bc

TENTATIVE FLAME

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
playboy
badboy
kickass heroine
gangster
drama
bxg
seductive
villain
like
intro-logo
Blurb

Selina Samara, seorang mahasiswi yang baru memulai hidup baru di kota Miar, tak pernah menyangka bahwa kepulangannya akan membawanya kembali pada seseorang dari masa lalu yang seharusnya ia abaikan Dayin, pria misterius yang kini berada di puncak permainan berbahaya.Dayin Sopel telah menjadi sosok yang menakutkan di dunia hitam, namun pertemuannya dengan Selina menghidupkan kembali bara api yang pernah ada di antara mereka. Ketika masa lalu yang penuh rahasia terungkap perlahan, keduanya terjebak dalam permainan cinta dan bahaya.Di sisi lain, Daniel Wian, pria karismatik dengan bisnis yang tampak bersih, menyimpan sisi gelap yang jauh lebih berbahaya. Ketika dunia Selina mulai terjalin dengan dunia kelam mereka berdua, ia harus memilih — antara api yang membara atau bara yang tak terlihat.Namun, satu hal yang pasti: ketika api dinyalakan, tidak ada yang tahu apakah itu akan menghangatkan atau membakar segalanya dengan luka yang membekas.

chap-preview
Free preview
Dalam Bayangan Waktu
Malam itu udara dingin terasa menusuk, mencengkeram kota dengan kesunyian yang aneh. Selina Samara yang baru saja keluar dari restoran setelah menenggak segelas bir, berjalan sempoyongan di jalanan kecil entah dimana. Kabut tipis menyelimuti jalan, menciptakan aura misterius di sekitar taman kota yang sepi. “Sejauh mana aku berjalan, sepatu ini membuatku tidak nyaman” gumamnya, melepas sepatu heelsnya dan melanjutkan pencariannya. “Toiletnya ada dimana?....disana? Tunggu aku toilet” Selina terus bergumam dan melanjutkan pencarian toiletnya. “Apa aku mabuk, tentu saja tidak. Kenapa restoran ini toiletnya jauh sekali. Apa mereka kekurangan lahan?" Selina terus berjalan sambil menggerutu kesal. Tidak jauh dari restoran. Dayin berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal. Ia berlari dengan luka serius di kepala dan perutnya, hasil dari perkelahian singkat dengan dua pria misterius yang mengikutinya sejak keluar dari bar. Setiap langkah terasa berat, tapi dia tahu satu hal, berhenti melangkah berarti hal buruk akan menimpanya. “Sial! Siapa yang berani melakukan ini!?” geramnya, menggertakkan gigi menahan sakit. Ia menyeka darah yang mengalir dari dahinya dengan punggung tangan, tatapannya penuh amarah. “Apa si b******k Januar atau si Moreik?” Rasa perih di perutnya semakin menjadi. Dayin berhenti sejenak di sudut gang yang remang, punggungnya bersandar di dinding bata. Ia menekan luka di perutnya, mencoba menghentikan darah yang terus mengalir. Kepalanya menoleh cepat ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang mengikutinya lagi. Namun, bayangan kecurigaan terhadap dua pesaingnya Januar dan Moreik tidak mau menghilang dari pikirannya. “Awas saja!” ucapnya penuh dendam, suara lirihnya seperti bisikan yang berbahaya. “Kalau memang mereka pelakunya… aku sendiri yang akan mengakhiri hidup mereka.” Setelah berisitirahat sejenak, dengan satu tarikan napas panjang, Dayin kembali memaksa tubuhnya untuk bergerak. Langkahnya berat, tapi tekadnya lebih kuat dari rasa sakit yang membakar tubuhnya. Di dunia ini, kepercayaan adalah barang mewah dan Dayin tahu betul bahwa setiap langkahnya bisa saja menjadi yang terakhir jika ia lengah. Dua jalan, yang tampaknya tidak mungkin bersinggungan, akhirnya bertemu di sebuah taman kecil di dekat konstruksi bangunan tua. Selina mendapati seorang pria berlumuran darah duduk di bangku taman, tampaknya setengah sadar. Dalam keadaan mabuknya, dia berhenti, mengamati pria itu dengan rasa bingung bercampur rasa ingin tahu. “Hey, kamu baik-baik saja?” tanyanya, meski kata-katanya terdengar sedikit melantur. Tidak ada jawaban, pria itu hanya mengangguk seolah menjawab Selina. Pria yang hanya terdiam itu, dengan kepala sedikit tertunduk. Selina mengerutkan kening, lalu menganggap pria itu sedang tertidur sambil duduk. “Oh, baiklah. Kamu butuh bahu untuk tidur? Aku punya bahu yang sempurna,” katanya, seraya duduk di sebelahnya dan menawarkan bahunya dengan angkuh. “Dirimu beruntung bertemu wanita yang luarbiasa baik sepertiku, saat bangun nanti tolong tunjukkan toilet padaku.” Selina masih saja terobsesi dengan pencarian toiletnya. Ketika darah menetes dari dahi pria itu di lengan Selina. Dia mengira pria itu sedang menangis terharu dengan kebaikan yang Selina tunjukkan. Selina menyeka cairan itu tanpa berpikir dua kali. Saat darah menetes beberapa kali. “Hah! apa pria di kota Miar secengeng ini?” ujarnya bingung. Saat kembali menyeka cairan yang menetes itu, akhirnya kesadarannya meskipun mabuk mulai tersambung. “Apa air mata berwarna merah? Kamu menangis darah?” menyibak wajah pria itu. “Oh Tuhan, ini benar-benar darah! Kamu berdarah!” Dalam kepanikannya, Selina sontak berdiri dan pria itu jatuh dari bangku. Selina segera membantu pria itu duduk dan menyenderkannya pada dudukan bangku taman, dia tidak bisa mengangkat pria besar itu untuk duduk kembali di bangku karena berat. “Hmmm...” terdengar suara pria itu seperti menahan sakit. Selina berlutut di depan pria itu, menyeka darah di wajahnya dengan tisu seadanya dari tasnya. “Maafkan aku. Aku tidak tahu kamu terluka.” Dengan hati-hati Selina menyeka luka pria itu Saat membersihkan wajah pria itu tanpa sadar Selina berkata “Ya ampun, kamu tahu tidak? Kamu tampan sekali.” Matanya terpaku pada wajah Dayin. Ia terus memuji ketampanan pria di depannya itu tanpa rasa takut. Dayin yang perlahan mulai sadar hanya menatap samar, bibirnya mencoba bergerak tetapi tidak ada suara. Pujian demi pujian yang entah mengapa terasa menghibur dan menenangkannya. Dia terlalu lemah untuk berbicara, tetapi sesuatu dalam dirinya mencatat setiap kata yang diucapkan wanita itu. Selina kembali menatap wajah pria itu dan menyadarkan diri untuk fokus sambil mengobati luka semampunya. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia tetap berusaha untuk menolongnya. Ia meraih beberapa plester luka dari tasnya dan menjejali sumber luka di dahi pria itu dengan sembarangan dan berantakan. “Jangan bergerak, ya.” katanya, suaranya kini lembut seperti gumaman. Kali ini Selina meraih hiasan tasnya yang terlihat seperti sapu tangan, kembali membalut lukanya, merasa seperti seorang dokter amatir yang tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. “Aku bukan perawat, tapi kurasa ini cukup bagus. Asal kamu tahu, sapu tangan ini dari Mucci loh. Mahal! Tapi kamu boleh pakai, karena… ya! kamu butuh itu.” Pria itu masih diam, tapi kini matanya sedikit terbuka. Pandangannya buram, tapi ia bisa menangkap sosok wanita dengan rambut sedikit acak-acakan dan pipi kemerahan, jelas tanda seseorang yang mabuk berat. “Aku Selin, perawat dadakan,” Selina melanjutkan, tersenyum kecil sambil menepuk-nepuk balutan di kepala pria itu. “Kamu tahu? Aku kasih bonus spesial cap penyembuh!” Ia lalu mengecup dahi pria itu dengan gerakan yang sangat spontan, seperti yang selalu dilakukan ibunya saat ia sakit. Dayin merasa tubuhnya mulai terasa lebih ringan. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi bibirnya tidak sanggup bergerak. Namun , dalam diamnya, ia merasa sedikit hangat bukan merasakan sakit dari lukanya, sentuhan wanita ini begitu tulus, meski jelas wanita itu tidak sepenuhnya sadar apa yang sedang ia lakukan. “Sudah, sekarang jangan terluka lagi, ya,” Selina berbisik, seperti berbicara pada dirinya sendiri, ia belum menyadari luka tusukan pada perut pria itu. Malam yang gelap, cahaya yang buram dan keadaannya yang setengah mabuk. Tiba-tiba ponsel pria itu berdering “Hey, ponselmu bunyi, angkatlah! Keluargamu pasti khawatir padamu.” Selina menyadari pria itu belum sepenuhnya sadar, ia berinisiatif mengangkat telepon itu sambil meraba saku jas pria itu, dia masih belum menyadari luka yang lebih parah di perut pria itu. “Halo!” jawab Selina “Halo? Bos, itu anda?” terdengar jawaban dari ponsel tersebut “Eh, bukan! Pemilik ponsel ini terluka parah. Cepat datang!” jawab Selina dengan bingung “Siapa ini? Dimana bos saya?” timpa orang itu yang seperti kenalan dekat pemilik ponsel Selina mencoba mengamati sekililingnya. “Aku ngga tahu alamatnya. Ada taman kecil, dekat konstruksi bangunan tua.” Tiba-tiba perut Selina terasa mual. “Sebentar, aku mau muntah” jawaban Selina tidaklah jelas, sebelum akhirnya dia buru-buru menutup telepon dan memuntahkan isi perutnya. “Tunggulah sebentar, temanmu sedang menuju kesini,” Selina berbisik pada pria itu. “Apa ini….!! Hah darah lagi!” tangan Selina dipenuhi darah dari ponsel yang dia pegang. “Kamu masih punya luka lain?” Selina mengangkat baju pria itu dan melihat luka besar pada perut pria itu, darah tidak berhenti mengalir. “Apa yang harus kulakukan?” dalam kepanikan Selina mencoba menghentikan pendarahannya. “Hmmm!” terdengar pria itu merintih kesakitan. “Maafkan aku.” Ia tersenyum cemas dan berlinang air mata, ia lalu berdiri dan meraba ponsel dalam tasnya. “Lukamu parah. 911, kan? Eh, atau…tunggu, nomor berapa, ya? Gumamnya sambil menekan layar ponselnya gemetar. Saat itu, sirene polisi mulai terdengar di kejauhan dan langkah kaki beberapa orang mendekat. Dayin mendengar suara teriakan orang yang mencarinya. Ia menduga itu anak buahnya yang sedang mencarinya. Sementara Selina berusaha menghubungi 911. Selina menutup ponsel, merasa bingung dengan bunyi sirene. Sirene semakin mendekat, Selina melangkah mundur. “Oh, polisi!? Jangan bilang kamu kriminal!” ujarnya terkejut, sambil menatap pria yang tetap diam. “Eh, aku bercanda. Kamu tidak terlihat seperti orang jahat,” katanya, tertawa kecil dan sempoyongan menuju arah lain. “Aku harus pergi cari toilet, tunggulah disitu, aku akan kembali dan mencari bantuan!” Dayin berpikir “Apa wanita ini sadar bahwa dia sedang menolong seorang gangster berdarah?”. Sementara Selina berlalu meninggalkannya. Ponsel Dayin kembali berdering, ia perlahan menarik napas panjang, dengan sisa tenaga, ia mengangkat telepon dan memberi instruksi singkat pada anak buahnya. Namun, di benaknya, wajah wanita itu yang memanggil dirinya sendiri “Selin si penyembuh” tidak bisa hilang begitu saja. Dia bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih atau mengetahui siapa dia sebenarnya. Sementara saat Selina kembali ke taman itu. Dayin telah pergi. Selina berpikir kenalannya sudah menjemputnya atau bantuan darurat telah datang saat dia tidak ada. Tanpa berpikir panjang, saat kesadarannya mulai terkumpul, dia berbalik dan berjalan kembali menuju restoran. Sebuah Pagi yang Buram Pagi itu, Selina Samara terbangun dengan kepala yang berat. Matahari sudah menembus tirai tipis di kamarnya, memberikan cahaya lembut yang membuat ruangan tampak lebih terang. Namun, kebisingan di kepalanya lebih menyilaukan. Ia bangkit dengan enggan, menyandarkan tubuhnya di tempat tidur sambil menatap jam dinding. Pukul 9 pagi. Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan. Rina, kakak perempuannya, berdiri di ambang pintu sambil membawa segelas air putih. Ia menatap Selina dengan senyum yang sedikit sinis. “Bagaimana rasanya bangun pagi setelah mabuk berat?” tanyanya dengan nada bercanda, lalu menyodorkan segelas air putih yang dia bawakan untuk adiknya. Selina menerima gelas itu tanpa berkata apa-apa. Setelah meminum seteguk air, ia melirik kakaknya. “Mabuk berat, apa maksud kakak?” tanyanya bingung. Rina mengangkat alis. “ Apa kamu benar-benar tidak ingat kejadian semalam?” Pertanyaan itu memicu rasa penasaran di benak Selina. Ingatannya terasa kabur, seperti buku dengan halaman yang sengaja di sobek. Perlahan fragmen-fragmen malam itu mulai muncul kembali di pikirannya. Tanpa sadar, langkah ringannya malam itu menjadi titik awal dari sebuah kisah, sebuah cerita yang bahkan belum sempat dituliskan takdir.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
19.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.4K
bc

Ninja Itu Suamiku!!/Play In Deception: Camouflage (END)

read
54.4K
bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
11.9K
bc

Dalam Kuasa Kegelapan/Play In Darkness (END)

read
58.9K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
47.7K
bc

Kali kedua

read
222.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook