya memperhatikan Kiara. Hans akhirnya di pecat setelah terus mengganggu Kiara, bahkan sempat suatu hari ketika Kiara pulang malam. Lelaki bernama Hans itu, memaksa Kia untuk masuk ke mobilnya, untung saja ia sudah mempekerjaan orang untuk mengawasi Kiara, semenjak ia menemukan keberadaan gadis yang telah lama dicarinya. Jika tidak, mungkin saja lelaki sialan itu akan berbuat sesuatu yang buruk pada Kia. Krincing.... Lonceng kecil di sudut pintu berbunyi saat mereka memasuki caffe, begitu melewati pintu Kiara mengedarkan pandangannya melaihat cake dan roti yang tertata rapih dalam lemari display, strawberry cheese cake, choco cheese dan banyak lagi. Namun pandangan Kiara tertuju pada deretan sandwitch yang terbungkus mika. Kia menghampiri deretan sandwitch , ia termenung kembali sampai akhirnya Risa menghampirinya. "Kamu mau makan sendwicth? aku mau pesen fettucini, kamu mau gak?"tawar Risa. "Nggak Mbak, aku kayanya mau makan ini aja sama cheese cake," ujar Kia, sembari mengambil sebungkus sendwitch telur. Kiara memandangi sandwich yang kini ada di tanganya, mengingat kenangan yang cukup menyedihkan baginya. Kala itu, Kia dan keluarganya berlibur, saat mereka menunggu KTM di stasiun KL sentral . Kiara memandang deretan sandwitch yang terpajang rapih di depan minimarket dengan berbagai variant isi. Membuat perut laparnya meronta minta di isi. Tadi pagi di hotel, ia belum sempat sarapan sebab membatu ibunya menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa untuk jalan-jalan. Lagi pula, hotel hanya menyediakan empat breakfast, jadi tetap saja Kiara tidak akan mendapat jatah, karna sudah pasti akan dimakan ayah, ibu dan dua adiknya. "Kia mau, nak? " tawar Papah Kia, sedari tadi menyadari bahwa putrinya memandang sandwitch itu. Mungkin gadis kecilnya lapar sebab sedari tadi belum sarapan. "Iya, Pah," jawab Kia, dengan senyumnya. Pak Hermawan beranjak, hendak menuju minimarket kecil yang berjarak beberapa langkah dari tempat mereka duduk. "Kemana?" tanya ibu Kia, saat melihat suaminya beranjak. "Mau membelikan Kia sandwitch, kasian belum sarapan dia, Mah." "Enak aja, nggak usah suruh siapa tadi pagi nggak ikut makan," ucapnya, dengan nada ketus. "Mah, dia kan di suru kamu buat nyiapin perlengkapan kita, udahlah Papa mau beliin sarapan buat Kiara," jawab lelaki paruh baya itu. "Papah, Mamah bilang nggak usah. Nanti jajan kita bisa kurang, ini di luar budget, nggak ada anggran buat sarapan di luar," ujar sang Ibu, yang terlihat sekali sangat perhitungan dengan Kiara. "Ya ampun Mah, roti itu harganya nggak seberapa. Kalo Papah beliin Kia roti sama s**u paling hanya 5 ringgit Mah, bukan harga mahal." Pak Hermawan kembali membantah ucapan istrinya itu. Sedangkan Kiara hanya menunduk, mendengarkan perdebatan orangtuanya yang sudah sering terjadi, karna Papah selalu membela Kia. Agar mendapatkan hal yang sama seperti kedua saudaranya. "Kia tunggu di sini ya sayang, sama Adek. Papah beli sarapan buat kamu," ucap ayah kia lembut, sembari mengusap Rambutnya. Terimaksih Papah.... Risa dan Zahra sedang menikmati pesanan mereka, begitupun Kiara yang sedang menikmati sandwitch yang di setiap gigitanya, mengingatkan pada sang papah. Hingga tak terasa airmata menetes ke pipi dan hal itu di lihat oleh Zahra. "Kia, lo kenapa? " tangan Zahra mengusap lembut lengan Kia, membuat Risa mengalihkan pandangannya ke arah Kia. "Kia, are you oke?" kini giliran Risa yang bertanya. "Maaf, gak apa-apa aku cuma ke inget Papah," ucap kiara, sembari menghapus airmatanya. "Sabar ya kia, kalo kangen lo bisa telfon dulu atau nanti pas libur bisa pulang ke kampung." Risa menganggukan kepala menyetujui ide Zahra. "Papah... Papah udah meninggal," jawab Kia, di iringi tetesan airmata. "Ya ampun maaf Kia, gue-" "Gak papa kok, santai aja." Kia memotong ucapan Zahra, Kia tak ingin Zahra merasa tak enak hati sebab pertanyaanya itu. Apa? pulang ke kampung? tidak itu tidak akan Kia lakukan. Ia sudah susah payah melewati semua hal untuk mendapatkan kehidupan yang baik. Meski sang Ibu mengancam akan menyeretnya pulang untuk dijadikan istri dari orang yang dia tidak kenal. Kia berharap, bisa melupakan semua hal menyakitkan yang terjadi di hidupnya dengan menjauh dari semua masa lalu. Hidup di tempat baru dan bertemu orang-orang baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD