Dentuman music DJ memekakan telinga, pria berkemeja biru laut itu hanya menyandarkan kepalanya di sofa sambil menghirup nikotin di tangannya. Sesekali matanya akan terpejam dan kepalanya bergoyang seiring dentuman musik.
Ketiga sahabatnya sedang asik bergoyang ria bersama gadis sexy, sambil menunggu beberapa minuman yang mereka pesan datang. Ia kembali memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya nyaman.
“Woi, Mami katanya punya ‘barang baru’ nih.” Kata temannya yang baru saja kembali bersama gadis di pangkuannya. “Katanya daun mudah plus blasteran brodieeee.”
“Bukannya rata-rata cewe sini emang blasteran semua?”
Temannya menggaruk tengkuknya, “tapi dia kan baru gitu maksud gua, Ed.”
“Bilang aja lo yang mau cobain dia duluan ‘kan?” tuduh Edward.
“Kali ini gak deh, buat lo aja gapapa. Kali aja nih cewe baru bisa bikin lo ‘bangun’, gua masih mau main sama Bella,” jelasnya sambil mengerling manja pada gadis yang sedari tadi menggerayanginya.
Tidak lama suara dering berbunyi diruangan, tanda pelayan sudah ada di depan pintu. Privasi sangat terjaga di Narita Club maka dari itu Narita menjadi Club ternama dan ternyaman untuk para bisnisman atau orang-orang yang berkantong tebal.
Seorang gadis masuk ke ruangan, membawa nampan berisi minuman yang mereka pesan lengkap dengan slokinya.
“Loh, katanya ada Ladies baru?” tanya Nathan saat melihat gadis yang ia kenali.
Bianca tersenyum, “Dia udah di ‘take’ duluan sama room sebelah, Tuan.” jelasnya.
“Yah, padahal gua udah penasaran banget, katanya sceantik itu sampe mami minta dia pake cadar.” keluh Nathan.
“Sebenernya gak cantik banget sih, cuma karena barang baru aja makanya Mami gitu.” jelas gadis dengan pakaian hitam putih, terselip nada iri dan kesal daat ia berucap.
“Apa tuan ingin saya temani atau saya kembali ke bar saja?” tanya Bianca.
Nathan diam, artinya tidak mau.
“Kembalilah, kalau kami butuh pasti kami panggil.” Jawab Edward
Bella yang sejak tadi di pangkuan Nathan turun dan menuangkan Red Label favorit Sang Tuan yang sedang ia temani, Bella bergerak dengan s*****l dan menggoda. Nathan berdiri, merengkuh pinggang gadis yang merayunya.
Ia mengambil sekotak s**u yang sempat ia pesan, lalu menuangkan dari ketinggian ke bibir Bella. Wajah gadis di depannya penuh dengan s**u yang mengalir ke belahannya yang menyembul nan menggoda.
“Oh, s**t. You so f*****g hot, Baby!” Nathan menenggelamkan kepalanya diantara dua gundukan yang menampung tumpahan s**u.
“Jangan di sini anj, pergi lo!” usir Edward sambil menendang b****g Nathan di hadapannya.
“C’mon brodie, she so hot, didnt you feel something between your legs?”
Edward hanya mencebik kesal mendengarnya, untungnya Nathan mengerti dan membawa pergi Bella dari ruangan tersebut.
Edward kembali mengambil rokoknya, menyesap lalu menghembuskannya lalu menyandarkan kepalanya lagi.
***
“Oh, jadi ini barang barunya Mami. Rejeki nomplok banget nih.” Lelaki berperut buncit itu tersenyum lebar.
Entah kenapa perasaan Keysha benar-benar sangat tidak nyaman, ia beberapa kali menggeleng berusaha mengenyahkan perasaannya.
“Sam, perasaanku gak enak. Tiba-tiba aja perutku gak nyaman.” keluh Keysha sambil berbisik pada Samantha.
Belum sempat Sam menjawab, Keysha sudah ditarik oleh pria tambun tadi ke sofanya. Keysha sedikit berontak ia tidak nyaman bersentuhan dengan lawan jenisnya, apalagi sejak tadi pria itu menatap ke arah paha dan dadanya
“Cantik gini kenapa dipakein cadar sih sama Mami, bikin gemas.” Ucapnya sambil mencubit dagu Keysha yang langsung dihadiahi tepisan.
“Duh yang garang gini, nih, yang bikin geregetan, Bos.” timpal lelaki kurus berkulit legam yang sejak tadi hanya menyaksikan.
Keysha berdiri, hanya untuk ditarik lagi dan didudukan diatas pangkuan lelaki. Keysha hendak marah tapi entah kenapa sejak dulu saat marah keysha hanya bisa diam dan memberi tatapan berang.
“Kamu keluar, saya cuma butuh dia untuk menemani kami di sini.” titah pria itu.
“Tapi Tuan, Keysha masih baru dan baru hari ini dia bekerja. Saya di sini menemani juga membimbingnya agar tidak ada kesalahan.” jelas Sam sopan.
Pria kurus tadi berdiri, menyeret Sam keluar dari ruangan dan mengunci pintunya. Keysha berdiri, ia takut dan hendak mengejar Sam. Sayangnya ia di hadang pria kurus dan di dorong ke arah bosnya.
“Tuan...” Keysha mencicit.
“Benu, sebut nama saya.” titahnya.
“Tuan Benu, tolong saya mau keluar.”
Benu dan Roy –anak buahnya hanya tertawa, “Apa? Keluar? Temani kami minum dulu baru kamu boleh keluar.”
Keysha menggeleng kuat, seumur hidup ia tidak pernah meminum alkohol, ia takut sesuatu yang buruk terjadi padanya jadi ia menubruk lelaki Roy agar menyingkir.
“Mau main kasar rupanya dia, Bos.”
Gelak tawa dari keduanya membuat Keysha semakin bergidik ngeri, lagi-lagi tangannya di tarik kasar lalu dihempaskan ke sofa. Keysha mencoba berdiri lagi dan ditarik lalu dihempaskan.
Kesal, Roy menarik cadar yang sejak tadi membuatnya penasaran, pria itumenjambak rambut Keysha yang dikuncir tinggi sampai gadis itu menjerit dan meronta.
“Udah sih, diem nurut gitu loh. Jalang baru aja belagu.” ucap Roy.
Keysha menatapnya berang, sepersekian detik kemudian Keysha s**********n Roy. Pria itu terbungkuk memegangi ‘barang’ pribadinya.
Geram.
Roy menjambak Keysha, mengunci kedua tangan gadis itu dengan satu tangannya, lalu menamparnya beberapa kali, pakaiannya ditarik hingga robek. Keysha hanya bisa menjerit dan memperkuat rontaannya.
Benu yang melihat pemandangan s*****l tersebut maju dan membuka kancing celananya, minuman di tangan Benu diambil paksa oleh Roy. Dua pipi Keysha dijepit dengan tangannya yang kasar hingga bibir Keysha ikut mengerucut.
Roy segera mengarahkan minuman di tangannya ke bibir Keysha yang terus menggeleng-gelengkan kepalanya tapi apa daya mereka sangat kuat. Dua botol minuman habis dicekokkan pada Keysha.
*
Samantha sangat khawatir pada Keysha yang terkunci dengan dua pria yang ia perkirakan baru saja menjadi member VIP di Narita Club. Biasanya para member baru memang sangat arogan dan banyak mau.
Sam mondar-mandir di depan ruangan, perasaannya sangat kalut dan khawatir akan keselamatan gadis yang baru saja bekerja di sini.
“Hey, Sam, ngapain kamu di situ? Nungguin saya?”
Sam menoleh mendengar suara laki-laki yang tak asing di telinganya.
“Tuan Nathan, teman saya, engh- anu..” sam bingung bagaimana harus menjelaskan.
Terlebih saat ladies sudah masur ruangan, mereka ahrus menuruti dan memberikan pelayanan terbaik agar tidak mengecewakan, para Ladies VIP juga mendapat tips yang tidak sedikit tapi tidak sedikit juga para tamu yang arogan dan seenaknya sendiri.
“Sam bukannya lu sama si anak baru itu? Siapa siih namanya, gue lupa.” sahut Bella.
“Keysha, namanya Keysha. Dia di dalem sendirian.”
“Yaudah sih, toh katanya dia pernah kerja di cafe.” ketus Bella merasa sikap Sam keterlaluan pada Keysha. “Ayo Tuan kita lanjutkan yang tertunda.”
Nathan dan Bella berlalu begitu saja, Sam masih saja gusar. Ruangan di hadapannya kedap suara, berkali-kali Sam mencoba menguping tapi hasilnya tetap nihil. Sam merasa Key tidak baik-baik saja sekarang.
“Sam tolong antar minuman lagi ke ruang VIP 4 ya.” kata salah satu bartender yang melewatinya.
Sam gusar, tapi ia tetap melakukan pekerjaannya. Sam bergegas pergi menuju ke meja bar, mengambil nampan yang telah disediakan beserta kartu ruangan tersebut. Mengantarnya ke ruangan yang hanya tersisa 2 orang pria dan 1 orang wanita yang bergelayut manja.
“Taruh aja, Sam. Nathan sama Ed udah pergi, siapa yang mau abisin coba. Dion udah tepar gini.” Keluh salah satu pria di sana.
“Tadi Tuan Nathan sedang bersama Bella, Tuan.” jawab Sam.
“Oh, masih gak pasti balik atau enggaknya tuh bocah. Biarin aja, nih buat kamu.” Adnan menyelipkan lembaran uang biru ditangan Sam.
Sam mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya pamit undur diri. Kembali ke bar, Sam menunggu tamu-tamu VIP yang datang lagi.
“Mana anak baru yang ngintilin lu, Sam?” tanya seorang bartender yang sedang meracik minumannya.
“ Udah dapet room dia, kayaknya sih member VIP baru. Arogan banget, gua diseret keluar paksa tadi.” keluh Sam
Diego terkekeh, “Ya, gausah manyun juga kali ah.” Imbuhnya sambil mengusapkan lemon yang baru saja ia peras.
“Diego, ih, asem banget tau.” Badan Sam bergetar merasakan asam di mulutnya.
Gelak tawa terdengar dari beberapa bartender juga Ladies yang sedang berjaga menunggu panggilan atau sekadar mengantar minuman.