Kisah Bermula

1491 Words
Terik mentari siang itu masuk menerobos jendela besar di sudut lantai yang di tempati Kiara, setiap lantai di sudut gedung ini terdapat space kecil untuk bersantai. Seperti siang ini, setelah makan siang, Kiara, Zahra dan Risa memilih bersantai menghabiskan jam istirahatnya yang masih tersisa dua puluh menit lagi. "Ra, lagi apa si lo, seneng banget liatin jendela, sini duduk!" ucap Zahra, saat melihat Kiara yang sedang focus menatap keluar jendela. "Pak Wira, dia direktur keuangan? sejak kapan?" bukannya menjawab pertanyaan Zahra, Kiara justru malah bertanya hal yang membuat kedua temannya heran. Sebab tiba-tiba Kiara menanyakan hal seperti itu. "Panjang ceritanya, tapi dulu beliau manager di salah satu cabang. Sebenarnya bukan Pak Wira yang akan menjadi direktur keuangan. Tapi karna calon direktur sebelumnya melakukan penggelapan uang perusahaan, sehingga di ganti oleh Pak Wira. Denger-denger calon direktur waktu itu meninggal sebelum proses hukum di mulai," terang Risa, tanpa menyadari, tangan Kiara terkepal menahan amarah saat mendengar semua itu. Kiara segera menghapus airmatanya yang hendak mengalir, ia membalikan badan menatap kembali jendela besar di hadapannya. Papah, Kiara janji akan membuat mereka membayar semuanya, dan mengembalikan nama baik Papah. Itulah janji Kiara pada Papahnya. "Iya, nggak tau diri banget tuh orang, gosipnya sih dulu beliau cuma orang miskin, karna kegigihannya dia dapet beasiswa gitu. Eh, pas udah dapat jabatan malah di manfaatkan dengan nggak baik, bikin rugi perusahaan yang udah bantu dia keluar dari kemiskinan." Kiara menatap sinis dengan ekor matanya, saat mendengar Zahra berkomentar buruk tentang Papahnya. Ingin sekali Kiara marah dan menjelaskan bahwa itu semua tidak benar. Tapi Kiara memaklumi sikap Zahra, karna tidak ada yang tahu tentang kebenarannya. Kiara menghela nafas perlahan, lalu melangkah menuju tempat kerjanya. "Eh, eh, Kiara kemana masih lima menit lagi, jangan rajin-rajin," teriak Zahra, melihat Kiara yang bergegas pergi begitu saja tanpa pamit. "Omongan gue ada yang salah ya, Ris?" tanya Zahra, pada Risa yang nampak tak acuh. "Entah lah, lain kali ngomong seperlunya aja," jawab Risa, sembari menggedikan bahunya lalu beranjak meninggalkan Zahra yang kini tergopoh mengejar Risa. ****** "Risa, Kia nanti sore kalian ikut ya, ada sedikit perayaan kecil buat kita," ucap Pak Ari, sebelum masuk kedalam ruangannya. "Kemana, Mbak?" tanya Kia, pada Risa yang sepertinya mengetahui agenda mereka hari ini. "Aku juga nggak tau, kayanya sih makan malam sambil bincang-bincang gitu." "Haaa.... Bener, Mbak? sama mereka?" tanya Kia tercengang, tak biasanya ada atasan dan karyawan bisa seakrab itu. Bahkan mau mengundang karyawan baru seperti dirinya untuk bergabung. "Kenapa?" tanya Risa, sambil tersenyum. "Santai aja, mereka itu baik kok, anggep temen aja kalo udah di luar kerjaan, lagian nanti ada aku," sambung Risa, seraya melanjutkan kembali pekerjaannya. Waktu bergulir cepat, dengan Kiara yang masih memikirkan ucapan kedua temanya. Tentang Wira dan calon direktur dulu yang tidak lain adalah Papahnya sendiri. Gadis itu mulai berpikir, bagaimana membuktikan pada semua orang. Jika Papahnya, tidak pernah berbuat seperti itu. Justru ia dikhianati oleh teman baiknya, bahkan orang itu kini hidup dengan bahagia dan layak. Sedangkan Papahnya, harus pergi meninggalkan dunia, diiringi berbagai macam tuduhan, dan kebencian. Ini tidak adil. Hari sudah semakin sore, tak terasa berapa menit lagi jam menunjukan pukul 17:00, Kia mulai merapihkan file yang menumpuk di mejanya. "Kia, Risa jangan lupa ya saya tunggu di resto biasa, saya duluan!" ucap Pak Ari, sambil berlalu meninggalkan menuju pintu lift. "Yuk, kita siap-siap!" ajak Risa, sembari memasukan poch make up ke dalam tasnya. Kia tersadar dari lamunan saat mendengar ajakan Risa, ia masih bingung untuk ikut atau tidak. Bagi Kia ini adalah hal yang asing, ia masih karyawan baru, bahkan dengan Risa saja baru akrab. Meski Pak Ari dan CEO nya sangat baik, namun rasanya agak canggung. Hingga tepukan di pundak menyadarkan Kia dari lamunannya. "Hayooo, udah jangan banyak mikir, ada aku," ucap Risa meyakinkan, seolah memahami keraguan Kiara. Sesampainya di resto mereka langsung masuk ke ruang VIP yang sudah Risa booking sebelumnya. Sreett... Pintu terbuka, terlihat di dalam ruangan sudah ada tiga orang lelaki. Salah satu dari mereka bukanlah atasan Kiara, melainkan teman dari atasanya. Oh, atau lebih tepatnya salah satu pemilik saham di perusahaan tempatnya bekerja. Ya! itu dia, lelaki yang pernah berkenalan denganya di kantin tempo hari. Namun aneh, ada sesuatu yang membuncah dari dalam diri Kiara, saat melihat lelaki itu ada di antara mereka. Bahkan tersenyum manis padanya. Apa kalian tau rasanya jatuh cinta? rasa membuncah yang entah bagaimana, namun membuat mu merasa bahagia? Mungkinkah Kiara jatuh cinta? "Hai Kia. Ketemu lagi," sapanya ramah, sembari mempersilahkan Kiara untuk duduk. "Eh, Iya Pak Rama. Apa kabar?" tanya Kiara basa basi, menampilkan senyum manisnya. Lalu menyapa Ari dan Ricco, dan di tanggapi mereka dengan ramah. Membuat keraguan Kia menghilang, sebab diterima dengan baik oleh para atasanya. "Mba Gita tidak ikut, Pak?" tanya Rissa, menanyakan keberadaan sekertaris Ricco. "Tidak, tadi dia ijin pulang cepat, untuk mempersiapkan pertunanganya," jawab Ricco yang di angguki oleh Rissa. Mereka berbincang sambil menunggu makanan tersedia, sesekali Ricco pun menimpali obrolan mereka. Kia baru tahu kalau CEO nya yang tegas dan jarang bicara ini, ternyata cukup ramah. "Kiara, ternyata kamu asik juga di ajak ngobrol," celetuk Pak Ari, ditengah perbincangan mereka, dan angguki oleh Ricco yang mengeluarkan sedikit tawanya. "Ya Pak, dia tuh aslinya asik banget, cuma kalo di depan Pak Ari dia anteng. Mungkin masih segan sama Bapak."Risa menimpali perkataan Ari. "Ekhem.... " "Apaa sih lu, Ri, gue mau pindah duduk deket Kiara aja, biar lebih asik ngobrol," ucap Rama, yang berpindah tempat duduk, tanpa memperdulikan tatapan tajam Ricco. "Dasar," sambung Ari, disertai gelengan kepala melihat tingkah sahabatnya itu yang tak pernah berubah. Mereka pun bergurau hingga makanan siap terhidang, dan memakanya dengan lahap. Ahh, satu hal yang harus kalian tau, betapa Rama memperhatikan Kiara saat makan, beberapa kali juga Rama berprilaku manis membuat Kiara jatuh dalam pesonanya. Tentunya membuat geram pria yang duduk di ujung sana, siapa lagi jika bukan Ricco. Lelaki yang sedari tadi sibuk memperhatikan Rama pada Kiara. Awas saja kau, Ram. Jika kau menyakitinya, tidak perduli kau siapa. Aku akan menghancurkan mu. Waktu menunjukkan pukul 22:00, saat Rama mengajak Kiara untuk pulang. Kiara sudah menolaknya, namun Rama tetap memaksa. "Tapi, Pak," sanggah Kiara yang masih tak mau juga di antar Rama. "Gak ada tapi, Kia. Udah malem, aku anter kamu pulang," ucapnya tegas. "Pak, bener nggak apa-apa pulang sama Pak Rama?" tanya Kia meminta kepastian pada atasnnya. "Ngak apa-apa, kasian kalo sama Risa, kalian beda arah," terang Ari, dan memang benar rumah Risa dan kosan Kia beda arah. "Tapi Pak, say-" Kia masih mencoba menolaknya. "Jangan paksa, mungkin dia nggak nyaman. Biarkan Kia pulang dengan supir kantor, nanti lo yang anter gue pulang Ram." Ricco angkat bicara saat melihat perdebatan ini. Apalagi Kia yang memang tidak mau untuk di antar oleh sahabatnya itu. Bagus, Kia. ucapnya dalam hati sembari menaikan sebelah sudut bibirnya. "Apaan sih lo, Ric!" sergah Rama, menatap sinis saat mendengar usul dari Ricco. Sedangkan Ricco hanya diam dengan wajar datarnya. Nggak, nggak boleh gini. Semua perempuan yang aku dekati tidak ada yang menolak. tutur Rama dalam hatinya, sedikit merutuki sikap Kia yang susah dibujuk. "Nggak akan kenapa-kenapa Kia, trust me," ucapnya, sambil mengacungkan jari kelingkingnya, lalu menautkannya pada jari kelingking Kiara sebagai bentuk perjanjian mereka. Rama mengembangkan senyum, ia sangat yakin tidak ada wanita yang menolak pesonanya. Hanya sedikit berusaha lebih saja untuk meruntuhkan pendirian Kiara. Kiara pikir dalam perjalanan akan terasa hening, ternyata Rama mengajaknya bicara selama perjalanan. "Kamu belum pernah kesana?" tanya Rama, saat mereka membicarakan beberapa tempat wisata di ibukota. "Belum, aku belum kemana-mana," jawab Kia jujur, karna memang begitu adanya. Tidak ada waktu bagi Kia untuk berwisata, sebab ia sibuk mengejar semua impiannya. Terkadang waktu 24 jam sehari bagi Kia terasa kurang. Apalagi jika dosennya memberi banyak tugas, hingga gadis itu terkadang tertidur di jam makan siang. "Oke, next kita jalan-jalan ya, aku ajak kamu keliling Jakarta," ucap Rama meyakinkan. "Bener, ya!" ucap Kia antusias. Kiara sangat bahagia, baru kali ini di perlakukan dengan baik seperti yang ia harapkan, diperhatiakan dan merasa di sayangi. Ya Tuhan, aku ingin bersamanya.... ucap Kiara dalam hatinya. Meski hatinya meragu, namun Kia tetap ingin memberikan kesempatan pada hatinya untuk merasakan jatuh cinta. Meski rasanya terlalu sulit, untuk mempercayakan hatinya pada orang lain, setelah peristiwa kelam yang dialaminya dulu. Tak terasa, mereka sampai di depan gang kosan Kiara. "Makasih ya!" ucap Kiara singkat. "Tunggu, aku anter kamu." Rama menahan tangan Kia yang hendak membuka pintu mobil. "Nggak perlu, udah sampe sini aja nggak apa-apa." lagi, Kia menolaknya lagi. "Yakin nggak apa-apa? aku anter ya?" Rama mencoba bernegosiasi lagi. "No, thakyou," jawab Kia, singkat sembari melepaskan pelan tangan Rama yang mencekal lenganya. "Oke, hati-hati ya!" ucap Rama, sembari melepaskan genggamannya pada lengan Kiara. Kiara pun melangkah keluar dan berjalan masuk ke dalam gang, menuju kosan sederhananya dengan senyum yang seolah enggan pudar. Rasanya malam ini tak ingin usai, Kiara masih ingin menghabiskan waktu bersama dia, ya dia... Rama, lelaki yang mampu memahami keinginan sederhana nya. Namun, Kiara tak pernah tau bahwa kebahagiaannya malam ini, akan terjadi petaka di kemudian hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD