5. Kekacauan

1175 Words
Keysha merasa perutnya sangat penuh karena dua botol minuman yang masuk paksa ke tubuhnya. Keduatangannya masih dipegangi Roy, Benu sejak tadi memperhatikan mulai mendekat.tangannya mengelus rambut Keysha, turun ke wajah lalu ke leher dan berhenti di atas d**a Keysha. “Mulus banget gak tuh, Bos.” seru Roy sambil tertawa. Keysha mulai menangis, “Tolong jangan apa-apakan saya, Tuan.” Ia berusaha meronta tapi jelas kalah tenaga dengan Roy. “Udah mulus, lembut masih muda juga. Kayaknya masih segel, nih, Roy.” Benu menjawab girang. Tangannya masih setia bergerilya di tubuh bagian atas Keysha, ia semakin semangat kala rontaan dan isak tangis Keysha semakin menjadi. “Lepasin aja, Roy. Bentar lagi juga teler nih bocah.” ucap Benu, yang diangguki oleh Roy. Keysha berdiri sempoyongan, kepalanya rasanya sangat berputar. Gadis itu berusaha mencapai pintu walau penampilannya sudah sangat mengerikan. Rambutnya berantakan karena dijambak, pipinya lebam, di dadanya juga ada beberapa bekas luka kuku. Saat hendak mencapai pintu, tangan Keysha lagi-lagi ditarik hingga Keysha jatuh karena tubuhnya tidak stabil. Keysha memegangi ujung meja untuk tumpuannya berdiri. Mengambil sebuah botol kosong lalu berputar, ia berusaha mencapai pintu lagi wlau sempoyongan. Mengabaikan teriakan samar di telinganya. * Bosan. Edward berjalan keluar dari ruangan VIP-nya tidak untuk pulang, hanya berjalan-jalan. Beberapa pasang mata mencuri-curi pandang ke arahnya, sesekali ada gadis yang mencoba mendekati namun diabaikan. Edward terhuyung mundur beberapa langkah saat menerima sebuah tubrukan tak disengaja, tangannya spontan memeluk tubuh kecil yang menabraknya. “Hei, jalang! Balik sini lo, sialan!” Ed menoleh ke asal suara. “Tuan tolong saya, saya disiksa dan hampir diapa-apakan.” Ed menautkan alisnya heran. Bukannya dia Ladies di sini? Atau dia Ladies baru itu? Batin Ed. Gadis dalam dekapannya mendongak menatap Edward dengan mata abunya yang sayu, Edward tertegun sesaat. Lamunannya buyar saat Keysha mulai cegukan. Ed tahu gadis di hadapannya mabuk dan di paksa. Ed bisa melihat bekas kemerahan juga bekas kuku di kedua pipi gadis berantakan ini. Sebagian pengunjung menghentikan kegiatan mereka, memilih menonton drama yang sedang terjadi. “Tuan. Tuan. Key takut. Jahat. Minum Key dia dipaksa.” ceracau Keysha tidak jelas. Edward menangkap pergelangan tangan kurus dan legam yang sejengkal lagi menyentuh Keysha. Roy menatap Ed berang. “Balikin tuh jalang ke gua. Dia udah bocorin kepala Bos gua!” tukas Roy murka. “Bukannya kalian yang nyiksa dia?” Ed menjawab santai. Pria itu melepaskan dekapannya, memberikan jas hitam yang ia tenteng di lengannya sejak tadi untuk menutupi tubuh Keysha yang terbuka di bagian atasnya bekas robekan tangan-tangan jahat Roy dan Bosnya. Key menerimanya, sesekali tubuhnya akan terhuyung karena tidak seimbang. Ed memenganginya. “Bawa Bos lo ke rumah sakit, gua ganti pengobatannya.” Titah Edward mutlak. Roy semakin berang, “Balikin tuh cewe biar gua kasih pelajaran, gak usah lo sok pahlawan di sini!” ucapnya. Edward tidak bergeming, menatap pria yang berjarak 2 meter darinya dengan sorot merendahkan. Roy semakin emosi. Tangannya mengepal kuat. “b******k!” Roy berlari dan berusahan meninju lawannya. “Ed merengkuh pinggang Keysha dan membawanya bergeser selangkah. Sehingga kepalan tangan Roy hanya meninju angin. Beberapa pria bertubuh besar dengan pakaian hitam datang melerai, juga wanita bergaun merah panjang dengan belahan d**a terbuka -Mami Lidya. “What’s wrong here?” tanya wanita bergincu merah itu. “Tuh, jalang Mami berani ngebocorin kepala Bos Benu.” Roy berucap penuh amarah. “ Dan laki-laki itu gak mau serahin tuh cewek.” Mami Lidya menoleh, menatap Keysha yang berbalut jas pelanggan setianya. Lidya juga melihat rengkuhan posesif di pinggang anak barunya. Lidya menarik Keysha pelan dari pria tersebut, beberapa detik Lidya merasa bahwa tubuh Keysha ditahan lalu dilepaskan walau terlihat gurat tidak rela di wajah pelanggannya. “Baik, mari ikuti saya. Kita selesaikan ini di ruangan saya.” titah Lidya. * Lidya duduk di kursi putarnya dengan santai dan nyaman, mempersilahkan kedua pelanggannya yang bermasalah untuk duduk bersama. “Silakan, Tuan-tuan duduk dulu, mau minum apa?” tawar Lidya. “Lalu, letakkan Keysha di sofa sebelah sana.” Ruangan Lidya sangat besar terdapat satu meja kerja dengan beberapa layar untuk memantau CCTV. Terdapat 3 sofa dan 3 meja di dalam ruangan ber-AC tersebut, ada kulkas mini juga televise, minibar juga toiletnya. Roy berang, “Gak usah banyak basa-basi, Mam. Cukup serahin jalang baru Mami buat gua kasih pelajaran.” “Bagaimana Tuan Edward, apa yang mau Anda jelaskan?” “Saya tidak memiliki masalah apapun dengan pria ini, mungkin ada masalah saja dengan otaknya.” “Bangs*t, apa maksud lo hah? Cari mati lo?” Lidya menggebrak mejanya, ia bercap tegas, “Tenang Tuan, di sini aturan dan wewenang saya yang berlaku. Jelaskan apa masalah Anda?” “Jalang ini, udah ngebocorin kepala Bos gua. Dia juga gak mau ngelayanin gua juga Bos gua. Jadi, mending serahin dia biar gua kasih pelajaran, biar tau diri. Lacur murahan aja banyak gaya!” Roy meludah asal. Pria yang sejak tadi berdiri di sisi Lidya berkata,“Izin interupsi, Mami.” “Silakan, Bims” “Saat Keysha keluar dari ruangan, saya melihat bahwa ada beberapa bekas kemerahan, le-” Roy meradang, ia menendang meja di hadapannya. “Ngomong apa lo hah, gak usah ngada-ada!” tanyanya penuh amarah. “Tolong tenang Tuan, biar saya cari tahu letak salahnya.” Ucapnya tenang, ia mengesampingkan rambut ke belakang telinga. “Lanjutkan, Bims” “Baik, Mam, selain bekas kemerahan ada beberapa lebam dan juga bagian atas pakaiannya robek. Rambutnya berantakan juga cadar yang Mami berikan sudah tidak terpasang. Diduga juga, Keysha dipaksa meminum alcohol beberapa botol. Cukup itu saja yang saya ketahui.” “Baik, jadi apa yang sudah Tuan perbuat pada anak saya?” Roy hanya menatap berang, kepalan tangannya diperkuat. Ia maju hendak menuju meja Sang Pemilik Club, tapi baru selangkah pergerakannya di kunci oleh dua orang petugas keamanan di sana. “Baik, Tuan. Anda tidak menjelaskan berarti apa yang disampaikan anak buah saya adalah benar. Sesuai peraturan Club ini, member VIP bebas memilih pelayan dan pelayan wajib mematuhi Tuannya.” jelas Lidya, Roy tersenyum mengejek ke arah Ed. “Tapi, Anda menyakiti dan melukai anak saya. Itu adalah kesalahan. Peraturan Club ini, Tamu dilarang untuk menyakliti para Ladies di sini.” Senyum Roy menyusut, “Untuk kecelakaan yang dialami Tuan Benu, silakan Anda kirimkan tagihannya ke saya. Dan hak Tuan Benu sebagai member di sini akan dicabut tanpa pengembalian dana karena telah menyakiti, memaksa dan melukai anak saya.” jelas Lidya tegas. “Mana bisa gitu, jangan karena lo pemilik lo bisa seenaknya ya anjing!” maki Roy pada Lidya. Wanita di depannya hanya tersenyum, satu tangannya terangkat dan dikibaskan. Dua anggota keamanan mengerti maksud dari Lidya langsung menggiring Roy keluar dari ruangan juga dari club tersebut. “Jika Tuan Edward ingin melanjutkan bersenang-senang, silakan.” Ucap Lidya ramah, sambil menunjuk ke arah pintu. Edward menoleh pada Keysha, gadis itu tidur dengan jasnya sebagai selimut. Terlihat sangat menderita dengan wajah yang lebam. “Untuk saat ini Keysha tidak bisa menemani Tuan bersenang-senang. Silakan,” imbuh Lidya tegas. Edward berdiri, lalu berbalik menuju pintu. Sebelum meninggalkan ruangan, ia kembali menatap Keysha yang tertidur di sofa dekat Lidya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD