MAMA!?
Seorang wanita dengan celana jeans dan kaos polos berwarna hitam tengah berdiri di depan sebuah pintu apartemen bernomor 56. Emmelyn Torro. Gadis berumur 23 tahun yang baru pindah apartemen.
Rambut golden blondenya terurai menutupi punggungnya, sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih. Matanya berwarna honey brown, cantik, ditambah bulu matanya yang lentik.
Gadis itu langsung menyeret kopernya masuk setelah membuka pintu apartemen. Senyum lebar mengembang di wajahnya sembari ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Sejujurnya, ia belum pernah datang ke sini untuk sekadar melihat-lihat apartemen . Ia hanya menghubungi pemilik apartemen lewat telpon dan langsung deal dengan apart 56 sebagai satu-satunya unit yang kosong.
Emmelyn harus segera pindah karena lusa sudah harus mulai mengajar di sebuah preschool yang lokasinya tidak jauh dari apartemen ini, bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Itu mengapa Emmelyn tanpa banyak pertimbangan langsung mengambil apartemen ini. Apalagi apartemen tersebut sudah lengkap dengan isinya, membuat Emmelyn tidak perlu repot membeli furnitur.
"Ayo mulai lembaran baru, Em!" seru gadis itu.
Ia lalu mulai mencepol rambut panjangnya ke atas dan mengeluarkan seluruh barang dari dalam kopernya.
Koper Emmelyn berukuran sangat besar, membuatnya tidak perlu membawa tas tambahan selain tas selempang mungil berisi ponsel dan dompet.
Beberapa menit berkeliling, Emmelyn akhirnya menghidupkan musik pop dari ponselnya. Koper besar berwarna pink mulai ia bedah. Satu persatu barang di koper mulai keluar berpindah tempat.
———
Seorang pria dengan jaket kulit hitam berdiri di atap sebuah gedung. Satu batang rokok yang tinggal separuh menjadi saksi berapa lama dia di sana. Mata birunya menatap ke jalanan yang ramai kendaraan.
"Bryan. Owner resto jepang."
Seorang pria berseragam polisi menghampiri Ronan. Ia memberikan berkas yang dibalut map cokelat padanya. Ronan menerima berkas itu dan langsung menyembunyikannya di dalam jaket.
"Gimana kabar anak-anak? Udah lama nggak ketemu."
Ronan menghela napas, "Ya gitu. Tiap hari pengen ditemenin."
"Udah dibilang cari Mama buat mereka."
Ronan berdecak,"Nggak." katanya tegas.
Dylan terkekeh tak mau membahas lebih jauh, lalu ikut mengeluarkan satu batang rokok dari saku celananya.
"So, this is the last case?"
Ronan mengangguk, "Kayaknya."
"Yakin? this is your dream, right?"
Ronan menyebulkan asap ke udara, lalu mengangguk pelan. Wajahnya menekuk, seakan apa yang akan dia ambil adalah hal berat.
———
Emmelyn sudah berada di supermarket tak jauh dari apart sekarang. Setelah beberapa jam sibuk menata dan membersihkan apartnya. Kini ia berniat belanja bahan makanan.
Ia membeli cukup banyak bahan makanan—beras, air mineral, sayuran, daging, camilan, hingga bumbu masak.
"Hahh...." Emmelyn menatap dua kantong belanjaan besar yang ia tenteng.
Hal paling Emmelyn benci adalah lupa diri. Emmelyn suka memasak. Kalau dia masuk ke supermarket, apa yang dia lihat selalu menarik perhatian. Ujung-ujungnya masuk ke trolley. Penyesalan selalu tiba saat dia baru membayar.
Jam di lobby apart menunjukkan pukul lima sore. Waktu di mana orang-orang pulang kerja. Itu kenapa di depan lift apart banyak orang antri.
Hampir lima menit sejak gadis itu ikut antri, tapi ia belum dapat giliran juga. Akhirnya Emmelyn memutuskan untuk naik tangga.
"Ah, nggak sanggup!" eluhnya sesampainya lantai tiga. Padahal apartnya berada di lantai lima.
"Butuh bantuan?"
Emmelyn spontan membalikkan badan dan mendapati seorang pria dengan jaket kulit sudah berdiri di belakangnya. Padahal sudah sejak tadi Ronan ada di belakangnya tanpa ia sadari. Langkah Emmelyn lambat, dan Ronan sedari tadi menunggu dengan sabar.
"Lantai berapa?" tanya Ronan.
"Apart 56, eh-oh lantai lima. " jawab Emmy terbelit.
Ronan mengangguk dan langsung menggotong dua kantong kresek besar milik Emmelyn sekaligus.
"Ayo." katanya.
"Satu aja, satu lagi biar saya yang bawa," kata Emmelyn.
"Jalan aja, biar saya yang bawa." balas pria itu. Nadanya rendah tapi terdengar tegas. Membuat Emmelyn akhirnya menuruti.
"Terima kasih," ucap Emmelyn saat pria itu mengantarkan belanjaannya sampai ke depan apartemen.
Pria itu mengangguk.
"Saya tinggal di apartemen 57."
"Sebelah?" tanya Emmelyn.
Ronan kembali mengangguk.
"Salam kenal, saya Emmelyn," kata Emmelyn sambil mengulurkan tangan.
"Saya Ronan." katanya membalas tangan Emmelyn.
"Kalau begitu saya pulang dulu. Kalau ada apa-apa, bisa minta bantuan saya," katanya sebelum berbalik pergi.
Emmelyn mengangguk.
Gadis itu baru hendak memasukkan belanjaannya ketika terdengar suara teriakan anak kecil.
"PAPA!"
Emmelyn melirik ke arah Ronan dan melihat seorang bocah laki-laki menyambutnya di depan pintu apartemen.
"Sudah berkeluarga ternyata," celetuk Emmelyn pelan.
Ia kembali fokus pada barang-barangnya.
"Harus jaga jarak." katanya.
Kembali ke kediaman Ronan. Pria itu melepaskan jaket kulitnya sembari menatap ke dua toddler dengan rambut hitam persis seperti milik Ronan sedang duduk di sofa menonton tayangan kartun.
"Mau makan malem apa?"
"Beef steak." sahut Jacob.
"Tapi Justin maunya tacos!"
"Nggak!" teriak Jacob, tak setuju dengan ide kembarannya.
"Justin nggak mau steak!"
Dua bocah itu saling adu suara tinggimembuat Ronan langsung memijat pelipisnya.
"Hei, hei. Stop." Ronan melerai. "Suit aja, suit kayak biasa." kata Ronan memberi solusi kecil.
Jacob dan Justin saling membelakangi. Ronan jongkok, berusaha menyejajarkan tinggi dengan anak-anaknya.
"Nggak mau. Jacob mau beef steak pokoknya!"
"Justin juga mau tacos! Nggak mau yang lain."
Ronan menghela napas. Tumben sekali dua anaknya sama sama tidak mau mengalah.
"Denger, Papa cape baru pulang. Kalo kalian nggak ada yang mau ngalah. Papa buatin nasi goreng aja kayak biasa."
"NGGAK!" Jacob dan Justin kompak menolak membuat Ronan terkejut.
"Yaudah, tacos aja yang penting nggak nasi goreng Papa." kata Jacob mengalah.
"Steak juga nggak papa." Justin menyahut.
Ronan menaikkan alisnya, penasaran kenapa keduanya langsung mau mengalah. Belum sempat Ia bertanya, kedua bocah itu lebih dulu berjalan masuk ke kamar dengan wajah ditekuk.
"Jadinya mau pesen apa?" bingung Ronan menatap pintu kamar yang ditutup.
Bahkan tayangan animasi favorit mereka ditinggalkan begitu saja. Ronan menghela napas. Pria itu lebih memilih memesan steak kemudian masuk ke kamarnya dan keluar hanya dengan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya. Pria bermata biru itu lebih memilih mandi daripada datang ke kamar anaknya.
Di apartemen sebelah, di waktu yang sama Emmelyn sendiri sedang membuat garlic chicken. Tangannya luwes mengaduk masakannya, harumnya wangi memenuhi ruangan. Sangat berbeda dengan kondisi apart Ronan yang setiap hari deliv makanan.
———
Emmelyn berjalan di trotoar dengan high heels hitam. Dia memakai kemeja strips biru dan highways pants berwarna putih. Tak lupa ada ikat pinggang hitam kecil yang melingkar di pinggangnya. Rambut blondenya ia bentuk bun.
"Bu Emmelyn?"
"Ya, saya." kata Emmelyn pada seorang wanita dengan rambut sebahu yang baru turun dari mobil.
"Aku Ruby Wenner. Guru di preschool ini juga." katanya mengajar Emmelyn bersalaman.
"Emmelyn Torro. " katanya membalas uluran tangan Ruby.
"Selamat datang di Golden Treasures."
Ruby langsung mengajak Emmelyn masuk sembari mengobrol. Di saat yang bersamaan, Jacob dan Justin keluar dari mobil audi berwarna putih. Dua bocah kembar itu memakai baju tak senada, layaknya kembar pada umumnya.
"Papa pulang malam. Nanti telpon Papa mau makan apa, biar Papa pesan kirim ke rumah."
Jacob tak mendengarkan, anak itu langsung berjalan begitu keluar dari mobil.
"Iya." balas Justin yang masih berdiri di samping mobil.
"Masih marah sama Papa?" tanya Ronan.
"Iya." kata Justin lagi lalu berlari menyusul Jacob yang sudah jauh.
Ronan menghela napas, menatap dua bocah kembar yang merupakan duplikatnya. Dari tan skin, warna rambut bahkan mata mereka yang biru benar-benar hasil dari copy dirinya.
Kembali pada Ruby yang membawa Emmelyn masuk ke area preschool. Bangunannya tidak terlalu besar, namun tertata rapi dengan warna-warna cerah. Dindingnya dipenuhi gambar hewan, huruf, dan angka. Suasana pagi terasa hangat meski suara anak-anak mulai ramai.
“Anak-anak masuk jam delapan. Sekarang biasanya mereka masih bebas bermain di kelas,” jelas Ruby.
Emmelyn mengangguk sambil memperhatikan beberapa anak yang sudah datang. Ada yang berlari kecil, ada yang duduk menyusun balok, ada pula yang masih memeluk tasnya sambil menunggu orang tuanya pergi.
“Kamu pegang kelas B ya. Usia empat sampai lima tahun,” lanjut Ruby.
Emmelyn berhenti melangkah. “Empat sampai lima?”
“Iya. Tenang aja, anak-anaknya aktif tapi lucu-lucu,” Ruby tersenyum.
Emmelyn ikut tersenyum, meski ada sedikit gugup di dadanya. Ini hari pertamanya. Hari pertama selalu terasa menegangkan, apalagi menghadapi anak-anak yang masih sulit ditebak suasana hatinya.
Mereka masuk ke dalam kelas. Karpet warna-warni terbentang di tengah ruangan. Rak mainan tersusun rapi di sudut. Meja kecil berjajar dengan kursi mungil.
Beberapa anak langsung menoleh saat Emmelyn masuk.
“Morning!” sapa Emmelyn ceria sambil melambaikan tangan.
Beberapa anak membalas dengan lambaian ragu, sebagian lagi hanya menatapnya penasaran.
Seorang anak perempuan mendekat. “Bu guru baru?”
“Iya,” Emmelyn tersenyum. “Namanya siapa?”
“Leah,” jawabnya cepat, lalu tersenyum bangga.
Emmelyn mengacungkan jempol. “Nama kamu cantik.”
Di sudut ruangan, dua bocah laki-laki duduk bersebelahan. Wajah mereka mirip, rambut hitam, mata biru. Yang satu tampak santai, menyusun balok tanpa peduli sekitar. Yang satu lagi duduk diam, memeluk tasnya erat.
Emmelyn memperhatikan mereka sejenak.
Ia melangkah mendekat.
“Hai,” sapanya pelan.
Anak yang memeluk tas menoleh. Matanya besar, sedikit cemas.
“Kamu namanya siapa?” tanya Emmelyn.
“Justin,” jawabnya lirih, kepalanya juga menunduk.
Emmelyn tersenyum. “Halo, Justin.”
Anak satunya tak menoleh, masih fokus dengan baloknya.
“Kalau kamu?” Emmelyn meliriknya.
“Jacob,” jawabnya singkat tanpa mengangkat kepala.
Emmelyn mengangguk pelan. “Kalian kembar?”
Jacob mengangguk. Justin ikut mengangguk kecil.
“Wah,” Emmelyn tersenyum lebih lebar. “Bu Emmelyn baru pertama kali punya murid kembar.”
Justin menatap Emmelyn lebih lama. Tatapannya polos, tapi penuh rasa ingin tahu. Belum banyak interaksi mereka karena Emmelyn lebih dulu dikeburungi banyak anak yang penasaran dengannya.
———
"HUAA!"
Tangisan bocah laki-laki menggelegar di tepi jalan. Emmelyn yang tengah berjalan pulang setelah mengajar, bergegas mendekat setelah mengenal siapa mereka.
"Kenapa kenapa?" tanya Emmelyn langsung memeluk Justin yang histeris.
Jacob yang sedari tadi mencoba menenangkan Justin menunjuk pada badut yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Badut itu semakin mendekat membuat Justin semakin histeris. Emmelyn cepat-cepat menggendong Justin dan menggandeng Jacob, lalu membawa mereka masuk ke toko es krim untuk menghindari badut itu.
"Cengeng." celetuk Jacob pada Justin yang duduk dipangkuan Emmelyn.
Bocah itu mengejek sembari menikmati es krim yang Emmelyn pesankan. Justin sendiri masih mencoba menenangkan diri, ingusnya masih sesekali Emmelyn hapus dengan tisu.
"Badutnya udah pergi, Justin udah aman sekarang." kata Emmelyn mengelus kepala Justin.
Lalu pandangannya beralih pada Jacob. Bocah itu benar-benar terlihat tak peduli dengan apapun. Wajahnya sangat santai.
"Jacob nggak takut sama badut?" tanya Emmelyn.
Jacob menggeleng, "Jacob nggak takut apapun." katanya.
"Hebat." kata Emmelyn tersenyum.
"Ju-justin nggak hebat kayak Jacob?" bocah itu akhirnya bersuara.
Emmelyn menatap Justin, menghapus air matanya yang sesekali masih jatuh ke pipi.
"Justin juga hebat. Takut sama badut bukan berarti Justin nggak hebat." kata Emmelyn.
".....Mama?"
Emmelyn bingung, "Justin mau Ibu telpon Mama?" tanyanya.
Dia sudah dikirimkan daftar kontak orang tua anak di kelasnya tadi. Biasanya ada anak yang merengek ingin pulang atau orang tuanya lupa menjemput, jadi Emmelyn harus siap dengan kontak orang tua jika sewaktu-waktu hal itu terjadi.
Jacob menyahut, "Bukan. Maksudnya Justin mau Ibu jadi Mama."
Emmelyn semakin tak paham dengan ucapan Jacob.
"Jacob dan Justin nggak punya Mama." jelas Jacob.
Emmelyn terkejut, terdiam beberapa detik sebelum akhirnya paham apa yang dimaksud.
"Mama...Mama..." Justin menatap Emmelyn dengan mata berkaca-kaca.