Sebuah Kesalahan

887 Words
Suasana makan siang yang awalnya terasa canggung bagi Kiara, ternyata sangat santai. Sebab Rama melontarkan berbagai candaan dan obrolan ringan, membuat nya merasa nyaman bersama lelaki itu. "Gimana sayang, enak?" tanya Rama lembut, sembari mengulurkan gelas berisi air minum pada Kiara. "Heheh, iya, Mas, enak pedes." Kiara menerima uluran gelas berisi air itu dan langsung meminumnya. "Pedes banget ya? kamu terlalu banyak masukin sambal nya, tuh liat kuah sop nya merah semua gitu." Rama meringis melihat isi mangkok sop Kiara, yang justru lebih terlhat seperti sop cabe di bandingkan sop sapi. "Enak lho, Mas," jawab Kiara, dengan mulut penuh makanan. "Pelan-pelan aja, sayang." tangan Rama mengambil tisu lalu mengelap sudut bibir Kiara sambil tertawa gemas. Gadis ini, bahkan makan pun seperti anak kecil, tapi justru aku menyukainya. Padahal penampilanya jauh sederhana dari para wanita di dekatku. Aneh, tapi ini kenyataanya. ucap Rama dalam hati, sembari memerhatikan gadis yang makan dengan lahap dengan mulut yang sepertinya merasakan pedas. Lagi, Rama bergidik ngeri melihat kuah sop yang begitu merah. Baru kali ini Rama menemui perempuan sederhana, tidak terlalu jaim dan apa adanya bahkan terkesan cuek. Selama ini hampir semua wanita di dekatnya selalu menutupi semua kekurangan mereka dengan segala hal yang berlebihan, mereka selalu ingin terlihat anggun dan berkelas. Meski tidak nyaman. Tapi Kiara, gadis ini sangat sederhana... Suatu hal menarik yang membuat Rama semakin ingin memiliki Kiara. Egois memang, tapi ia harus memiliki Kiara di sampingnya. Ya, Kiara harus menjadi miliknya. "Mas, sini piringnya sekalian aku cuci," ujar Kiara, sembari membereskan meja makan. Terlalu larut dalam lamunanya hingga Rama tak menyadari jika gadis itu telah menghabiskan makanannya. Rama diam saja menikmati pemandangan ini, memperhatikan Kiara yang sedang membersihkan dan membawa piring menuju westafel . "Mas, dapur kamu bersih banget deh padahal-" aktivitas Kiara terhenti kala merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya. "Mas," Kiara mencoba melepaskan pelukan Rama, ada rasa tenang namun juga rasa khawatir. Ya, khawatir jika ia terlalu nyaman, berada di dekat lelaki yang saat ini sedang mendekapnya dari belakang. "Sebentar aja Kia, please," ucap Rama, memohon dengan suara yang terdengar lelah membuat Kiara diam dan melanjutkan kembali aktivitas mencuci piringnya. Meski geraknya terbatas sebab Rama enggan melepas pelukanya. Gadis itu terkejut kala mendengar suara isakan Rama yang berada di ceruk lehernya. Ia bergegas membersihkan tanganya dan berbalik menghadap lelaki itu. Wajahnya terlihat kusut tak seceria tadi saat mereka makan, Kia memberanikan diri menempelkan kedua telapak tanganya membingkai wajah Rama. Mengangkat wajah lelaki itu, memperhatikan dengan baik lekuk wajah di hadapanya, lalu merengkuhnya sembari mengusap lembut bahu kokoh yang kini terasa lemah dalam dekapnya itu. "Kenapa. Hmm?" tanya Kia lembut. "Aku capek, mau peluk kamu aja," ujarnya lembut. "Oke, kita ke depan aja yuk!" Rama mengangguk setuju, lalu berjalan menuju ruang TV. Mereka duduk di sofa dengan Rama yang merebahkan kepalanya di pangkuan Kiara. Tangan gadis itu terulur membelai lembut surai rambut yang tertata rapih itu. "Apa dia gak akan marah kalau tau kita disini, berdua?" pertanyaan yang begitu saja terlontar dari mulut Kiara saat melihat sebuah bingkai foto berwarna putih gading di sudut ruangan, membuat hatinya gusar tak karuan. Ada rasa bersalah pada dirinya, namun Kiara ingin sekali ini saja merasakan kenyamanan yang belum pernah ia dapatkan. Maaf kan aku, Mbak. ucap Kiara dalam hatinya. "Gak perlu risaukan apapun, sayang." Rama meraih tangan Kiara lalu menciumnya lembut, dan meletakan di dadanya. Nyaman. Itu yang Rama rasakan saat ada di dekat Kiara. "Kamu tau? dari kemarin rasanya aku pengen banget peluk kamu, aku ngerasa kayanya tenang banget kalo ada di dekat kamu." ucapnya dengan mata yang terpejam, seolah sangat meresapi suasana ini. Kiara hanya diam dan mendengarkan semua perkataan Rama, meski ada rasa tak percaya dengan semua ucapan lelaki itu. Namun Kiara tak banyak bicara. Ia hanya ingin menikmati waktu bersamanya dengan baik, sebab mungkin moment seperti ini tidak akan pernah ia rasakan kembali. "Aku lelah sama dia, seolah tidak pernah mengerti keadaan. Tingkah laku dan semua hal yang melekat padanya membuat ku menjadi muak," tutur Rama tiba-tiba, dengan mata yang masih terpejam. "Jangan gitu, coba deh kamu ngobrol dulu, mau dia apa atau gimana. Kan nggak mungkin dia bersikap gitu tanpa sebab." Kia mencoba memberi saran, meski hatinya sendri tak karuan mendengar curahan hati dari lelaki yang ia cintai ini. "Udah sayang. Semua cara udah Mas coba, tapi nihil. Sampe rasanya capek sendiri, yang Mas pikirin nggak cuma urusan dia aja. Tapi kerjaan dan banyak hal lainya. Sedangkan dia, bahkan diajak bicarapun susah, aku cuma pengen tenang, meski aku laki-laki tapi aku juga perlu sandaran saat lagi lelah banget kaya gini," Rama mencium kembali tangan Kiara "Terima kasih ya, sayang, udah mau nemenin aku."Kiara hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Biarlah begini, biarlah ia egois kali ini, ia juga berhak merasakan bahagia, bukan? sudah cukup selama ini ia selalu mementingkan perasaan orang lain. Terimaksih Tuhan, meski aku tau ini salah. **** "Dimana lo, Ram?" "Kenapa, sih, Ric?" jawabnya, melalui sambungan telfon yang menghubungkan mereka berdua. "Lo dimana? ada yang mau gue bahas. Kiata ketemu,atau gue samperin lo." Ricco sudah tak bisa menahan diri saat tau jika Rama membawa Kiara ke apartermentnya. "Huftt. Oke, oke. Kita ketemu sorean ya? di caffe depan kantor lo," jawab Rama. "Oke, gue ke apartment lo sekarng, tuttt." Ricco mematikan panggilan telfon sepihak. Sial . Rama membatin. Lalu melangkah hendak keluar kamar, dan terkejut melihat seseorang yang sudah berdiri di belakangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD