3 ; Perkenalan

1547 Words
Shock. Tasya terbangun dengan berlinang airmata. “Bu, kenapa? Ini sudah sampai. Saya panggil-panggil daritadi tapi Ibu gak bangun-bangun.” Ucap si supir taksi. “Ah, ya, maaf.” Tasya mengusap wajahnya yang basah. “Pembayarannya sudah lewat aplikasi ya, Pak.” Wanita itu turun, membuka pintu rumah kontrakannya sesaat ia merasa sesak. Biasanya saat ia pulang, Keysha akan menghampirinya dan menawarkannya makan ataupun the hangat, sekarang rumah ini sedikit lebih sunyi dari biasanya. “Gapapa, Sya! Kamu sudah bawa beban itu selama lebih dari tujuh belas tahun. Kamu bebas sekarang.” monolog Tasya. Entah kenapa kakinya justru menuntunnya ke kamar Keysha. Pintu berwarna abu-abu tanpa hiasan apapun membuat dadanya sedikit sesak, tangannya mendorong pintu tanpa knp ataupun kunci itu. Lama, ia berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Kasur Keysha selalu rapi, kamar Tasya juga selalu tertata berkat tangan terampil Keysha. Tasya melihat foto dirinya di atas kasur Keysha. Ya, mereka tidak punya foto bersama. Tasya tidak pernah mau, bahkan untuk mengambil rapor sekolah Keysha ia tidak pernah datang. Daftar sekolah dasar saja, Keysha didaftarkan wali kelasnya saat Taman Kanak-Kanak. Bukankah Tasya terlalu kejam pada putrinya? Tapi wajah Keysha tidak sedikitpun mirip dengannya, membuatnya merasa jijik saat menatap anaknya sendiri. Keysha juga tahu diri, dia tidak pernah bertanya tentang ayahnya, berdiam diri dan menjauh saat Tasya mulai menjerit dan mengacak-acak semua barangnya. “Maafin mama Key!” Tasya terisak memeluk satu-satunya bantal di kamar itu, tanpa guling dan hanya beralas kasur lantai. “Maafin mama, yang gak bisa dan gak akan pernah bisa menerima keadaanmu.” * Keysha sudah bangun sejak jam 5 pagi seperti kebiasaannya saat di rumah. Ia lapar tapi takut untuk keluar. “Aku gak tau apa-apa di sini, kalau mau makan gimana ya?” ucap Keysha sambil memegangi perutnya. Seolah Dewi Fortuna sedang berpihak pada Keysha, pintu kamarnya diketuk dua kali dan ia langsung membukanya. “Tan- eh Mami Lidya, ada yang bisa key bantu?” tanya Key sopan pada wanita bergincu merah di depannya. “Waktunya sarapan, karena kamu penghuni baru jadi ayo saya kenalkan dengan penghuni mess ini.” Lidya menjawab sambil bersedekap. “Ah, baik.” Keysha berjalan mengikuti Lidya yang melangkah dengan anggun. Wanita di depannya menggunakan piyama satin berwarna hitam, sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Rambutnya hitam legam. Sangat cantik tapi ibunya tetap yang paling cantik dan indah. Keysha menatap meja panjang di hadapannya, banyak makanan dan buah-buahan diatas sana, tapi Keysha masih tetap mengikuti Lidya. Wanita itu duduk di kursi paling ujung, Keysha berdiri di sebelahnya. “Ini anggota baru di Narita Club. Dia akan saya tempatkan di room eksklusif. Jangan mencoba menyakitinya, atau kalian akan mendapat hukuman.” “Baik, Mam.” ucap para gadis serempak. Lidya menoleh pada Keysha, “Kenalkan diri kamu.” perintahnya. “Ha… hallo semua, saya Keysha Maharani, saya baru datang tadi malam. Salam kenal.” Jelas Keysha. “Oke sekarang kenalkan diri kalian Ladies.” Lidya bertepuk tangan sekali. “Dinda” “Dean” “Ananta” “Rindu” “Sania” “Daniar” “Misa” “Lala” “Bianca” “Samantha” “Gina” “Eve” “Jena” “Febby” “Mila” “Amel” “Zeze” “Putri” “Tari” “Khusnul” “Hafifa” “Ina” “Nia” “Bella” “Nina” “Lani” “Fitri” “Hilda” “Linda” “Cindy” “Tami” “Oke, itu semua adalah ladies yang bekerja di sini. Untuk Ladies Esklusif, ada Samantha, Bianca, Bella, Nia, Jena, Lani dan Linda.” jelas Lidya, nama yang disebut menunduk menyambut panggilan. Keysha disampingnya hanya mengangguk mengerti, walau ia sendiri tidak mungkin menghafal semua nama secepat itu. “Kamar kamu akan saya jadikan satu bersama Samantha.” Lidya menatap Samantha dan Keysha bergantian. “Keberatan?” Keysha dan Samantha menggeleng. “Baik silakan duduk semuanya. Kamu juga silakan duduk Key.” Keysha mengangguk dan melangkah ke salah satu kursi kosong tepat di samping Lidya. “Kamu boleh ambil semua hidangan di meja ini, kalau kurang kamu bisa lihat persediaan di kulkas.” Keysha mulai mengambil nasi dan beberapa lauk pauk. Berusaha tidak menimbulkan bunyi denting peraduan piring dan sendok. “Makan aja yang banyak, gak apa kok. Gak ada yang marah juga.” ucap Samantha, yang mengerti kecanggungan Keysha. “Tapi yang lain udah banyak yang selesai, Kak.” Keysha mencicit. Samantha tersenyum, “Aku tungguin, sekalian ke kamar bareng, mau?” tawarnya. Lagi-lagi Keysha mengangguk dan menikmati makanannya dengan khidmat. * “Kamu umur berapa, Key?” Keysha menoleh, “24 september nanti aku umur 17 tahun, Kak.” “Panggil Sam aja, aku februari lalu baru genap 21 tahun.” Samantha tersenyum. Keysha dan Samantha berjalan beriringan menuju ke kamarnya, sepertinya Keysha masih polos dan belum tau apa pekerjaannya. “Kamu kenapa milih kerja di sini?” tanya Sam sambil membuka pintu kamarnya. “Aku gak tau, mama yang minta aku buat kerja di sini.” Keysha memindai kamar barunya, lebih luas dari pada kamarnya di rumah. Ada dua kasur dan dua lemari dengan nama masing-masing. Ada tirai yang menjadi pembatas antar dua kasur di kamar bercat putih itu. “Duduk, Key. Ini kamar kamu juga.” “Cepet banget ya, padahal belum lebih dari 2 jam tapi kamar aku udah pindah aja.” Sam terkekeh. “Boleh aku lihat isi lemariku?” tanya Keysha meminta izin. Gadis berambut panjang di depannya mengangguk, “Itu lemari kamu, tentu boleh dong.” Keysha membuka lemari putih di depannya, tidak begitu besar tapi cukup untuk baju kerja barunya dan barang yang ia bawa kemarin. Beberapa foto ibunya juga di tempel di lemarinya. Keysha tersenyum, mengelus foto di hadapannya. Air sudah menggunung di pelipuk matanya. Belum lama tapi ia sudah merindukan ibunya. Apa tanpanya, Mama akan baik-baik saja? Apa tanpanya, Mama sudah tidak lagi terbebani? Apa tanpanya…, Keysha terduduk, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sesenggukan. Sam yang baru merebahkan diri menghampiri teman sekamarnya. “Hey, Key, kenapa?” Sam panik. Key menghapus air matanya, “Ah, gapapa. Maaf ngagetin, ya.” “Santai aja, kamu bisa tidur dulu Key. Nanti malam udah mulai kerja, ‘kan?” “Hm, iya, Kak. Tapi aku masih belum ngerti kerjanya gimana. Aku pernah jadi pelayan sih tapi di café siang bukan club malam.” keluhnya. “Gapapa, istirahat dulu, nanti sambil siap-siap aku kasih tau kerjanya apa dan gimana. Oke?” “Oke!” seru Keysha semangat. “Makasih banyak, uhm, Sam.” Keysha mulai beranjak naik ke kasurnya, merebahkan diri di atas busa empuk berlapis kain putih dengan bantal dan guling yang super empuk. Kamarnya pun sangat sejuk karena terpasang sebuah AC. Sangat nyaman. Tidak perlu menunggu lama, Keysha sepertinya terlelap setelah lima detik menempel pada kasur barunya. Sam melihat Keysha, ia tersenyum sambil menggeleng pelan lalu ikut merebahkan diri di kasurnya sendiri. * “Jadi nanti kamu ikutin aku aja, kita stay di bar dulu. Kalau ada pelanggan baru deh kita jalan buat anter pesanan mereka gitu.” jelas Sam pada gadis yang sedang bersiap di hadapannya. “Ah, Sam, baju ini kependekan. Boleh pake celana pendek gak ya?” tanya Keysha sambil mematut dirinya di depan cermin. Sam menggeleng, “ya gak boleh atuh.” “Sam aku gak bisa dandan.” keluh Keysha, bibirnya mngerucut lucu. “Gak usah dandan, kamu tuh gini aja udah cantik banget. Sini deh aku poles dikit aja.” Keysha bersorak, ia maju menghampiri Sam lalu duduk di hadapannya. Sam membuka laci nakas di samping tempat tidurnya, mengambil pouch makeup bewarna ungu tersebut. “Merem aja ya.” Titahnya. Keysha menurut, ia menutup matanya dan merasakan sapuan halus pada pipi, mata juga bibirnya. “Duh, cantiknya.” puji Sam takjub Mendengar pujian Sam, Key bertanya, “Udah boleh buka mata?” “Eh? Udah-udah.” Sam terkekeh, Keysha ini penurut sekali, ya? Gadis dengan setelan hitam putih itu berjalan kearah cermin lagi, ia menepuki pipinya pelan, mengelus mata juga bibirnya yang tampak basah. “Itu beneran aku?” Keysha menunjuk pantulan bayangannya di cermin. “Cantik banget ih aku.” * Keysha berdiri di sisi Samantha dan beberapa Ladies ladinnya, menunggu para tamu VIP yang akan datang dan mereka layani. Keysha memindai ruangan yang besar dan mewah ini. Tidak banyak bohlam putih tapi banyak sekali lampu berwarna-warni yang berkelip, juga suara music jedag-jedug yang memekakan telinganya.            Sang pemilik club datang, ia memindai semua Ladies yang ia beli maupun yang datang sendiri ke tempatnya. Tapi menurutnya kali ini bintangnya adalah Keysha, gadis itu terlihat benar-benar polos. “Pakailah.” Lidya menyerahkan sebuah kain hitam pada anak barunya. Keysha menerimanya, “Terima kasih, Mami.” Lidya mengangguk tapi entah kenapa panggilan Keysha membuat hatinya berdesir, panggilannya begitu lembut dan sangat menghargainya. Keysha mengangkat kain polos yang sedikit menerawang itu, ternyata Keysha diberikan sebuah cadar entah untuk apa, tapi akhirnya ia tetap menurut dan memakainya dibantu Sam. “Pokoknya nanti kamu sepaket sama aku aja, ya” kata Sam sambil mengikat cadar Keysha. Keysha mengangguk patuh, “Nanti ajarin aku kerjanya juga, ya, Sam.” Samantha hanya berharap semoga tamu VIP yang memilih Samantha kali ini adalah tamu yang royal, Sam takut Keysha ternodai di hari pertamanya bekerja. Gadis ini masih sangat dan begitu polos.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD