Almira menghentikan langkah saat mendengar percakapan lelaki itu di telpon, bukan bermaksud menguping, tapi rasa kepercayaan yang telah dihancurkan membuatnya menjadi separanoid ini. Dirinya memang berusaha memaafkan, akan tetapi melupakan tak semudah mengucapkan kata ‘aku memaafkanmu’. Setiap hari, hatinya merasa was-was, kerap dilanda rasa curiga, dan tak lagi menemukan kedamaian. Siapa yang harus ia salahkan atas semua ini? Dirinya yang tak lagi mudah percaya atau lelaki itu yang menghancurkan kepercayaannya?
Demian membalikkan tubuh dan tersenyum begitu melihat Almira berdiri di dekatnya. Almira memaksakan senyum, tak mau terlihat curiga atau tengah mengamati lelaki itu. Almira berjalan mendekat begitu Demian membentangkan kedua tangannya, ia berhambur ke dalam pelukan lelaki itu, sedang Si lelaki memeluknya erat-erat.
“Kamu dari tempat Jenny?” tanya lelaki itu seraya mengecup puncak kepala Almira. Almira mengangguk di dalam dekapan suaminya. Ia heran, mengapa dekapan lelaki itu tak lagi senyaman dulu. Apakah ini yang terjadi saat hati disakiti? Kehilangan semua alasan berbahagia.
Almira melepaskan pelukannya. “Jenny titip salam untukmu, Mas.”
“Salam balik,” ucap Demian seraya mengenggam tangan Almira untuk masuk ke dalam rumah mereka, “apa yang kamu lakukan di rumahnya?”
Almira tersenyum tipis. “Hanya bergosip, hal yang suka dilakukan wanita.”
“Bergosip tentangku?” tanya Demian melirik Almira sekilas, sedang wanita itu tersenyum tipis sembari menggeleng-geleng.
Hingga saat ini Almira masih menjaga aib suaminya dengan baik, tak menceritakan perselingkuhan yang lelaki itu lakukan kepada siapapun. Dirinya tak mau urusan rumah tangga dan lukanya dibagikan begitu saja, walau kepada sahabat terbaiknya sendiri. Almira ingin mempercayai jika lelaki itu akan kembali seperti sedia kala, mencintai dan menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidup lelaki itu. Ia pikir, dirinya bisa lupa, akan tetapi melupakan tidaklah semudah itu. Terasa sangat sulit walau dirinya sudah memaafkan Demian.
“Hanya membicarakan hal biasa. Girl’s stuff,” ucap Almira seraya duduk di sofa yang berada di ruang keluarga, Demian ikut duduk di sampingnya.
“Kalau kamu bosan. Kamu boleh bekerja, Mira. Sayang juga kalau ijazah S1-mu nggak digunakan, tapi semua kembali pada dirimu. Aku akan mendukung semua keputusanmu.”
Almira mengangguk. “Aku akan memikirkannya, Mas. Makasih atas dukungannya.”
Lelaki itu memeluk dan mengecup keningnya. Lelaki itu seakan ingin mengajaknya kembali ke masa lalu, mulai mengulang apa yang pernah mereka lakukan bersama, namun entah mengapa Almira merasa keadaan dan hatinya tak lagi sama. Lelaki itu memang tak banyak menuntut, selalu mendukungnya, sebagaimana Demian yang tetap bersikeras memaksa Almira melanjutkan pendidikan begitu mereka menikah. Dirinya pun tak masalah menunda mempunyai anak, agar Almira bisa mendapatkan gelar sarjananya.
Demian juga lelaki yang mencintai keluarganya sebagaimana keluarganya sendiri. Bukan hanya membiayai pendidikannya, lelaki itu turut membiayai biaya pendidikan adiknya. Almira merasa beruntung, namun entah mengapa kini semuanya tak lagi sama. Hidup serba berkecukupan, namun hatinya merasa hampa karna luka yang lelaki itu toreh pada hatinya.
Almira masih ingat bagaimana kejadian hari itu. Setelah tiga bulan berkenalan, Demian mengajaknya ke restoran untuk makan malam. Lelaki itu bahkan meminta izin dari kedua orang tua Almira untuk mengajaknya keluar, kesan sopan dan ramah tentu saja membuat kedua orang Almira luluh dan memberikan izin. Di restoran pinggir danau buatan itu telah dipesan Demian hanya untuk mereka berdua tempati.
Demian menggenggam erat tangannya dan melewati jalan setapak yang diapit lampu-lampu kecil yang memberikan kesan remang. Mereka berjalan menuju danau buatan di mana sudah terdapat sebuah meja bulat di antara dua kursi. Bunga mawar membentuk hati dengan lilin di sekitarnya yang membentuk hal yang sama. Senyum mengembang di wajah Almira, ia merasa begitu bahagia. Tak pernah sekalipun ia mendapatkan seorang kekasih yang bahkan mau membawanya makan malam ke tempat seromantis ini. Saat itu, Almira merasa dirinya sangat beruntung dan begitu dicintai. Demian menarik kursi dan membiarkan wanita itu duduk.
Keduanya saling bergenggaman tangan, tersenyum dan berbagi cerita. Tak lama menunggu, makanan mulai disajikan ke meja keduanya, mereka menyantap makanan dengan bahagia dan Almira seakan menjadi toko utama dalam drama Korea yang kerap ditontonnya, mendapatkan kekasih yang super duper romantis dan juga baik. Walau baru berkenalan, Almira begitu yakin dengan perasaannya pada Demian, rasa yang ia pikir tak ‘kan berubah.
Kebahagiaan Almira membuncah waktu itu. Saat makanan penutup dihidangkan dan terdapat cincin di atas kue tart kecil berbentuk hati dengan perisa cokelat kesukaannya, di sana terdapat tulisan ‘will you marry me?’, yang membuat senyumnya mengembang lebar.
“Apa maksudnya ini, Mas?” tanyanya sembari menatap penuh tanya lelaki di hadapannya.
Lelaki itu berdiri, mengambil cincin di atas kue, lalu berlutut di hadapan Almira sembari mengulurkan cincin pada wanita itu. Almira menutup mulut tak percaya, terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Biasanya, adegan semanis ini hanya terjadi di dalam drama—begitulah pikirnya saat itu—dirinya tak bisa mempercayai apa yang tengah terjadi. Terlalu indah untuk menjadi nyata dan Almira takut semuanya akan menghilang begitu ia mempercayainya.
“Almira Sayang, maukah kamu menjadi istri dan juga ibu untuk anak-anakku kelak? Aku berjanji akan selalu mencintaimu, menjadikanmu yang utama, dan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini,” ucap lelaki itu menatap ke dalam netra Almira, “Maukah kamu menikah denganku?” lanjut lelaki itu dengan suara yang memohon.
“Tapi aku masih terlalu muda, Mas. Bagaimana kalau aku nggak bisa menjadi istri yang baik bagimu? Aku takut menyusahkanmu.”
Almira memang masih terlalu muda. Usianya baru menginjak angka dua puluh saat lelaki itu melamarnya. Ada kekahwatiran yang memenuhi hatinya. Bagaimana jika ia tak bisa menjadi yang terbaik untuk Demian? Bagaimana jika dirinya tak bisa menjadi istri yang bisa diandalkan?
Demian menarik tangan wanita itu dan menggenggamnya erat. “Usia bukan alasan untuk menjadi yang terbaik dan bisa diandalkan. Aku menemukan kenyamanan saat bersamamu dan bagiku kamu lah yang terbaik, Mira. Saat berada di dekatmu, aku seakan menemukan rumah.”
Ada jeda sebelum Almira mengangguk antusias dan berujar, “Aku mau jadi istrimu, Mas.”
Demian segera menyarungkan cincin itu pada jari manis Almira. Masih dengan berlutut, lelaki itu menangkup wajah Almira dan mempertipis jarak di antara wajah mereka. “Aku mencintaimu, Almira,” bisik lelaki itu yang terdengar bagai simfoni yang memabukkan.
Sedetik kemudian, lelaki itu sudah menempelkan bibirnya pada bibir ranum milik Almira. Kecupan-kecupan kecil yang awalnya penuh keraguan. Mulai berubah menjadi lumatan-lumatan penuh kelembutan. Bibir mereka saling berpagut dan mengecap, lidah Demian menuntut Almira yang masih kaku berciuman, membuatnya mudah larut dan mengikuti gerakan bibir lelaki itu. Saat itu, semuanya terasa sempurna dan abadi bukanlah hal yang mustahil.
“Mira ... apa kamu mulai memasukkan lamaran? Aku akan membantumu membuat CV yang bagus. Aku akan selalu mendukungmu, Sayang,” ucapan yang disertai cengkraman pada pundaknya itu membawa Almira kembali ke alam nyata.
Almira tersenyum dan mengangguk pelan. “Ya, Mas. Aku akan mencobanya nanti. Aku akan meminta bantuanmu jika kesulitan.”
Lelaki itu tersenyum dan menggenggam erat tangannya. “Take your time, Sayang. Nggak perlu terburu-buru karna kita masih ada waktu sepanjang sisa hidup untuk merajut masa depan.”
Seumur hidup? Tidakkah itu terdengar terlalu berlebihan karna baru tiga tahun menikah saja, lelaki itu sudah mulai bosan dengannya dan berpaling. Apa ada yang bisa menjamin, jika di masa depan, lelaki itu tak ‘kan melakukan hal yang sama? Apa kali ini, mereka benar-benar bisa kembali seperti masa lalu, di mana cinta hanyalah milik mereka bersama?