Bab 16 - Interogasi Jovanka

1135 Words
Nuke mengantar Rossie lebih dulu ke kantornya. Dia masih harus mengurus pekerjaan dan tidak bisa mengikuti kegiatan tunangannya hari ini. Jovanka berbasa-basi untuk menumpang di mobil Nuke dan, Rossie tidak keberatan sama sekali. Nuke melanjutkan perjalanan, setelah 15 meter dari perusahaan Rossie, Nuke menghentikan mobilnya dan meminta Jovanka pindah ke depan. Dia tidak mau dianggap supirnya. Wanita itu menurut saja dan langsung membuka sepatunya dan melangkah ke depan. Nuke cekikikan, dia kira Jovanka akan turun dulu baru masuk ke jok depan. Alias jalur normal, ternyata Jovanka memilih langkah pintas. "Kenapa tertawa?" tanya Jovanka. "Haha, tidak-“ Nuke menggeleng, “Aku kira kau akan turun dulu baru naik lagi,” lanjutnya. "Oh, kelamaan. Seperti ini kan lebih cepat!" sahut Jovanka tersenyum. Nuke menyimpulkan bibirnya. "Kau punya waktu sampai kapan?" "Mmh, satu kali inspeksi biasanya tidak ada target. Sebisanya meyakinkan pembeli agar mereka setuju dan bosku tahu itu butuh waktu lama." Nuke mengangguk. "Kau hebat, bisa meyakinkan pembeli." "Haha, aku hanya menuruti intuisi hatiku. Menurutku yang A lebih bagus meski harganya mahal dari si B. Jadi, aku putuskan menunjukkan yang A lebih dulu." Bibir Nuke turun setelah mendengarnya, caranya mungkin berbeda dari orang lain. Biasa pekerja yang tidak percaya diri akan menawarkan yang murah dulu baru ke mahal. Jovanka malah sebaliknya. "Berarti kita bisa pergi dulu ke suatu tempat," ajaknya. "Silakan!" Jovanka menatapnya dengan intens tanpa kedip. Nuke menganggapnya menantang dengan pandangan yang seperti itu. Nuke melanjutkan perjalanan menuju tempat yang tidak diketahui Jovanka selama ini. Kota ini pun tidak dikuasainya segala seluk beluknya. Jovanka menikmati perjalanan mereka, menyalakan musik dan mendengarkan lagu. "Ayana," panggilnya. "Ya?" "Apa kau yakin asli orang sini?" tanya Nuke. "Kenapa emangnya?" "Cara bicaramu menggunakan bahasa Prancis sedikit aneh. Logatnya seperti orang Itali." Jovanka tercekat, tertawa palsu dan memikirkan jawaban masuk akal untuk penilaiannya. "Mmh, mungkin karena aku sedang belajar bahasa Italia, jadi aku masih terbawa suasana." "Woah, kau bisa bahasa Italia?" "Haha, masih tahap belajar," jawabnya berbohong. Nuke langsung mencobanya berbicara dengan bahasa negara asalnya. Jovanka pasti tidak merasa bingung. Nuke mendengar dia sangat lancar mengatakan kata perkata tanpa salah sedikit pun. * Setengah jam kemudian. Jovanka terpukau pada tempat yang didatangi oleh mereka. Nuke membawanya ke tempat yang mirip dengan Venice. Di sana bisa juga ditemukan lokasi yang dibuat hampir menyerupainya, diberi nama Little Venice. Jovanka langsung turun dan menatap ke arah sungai kecil yang nantinya bisa dilalui sampan khusus. Daya tarik dari tempat yang satu ini adalah kanal yang membelah daerah tersebut. Kita bisa menyewa perahu untuk menyusuri kanal tersebut sembari melihat keindahan bangunan sekitar. Ketika kita menyusuri kanal tersebut maka kita seakan ditarik kembali ke Perancis pada masa lalu. Cantik dan indah adalah sebuah kata yang bis digunakan untuk menggambarkan pemandangan tempat ini. Ketika kita datang berkunjung ke tempat ini, maka kita akan disambut dengan pemandangan bangunan yang memiliki gaya arsitektur lama, serta memiliki warna-warni yang beragam. Nuke menyewa satu perahu dan segera membantu Jovanka melangkah ke dalam dengan hati-hati. Nuke menampung tubuhnya yang hampir saja jatuh. Jovanka terjerembab di dalam dekapan pria tersebut. Nuke menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya kemudian mengajak Jovanka duduk. Wanita itu menyentuh permukaan air dengan senyuman lebar. Nuke menatap aneh pada Jovanka. Sikapnya seolah tidak pernah pergi ke tempat ini. "Kau tidak pernah mengunjungi Little Venice?" tanya Nuke. "Tidak," jawabnya. "Kau sangat betah di rumah. Kau harus sering-sering keluar supaya tidak pusing dan bosan." "Mmh, benar! Aku akan senang jika kau yang mengajaknya.” Nuke tersenyum dan menarik tubuh wanita itu sampai menabrak dirinya. "Aku akan bawa kau ke mana pun, asalkan kau mau jadi kekasihku." "Kau yakin? Bagaimana dengan Rossie?" "Dia hanya teman hiburanku. Aku tidak menyukainya karena dia terlalu posesif. Aku akan memutuskan hubungan dengannya" Jovanka tersenyum. "Aku bisa saja menerimamu, dengan satu syarat." "Apa itu?" tanya Nuke. "Buktikan kalau kau memang mencintaiku." Mendengar tantangan itu, Nuke langsung melumat bibir wanita di hadapannya dengan lembut. Jovanka tidak menolaknya, bahkan wanita itu membalasnya dengan emosi. Sepanjang jalanan sungai Little Venice mereka berciuman. Bukannya menikmati suasana malah menikmati pasangan. Nuke tak mampu lagi menahannya. Mereka beranjak dari tempat itu dan Nuke membawanya ke apartemen milik pribadinya. Begitu Jovanka masuk dan belum pun melepas sepatu, Nuke langsung menerkam wanita itu dengan cara kasar bercampur halus. Jovanka dihempas ke sofa dan dilucuti dari helaian demi helaian yang menempel di tubuhnya. Jovanka merasa terkunci dan tidak bisa mengontrol posisi. Nuke menguasainya hingga terdengar erangan dari Jovanka saat dirinya ditembus oleh kejantanan milik Nuke. Jovanka meremas sesuatu yang bisa diraihnya dan menyerahkan diri pada pria di atas tubuhnya ini. Menghentak dengan tempo bervariasi. Rasa rindu dalam hati Jovanka telah terobati. Sekali dayung, dua tiga empat pulau dimasuki. Jovanka berhasil mengunjungi rumahnya yang sangat bagus ini. Mereka istirahat bersama setelah selesai bercinta dengan sangat hangat. "Aku mencintaimu, Ayana!" "Mmh, aku juga begitu. Masih terasa denyut di daerah kelembutanku. Kau sangat luar biasa." Jovanka tersenyum malu dan menyandar di tubuh Nuke yang berbidang itu. Sesekali Jovanka mencium bibirnya lagi lagi. Mulai sejak itu, hubungan mereka semakin dekat dan romantis. Nuke lebih banyak bohong pada tunangannya. Terlebih saat mereka sedang asyik-asyiknya, Rossie malah menghubungi tunangannya yang sedang bermanjaan. “Rossie?” tanya Jovanka. “Ya, tidak penting.” Nuke mencampakkan ponselnya dan kembali memeluk wanita itu dan membiarkan panggilan tersebut masuk sebanyak 25 kali. Jovanka merasa sangat bahagia bisa memiliki Nuke dan pria itu menepati janjinya. Mekeka pergi ke banyak tempat, seperti sore hari yang cerah ini. Nuke mengajaknya ke kafe favorit teman-temannya. Saat Jovanka meminta kesempatan memesankan makanan dan minuman untuk Nuke, ada seorang wanita yang bergantian memandangi dirinya dan Nuke. Wanita itu berdiri di samping Jovanka. "Ada apa, Mba?" tanya Jovanka. "Kau kekasih Nuke?" "Aah, kenapa ya?" Jovanka tidak menjawab iya atau tidak. "Saranku jangan terlalu dekat padanya. Pria itu terkenal senang memanfaatkan keadaan. Dia tidak pernah serius menjalani suatu hubungan." Jovanka kaget mendengarnya dan melirik ke arah kekasihnya. "Makasih infonya." "Maaf, bukan maksudku menghalangi. Aku hanya mengingatkanmu sebelum kau jatuh cinta padanya," ujar wanita itu lagi kemudian pergi tanpa saling mengenal setelahnya. Jovanka menatapnya sampai keluar kafe. Matanya menatap Nuke dengan sinis. Pesanannya selesai, Jovanka membayar sejumlah makanan dan minuman, lalu kembali ke meja bersama Nuke. "Ini untukmu." "Terima kasih, Ayana!" "Sama-sama." Jovanka masih memikirkan ucapan wanita itu. Bagaimana bisa dia menilai seseorang bila tidak mengenalnya. “Mmh, Kau mengenal seseorang yang berdiri di dekatku tadi?” tanya Jovanka. “Siapa?” “Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia mengenalmu.” “Haha, aku terlalu lelah untuk dikenal. Abaikan saja.” “Mmh,” sahut Jovanka tersenyum pada pria itu. “Kau punya cinta pertama?” tanyanya. Nuke tertawa. “Cinta pertama itu cinta pada pacaran pertama atau gimana?” “Apa saja, kau yang lebih tahu mengenai cinta.” “Hmm, memangnya kau tidak pernah merasakan cinta?” tanya Nuke penasaran. “Pernah, sekarang!” jawabnya. Nuke pun tersipu malu. “Bagus, kukira kau tidak mencintaiku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD