SEORANG DUDA

1141 Words
“Enak?” tanya Emmelyn pada Jacob dan Justin yang tengah menikmati shrimp carbonara buatannya. Justin mengangguk cepat, mulutnya masih penuh. “Enak!” katanya jujur. Jacob hanya mengangguk kecil sambil tetap fokus pada piringnya. Justin terang-terangan bilang lapar dan di rumah tidak ada orang. Jadi, Emmelyn membawa keduanya masuk ke apartemennya. Saat itu juga Emmelyn baru menyadari kalau pria yang kemarin membantunya membawa belanjaan adalah Papa dari anak kembar ini. “Pelan-pelan,” kata Emmelyn sambil tertawa kecil melihat Justin yang belepotan saus. Ia mengambil tisu dan mengelap sudut bibir Justin dengan gerakan lembut. Bocah itu diam tak terganggu, membiarkan saja. Baru sebentar bersama mereka, Emmelyn sudah bisa melihat perbedaan keduanya. Rambut Jacob selalu rapi, poninya terbelah ke samping. Sementara poni Justin selalu jatuh menutupi keningnya tanpa jeda. Wajah mereka nyaris sama, hanya bekas luka kecil di alis kiri Jacob yang membuat Emmelyn bisa membedakan. “Apa Papa selalu pulang malam?” tanya Emmelyn pelan. “Kadang. Papa tangkap-tangkap orang,” jawab Jacob datar. “Papa polisi,” sambung Justin dengan nada bangga. “Oh ya?” Emmelyn tersenyum. “Hebat banget. Terus Jacob sama Justin mau jadi polisi juga kayak Papa?” Jacob langsung menggeleng. “Nggak.” “Justin mau! Justin mau jadi kayak Papa,” serunya riang. Emmelyn tersenyum melihat mereka. Karakter keduanya sangat berbeda. Justin ceria dan ekspresif, padahal di kelas terlihat pemalu. Jacob sebaliknya—acuh, santai, dan terlalu dewasa untuk anak seusianya. Cara bicaranya singkat, seolah tak mau membuang energi untuk hal-hal yang menurutnya tidak penting. Selesai makan, Justin turun dari kursi dan berlari kecil menuju sofa, di mana televisi menampilkan tayangan kartun sedari tadi. “Pelan-pelan,” tegur Emmelyn. Justin berhenti, menoleh, lalu tersenyum lebar pada Emmy. “Iya, Mama.” Emmelyn diam, masih belum terbiasa dengan panggilan yang Justin berikan padanya sejak tadi sore. "Nanti Jacob bilang ke Papa. Biar Justin dimarahin." kata Jacob tiba-tiba. "Apa Justin sering panggil Mama ke orang lain?" Jacob menggeleng, "Justin pengen punya Mama. Tapi baru sekarang panggil orang 'Mama'." jelasnya. Jacob langsung berjalan menuju sofa, ikut duduk dan menonton bersama Justin. Emmelyn menatap dua piring yang tampak bersih, keduanya benar-benar menikmati makanan yang ia buat. Ia tersenyum. merasa senang karena merasa makanannya enak. Tok Tok Tok Suara ketukan pintu apartemen Emmelyn membuat Justin langsung berlari girang. Emmelyn berjalan membuntuti bocah itu. "PAPA!" seru Justin menyapa seorang pria dengan jaket kulit hitam, persis seperti yang kemarin Emmelyn lihat. Emmelyn tersenyum kecil, menyapa pria itu. "Saya Emmelyn, masih ingat?" Ronan mengangguk. "Maaf anak-anak merepotkan." Emmelyn menggelengkan kepalanya, "Mama buatin Justin sama Jacob carbonara. Enak!" Ronan menaikkan satu alisnya, bingung dengan ucapan sang anak. "Justin. Papa udah bilang, nggak ada Mama. Jangan cari Mama." Ronan menatap sang anak dengan tajam. Justin yang tadinya riang menyambut kedatangan sang anak langsung menunduk, memilin bajunya. Belum sempat Emmelyn membuka mulut, Ronan sudah lebih dulu pamit dan menarik Justin. "Mama...." kata Justin menatap Emmelyn penuh harap, matanya berkaca-kaca. Tangannya terulur, seolah meminta Emmelyn untuk datang dan menggenggamnya. "Jacob minta maaf sudah merepotkan, Bu Guru." Emmelyn yang masih melamun, menatap pintu apartemen Ronan yang tertutup langsung tersadarkan saat Jacob sudah berdiri di depannya. "Bu guru sama sekali nggak ngerasa repot. Tapi Jacob...jangan terlalu keras sama Justin ya?" Jacob hanya mengangguk kecil, lalu bocah itu berjalan menuju apartemennya sembari menyeret tas merah milik Justin. "Justin nggak boleh manggil 'Mama' seenaknya gitu ke orang lain. Papa udah bilang, nggak akan ada Mama." Ronan menatap tajam pada Justin, pria itu tak peduli dengan wajah anaknya yang sudah pias menahan tangisnya. "Pokoknya nanti Justin harus minta maaf sama Tante Emmelyn." sambung Ronan. "Papa nggak akan beliin mainan lagi kalo Justin kayak gitu. Papa nggak suka anak nakal." Tangis Justin pecah saat Ronan memberikan ancaman. Bersamaan dengan itu, Jacob datang. Bocah itu meletakkan tas mereka asal di lantai, lalu menghampiri Justin dan menepuk nepuk kepalanya. "Jacob juga manggil 'Mama'?" Jacob menggeleng, membuat Ronan terlihat lega. "Justin masuk kamar, nggak boleh keluar sampai Papa izinin." titah Ronan. "Hua...Justin nggak suka Papa. Papa jahat!" tangis Justin pecah saat Ronan menghukumnya. Tapi kaki mungilnya tetap bergerak menuju kamar. Jacob tidak bilang apa-apa, dia juga langsung ikut masuk ke dalam kamar meninggalkan Ronan sendiri. Ronan menjambak rambutnya, tingkah anaknya memang kadang di luar nalar. Tapi hal ini membuat Ronan benar-benar terganggu. Emmelyn berdiri di balkon apart, mencoba mengintip ke apart sebelah. Perasaannya cemas memikirkan Justin. Di waktu yang sama, pintu apartnya kembali diketuk. "Saya sebagai Papa dari Justin mau minta maaf. Biasanya dia nggak pernah sampai manggil orang lain ‘Mama’. Saya sendiri juga nggak tahu kenapa tadi dia bisa begitu. Maaf kalau itu bikin kamu nggak nyaman." Ronan bersuara kala dia sudah duduk di sofa apart Emmelyn. Emmelyn mengangguk kecil, "Tadi sepulang sekolah, Justin nangis di tepi jalan. Saat saya deketin, Jacob bilang dia takut badut. Saya langsung gendong dia. Saat itu Justin tiba-tiba panggil saya 'Mama'." "Tadi Justin ketemu badut?" Emmelyn mengangguk, "Oh ya, saya guru baru di preschool Golden Treasures. Tadi hari pertama saya masuk, kebetulan saya diberi kelas Justin dan Jacob." Ronan sedikit terkejut dengan informasi yang Emmelyn berikan. Tapi kemudian ia bersuara. "Gimana mereka di sekolah?" "Saya baru mengamati sehari, mungkin belum banyak yang saya tau. Tapi menurut saya, Jacob seperti abang yang mengayomi adeknya. Dia selalu menggandeng Justin ke mana-mana. Justin sendiri terlihat pemalu, tapi dia anak yang ramah dan riang." jelas Emmelyn. Ronan menyimak pandangan Emmelyn terkait dua anaknya. "Ya, yang kamu omongin bener. Itu bener-bener Jacob dan Justin." kata Ronan. "Saya single dad dan detektif polisi. Mungkin kamu penasaran kenapa malam-malam baru pulang." "Mereka udah bilang Papa polisi." kata Emmelyn, "Tapi saya baru tau kalau anda detektif." Hening beberapa detik. "Sekali lagi saya minta maaf. Selain itu, terima kasih sudah menjaga Jacob dan Justin hari ini. Pasti merepotkan." Emmelyn menggeleng, "Saya suka anak-anak, itu kenapa saya ambil child care. Jacob dan Justin sama sekali nggak merepotkan. Karna kita tetangga, saya juga guru mereka, anda bisa minta bantuan saya kalau ada hal mendesak. Saya dengan senang hati akan nemenin mereka." Ronan tersenyum kecil, mengangguk, kemudian bangkit dari sofa dan pamit. Saat Ronan masuk ke apartnya, sepi, membuat ia memutuskan masuk ke kamar si kembar. "Nggak lapar?" tanya Ronan pada Jacob yang sibuk dengan lego. Justin sendiri sudah tepar di atas kasurnya. "Udah makan di rumah Bu guru. Tadi dimasakin carbonara." balas Jacob. Ronan memijat pelipisnya lagi, harusnya dia tau dari awal biar bisa sekalian berterima kasih tadi. "Justin? Udah tidur?" Ronan mendekati Justin yang sudah pulas. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh anaknya. Tapi saat kulit mereka bersentuhan, Ronan malah merasakan badan Justin yang hangat. "Eh...panas." Ronan kembali menempelkan punggung tangannya di kening sang anak. "Justin demam?" Jacob bangun, meninggalkan legonya dan berjalan mendekati Justin. "Jacob tidur di kamar Papa dulu ya. Biar Papa yang tidur sama Justin." Jacob mengangguk. Ronan langsung mengambil plester kompress dan menempelkannya di kening Justin. "Papa.." "Ya?" "Justin mau Mama..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD