Selina datang ke kota besar untuk menghabiskan liburan semester di apartemen kakaknya, Rina. Sebagai seorang mahasiswi yang baru saja menyelesaikan tahun pertamanya di universitas kecil di kampung halaman, ia terkesan dengan kehidupan kota yang penuh dengan gemerlap.
Hari itu, Rina dan Selina memutuskan untuk keluar setelah Rina pulang dari kantornya. Sebagai seorang pegawai negeri dengan jam kerja 9 hingga 5, Rina jarang punya waktu luang. Namun, kedatangan Selina dari kampung halaman membawa suasana baru. Selain membawa banyak bahan makanan segar, Selina juga membawa cerita-cerita lucu yang membuat Rina merasa lebih dekat dengan rumah.
Malam itu, Rina membawa Selina ke sebuah restoran. Mereka berkendara keliling kota dan memutuskan untuk mengunjungi restoran yang sedang viral di sosial media. Restoran itu terkenal bukan hanya karena makanannya yang enak, tetapi juga para pegawainya yang berparas rupawan seperti selebriti, beberapa dari mereka juga terkenal di sosial media biG.
Selina yang jarang sekali melihat dunia yang seperti ini, terpana dengan suasana elegan dan mahal di depan matanya.
“Kakak tahu kenapa restoran itu viral?” Tanya Selina yang duduk disamping kakaknya yang sedang menyetir sambil menatap sekeliling kota.
Rina tersenyum kecil. ‘Tentu saja. Pegawainya terlihat seperti model dan idol. Restoran itu layak dikunjungi.”
“Aku menantikannya, kak.” Ujar Selina bersemangat.
"Nanti aku pesan bir saja. Hari ini benar-benar berat di kantor,” gumam Rina tersenyum lelah. Namun, senyum itu lenyap ketika ia melihat ekspresi datar Selina.
“Kamu tahu aku hanya minum di hari-hari seperti ini, kan? Itu pun selalu dengan teman perempuan. Lagipula, kalau ibu sampai tahu, aku yang kena ceramah” tambahnya sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Aku tidak mengatakan apa-apa.” Selina tersenyum licik.
Restoran itu penuh sesak dan mereka harus mengantri 15 menit sebelum akhirnya bisa masuk dan mendapatkan tempat duduk di lantai tiga. Untung saja, meja mereka berada di dekat jendela besar yang menawarkan pemandangan malam Kota Miar yang memukau.
Tak lama kemudian, seorang pelayan laki-laki muncul membawa menu. Dia tinggi, berwajah tegas dengan senyum ramah yang membuat beberapa pelanggan di meja lain diam-diam melirik ke arahnya. Namanya tertulis di papan nama : Yeran.
“Selamat malam. Saya Yeran, yang akan melayani kalian malam ini.” Ucapnya sopan, dengan suara rendah yang terdengar profesional.
“Ada menu spesial hari ini, steak salmon dengan saus lemon butter. Atau mungkin ingin mencoba wine house kami?” ucap Yeran dengan ramah.
Rina langsung tersenyum canggung. “Kami pesan lemon tea dan sebotol bir saja. Dan… makanan khas restoran ini apa?” Tanya Rina sambil membolak-balikkan menu.
“Kami merekomendasikan pasta seafood pedas. Jika kalian suka rasa pedas dan unik, ini pilihan terbaik.” Yeran menjelaskan sambil mencatat pesanan mereka. Sementara Rina kembali sibuk memilih makanan pada menu.
Selina yang sedari tadi diam, menyadari bahwa tatapan Yeran tertuju padanya lebih lama dari pelanggan lain. “Apa aku mengenalmu?” Tanya Selina tiba-tiba, tanpa basa-basi.
Yeran tersenyum simpul, sedikit tersentak. “ Mungkin wajah saya mirip seseorang yang anda kenal?”
Selina spontan menjawab, “Wajahmu bukanlah wajah pasaran, kamu terlalu tampan.”
Yeran mencoba menenangkan diri dengan jawaban blak-blakan Selina, “Terima kasih atas pujiannya, kami akan segera membawakan hidangan kalian.” ucap Yeran sembari undur diri dan pindah ke meja lain.
Saat Yeran pergi, Selina berbisik pelan.”Kak, cowok itu menatapku terus, bahkan saat kakak memilih menu.”
Rina menahan tawa. “Kamu harus terbiasa. Kamu punya wajah yang cukup menarik perhatian, tapi kepercayaan dirimu adalah sesuatu.”
“Benar, kita memang semenarik itu.” Ucap Selina tertawa kecil.
Rina menatap sekeliling dan mengusulkan. “Sambil menunggu makanan datang, ayo kita main game.” kata Rina.
“Game apa kak.” sambung Selina.
“Tadi sebelum naik kesini, kakak lihat ada beberapa permainan yang disediakan di meja kasir lantai satu.”
“Aku saja yang turun,” Selina menawarkan diri.
“Tidak perlu. Kamu duduk saja disini dan nikmati pemandangan kota,” jawab Rina sambil bergegas turun.
Saat kembali ke lantai tiga dengan permainan bingo di tangannya, Rina mendapati dua pria sedang berbicara dengan Selina sambil menyodorkan ponselnya.
“Baru kutinggal sebentar, kamu sudah bertingkah.” Rina berkomentar sambil mendekati meja.
Kedua pria yang berbicara dengan Selina memberi salam pada Rina sebelum akhirnya melipir kembali ke meja mereka.
“Mereka yang mendekatiku lebih dulu,” jawab Selina santai.
“Jangan terlalu ramah pada orang yang tidak kamu kenal, kamu bisa terlibat masalah.” ucap Rina khawatir. “Untuk itu. Biarkan kakak yang menilai mereka, jadi berapa nomornya?”
“Ishh. Kukira kakak benar mengkhawatirkanku, ternyata itu niat kakak. Bukan nomor, tapi mereka minta akun biG.” Selina menggerutu dengan sikap kakaknya.
Mereka melanjutkan malam dengan canda dan tawa. Rina mengusulkan permainan bingo dengan taruhan.
“Sampai sejauh mana taruhannya, kak.” Ujar Selina
“Jika kamu kalah, kamu harus mencicipi birku nanti.” Jawab Rina dengan senyum nakal.
Tanpa tahu taruhan tersebut akan mengubah takdir salah satu dari mereka.
“Baiklah, kalau aku menang, aku mau pinjam tiga set pakaian dari lemari kakak.” balas Selina sambil mengangkat dagunya.
Sayangnya keberuntungan tidak berpihak pada Selina. Dia kalah telak. Disaat yang sama pesanan makanan mereka telah tiba, Yeran membawakan hidangan mereka.
“Maaf membuat kalian menunggu,” katanya sopan sambil mulai menata makanan di atas meja
“Tidak apa-apa. Penantian kami sepadan dengan makanan seindah ini.” Jawab Rina sambil menatap Yeran.
“Kalau ada yang dibutuhkan, panggil saja.” jawab Yeran sambil tersenyum tulus dan meninggalkan mereka.
“Pemilik restoran ini, benar-benar tahu cara berbisnis. Yeran adikku manis sekali.” gumam Rina.
“Kakak sadar, kita kesini untuk makan.” Imbuh Selina dengan acuh sambil sibuk memotret makanan mereka.
Mereka sekarang terdiam sambil sesekali bergumam betapa lezatnya makanan mereka. Tiba saatnya Selina membayar kekalahannya. Dengan berat hati, Selina meneguk bir yang dipesan Rina. Satu gelas saja, namun cukup membuat Selina mabuk berat.
“Bagaimana bisa seseorang langsung mabuk setelah satu tegukan?” Rina mengomel sambil menepuk punggung adiknya yang kini menjatuhkan kepala di meja.
Saat akan pulang, sistem pembayaran restoran mengalami gangguan. Rina harus mencari ATM terdekat untuk menarik uang tunai. Ia terpaksa meninggalkan Selina yang mabuk dan meminta tolong kepada Yeran untuk mengawasi adiknya.
“Kakak keluar ke ATM sebentar, katanya jaraknya 5 menit dari sini. Jadi tunggulah sebentar! Jangan kemana-mana!” kata Rina memperingatkan adiknya dan Selina menjawab dengan melambaikan tangannya.
Namun sayangnya, ramainya restoran membuat Yeran teralihkan. Selina yang masih mabuk keluar dari restoran, menggumamkan sesuatu tentang mencari toilet. Padahal, toilet tersedia di setiap lantai. Sementara Rina terhambat dengan antrian di ATM.
“Toilet… dimana? Oh, disana! Tunggu aku, toilet!” Selina berjalan dengan langkah sempoyongan, tanpa menyadari dirinya menjauh dari restoran.
Setelah beberapa lama berjalan, tanpa sadar Selina tersesat hingga akhirnya ia bertemu Dayin, seorang pria asing yang duduk di bangku taman yang sepi. Selina masih kebingungan dan tidak menyadari seberapa jauh dia berjalan.
Sementara itu, Rina kembali ke restoran dan terkejut mendapati adiknya menghilang.
Rina turun mencari Yeran di tengah ramainya restoran. “Yeran! Dimana adikku?” serunya panik.
Yeran pun ikut bingung. “ Adik kakak tidak ada diatas?” Memastikan ucapan Rina.
Yeran terlihat gugup. “Saya tadi mengawasinya, Kak. Tapi sepertinya saya teralihkan. Maafkan saya!”
“Tidak apa-apa. Sekarang, bisakah kamu membantuku mencarinya!” ucap Rina dengan nada cemas.
“Baik, kak! Saya akan minta tolong pada manager untuk memeriksa cctv.” Yeran bergegas menemui managernya.
Setelah memeriksa cctv, mereka mendapati Selina berjalan keluar restoran dan menjauh tanpa dia sadari. Rina menghubungi dan mendatangi kantor polisi terdekat bersama Yeran untuk membantu mencari Selina yang menghilang dalam keadaan mabuk.
Kembali ke Pagi itu
Selina menatap kakaknya dengan bingung. “Jadi… apa aku benar-benar keluar dari restoran sendirian?” tanyanya, sambil mencoba menyusun kepingan-kepingan memori di kepalanya.
“Aku… pergi kemana?” Selina kembali bertanya dengan pelan, memegang kepalanya yang masih terasa berat.
Rina memandang dengan sorot mata serius. “Itulah masalahnya. Tidak ada yang tahu. Kamu kembali ke restoran dengan berjalan kaki.”
Rina kemudian menghentikan pembicaraan tentang semalam dan meminta Selina untuk mandi, ia kemudian berjalan menuju dapur dengan sikap aneh.
Malam saat kembali ke rumah, Rina menemukan bercak darah pada lengan baju adiknya dan sudah memastikan adiknya tidak terluka, sambil bergumam dan memiringkan kepala mempertanyakan darah milik siapa itu.
Saat Rina pergi, Selina duduk termenung. “Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?” Ia merasa seperti ada potongan cerita yang hilang, potongan yang mungkin penting. Tapi untuk saat ini, ingatannya tetap kosong.