Serba Salah

1045 Words
"Hai... Sayang" kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Rama, saat Kia masuk kedalam mobilnya. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum kikuk. "Mau makan apa?" tanya Rama, sembari memperhatikan jalanan di depannya yang sepertinya mulai padat di jam makan siang. "Hmm, apa aja deh," jawab Kia singkat, bukan tanpa alasan sebab Kia pun tak tak tau tempat makan yang enak di sekitar kantornya. Selain di footcourt lt 5 tempat biasa ia makan bersama Zahra. "Jangan gitu, Mas bingung nih kamu maunya apa? mau makan nasi atau cemilan? coba liat sekitar jalan sini ada nggak yang kamu mau?" tanya Rama, sambil menurunkan ke cepatnya agar saat Kia menemukan makanan yang diinginkan, ia bisa langsung berhenti. Sedangkan Kia yang duduk di sebalahnya, tengah sibuk meliat-lihat makanan yang berjajar di pinggir jalan. "Sop Sapi mau?" tawar Rama, pada Kia saat ia melihat sebuah kedai di depan nya. "Hmm, boleh deh, Mas." bukan ide buruk makan sop sapi di siang hari rasanya segar apalagi minumnya es jeruk, hmm pasti enak sekali. Kia sudah membayangkan itu, apalagi terlihat gambar sop sapi yang terpajang di depan terlihat menggiurkan, rasanya membuat perut Kia tidak sabar untuk menyantapnya. "Oke, nggak apa-apa kan sop? kita cobain ya, kalo kamu nggak suka nanti beli yang lain," ujar Rama, sembari memarkirkan mobilnya. Mereka berdua turun dari mobil dan langsung memasuki kedai sop sapi, baru saja Kia menginjakan kaki di pintu masuk, sudah di sambut oleh aroma sop sapi yang menguar dari dalam tungku yang terbuka. Sedangkan Rama, lelaki itu langsung menghampiri pramusaji dan memesan makanannya. "Dibungkus, Mas?" tanya Kia, saat mendengar Rama memesan sop. "Iya, kita makan di apartemen aku aja," ujar Rama, menatap Kia yang sedang bingung mengapa makanannya di bungkus. "Apa Mas? lho jangan, Mas. Jauh nanti aku lambat balik ke kantor," ucap Kia dengan raut khawatir. "Santai, apartemen Mas deket sini kok. Lagian kan kata kamu nanti mau sekalian survey ke lokasi untuk event car freeday, bisa sekalian aja nggak perlu balik ke kantor. Nanti aku yang bilang sama Ari," ucap Rama. "Mas, kan aku bilang jangan campuran hal pribadi ke kerjaan. Aku nggak enak sama Pak Ari." kali ini dengan nada yang sedikit gelisah, sebab memang betul Kia tak enak jika mencampurkan atau bahkan memanfaatkan kedekatannya dengan Rama, agar ia bisa seenaknya di kantor. "Hahaha, udah deh sayang nggak perlu panik gitu, kamu nggak tau ya perusahaan Mas juga kan yang support untuk event nanti. Perusahaan aku di bidang advertising, jadi wajar aja kalo kita survey bareng," ucap Rama meyakinkan, padahal ia hampir tidak pernah survey ke lapangan langsung, karna biasanya karyawannya yang mengatur semua itu. Rama tertawa melihat wajah panik Kiara, dia memang gadis berbeda yang pernah Rama temui. Hampir semua orang di dekatnya menginginkan kemudahan, tapi gadis di hadapanya ini selalu saja menolak dengan dalih tidak ingin mencampuri antara urusan pribadi dan pekerjaan. "Tapi Mas, aku udah bilang ke Mbak Risa kalo mau survay sore sekalian pulang kerja," ucap Kiara, menjelaskan situasinya pada Rama karna takut kalau nanti Risa akan mengganggap ia bekerja semaunya sendiri. Rama hanya tersenyum menanggapinya, tak berbeda dengan Kia yang kini hanya menunduk kebingungan harus melakukan apa, atau harus memberi alasan apa agar bisa terlepas dari Rama kali ini. Sebab bagi Kia pergi berdua dengan lelaki. Apalagi ke aparterment adalah suatu hal yang tabu bahkan mungkin menakutkan bagi Kia. "Berapa?" tanya Rama, pada pramusaji yang mengantarkan pesanan mereka. "Tujuh puluh lima ribu, Pak," ujar Pramusaji itu, menyerahkan kantong berisi makanan yang tadi di pesan. "Ini, ambil aja kembaliannya," Rama mengulurkan selembar ratusan ribu dari dompetnya. "Mas, beneran makan di apartemen kamu?" tanya Kia lagi, saat Rama hendak melajukan mobilnya. "Ya sayang, kan aku udah bilang. Udah kamu relax nggak akan terjadi apapun," jawab Rama, mencoba menenangkan Kia yang sedari tadi gelisah. "Atau gini aja, kita makan di kantin kantor aja ya? kan nant- " "Kia please. Tadi aku udah bilang kalo kita makan di apartemen, kamu tadi juga udah Oke, kita udah jalan bentar lagi nyampe dan kamu masih mau berdebat masalah kita makan dimana?" Rama mulai geram dengan pertanyaan Kia yang berulang kali, seolah enggan sekali untuk diajak pergi bersamanya. "Bukan gitu, ya udah maaf." Kia menundukan kepala, memainkan jemarinya yang saling bertautan. Melihat itu Rama menarik nafas perlahan, tangan kirinya mengusap lembut rambut Kia. "Maaf ya sayang, aku nggak bermaksud apapun. Kamu tenang aja." Rama tersenyum melihat gadis di sampingnya hanya mengangguk pasrah. Ya benar, Rama tidak bermaksud apapun. Ia hanya tidak ingin kedekatanya dengan Kiara di ketahui publik. Jika sebelumnya, Rama tidak merisaukan apapun saat berhubungan dengan para wanita itu. Namun berbeda dengan Kiara, Rama sangat menjaganya. Ia tidak ingin banyak orang mengetahui tentang Kiara. Sesampainya di basement, mereka turun dan langsung masuk kedalam lift yang tersedia di basement. Ting... Lift terbuka Rama menekan angka 32, tangan kirinya menenteng makanan yang tadi di beli dan tangan kanannya menggenggam lembut tangan Kia yang sepertinya terasa dingin. Nervous? mungkinkah? Rama tertawa geli dalam hatinya, apakah gadis berusia 26 tahun ini belum pernah dekat dengan lawan jenis?. Ahh. Rasanya terlalu naif jika ia belum pernah sedekat ini sebelumnya dengan lelaki di luar sana. Gadis di sampingnya termasuk kategori good looking tidak mungkin tidak ada lelaki yang mengajak berkencan sebelumnya. Sedangkan Kia, ia merasa canggung dengan situasi ini, membuatnya mengingat seseorang yang telah membuat hidupnya hancur. Namun di sisi lain Kia sangat nyaman dan berada di dekat Rama, entahlah perasaan macam apa yang ia miliki saat ini. yang pasti Kia tak ingin jauh dari Rama. Ya Tuhan, aku harus apa? berdiri di sampingnya adalah hal terindah. Namun menetap dihati lelaki ini rasanya tidak mungkin. ucap Kia dalam hatinya dengan tidak sadar mengeratkan genggaman tanganya pada Rama, membuat lelaki itu mengalihkan pandangan ke arah Kia. "Hei, kamu kenapa? jangan panik ok, trust me all will be fine. Janji aku nggak akan berbuat macam-macam, kita hanya makan dan ngobrol aja. Hanya saja Mas perlu tempat yang santai dan privacy," Rama meyakinkan lagi, sebab gadis di sampingnya ini terlihat gelisah dan seolah ketakukan. Rama dapat melihat ekspresi wajah Kia dari pantulan pintu lift. Gadis ini, apakah telalu gugup atau takut kepada ku? sungguh baru pertama kali rasanya bertemu gadis seperti ini," ucap Rama dalam hatinya, sembari terus memandang wajah Kia dari pantulan pintu lift, padahal para wanita yang dekat denganya selalu agresif, bahkan terkesan tidak tau malu. Menarik...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD