Dua ; Masa Lalu yang Kelam

1734 Words
Tasya tersenyum senang, ia menghapus air mata palsu yang tadi membasahi pipi mulusnya. Kegembiraan terpancar jelas di wajah cantiknya. Walau sudah berumur 33 tahun, tapi seakan kecantikannya bukan memudar malah semakin terpancar jelas. Tidak menunggu lama, sebuah mobil melaju ke arahnya. Berhenti tepat di depan Tasya dan menurunkan kaca mobilnya. “Atas nama Ibu Tasya Maharani?” tanya pria dari dalam mobil. “Benar, itu saya.” jawab Tasya sambil tersenyum. Tasya membuka pintu co-pilot, duduk dengan anggun dengan banyak harapan setelah menjual Keysha –anaknya pada Lidya. Kepalanya bersandar pada jendela ia tidak tahu bagaimana perasaannya, sejujurnya dia masih ada sedikit rasa sayang dan kasihan pada putri semata wayang yang selama ini menemani dan merawatnya. Tapi, bayang-bayang rasa sakit dan kekecewaan itu tidak bisa dihapuskan. Keysha tidak pernah tau siapa ayahnya, karena Key ada karena sebuah kecelakaan dan Tasya tidak pernah menginginkan keberadaan anak dalam perutnya. Berbagai macam cara telah ia upayakan untuk menyingkirkan Key saat itu. Tapi, Key sangat kuat. Bahkan hingga ia terlahir ke dunia, Key memang kuat menahan semua caci maki Tasya, perlakuan kejam Tasya, atau kerasnya Tasya saat menghukum Keysha. Anaknya sangat kuat, terlalu kuat jarang sekali Tasya mendengar Keysha mengeluh.            Saat Keysha mengeluh, Tasya akan menangis mendramatisir keadaan seolah hidupnya runyam karena gadis tidak bersalah itu. Saat putus sekolah karena Tasya sering dugem, Keysha tidak mengeluh, ia berusaha kuat dan berkata, “gapapa, Ma. Sekolah Key mahal biar Key bantu Mama cari uang aja.            “Maafin aku, Key. Semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Batin Tasya “Aku adalah ibu yang buruk, sangat buruk bukan? Kenapa Kau titipkan dia padaku yang penuh dosa ini, Tuhan?”            Tasya memejamkan matanya, mendadak moodnya menurun drastis saat mengingat Keysha. Hatinya masih sakit dan sakit. *            Malam itu… Tasya menerima ajakan Bryan untuk pergi bersama, tidak ada yang aneh. Selama hampir 6 bulan berpacaran, Bryan adalah lelaki yang baik dan romantis. Tidak pernah sekalipun lelaki itu menyakitinya. Tasya begitu bahagia, sepanjang perjalanan Bryan terus menggenggam tangannya. Tidak melepaskan walau sesekali tangannya harus mengatur perseneling, tapi kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Gadis yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang kedua-puluh tahun itu dibawa ke sebuah rumah yang katanya adalah rumah Bryan. “Aku bikin pesta, mau kasih kamu kejutan.” Ucap Bryan sambil mengecup tangan Tasya yang ia genggam. Lelaki itu turun, berlari ke sisi lain mobil untuk membukakan pintu. Siapa yang tidak mabuk kepayang jika diperlakukan dengan sebegitu manisnya, Bryan adalah cinta kedua setelah yang pertama adalah ayah Tasya. Tidak pernah seharipun mereka bertengkar. Bryan selalu memaklumi Tasya yang manja dan kekanak-kanakkan.            Mata Tasya berkaca-kaca, dekorasi dari luar saja sudah sangat indah. Banyak lampu-lampur bergemerlapan juga beberapa balon, semakin mendekat ke halaman rumah teman-teman Bryan mulai bermunculan membawa beberapa buah tart juga kado.            “Aku bahagia banget.” Tasya memeluk kekasihnya, mengusap air mata yang sempat menetes.            Bryan hanya tersenyum sambil mengecup puncak kepala Tasya, mengajaknya masuk ke dalam rumah dengan tetap menggandeng lengan gadis yang memakai dress biru langit semata kaki, dibalut cardigan putih. Sangat manis.            Bryan menyeringai. *            Saat Tasya membuka mata, ia menjerit dan mencakari tubuhnya. Bryan b******n, semua teman-temannya berengsek! Teriakan Tasya makin melengking.            Menjijikkan.            Tasya terbangun dengan tubuh polos, tanpa sehelai benangpun. Beberapa bagian tubuhnya lebam, tulang dan sendinya menjerit ngilu, pusat inti tubuhnya terasa sangat menyakitkan, ia bahkan tidak bisa merasakan kakinya.            Matanya terpejam rapat, merasakan semua sakit di tubuh maupun hatinya.            “Kamu kira, kamu spesial, Sya?” Bryan berbisik seduktif di telinganya. “Kamu Cuma bahan taruhan di sini.”  Pergerakannya dikunci, gadis itu dibaringkan di tengah ruangkan. Beberapa orang mulai menggerayangi tubuhnya. Beberapa lainnya sudah b******u dengan pasangannya masing-masing.            “Apa salahku sama kamu, By? Tolong aku, lepasin aku!” Tasya menangis, ia tidak pernah diperlakukan sehina ini. Bahkan Bryan saja tidak pernah menyentuhnya. Gaunnya dirobek paksa, rambutnya dijambak hingga ia mendongak. “AMPUUUNNN!” jeritan Tasya melengking, tapi tidak ada yang peduli. Bak dirasuki iblis, mereka semakin bahagia saat Tasya menangis, menjerit dan memohon. Tasya terus saja meronta, tapi kaki dan tangannya dipegangi dengan begitu kuat. Tangan Bryan mengelus pipinya, “Gais, jalang ini tidak tau apa salahnya. Ada yang mau jelasin?” ucap Bryan lalu tertawa, tangannya menyusuri wajah basah Tasya. “Gue benci lo yang terlalu sombong karena lo cantik.” “Gue benci karena cowo yang gue suka ngebandingin gue sama lo!” “Gue benci lo, karena lo rebut pacar adik gue!” “Gue gak suka sama lo, karena pacar gue mutusin gue demi deket sama lo.” “Karena lo fantasi gue.” “Karena lo kegatelan.” Semua orang di ruangan itu menghardiknya, padahal Tasya baru pertama kali berpacaran dengan Bryan, cinta pertamanya adalah Bryan, tapi kenapa ia dihukum atas apa yang tidak dia lakukan. Lebih buruk lagi, kenapa ia harus di lecehkan seperti ini? “Lu pacarnya, mau jadi yang pertama nyobain gak, nih?” Devon, sahabat yang sudah dia anggap kakak sendiri, ternyata manusia biadab. Lelaki itu ternyata diam-diam memiliki fantasi atas dirinya. “Jelas gue yang pertama dong. Pegangin ya.”            Bryan membuka ikat pinggangnya,mencambukkan benda yang terbuat dari kulit itu ke badan Tasya hingga gadis di bawahnya menjerit. Bryan menghisap sisa rokoknya, lalu mematikan baranya di perut Tasya. Gadis itu terus meronta, tapi tidak ada yang berniat melepaskannya. Mereka semakin senang dan bahagia. Sakit. Perih. Panas. Kecewa. Bryan menatap Tasya buas, ia berlutut di antara kaki Tasya membuat Tasya menggeleng kuat saat Bryan benar-benar merobeknya Tasya hanya bisa menutup matanya rapat, merasakan sakit seolah ingin membelah tubuhnya. Nahasnya, bukan hanya Bryan yang mencicipi dan bermain dengan tubuhnya, tapi beberapa lelaki juga ikut menjadikannya piala bergilir, tanpa peduli Tasya yang lemas dan tidak sanggup lagi menahan siksaan mereka. Malam itu, ia benar-benar menjadi wanita yang lebih menjijikkan dibanding seorang p*****r. Para b******n itu bahkan tidak mempedulikan wajahnya yang pucat pasi atau ia yang mulai tidak sadarkan diri..            Bahkan setelah melakukan hal sekeji itu, tidak ada satu orangpun yang berbelas kasih menolong atau memberikan sehelai pakaian untuk digunakan. Semua orang meninggalkan Tasya seorang diri di rumah tersebut.            Menjijikan. Menjijikan. Menjijikan. Tasya menjerit dan menjambaki rambutnya. Apalagi yang kini ia miliki? Teman , kekasih, harga diri? Tidak ada yang tersisa dari dirinya. Airmatanya tidak berhenti mengalir, bayangan-bayangan menjijikkan itu terus berputar di kepalanya. * Tiga hari setelahnya, Tasya menelfon dan dijemput kedua orang tuanya. Tasya ditemukan di luar kota, dengan keadaan mengenaskan dengan bau tidak sedap dan menggunakan pakaian lusuh yang ia temukan di dapur. Rambut berantakan dengan tatapan mata yang kosong, airmata yang terus mengalir, sesaat Tasyapun menjerit saat bertemu ayahnya. Bayangan lelaki yang menghancurkan hidupnya kembali berputar tapi bukan bersimpati dan menguatkan, Tasya justru ditampar beberapa kali. “Anak gak tau diri! Sudah di bilang jangan pacaran, jangan bergaul dengan laki-laki itu tapi masih terus saja melawan!” “Lihat betapa menjijikkannya kamu sekarang, kamu bahkan tidak bisa disamakan dengan sampah, Tasya! Aku besarkan kamu susah payah hanya untuk melihat kamu menjadi p*****r j*****m!” Ayahnya terus mencacinya, menamparnya saat Tasya menjerit, menyeretnya keluar dari rumah terkutuk menuju ke mobil sedan hitam yang akan mereka kendarai untuk pulang. Ya, pulang. Bukan ke Rumah Sakit atau Kantor Polisi. Sepanjang perjalanan ibunya hanya menangis, tapi enggan memeluk ataupun menenangkan bahkan tidak menatapnya sama sekali seolah Tasya adalah kotoran yang paling menjijikkan. Sepanjang perjalanan pula, Tasya hanya diam. Matanya menerawang kosong. Bahkan setelah sampai rumah, Tasya tetap diseret masuk dengan serapahan yang tak ada habisnya. Tasya semakin meringkuk, saat sang Ayah menarik ikat pinggangnya. Satu cambukan, Tasya menjerit. Dua cambukan, tubuhnya menjingkat. Tiga cambukan, ia merasa darah mengalir dari lengannya. Saat akan mengayunkan ikat pinggangnya untuk yang keempat, mata Ayahnya melotot lalu terduduk. Nafasnya memburu, ia memegangi d**a kirinya. “Akh…, Ib…Ibu.” Ucap Ayahnya terbata-bata. Ibunya yang sejak tadi menangis, buru-buru menghampiri suaminya. “Ayah.., ayah tarik nafas dulu. Tenang, tarik nafas pelan-pelan.” Nafas Ayah semakin terlihat sulit, Tasya merangkak ke arah ayahnya, mengabaikan setiap sakit yang ada di tubuhnya tapi tangannya ditepis kasar oleh ibunya saat Tasya akan menyentuhnya. “Pergi kamu! Dasar anak bawa sial! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ayah, saya tidak akan pernah memaafkan kamu!” bentak ibunya, matanya menatap tasya berang. Ibu Tasya mulai berusaha membopong tubuh suaminya yang mulai melemah dengan susah payah ke mobil sendirian. Ibunya melanjukan mobil tanpa berbicara apapun lagi, meninggalkan Tasya dengan segala sakit, penyesalan dan kekecewaan. Tasya berusaha berdiri, menguatkan kakinya yang terasa lemas untuk bisa menumpu berat tubuh yang menurun karena beberapa hari tidak makan juga berat beban hidupnya. Tasya memindai kamarnya, bukankah hidupnya sudah indah kenapa ia harus bertemu Bryan? perlahan ia menuju ke lemarinya, mengambil baju untuk mengganti pakaiannya yang bau dan banyak noda darah.  Airmatanya tidak bisa berhenti mengalir walau matanya sudah sangat bengkak. Nasibnya sangat buruk dan menjijikkan. * Terlelap. Untuk pertama kalinya, setelah kejadian menjijikkan itu akhirnya Tasya bisa tertidur lebih dari setengah jam. Tasya terbangun karena suara telfon yang tidak berhenti dari nomor tidak dikenal di ponselnya.            Ia gugup. Takut saat mengangkat ternyata para b******n itu yang menelfonnya, seperti pada saat hari pertama, terror telfon dan chat tidak berhenti. Tidak ada makian, hanya suapa dan pesan ‘hahaha’ yang berulang.            Ragu, Tasya tetap mengangkat benda pipih di sampingnya.            “Apa?! Orang tua saya kecelakaan? Gak mungkin!” Tasya terduduk, ia kembali meraung meratapi nasibnya yang sangat pahit. Berusaha menguatkan kaki dan tubuhnya, Tasya memesan taksi online sebagai kendaraannya karena tidak memungkinkan baginya untuk naik angkutan umum dengan kondisinya yang mengenaskan. Mata merah dan bengkak, luka dan lebam di wajah dan hampir di sekujur tubuh, cara berjalan yang tidak normal. Sesampainya di rumah saki,t tenaga medis yang melihatnya spontan menawarkan bantuan pemeriksaan namun ditolak, ia tidak mau malu saat mengurus kasusnya.  Tasya menatap dua tubuh yang ditutupi dengan selimut putih di depannya. Ia berjalan dan berdiri di tengah dua brankar, tuutbhnya bergetar hebat, tangannbya termor untuk membuka kain itu. “Menurut penuturan para saksi mobil sedan yang dikendarai kedua orang tua anda menabrak pembatas jalan karena mengerem dadakan untuk menghindari truk.” Jelas seorang suster yang mengantarkannya.”Tapi, ibu anda terpental keluar dari mobil, bisa jadi disebabkan karena tidak menggunakan sabuk pengaman.” Tasya mendengarkan. Mobil hitam itu beberapa kali terpelanting sebelum akhirnya terhenti karena menabrak pembatas jalan, memakan beberapa korban yang luka lecet akibat berusaha menghindari mobil orang tuanya. Seperti diikuti malaikat penderitaan, tiga bulan setelah kecelakaan yang merenggut kedua malaikatnya. Tasya ternyata hamil walau tubuhnya sudah seperti tengkorak hidup. Semua pelakuy menghilang tanpa jejak. Seolah selama ini orang-orang itu adalah ilusi semata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD