Seharian bersama

1338 Words
Kiara terkejut saat mendengar dering telfon masuk. Nama Risa tertera di layar handphonenya, ia bingung harus menjawab atau tidak panggilan masuk itu. Namun akhirnya Kiara mengangkat panggilan itu dengan gugup, takut jika Risa tau keberadaanya. "Halo, Kia. Kamu dimana? tadi Pak Ari bilang kalo kamu langsung ke lokasi untuk survay acara minggu ini?" tanya Risa, setelah mendengar info dari atasanya wanita itu langsung menelfon Kiara untuk memastikan. "Oh, iya Mbak, soalnya tanggung bolak baliknya jadi aku langsung ke situ, " jawab Kiara perlahan, agar Risa tak menyadari kegugupanya. "Oke deh, nanti kalo perlu bantuan hub gue ya." Risa mengakhiri telfonnya huffttt. Kiara menghembuskan nafasnya perlahan, untung Risa tak mencurigainya atau bertanya macam-macam. Kiara mengedarkan pandanganya di setiap sudut ruang tv, rupanya setelah makan siang dan perbincangan tadi ia tertidur di sofa. Tapi kemana perginya pria itu? Tidak mungkin kan Kiara ditinggal sendirian di sini? "Sudah bangun? " Kiara tersenyum, memandang seseorang yang baru saja keluar dari kamar. "Hmm, udah, Mas," jawab Kia, masih belum sadar sepenuhnya setelah bangun tidur. Rama duduk di samping Kiara, sambil mengulurkan segelas air putih di tanganya. "Minum dulu, sayang." tangan Rama membelai lembut rambut Kiara, membuat gadis itu menjadi salah tingkah sekaligus senang. Sebab akhirnya, ada seseorng yang memperlakukanya dengan baik. Meski perasaan bahagia itu muncul diiringi dengan rasa bersalahnya, pada wanita yang lebih berhak atas diri Rama. "Kalau masih ngantuk tidur lagi aja, nanti Mas yang urus semua laporan dan kerjaan kamu," tawar Rama pada Kiara, namun seperti dugaannya gadis itu menggeleng pelan. Menolak lagi bantuan dari Rama. Padahal Rama hanya ingin memudahkan semuanya. "Kalau Mas nggak bisa ikut kelapangan biar aku aja sendiri nggak apa-apa." Kiara menundukan kepalanya, memainkan telunjuknya pada bibir gelas yang ia pegang. Membiarkan ia pergi sendiri? Apa-apaan gadis ini, jelas-jelas Rama menahannya disini agar bisa berdua bersamanya. Tapi justru gadis ini, ingin meninggalkan Rama sendirian. Hanya untuk pekerjaan yang bahkan menurut Rama, bisa ia bereskan dengan mengirim anak buahnya saja. Kenapa gadis ini selalu memilih pilihan yang sulit, padahal ia menawarkan semua kemudahan. Asal Kiara selalu di sampingnya. Rama akhirnya mengalah pada ke inginan Kiara, yang kekeh untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri. Tanpa mau di wakilkan oleh anak buah Rama. Karyawan baru mu terlalu jujur dan pekerja keras, padahal aku sudah menawarkan semua kemudahan untuknya begitu isi pesan Rama pada Ari yang tidak lain adalah atasan Kiara. Bersabarlah, dia memang berbeda. balas Ari. untuk itu, kali ini aku tak mengijinkan mu mengagumi dan pastikan tidak ada yang boleh mendekatinya. Ari tersenyum membaca pesan Rama, baru kali ini ia melihat Rama sangat menginginkan seseorang, seperti beberapa tahun lalu. aku tidak bisa melarang siapa pun untuk mendekatinya. Kiara cantik, pintar dan sederhana dan yang terpenting ia single. Rama mengeram kesal membaca pesan dari sabat kecilnya itu, tapi apa yang dikatakan Ari memang benar. Kiara... Kau harus selalu di sampingku apapun yang terjadi, ku pastikan kau hanya menjadi miliku, milik Rama Purwadinata. ***** Treeettt.... Bel aparterment Rama berbunyi, ia bangun lalu membukakan pintu. "Ric,lo-" "Kenapa? kaget banget kayanya, ada siapa emang?" ucap Ricco, lalu menerobos masuk kedalam aparterment. "Kamu!, ada keperluan apa disini, hah," ucap Ricco dengan nada geram, saat melihat salah satu karyawanya ada di sini. Sedangkan Kiara gadis itu, langsung berdiri dan menundukan kepalanya, ketakuan. "Ric, apa-apaan sih lo," ujar Rama, saat melihat Kiara ketakutan. "Ma-maaf Pak, saya tadi makan siang dan berencana survay ke-" "Jangan alasan kamu, Kiara! lalu untuk apa kamu kemari,hah," ucap Ricco dengan nada tinggi. "Ric,sialan lo-" "Maaf, Pak. Saya permisi," pamit Kiara, segera berlari keluar aparterment dengan airmata yang mulai mengalir. "Kiara," pangilan itu menghentikan Kiara, ia segera menghapus airmatanya. "Kamu pergi dengan saya," ucap Ricco tegas. "Terima Kasih, Pak. Tapi sa-" "Kamu menolak tawaran ku?. Ayolah, yang benar saja. Bahkan kamu tidak menolak ajakan Rama, padahal tidak ada hubunganya dengan pekerjaan. Sedang kan saya?, mengajak kamu karna kita punya pekerjaan yang sama." Ricco melangkah meninggalkan Kiara. Langkah Ricco terhenti sebelum memasuki lift "Oh, dan satu lagi. Saya atasan kamu, kalau kamu lupa," tambah Ricco, dengan nada sinis. Ada rasa bersalah saat Ricco melontarkan kalimat sinis bahkan memarahi gadis itu. Namun, ia sudah tak bisa membendung kekesalanya lagi terhadap Rama. Sedangkan Kiara tak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan bosnya itu, ia terpaksa pergi bersama Ricco, rakut jika atasanya bertambah marah, dan memecatnya. Suasana di dalam mobil sangat hening, Kiara meremas ujung kemejanya. Sesekali melirik Ricco yang sedang mengemudi di sampingnya. "Ada yang ingin kamu katakan, Kiara?" tanya Ricco, yang menyadari tingkah Kiara. "Hmm, itu, Pak. Saya turun di halte depan saja," ujar Kiara pelan, takut membuat atasannya itu berang. "Kenapa? mau kemana lagi kamu?" tanya Ricco. "Huftt, maaf Pak. Saya mau mampir dulu ke toko buku yang di depan sebentar. Setelah itu baru saya ke lokasi," terang Kiara, berharap bos galaknya ini mau mengerti. "Ya sudah, sekalian saja," ucap Ricco, masih dengan wajah datarnya. "Tapi, Pak," "Jangan banyak tapi. Apa kamu mau saya SP 2, karna meninggalkan kantor tanpa ijin di jam kerja!" acam Ricco. Telak, Kiara tak bisa berucap apapun selain menuruti keinginan Ricco. Sesampainya di toko buku, Kiara mengedarkan pandanganya, mencari buku yang sesuai dengan arahan dosennya. Kiara melangkah, menyusuri rak buku dengan tag Komunikasi. Setelah mendapatkan bukunya, mata Kiara tertuju pada beberapa buku yang menurutnya bisa menjadi referensi untuk mata kuliahnya. Ia mengambil dua buku berjudul The art of communication karya Muchlis Anwar dan Seni berbicara karya Larry King. Sedangkan Ricco, hanya memperhatikan Kiara yang begitu focus dengan buku-buku di rak. Setitik senyum terbit di bibir Ricco, seolah tengah mendapatkan sesuatu yang telah lama ia inginkan. "Totalnya, 590.000, Kak," ujar Kasir itu dengan senyum hangat. "Ini." Ricco menyodorkan sebuah debet card pada kasir, saat Kiara hendak mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. "Jangan, Pak, biar saya bayar sendiri," ujar Kiara, tentu saja di hiraukan oleh Ricco. "Sudah kan? kalau gitu kita jalan sekarang." Kiara hanya mengangguk pasrah mendengarkan ucapan Ricco, dan berjalan mengekor di belakangnya. ****** Sayang, kamu sama Ricco? kamu di apain? di marahin? pesan beruntung yang Rama Kirimkan pada Kiara baru saja di buka oleh gadis itu. Nggak, udah dulu Mas. Aku ada kerjaan. jawab Kiara singkat, sebab ia merasa di awasi oleh atasannya itu. Saat ini, Ricco dan Kiara sedang melihat langsung persiapan acara besok yang sudah 85% selesai. "Menurut kamu, bagaimana Kiara? sudah cukup?" tanya Ricco, sembari memperhatikan sekitarnya. "Kalau boleh saran, mungkin kita buka stand air minum gratis, di tambah makanan tradisional , untuk menarik perhatian pengunjung. Nanti yang ambil air minum dan makan kita kasih flayer dan di persilahkan melihat gallery kita yang tersedia di stand, setelah itu bikin kuis, yang jawabannya benar akan mendapat hadiah langsung. Anggap saja sebagai ajang perkenalan project baru kita, Pak. Setidaknya nama perusahaan kita, bisa melekat di hati audience. Jadi saat orang ingin cari properti mereka akan ingat PT. Sentosa Jaya Mandiri. Saat orang memikirkan properti maka yang teringat adalahThe golden house, the greend heaven, Ubud village dan lainya, membuatnya saling melekat satu sama lain," terang Kiara panjang lebar. "Bagus, kamu urus semuanya. Kamu koordinasikan dengan sekertaris saya apa yang di butuhkan, biar dia yang membantu," ujar Ricco, tersenyum pada Kiara, sebab untuk kesekian kali memberikan ide kecil namun bisa memberi manfaat besar kedepannya. Hari menjelang temaram, kala Ricco mengajak Kiara pulang. Oh, bukan pulang. Namun mengajak gadis itu makan dahulu, di sebuah caffe dekat danau yang di kelilingi lampion indah. "Maaf, jadi ngerepotin ya, Pak," ujar Kia, menatap Ricco yang sedang sibuk dengan gadget nya. "Santai, ini juga kan kita sedang kerja," ucap Ricco, dengan mata masih tertuju pada pada gadget nya. Calvin.... ucap Kiara lirih, saat melihat bayangan masa lalunya, melangkah memasuki caffe. "Ck, mata mu bisa keluar jika terus memandang seperti itu," tegur Ricco, saat melihat pandangan Kiara focus pada seorang pria seusianya yang baru saja memasuki caffe. Cemburu? "Maaf, maaf Pak. Itu saya pikir teman saya," ucap Kiara, menjelaskan. Tak salah lagi itu Calvin, sedang apa dia disini? Semenjak kejadian dimana Calvin menjadikan Kiara bahan taruhaan, gadis itu tidak lagi bertemu dengannya, hingga saat ini. Dia juga baru tahu ternyata Calvin ada di kota. Sedangkan Ricco, mendengus kesal karna Kiara justru memperhatikan lelaki lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD