Almira segera turun ke lantai bawah setelah membersihkan diri. Demian tersenyum menyambutnya di ruang keluarga mereka. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan sebenarnya Almira sudah tak memiliki tenaga untuk bercakap-cakap dengan Demian, namun melihat meja yang sudah diisi dengan minuman dan juga martabak kesukaannya membuat Almira yakin jika lelaki itu ingin mengobrol dengannya. Hal yang sudah lama tak mereka lakukan. Seharusnya, mereka tetap menjadi asing, daripada terus bersandiwara. “Minum tehnya selagi hangat. Aku udah pesen martabak telor kesukaanmu,” ucap Demian, begitu Almira duduk pada sofa yang sama degannya. “Makasih, Mas.” Almira meminum teh yang Demian siapkan. Kecanggungan menjebak mereka untuk beberapa saat. Demian sendiri sibuk menatap Almira, memperhatikan gerak-ge

