Langkah Menuju Jerat

1661 Words
Gemerlap lampu neon membias di lantai marmer, berpadu dengan dentuman musik yang menggema dari sudut-sudut ruangan. Klub malam itu ramai seperti biasa, penuh dengan suara tawa, botol-botol beradu, dan aroma alkohol yang bercampur dengan parfum mahal. Dayin melangkah masuk dengan tenang. Tatapannya dingin, tak tertarik pada hingar-bingar di sekelilingnya. Malam ini ada sesuatu yang berbeda, meski tak tampak di mata. Suasana terasa lebih berat, seolah udara membawa beban yang tak kasat mata. Begitu ia melewati kerumunan, beberapa wanita langsung menghampirinya. Salah satu dari mereka tersenyum menggoda, diikuti oleh yang lain. “Hai, Bos,” ucap seorang wanita dengan suara lembut. “Mau bermain dengan kami malam ini?” “Dengan kami saja. Kami bisa menemani sampai puas.” Dayin tak menggubris mereka. Wajahnya tetap datar, tatapannya tajam namun kosong. Ia berlalu begitu saja, meninggalkan mereka dalam keheningan yang terasa menusuk. Wanita-wanita itu saling bertukar pandang sebelum salah satunya berbisik kepada seorang pria berjas rapi yang berdiri tak jauh dari mereka. “Manager, ada apa dengan bos malam ini? Dia kelihatan kesal.” Sang manajer hanya melirik sekilas ke arah punggung Dayin yang semakin menjauh. “Jangan mengganggunya. Sepertinya suasana hatinya sedang buruk.” Wanita itu mendengus pelan. “Dasar aneh. Tapi memangnya ada orang lurus yang mau datang ke tempat ini? Semua yang datang ke sini cuma b******n, hahaha…” Tawa mereka pecah, namun segera terhenti ketika sang manajer menghardik. “Sudah, bubar! Kembali bekerja.” Dayin terus melangkah menyusuri lorong menuju ruangan VIP yang selalu ia gunakan. Para pegawai menyapanya dengan anggukan hormat, namun ia hanya membalas sekadarnya. Pikirannya terlalu penuh untuk sekadar membuang energi pada hal-hal remeh. Begitu pintu ruangan VIP terbuka, suasana di dalamnya menyambut dengan keheningan yang mewah. Sofa kulit gelap tersusun rapi, meja kaca besar berdiri di tengah, dan lampu disko kecil memancarkan cahaya redup yang menciptakan pola abstrak di dinding. Seorang pelayan masuk tanpa suara, meletakkan segelas wiski di atas meja sebelum mundur perlahan dan menghilang di balik pintu. Dayin menatap minuman itu tanpa menyentuhnya. Malam ini bukan tentang menikmati alkohol atau menghabiskan waktu. Ada urusan yang lebih mendesak. Beberapa hari lalu, ia menerima pesan dari seseorang, sekretaris lapangan yang juga dikenal sebagai wanita simpanan bos besar. Wanita itu selalu menjadi teka-teki baginya, seperti boneka porselen yang berdiri di tengah badai tanpa tergores sedikit pun. Dayin tahu ia tidak bisa mempercayainya sepenuhnya. Namun, jika ada secuil kemungkinan informasi itu benar, jika benar bos besar masih hidup dan berada di suatu tempat—ia tak punya pilihan selain mengejarnya. Akhirnya, ia mengambil gelas itu dan meneguk wiski perlahan. Rasa hangatnya mengalir di tenggorokan, namun tidak mengusir kegelisahan yang bersemayam di benaknya. Pandangannya menyapu ruangan, memperhatikan setiap sudut, setiap bayangan yang bergerak di balik pantulan kaca. Tapi semuanya tampak biasa. Terlalu biasa. Sepuluh menit berlalu, dan tiba-tiba, ada yang terasa aneh. Kepalanya mendadak berat, pandangannya sedikit kabur. Ia mengernyit, menekan pelipis dengan jari-jari yang tiba-tiba terasa lemah. “Apa-apaan ini…?” gumamnya serak. Ini bukan mabuk. Ia tahu batasannya. Segelas wiski tak mungkin membuatnya kehilangan keseimbangan. Tapi kini tubuhnya terasa lumpuh, kesadarannya berangsur menipis. Dayin mencoba berdiri, namun gagal. Dunia di sekelilingnya berputar cepat, dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya ambruk di atas sofa. Gelap. Langkah Mencurigakan Samar-samar, suara langkah kaki terdengar bergema di ruangan. Beberapa sosok memasuki tempat itu dengan pergerakan cepat dan terlatih. Mereka tidak berbicara banyak, hanya memberi isyarat satu sama lain. Salah satu dari mereka berlutut di samping sofa, menyuntikkan cairan tak dikenal ke lengan Dayin yang tergeletak tak sadarkan diri. Sementara itu, dua orang lainnya menyeret seorang wanita dari ruangan sebelah. Pakaian minim yang compang-camping membalut tubuhnya, dan memar di dahinya menambah kesan bahwa ia telah melalui sesuatu yang brutal. Luka di sudut bibirnya masih segar. Jarum suntik bekas dibiarkan begitu saja di atas meja, menjadi bagian dari skenario yang telah mereka susun. “Cepat! Sebelum dia sadar,” perintah seorang pria yang tampak sebagai pemimpin mereka. Ia kemudian melemparkan sebuah ponsel sekali pakai kepada salah satu anak buahnya. “Hubungi polisi. Sekarang.” Pria yang diperintah segera menekan nomor yang telah ditentukan. Setelahnya, mereka bergegas keluar, meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa-gesa. Dari kejauhan, mereka berjaga, menunggu perkembangan selanjutnya. Kesadaran Yang Buram Kepala Dayin terasa berat. Dunia di sekelilingnya masih berputar saat ia berusaha bangkit dari sofa. Pandangannya buram, dan tubuhnya belum sepenuhnya merespons. Ia berjalan terhuyung keluar dari ruangan tanpa menyadari keadaan sekitar. Klub yang biasanya familiar kini terasa seperti labirin penuh jebakan. Lampu-lampu berkelap-kelip menusuk matanya, sementara dentuman musik terasa menggema langsung di dalam kepalanya. Ia meraih pegangan tangga, mencoba menstabilkan tubuhnya. Saat itulah, tanpa sengaja, ia menabrak seorang wanita. Refleks, Dayin meraih lengannya. “Kau bekerja di sini?” Suaranya serak, terdengar lebih seperti perintah. “Antar aku keluar.” Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang dan kunci mobil, lalu menyerahkannya kepada wanita itu. Wanita tersebut menatapnya sejenak sebelum tersenyum tipis. “Baiklah.” Mereka melangkah ke parkiran. Wanita itu menekan tombol kunci mobil, mencari kendaraan milik Dayin. Sebuah suara klik terdengar tidak jauh dari tempat mereka berdiri. “Oke, ketemu,” ujarnya, melangkah menuju mobil itu dan membukakan pintu untuknya. Tanpa berpikir panjang, Dayin masuk dan duduk di kursi pengemudi. Wanita itu mengernyit. “Apa kau yakin bisa menyetir dalam keadaan seperti ini? Kau terlihat mabuk dan setengah teler.” “Pergilah.” Jawaban Dayin dingin. Ia tidak ingin mendengar omelan atau nasihat. Wanita itu mengangkat bahu. “Dasar bodoh,” gerutunya sebelum berbalik dan kembali masuk ke klub. Dari kejauhan, seorang pria asing mengawasi semua yang terjadi. Ia segera mengangkat telepon dan melaporkan situasi kepada seseorang di ujung sana. “Bos, jebakan gagal. Dia berhasil keluar.” Suara berat terdengar dari telepon. “Biarkan saja. Ikuti dia. Dia tidak akan pergi jauh.” “Baik, Bos.” Dayin melajukan mobilnya, meninggalkan tempat parkir tanpa menyadari sebuah mobil hitam membuntutinya dari kejauhan. Di dalam mobil yang mengikutinya, seorang pria berbicara melalui telepon. “Bersiaplah. Dia menuju ke arahmu.” Tanpa menunggu jawaban, ia menutup panggilan itu dan mengawasi pergerakan target mereka. Sementara itu, Dayin terus mengemudi meski kesadarannya semakin menurun. Kepalanya terasa berat, pandangannya berbayang. Ia beberapa kali memukul pelipisnya, mencoba mengusir rasa pening yang tak kunjung hilang. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil tiba-tiba menyenggol bagian belakang mobilnya dengan kasar. “WOY, b*****t! Menyetirlah dengan benar!” teriak pengemudi mobil itu sebelum melaju meninggalkannya begitu saja. Dayin berusaha mengendalikan setirnya, namun mendadak jantungnya mencelos. Rem mobilnya tidak berfungsi. “Sial…” gumamnya. Ia menekan pedal rem berulang kali, tetapi tidak ada respons. Mobilnya melaju liar, kehilangan kendali sepenuhnya. Dayin mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguasai kendaraan itu, tapi sia-sia. Dalam hitungan detik, mobilnya menghantam pembatas jalan dengan keras. Benturan kuat mengguncang tubuhnya. Darah mengalir dari pelipisnya, tetapi adrenalin membuatnya mengabaikan rasa sakit. Tak jauh dari sana, mobil hitam yang mengikutinya berhenti di kejauhan. Dari dalam, seorang pria memperhatikan situasi dengan waspada. “Hubungi Bos.” perintahnya. Salah satu rekannya segera mengangkat telepon dan berbicara dengan suara hati-hati. “Bos, sepertinya kami gagal lagi. Target mengalami kecelakaan sebelum sampai di lokasi yang ditentukan.” Di tempat lain, seorang pria terdengar menggeram kesal di seberang telepon. “Bodoh! Apa yang kalian lakukan?!” bentaknya. “Kami akan turun dan memeriksa keadaannya,” lapor pria itu, melirik rekan-rekannya yang sudah bersiap keluar. “Panggil polisi bodoh yang sudah kalian suap itu!” Bosnya semakin marah. “Baik, Bos! Lima menit lagi dia sampai.” “Baiklah. Hubungi aku lagi nanti. Kerjakan dengan benar, Bodoh!” sambungan telepon diputus secara kasar. Sementara itu, Dayin berusaha mengumpulkan kesadarannya. Kepalanya berdenyut, darah mengalir menuruni pelipisnya. Dengan susah payah, ia mendorong pintu mobil dan keluar dengan langkah sempoyongan. Napasnya berat, tubuhnya seakan ingin roboh, tetapi ia memaksa dirinya untuk tetap bergerak. Ia menoleh ke belakang dan saat itu juga, perasaan waspada merayapi tubuhnya. Ada seseorang yang mengikutinya. Dayin mempercepat langkahnya. Sayangnya, kedua pria itu telah mendahului dan menghalangi jalannya. Di dekat konstruksi bangunan tua itu, ia mencoba berpikir dan mengambil keputusan. Satu-satunya cara adalah menghadapi mereka dengan cepat dan bertahan. Dayin berbalik, bersiap menghadapi siapa pun yang mengincarnya. Dua pria yang telah muncul dari balik bayangan, wajah mereka penuh tekad. Tanpa basa-basi, salah satu dari mereka langsung menyerangnya. Dayin menghindar, menangkis, dan membalas dengan pukulan keras ke rahang pria itu. Pria kedua berusaha menusukkan pisau ke arahnya, tetapi Dayin menangkap pergelangan tangannya, memelintirnya hingga senjata itu terjatuh. Dengan satu gerakan cepat, ia menendang pria itu hingga terjungkal ke lantai. Namun, di tengah perlawanan sengit itu, Dayin lengah. Sebuah pisau melesat ke perutnya, menembus jas hitamnya. Darah mulai mengalir, membasahi kain yang dikenakannya. Rasa panas menyebar dari luka itu, tetapi ia tidak punya waktu untuk merasakan sakit. Dengan sisa tenaga, ia menghantam lawannya sekali lagi, membuat keduanya tak sadarkan diri. Dayin tersandung, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia harus segera pergi sebelum lebih banyak orang datang. Dengan napas tersengal, ia menyeret langkahnya menjauh dari bangunan tua itu. Ia akhirnya tiba di sebuah taman kecil yang sepi, pencahayaannya buram, hampir tidak ada orang yang melintas. Tubuhnya roboh di bangku taman, kepalanya tertunduk seperti seseorang yang tertidur dalam posisi duduk. Kesadarannya perlahan memudar. Tak jauh dari sana, seorang gadis dengan langkah gontai memasuki taman. Selina. Dalam keadaan mabuk, ia tidak menyadari bahwa langkahnya telah membawanya ke tempat yang sama dengan Dayin. Di sisi lain, dua pria yang sebelumnya tak sadarkan diri kini mulai terbangun. Mereka langsung panik saat menyadari Dayin telah menghilang. Dari kejauhan, sirene polisi terdengar mendekat. Salah satu pria buru-buru menghubungi bos mereka dengan tangan gemetar. “Bos, kami kehilangan Dayin!” Hening sejenak. Kemudian, suara marah meledak di seberang telepon. “b******k! Kalian tidak becus! Cari!” “Tapi, bagaimana dengan polisi itu, Bos?” “Apa itu pun harus aku jelaskan?! Temukan Dayin! Tangkap atau bunuh, tidak...tidak jangan dibunuh, temukan dia, kalau kalian masih ingin hidup!” Telepon diputus dengan kasar, meninggalkan kedua pria itu dalam ketakutan. Mereka segera bergegas mencari Dayin, sementara polisi yang telah disuap kembali ke mobilnya, menyalakan sirene, berpura-pura mencari buronan yang kabur. Malam itu, permainan berburu dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD