Bab 14 - Ayana Dan Calvin Pisah Ranjang

1286 Words
Calvin merasa sangat marah pada Ayana karena melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri. Dalam perjalanan, wanita itu terus menjadi tempat luapan kekesalannya. “Mas, aku hanya ingin membuatmu bertemu kembali dengan Jovanka,” katanya. “Kau bicara apa? kau itu Jovanka!” bentaknya. Ayana menangis, dirinya tidak tahan jika ada yang berbicara sekeras itu padanya. “Bukan, Mas. Aku bukan Jovanka. Aku Ayana.” Ciitt ! Calvin menghentikan mobilnya. Terdengar klakson dari kendaraan lain di belakang karena dia berhenti tiba-tiba. Calvin menepikan mobilnya dan membuka sabuk pengaman. “Berhenti mengatakan kalau kau adalah Ayana!” “Aku tahu ini sangat membuatmu bingung, tapi aku memang Ayana.” “Jika seperti itu, kau tidak akan bisa berdekatan denganku, dan kau akan kuanggap seperti orang asing di rumah.” Ayana mengangguk. “Benar, memang seperti itu kenyataannya. Aku dan kamu memang tidak saling mengenal.” “Oke, jika itu maumu. Kau akan kehilangan suamimu, tetapi aku tidak mau Ayana menyakiti tubuh Jovanka sedikit pun.” “Ya, kau memang mencintainya. Dan aku harap dia tahu itu serta menyadarinya.” Calvin menoleh, tertawa renyah padanya. “Kau kira Jovanka tidak menyadari itu?” Ayana mengalihkan tatapannya dan tersenyum. “Mungkin dia tahu, tapi tidak membalasmu,” jawabnya. Calvin terkejut mendengarnya, Bagaimana bisa dia tahu kalau Jovanka tidak mencintaiku? Ayana merasa sangat sial sekali bisa berada di tubuh ini. hidup bersama pria yang telah dimiliki orang lain dan akan menghadapi keluarganya. Ayana memilih memejamkan mata dan tidak mau bicara lagi pada pria yang ada di sampingnya ini. Sesampainya mereka di rumah. Ayana turun lebih dulu dengan kaki telanjaang dia menapak jalanan sampai ke depan pintu. Ayana membunyikan bel, Rosita dengan cepat membukanya. “Nyonya, kenapa seperti habis kehujanan?” tanya Rosita. Meski perjalanan jauh, tapi air di tubuhnya tidak mengering seutuhnya. Rambut Ayana masih basah. Ayana melihat Thalia di ruang tamu, keadaannya sangat kacau dan tidak mau memedulikan wanita itu. “Rosita ikut aku.” Pelayan itu segera mengikutinya ke lantai dua, bicara empat mata dengan Ayana. “Ada apa, Nyonya?” “Di sini ada kamar selain kamar ini?” tanya Ayana dengan mata berlinang. “Ada, Nyonya. Tapi kenapa bertanya mengenai kamar?” “Di mana? Bisa tunjukkan padaku?” “Kamarnya tidak terlalu luas.” “Tidak masalah, aku juga pernah tinggal di rumah berukuran 3 kali 4, di sana aku tidur, masak serta mandi.” Rosita kaget mendengarnya. Nyonya lagi mabuk atau masih sadar? Ayana mendesaknya untuk menunjukkan kamar itu. Rosita membawanya ke arah lantai dua juga, tapi letak kamar itu di ujung. Calvin melihat mereka berjalan ke arah kamar tersebut, tapi dirinya memilih untuk masuk ke kamarnya sendiri, segera membersihkan diri. * Ayana melihat kamar ini lumayan juga. “Aku akan tidur di sini mulai malam ini,” katanya. “Ha? Tapi, Nyonya kan-“ “Rosita, tolong. Setelah kau membantuku untuk memindahkan sedikit barang dari kamar itu, kau tidak perlu lagi melayaniku.” “Kenapa, Nyonya?” Ayana tidak bisa mengatakannya pada Rosita. “Turuti saja permintaanku.” Wanita itu mengangguk bingung dan segera membantu Ayana mengangkat bajunya dari kamar Calvin-Jovanka. Ayana duduk di tempat tidur berukuran 3 kaki yang letaknya dekat dengan jendela. Ayana merindukan rumah dan Earl, tempatnya mengadu. Di sini, dia tidak bisa mengadu karena mereka semua adalah orang asing. Ayana menangis karena tidak bisa kembali ke rumahnya. Aku rindu padamu, Earl! Bawa aku pulang, aku ingin kembali! jeritnya sendiri sambil terisak tangis. Rosita mengetuk pintu kamar Calvin, pria yang sedang mencari pakaian langsung mengenakan kaus dan bawahannya dengan sembarang kemudian membuka pintunya. “Rosita, ada apa?” “Mmh, Nyonya meminta saya untuk memindahkan beberapa pakaian ke kamar ujung, Tuan.” Calvin mempersilakannya, “Dia di kamar itu sekarang?” “Ya, Tuan.” “Baiklah, saya akan menemuinya.” “Iya, Tuan.” Calvin melangkah sedikit lambat, tidak tahu kalau Ayana memutuskan untuk langsung pisah kamar begitu dirinya mengatakan bahwa dia akan kehilangan suaminya. Calvin sudah berada di depan kamar itu, pintunya tidak tertutup sepenuhnya. Ada celah yang bisa membuat Calvin melihat Ayana dari luar. Tangisan Ayana terdengar oleh Calvin. Sangat menyedihkan nadanya, seakan dirinya menahan banyak pikiran dan perasaan yang tidak tertuang. Ayana sampai turun dari tempat tidur dan duduk di lantai. Calvin memutuskan masuk. Ayana kaget dan langsung berdiri, mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata kemudian berbalik membelakangi pria itu. “Kau tidak balik ke kamar?” tanya Calvin. Sepertinya pria ini sudah menjadikan hubungan mereka berbeda dari segi panggilan. Kata ‘kamu’ telah berganti menjadi ‘kau’ sejak dalam perjalanan tadi. “Aku tidak bi-bisa sekamar dengan suami orang,” jawabnya terputus-putus karena habis menangis. “Oke, ingat pesanku untuk tidak menyakiti tubuh Jovanka. Aku tidak tahu kau siapa dan apa tujuanmu ke sini, tapi aku masih izinkan kau tinggal di rumah ini dan berharap untuk tidak menyakiti tubuh itu.” “Ya, aku akan menjaganya untukmu. Selama aku-“ Ayana tidak bisa mengatakan apa pun terkait pertukaran tubuhnya dengan Jovanka. Lehernya kembali sakit. Selama aku di sini, aku akan jaga tubuh ini untukmu, Calvin. Calvin terlalu cerdas untuk menyadari mengenai perubahan itu. Dia langsung berpikiran kalau istrinya dan Ayana sedang bertukar tempat. Itulah mengapa mereka sangat berbeda karakternya. Rosita datang membawa beberapa barang milik Jovanka. Wanita itu meletakkannya ke atas tempat tidur kemudian pergi, memberi ruang untuk mereka berbicara. “Aku pinjam pakaian ini,” izinnya dengan mata yang sangat sembab. “Ya, pakailah.” Calvin segera meninggalkan wanita itu dan kembali ke kamarnya. Calvin sangat hancur melihat istrinya benar-benar bersikap seperti orang lain. Pria itu melihat tempat tidur dan membayangkan akan tidur sendiri mulai malam ini. “Bagaimana bisa aku tidur tanpa memeluknya?” Tanyanya sendiri. * Ayana tidak makan malam dan hanya mengurung diri di kamar. Calvin makan bersama mamanya. Thalia tersenyum, menduga kalau anak dan menantunya sedang bertengkar. Dia sangat bersyukur dan berharap agar mereka berpisah. “Calvin, mama akan pergi besok. Nenekmu minta ditemani ke San Fransisco,” kata Thalia. “Ya, hati-hati di jalan.” “Kau tidak ikut?” tanya Thalia. “Aku harus mengurus bisnisku.” “Berlibur lah sesekali. Kau butuh liburan, tapi tanpa istrimu.” Calvin meletakkan sendok garpunya. “Aku tidak bisa.” “Dia bukan istrimu, aku melihat perbedaan signifikan antara wanita ini dan Jovanka. Dia selalu melawan ucapan mama, sementara Jovanka, tidak pernah sekali pun menjawab ucapan mama.” Calvin mengerutkan keningnya. Mama juga merasa demikian? Calvin menyelesaikan makan malamnya lebih cepat dan meminta Rosita membawakan makanan untuk Ayana. Pelayan itu segera membuatkannya. Calvin langsung menuju ruang kerjanya dan menyibukkan diri dengan pekerjaan yang seharusnya belum diselesaikan karena waktunya masih lama, tetapi mengingat dia tidak ada kegiatan, lebih baik disiapkan secepatnya. Makanan yang diantar oleh Rosita ditinggal di meja. Ayana tidak selera makan dan memilih untuk segera tidur. Berharap setelah bangun, dirinya ada di kamarnya sendiri. * Calvin tidak bisa tidur sampai pukul 2 pagi. Dua jam dirinya berusaha memejamkan mata, tetapi tetap sulit terlelap. Calvin memang sudah terbiasa tidur dengan cara memeluk istrinya. Pria itu bangkit dari tempat tidur dan keluar dengan hati-hati. Ragu ingin menghampiri Ayana, merasa ucapannya sudah sangat kasar tadi padanya dan tidak memintanya untuk kembali ke kamar sampai detik ini. Calvin membuka kamar itu dengan sangat pelan. Matanya melihat ke arah wanita yang tidur dengan posisi meringkuk tanpa selimut. Di meja juga masih tertata bagus makan malam yang tidak disentuhnya sama sekali, hanya air minum berkurang setengah. Calvin menutup pintu kemudian mengambil selimuti di ujung tempat tidur. Membentangnya kemudian menutupi tubuh wanita itu. Calvin menyusup di balik selimut, mengangkat kepala Ayana dan membiarkannya tidur dalam dekapan. Ayana memberikan ruang secara spontan untuk Calvin tanpa disadari. Di atas tempat tidur 3 kaki, mereka terlelap bersama. Calvin bisa langsung memejamkan mata dalam hitungan detik setelah memeluk tubuh istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD