6. Hukuman

1360 Words
Gelagapan. Keysha terbatuk-batuk saat air masuk ke tenggorokannya melalui hidung, ia terbagun dengan keadaan kuyup, berusaha menghirup oksigen sebanyak yang ia mampu. Perutnya terasa sangat tidak nyaman, kepalanya juga luar biasa sakit. Keysha berusaha mengingat apa yang terjadi dan dimana tempat ini. “Well, well, well. Gadis paling suci sudah bangun.” Keysha menoleh menatap wanita pemilik club dengan dua bodyguardnya. Keysha memindai ruangan sempit dan pengap yang mengurungnya, juga sebuah kain lusuh yang menjadi alas tidurnya. Lidya yang sejak tadi berdiri di ambang pintu menghampiri Keysha yang terduduk linglung. Lidya berjongkok tepat di depan Keysha dan melayangkan tiga tamparan pada pipi kiri ‘anak’ barunya. Keysha mendesis, sudut bibirnya robek, “Sakit, Mami.” Lidya tidak menghiraukan ucapan atau pun luka yang hadir karena tamparannya, wanita dengan gaun abu itu mencengkeram kedua pipi Keysha yang masih lebam, “kamu baru saja bekerja satu hari, tapi kamu sudah membuat saya rugi, menyakiti pelanggan bahkan mengadu pelanggan VVIP saya dengan pelanggan lain.” Kedua tangan Keysha mengepal menahan sakit. “Kamu kira pekerjaan apa yang kamu lakukan di sini kalau bukan menjual tubuh kamu?” Pertanyaan Lidya membuat mata Keysha membola, Keysha menggeleng pelan. Lidya melepaskan cengkeramannya. “Kata Mama, aku di sini jadi pelayan, Mami.” “Ini klub malam, bahkan klub terbesar di kota ini dan kamu begitu naif berfikir akan menjadi pelayan di sini? Tasya menjual kamu pada saya! Artinya hidup-mati kamu milik saya, apapun yang saya perintahkan wajib kamu lakukan!” “Ta- tapi saya gak mau jual diri! Saya mau pulang.” “Pulang? Bermimpilah!” ucap Tasya tenang, ia tersenyum lebar dan berkata, “Kecuali kamu bisa kembalikan uang saya yang dibawa ibumu yang berengsek itu!” Keysha terdiam, jangankan untuk mengembalikan uang Lidya. Saat ini pun Keysha bahkan tidak punya uang walau pun hanya 100 perak. Senyum Lidya semakin lebar, ia tahu bahwa gadis ini sangat polos dan suci andai dia tidak berbuat onar Lidya akan dengan senang hati mengajarkannya cara menjadi jalang yang baik. “Kamu mau tahu berapa saya membelimu dari wanita yang kau sebut Mama itu?” Tasya melebarkan semua jarinya di depan wajah Keysha. “Lima … milyar.” Keysha kian sesenggukan, kepalanya yang sakit karena efek minuman berakohol sangat susah untuk diajak berkompromi. Keysha bahkan tidak sanggup berfikir ada berapa angka nol dalam nominal yang diucapkan sang Mami. Keysha menjambak rambutnya sendiri berusaha meredakan sakit kepalanya. “Well, karena kamu sudah buat saya rugi. Kamu akan menginap di sini tiga hari, tiga malam.” Lidya berdiri, berjalan dengan anggun meninggalkan Keysha yang masih linglung dan memegangi kepalanya. Ia mengunci pintu besi yang lebih mirip dengan pintu tahanan di ‘Hotel Prodeo’. Wanita itu berjalan menuju pintu utama ruang penjara dan meninggalkan sel Keysha yang masih bingung, sebelum Lidya benar-benar pergi ia berkata pada asistennya, “gadis itu begitu suci bukan?” Pria di sisinya mengangguk mengiyakan pertanyaan sang atasan. Lidya tertawa. “Kalau begitu, lucuti semua pakaiannya. Biarkan semua penjaga penjara ini melihat tubuh indahnya. Agar dia tidak lagi memiliki rasa malu untuk menghibur para pelangganku!” “Tidak! Tolong Mami! Jangan seperti ini, ampuun!” Keysha berteriak mendengar hukuman yang akan dia jalani. Keysha bahkan malu untuk berganti baju di depan sesama wanita walau pun itu ibunya sendiri, bagaimana bisa ia akan dihukum tanpa sehelai benangpun. Keysha menggila, ia berusaha berdiri dengan kakinya yang masih gemetar. Tubuhnya sempoyongan, tapi baru saja berdiri keysha dipaksa kembali berlutut entah sejak kapan di sisinya sudah ada penjaga yang mencengkeram bahunya. Penjara untuk para Ladies ini adalah penjara yang mengerikan, mereka akan dikurung di ruangan yang gelap dan lembab, dengan jeruji besi sebagai penghalang dan akses jalan keluar. Tidak ada satu pun lampu yang menyala, tapi sesekali akan ada lampu sorot yang begitu terang yang diarahkan pada tahanan selama beberapa jam. Hukuman untuk Keysha masih tergolong mudah, jika yang berbuat salah adalah Ladies senior hukumannya akan lebih berat. Bahkan bunuh diri adalah hal terbaik yang bisa mereka lakukan jika itu bisa dilakukan. Lidya beranjak pergi, tepat sebelum pintu ditutup Keysha berteriak, “Jangan! Tidak, jangan kurung aku di sini. Jangan tinggalkan aku, aku takut gelap, Mami. "Lakukan," titah Lidya, dua orang wanita tua berbadan sedikit besar dengan pakaian hitam masuk membawa gunting juga cutter. Keysha meronta dan menjerit memanggil sang Mami sambil meminta pengampunan saat jas hitam yang menutupi seragamnya yang robek mulai ditarik. Keysha memberontak, ia berlari menuju pintu jeruji menggenggam besi dingin yang mengurungnya, dan berusaha menggoncangkannya sekuat tenaga sambil terus berteriak dan menjerit ketakutan. Keysha semakin histeris saat dua orang itu semakin mendekat, Keysha bersujud di depan dia wanita penjaga, "Tolong, jangan. Jangan lucuti pakaian saya." Keysha semakin meringkuk, tapi apa daya hukuman tetap ia dapatkan. *** Edward melepas kancing kemeja putih yang ia kenakan, sesaat tangannya berhenti ketika melihat noda samar berwarna pink kemerahan di baju bagian dadanya. “Namanya Keysha.” Edward bergumam pelan sambil menyentuh noda itu, matanya terpejam. Bayang wajah Keysha melintas dalam pikirannya. "Tapi kenapa tadi gua mau bantuin dia, ya? Jas gua, duh." Edward mengeluh. Jas yang dikenakan tadi adalah jas kesayangannya, memiliki begitu banyak kenangan indah juga kenangan pahit tapi ia tidak pernah bisa membuang atau menyimpannya sebagai kenangan. Saat suasana hatinya memburuk, atau ada acara penting Edward akan memakai jas hitam favoritnya. Membuatnya tenang dan selalu beruntung. Edward mengambil es batu dari kulkasnya, beranjak menuju ke lemari khusus minumannya. Kali ini Edward memilih Captain Morgan untuk mendampingi kemelut pikirannya. Edward kembali duduk di sofa, menyalakan musik favoritnya sambil membayangkan Ladies baru yang terlihat polos tapi menggoda itu. Mata Keysha indah serupa dengan seseorang yang tidak akan ia sebut namanya, tapi netra kelabu itu terlihat berbeda, gelap dan sunyi. Gadis yang baru saja ia temui, membuat Edward kembali merasakan perasaan yang telah lama tidak pernah lagi ia rasakan. Hangat hembusan nafasnya masih terasa. Bahkan empuknya dua benda yang menempel di tubuhnya. Edward menggeleng, apa-apaan pikirannya ini? Edward menatap tangan kanannya yang secara tidak sengaja memegang salah satu gumpalan lemak kembar milik Keysha, ia juga memindai tangan kirinya yang tadi bergesekan dengan kulit bahu jalang kecil yang berusaha melindungi dirinya. Melindungi dirinya? "Dia masih suci? Gak mungkin." Edward memainkan slokinya. "Pasti cuma efek mabuk kebanyakan minum dengan para pecundang itu atau karena takut disiksa sama manusia-manusia dajjal tadi." Edward berusaha berfikir logis. Tapi kenapa tadi dia minta tolong? Pikiran Edward terus saja berpusat pada gadis yang baru saja ia selamatkan dari pelanggan yang suka bermain kasar. *** Sudah empat hari berturut-turut Edward mendatangi Narita Club, padahal biasanya ia hanya akan datang jika diundang para sahabatnya untuk menghilangkan stress dan suntuk, atau untuk merayakan sesuatu, seperti berakhirnya hubungan sahabatnya dengan kekasihnya. Tapi kali ini Edward selalu datang sendiri, hal yang sangat jarang sekali ia lakukan, Edward memesan beberapa menu sambil menanyakan tentang Keysha, jawaban yang mereka berikan hanya 'Keysha sedang dinon-aktifkan karena sakit.’ Sangat mustahil. Hari ini adalah hari kelima Edward berkunjung sendirian ke Narita, seperti biasa Edward hanya membeli beberapa makanan ringan dan minuman. “Permisi Tuan.” Sam membungkuk sopan sebelum menyajikan pesanan yang ia bawa bersama salah satu pelayan pria. “Kamu.., emm..,” “Saya Samantha, Tuan, apa Tuan mau saya temani? Atau mau saya panggilkan Ladies lain yang sedang free?” Edward terdiam, jika ia langsung bertanya tentang Keysha pasti tidak akan ada yang menjawab. “Panggilkan Ladies baru untuk saya, saya bosan melihat wajah kalian.” Sam sesaat terkejut, lalu ekspresinya berubah sedih. Semua itu tidak luput dari pengamatan Edward. Apalagi setelah Sam merubah lagi mimik wajahnya menjadi biasa saja. “Kamu tidak dengar?!” bentak Edward, suara kakinya beradu dengan lantai marmer diruangan. Mata Edward memicing tajam menatap Sam. Sam menatap Edward dan teman pelayannya yang masih setia menunggunya. “Maaf Tuan, Keysha Ladies baru kami sedang diistirahatkan, jika boleh biar saya saja yang menemani tuan,” jelas Sam sambil memberikan kontak mata. Edward tampaknya paham, pria yang memakai setelan jas navy itu berdiam dan tampak berfikir sebentar. “Hm.” Edward menimang-nimang, siapa tahu ada informasi dari gadis ini tentang Keysha. “Baiklah, jika tidak ada Ladies lain, apa boleh buat, kamu juga bolehlah,” ucap Edward sambil mengelus dagunya. Sang pelayan menggangguk lalu membungkuk sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Edward berdua dengan Samantha. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD