Sam tahu, salah satu pelanggan VIP kesayangan sang Mami mencari Keysha, tapi karena perintah Lidya, semua orang diharuskan menjawab Keysha sedang sakit.
Sam berusaha mencapai Edward sejak hari kedua, tapi selalu saja para Ladies lain mendahului. Ya, bagaimana lagi, semakin banyak pelanggan yang mereka layani. Semakin banyak juga 'tips' yang mereka dapatkan.
Siapa yang tidak tergiur dengan banyaknya jumlah nol yang bisa mereka hasilkan?
Semua kebutuhan mereka saat berada dalam mess Narita Club semua ditanggung oleh Mami Lidya.
Mulai dari tes kesehatan rutin setiap bulan, skincare & facecare sesuai kebutuhan, alat mandi, alat makeup, bahkan keperluan datang bulan disesuaikan dengan preferensi mereka. Semua disediakan Mami Lidya.
Seperti Sam dan beberapa ladies yang masih menggunakan pembalut, Lidya juga menyediakan Menstrual Cup untuk ladies lain yang menggunakannya.
Bahan makanan lengkap, untuk memasak biasanya ada koki yang memasakkan untuk mereka setiap harinya. Jika mereka tidak suka dengan apa yang dimasak si koki, mereka bebas memasak sendiri di dapur.
Tapi sebagai gantinya, mereka sama sekali tidak punya kebebasan. Tidak punya harga diri juga tidak bisa melawan perintah juga menolak pekerjaan.
Semua ladies yang datang dan dibeli Mami Lidya hanya akan menjadi p*****r, jika mereka sudah tidak mampu melayani pelanggan, dianggap sudah tidak menarik, atau mengalami cacat karena hukuman atau berusaha kabur dengan melukai diri sendiri. Mami Lidya akan menjual mereka ke pasar gelap.
Melawan Mami Lidya akan menjadi neraka dunia untukmu. Tidak ada ampun atau rasa kasihan.
Di mana perdagangan manusia masih legal di sana. Rumah b****l yang memanjakan para pemilik fetish tidak lazim pun bisa di dapatkan dengan mudah di pasar gelap.
Para ladies tidak tahu mereka ada di kota mana, di daerah mana, bahkan sejauh mata memandang yang terlihat hanya pepohonan, seolah tempat ini ada di tengah hutan saja.
Kebanyakan mereka yang menjadi ladies di Narita adalah gadis dan wanita putus asa, entah karena keluarga, ekonomi, cinta bahkan dijual oleh orang terdekatnya.
***
“Duduk.” perintah Edward sambil mengoyangkan sloki di tangannya. “Jadi, informasi apa yang akan kamu berikan pada saya tentang Ladies baru itu?"
To the point sekali.
Sepertinya Tuan muda ini sangat tertarik dengan teman sekamarnya.
“Kenapa Tuan mencarinya?”
Edward mengernyit.
Benar juga, kenapa ia jadi kesetanan dan kelabakan untuk mencari gadis kecil itu?
Ah, jasnya. Pasti karena itu.
“Jas favorit saya ada padanya,” jawab Edward angkuh.
Sam menatap Edward, ia tahu tamu ini tidak biasa menggunakan jasa para ladies untuk memuaskannya. Sangat susah untuk di goda.
Jadi Sam hanya duduk sambil menopangkan sikunya pada sofa, membentuk sudut 90° agar tangannya bisa menopang pipinya.
Edward sangat tampan.
“Mungkin jas Tuan sudah tidak selamat, setelah kekacauan kemarin Keysha dihukum, sepertinya saat dibawa ke ruang hukuman, jas itu masih digunakan Keysha.” Sam menjelaskan.
Mata Edward membola.
“Saya tidak mau tau, panggil Lidya atau Keysha, siapapun yang bertanggung jawab untuk menunjukkan jas itu pada saya!”
Sam terkejut sampai menegakkan tubuhnya, tidak biasanya sang Tuan muda ini hilang kendali bahkan membentak ladies. Kakinya gemetar melihat mata sang Tuan memerah.
“Ba- baik, saya akan memanggil Mami Lidya. Harap sabar menunggu.”
Edward terduduk selepas kepergian Samantha, perasaannya ... campur aduk.
Tapi tidak ada perasaan sedih atau marah walau itu adalah jas kesayangannya. Edward hanya menggertak agar bisa bertemu dengan gadis kecil yang mengoyahkan imronnya* berapa hari ini.
Edward tidak pernah suka menunggu.
Duduknya sejak tadi gelisah, siapa yang akan menemuinya?
Lidya?
Atau mungkin ... Keysha?
Jari telunjuknya sejak tadi tidak berhenti diketuk-ketukkan ke pahanya. Kebiasaan Edward jika gelisah.
Edward mendesah kecewa, yang datang Samantha dengan Lidya juga beberapa bodyguardnya.
“Hello, Honey. Ada yang bisa saya bantu untuk memuaskan Tuan?” ucap Lidya menggoda, dress body fit lylac tanpa tali itu benar-benar membuat tubuh Lidya terlihat indah.
Dadanya terlihat membusung seolah menantang untuk disentuh. Perutnya rata, dengan pinggul yang besar.
“Saya mencari gadis baru itu.”
Lidya tersenyum, “Keysha sedang sakit, dia tidak bisa melayani dan menemani Tuan,” jelasnya.
“Kapan gadis itu mulai kembali bekerja?”
“Belum bisa dipastikan.”
Lidya sejak tadi merespon semua pertanyaan dengan tenang dan elegan sesekali pemilik Narita itu akan menggerakkan jari lentiknya untuk menggoda pria di depannya, berbanding terbalik dengan Edward yang gelisah.
“Sesuatu milik saya ada padanya, dan saya ingin mengambilnya. Benda itu adalah hal penting untuk saya.”
“Apa itu? Jika memungkinkan akan saya minta anak buah saya mengambilnya.”
“Jas saya.”
“Cari.” Lidya menjetikkan jarinya 3 kali, dua dari lima pria di belakangnya menunduk lalu pergi.
***
Sam tidak kembali ke ruangan Edward, ia tahu bahwa tuan muda ini tidak pernah bermain dengan ladies manapun.
Hanya satu ladies yang pernah menyentuh Edward ke bagian paling sensitif, bahkan pernah membawa Edward ke ranjang, walaupun mereka tidak sampai “hohohihe”.
“Udah dibuang lu sama Tuan Ed?” Bianca membuyarkan lamunan Sam.
“Enggak sih, Tuan nyari Mami tadi.” Sam menjawab seadanya. Malas berurusan dengan Bianca, ladies VIP kesayangan sang Mami.
Bianca mengerutkan keningnya.
Tuan Edward tumben sekali mencari Mami, apa selaranya sudah setinggi itu? Padahal Bianca tidak kalah seksinya. Kalau saingannya Mami, mana mungkin aku bisa maju.
Fokus gadis berseragam hitam mini itu malah salah.
“Mikir apa lu?”
“Ah, eh, kabar temen sekamar lu gimana?” Bianca tergagap.
Sam menghela nafas, sejujurnya dia kasihan pada nasib teman sekamarnya.
Tragis sekaleeee.
“Ya, mungkin 3 hari ke depan dia mulai kerja.” Sam mengangkat kedua bahunya, Bianca cemberut.
Sejak insiden hari pertama Keysha bekerja, banyak tamu yang penasaran dengan gadis itu.
Bosan.
Bianca sangat bosan ketika para tamunya hanya menanyakan keberadaan Keysha.
Benar-benar rival sejati.
“Padahal gua juga cantik, seksi, bohay, kenapa banyak yang nanyain Keysha sih?” Bianca menggerutu. “Padahal tuh cewe juga jual mahal banget.”
“Bosen kali liat muke lu." Bianca menoleh ke arah sumber suara.
Diego.
Cowo ganteng yang pernah dia incar tapi hatinya sedingin es dengan lidah setajam silet.
“Jahat banget, padahal daripada Sam, masih imutan gua.” Bianca bersidekap.
Diego menaikkan alis kanannya memasang wajah seolah bertanya ‘hah masa sih?’ yang membuat Bianca makin kesal.
Sam terkekeh, Diego diam saja ketika Bianca memukuli lengan kirinya.