Andai saja, di dunia ini benar ada yang namanya mesin waktu, mungkin tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa merasa menyesal atas apa yang telah mereka lakukan. Mungkin saja, semua orang mampu merasa bahagia, akan tetapi semuanya mustahil. Kesalahan ada, agar kita memperbaiki dan menjadikan semua lebih baik dari sebelumnya.
Almira berusaha menutup semua lembaran lama dan memulainya dengan yang baru. Dirinya memang tak mungkin bisa lupa, akan tetapi ia percaya, jika mereka berdua bisa kembali membangun istana yang telah hancur. Kembali berdiri di atas puing-puing kepercayaan yang telah runtuh. Memang tak mudah, akan tetapi perubahan kecil yang mulai tampak dari suaminya, membuatnya kembali ingin mencoba apa yang telah lelaki itu hancurkan.
Di sinilah mereka hari ini, mencoba melakukan kencan yang kesekian kalinya, setelah semuanya terlihat mustahil untuk kembali seperti dulu. Demian mengajaknya menghabiskan waktu di mall dan berusaha membawa wanita itu kembali ke masa lalu. Dulu sekali, Demian kerap memanjakannya dengan meluangkan waktu untuk kencan, setidaknya seminggu sekali.
Demian mengantri di loket untuk mencetak tiket bioskop yang sudah dipesannya via online. Almira diminta untuk duduk di cafe dan menikmati segelas vanilla latte kesukaannya. Dulu, dirinya yang tak mengerti cinta mengira menikah adalah cinta. Aneh memang, mana bisa menikah selalu tentang cinta. Ada orang yang terpaksa menikah karna keadaan, saling mencintai, dan sebagian lagi terpaksa bersama. Pernikahan tak selamanya semanis drama Korea.
Setelah disakiti, hati kecil Almira bertanya-tanya, sebenarnya apakah artinya cinta? Apakah rasa gembira dan menggebu-gebu saat menerima lamaran Demian dulu adalah karna dirinya jatuh cinta? Atau hanya merasa bahagia, karna tak lagi menjadi beban keluarga, dirinya dan adiknya pun bisa melanjutkan pendidikan. Mungkin lebih tepatnya, rasa itu bukan cinta, melainkan bersyukur. Almira terlalu muda, gadis berusia dua puluh tahun yang menikah hanya karna merasa telah menemukan lelaki yang mau bertanggung jawab dalam masalah finansialnya. Sempat diabaikan dan tak dianggap membuat Almira semakin bertanya-tanya, mengapa dirinya bisa begitu bodoh dan mempertaruhkan masa depannya hanya untuk pernikahan hampa? Almira tak menyangkan kesetiaan dan pengorbanannya dibalas dengan pengkhiantan. Kejam.
Tangan yang merangkul pundaknya membawa Almira kembali ke alam nyata. Lelaki itu, Demian duduk di kursi samping Almira dan mengulurkan tiket yang sudah berhasil dicetak.
“Masih ada setengah jam lagi, mau di sini aja atau jalan-jalan lagi?”
Almira menggeleng. Ia tak mau kemanapun. “Di sini aja, Mas.”
Demia membuat kursi mereka saling berhadapan dan mengusap lembut wajah Almira, banyak mata yang diam-diam menatap mereka iri. Sayangnya, tak ada yang tahu, jika kemesraan itu kini terasa semu bagi Almira. Rasa kepercayaan yang telah dihancurkan membuatnya terus meragu. Ia tak mampu mempercayai apa yang dilihat matanya.
“Kamu cantik banget, Sayang. Udah tiga tahun kita menikah dan nggak ada yang berubah darimu. Kamu tetap mencintaiku, melayaniku sepenuh hati, dan terus berada di sisiku. Makasih ya, Sayang,” ucap Demian tersenyum manis, lalu ia mengecup kening Almira lembut.
Almira tersenyum kikuk. Ingin ia mengatakan hal yang sama. Namun sayang, keadaan yang ia alami sangat berbeda dari kata-kata manis lelaki itu. Cinta lelaki itu telah terbagi, ia telah berubah, dan lelaki itu pun mengabaikannya. Hingga ia mengetahui perselingkuhan lelaki itu, Demian pun tak berusaha mencarinya, Almira yang dengan bodohnya kembali dan menjatuhkan diri dalam kehidupan pernikahan yang kini seakan kehilangan makna.
Kebisuan Almira, membuat Demian kembali melayangkan tanya. “Kamu masih marah padaku? Kamu masih belum mau menerimaku kembali?”
Pertanyaan yang belakangan ini kerap Demian layangkan pada Almira. Lelaki itu mungkin dapat merasakan perubahan dalam dirinya yang sudah terlalu lelah dengan pengkhianatan. Salahkan saja hatinya yang tak dengan gampang sembuh dari luka.
“Aku sudah memaafkanmu, Mas.” Jawaban yang sama pula akan Almira berikan. Maaf, memang terlalu mudah untuk diucapkan, andai melupakan bekerja dengan cara yang sama.
Lelaki itu tersenyum bahagia, namun tak bisa menular pada Almira yang hatinya telah kosong. Yang ada di dirinya hanyalah raga kosong yang tak mungkin bisa lagi memiliki hati.
Demian bercerita dengan asyiknya, menceritakan banyak tentang masa lalu mereka dan berharap Almira ikut masuk ke dalam jebakan nostalgia yang dulu selalu menemani kesendirian Almira. Saat Demian tak lagi menginginkannya, bayang-bayang tentang kebahagiaan mereka dulu lah yang kerap menemaninya. Akan tetapi, mengapa kini dirinya seakan mati rasa?
***
Perlahan, semua perubahan pada diri Demian kembali mendapatkan perhatian Almira. Almira mulai percaya, jika memang kesempatan kedualah yang mereka butuhkan. Walau sulit, namun Almira berusaha membuka hatinya kembali. Kini, semuanya perlahan membaik, setelah dua tahun kejadian perselingkuhan yang menghancurkan kepercayaan dan juga hatinya, Demian seakan kembali menjadi dirinya yang dulu, lelaki yang mencintai Almira.
Almira tengah sibuk menyiapkan sarapan saat lelaki itu memeluk tubuhnya dari belakang. Senyum Almira mengembang. Ia mengusap tangan lelaki itu dan membalik tubuh. Ia mengalungkan tangannya pada leher lelaki itu dan memberikan senyum terbaiknya.
“Kamu udah siap, Mas? Kita sarapan sekarang?”
Lelaki itu menggeleng. “Aku mau kamu yang menjadi menu sarapanku,” ucap Demian sembari mempertipis jarak di antara wajah mereka, ia mengecup bibir Almira, lalu melumatnya lembut, memberikan kehangatan pada hati Almira yang seakan kembali menemukan detaknya.
“Kamu akan terlambat ke kantor, Mas,” Almira begitu lelaki itu melepaskan ciumannya.
“Nggak pa-pa, Sayang. Aku merasa dahaga dan juga lapar melihatmu. Kenapa kamu begitu mengairahkan?”tanya lelaki itu mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Almira, ia memainkan lidahnya pada telinga Almira, membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.
“Mas ... nanti kamu beneran terlambat,” ucap Almira dengan suara parau.
Demian tak peduli. Ia kembali melumat bibir Almira, tak membiarkan wanita itu berbicara dan mengacaukan fungsi otak Almira karna hasratnya yang tersulut. Ciuman Demian berlanjut pada leher Almira, tangan lelaki itu tak tinggal diam dan sudah menyelinap masuk.
Demian mengusap inti wanita itu, memberikan sensasi nikmat pada tubuh Almira, sebelah tangannya lagi meremas gunung kembar Almira. Desahan wanita itu semakin membangkitkan gejolak dalam dirinya. Demian melepaskan gaun Almira, membuat tubuh berbalut pakaian dalam itu terlihat menggoda. Ia kembali melumat bibir wanita itu, melahapnya dengan rakus.
Almira tak tinggal diam, ia melepaskan sabuk celana Demian dengan terburu-buru, membuka resletingnya dan mengusap milik Demian yang sudah mengeras, siap bertempur dengannya. Almira memainkan tangannya, menggerakkan tangannya naik turun, memberikan sensasi nikmat dan semakin membuat Demian menggila. Lelaki itu tak tahan dan membalik tubuh Almira, dimasukkan miliknya dan menghujam l**************n Almira. Desahan keduanya memenuhi ruangan, kenikmatan yang membuat keduanya seakan menggila.
Demian semakin mempercepat gerakannya dan membuat desahan Almira semakin liar, sedetik kemudian tubuh Demian menegang, ia semakin menghujam wanita itu dalam-dalam dan ia pun meledak di dalam wanita itu. Nama Almira ia teriakan begitu kenikmatan yang mendera tubuhnya. Ia terkulai di punggung Almira, mengatur napasnya yang terengah-engah karna permainan panas mereka. Dibiarkan miliknya masih berada di dalam Almira.
“Makasih, Sayang. Aku mencintaimu,” ucap Demian lembut, Almira tersenyum.
Permainan mereka kembali panas dan rumah tangga yang Almira pikir tak ‘kan bisa diselamatkan lagi. Kini seakan telah menemukan sinarnya kembali. Mungkin benar cara lelaki itu, mereka harus kembali ke masa lalu, mengenang kembali masa-masa indah bersama, dan kembali menemukan cinta yang dulu mewarnai kebersamaan keduanya. Almira harap, kali ini, pernikahan mereka tak lagi diterpa badai ganas dan kembali menemukan kebahagiaan bersama.