A NEWMOM

1216 Words
Emmelyn mendekati Justin yang tengah meringkuk di kasurnya. Plester kompres masih menempel di kening bocah itu. Saat telapak tangannya menyentuh dahi Justin, panasnya masih terasa. “Justin nggak bisa minum obat, bahkan sirup sekalipun,” jelas Ronan pelan. “Jadi kalau demam biasanya cuma dikompres.” Emmelyn mengangguk, paham. “Hai, sweetheart,” ucapnya lembut sambil mengelus kepala Justin. “Mama…” wajah Justin langsung berbinar. Tangannya terulur. “Justin mau gendong.” “Ya,” jawab Emmelyn tanpa ragu. “Mama di sini.” Ia mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Justin langsung menyandarkan kepala di bahu Emmelyn, napasnya pelan, seolah menemukan tempat paling aman. Ronan menatap pandangan itu beberapa detik. “Jacob masih tidur di kamar saya,” katanya akhirnya. “Kalau dia bangun, saya udah siapin nasi goreng di atas meja. Justin juga udah saya beliin bubur.” Emmelyn mengangguk. “Anda bisa ke kantor sekarang. Saya bakal jagain anak-anak.” Ronan menoleh cepat, ragu. Tatapannya kembali ke Justin yang memeluk leher Emmelyn erat, seolah takut lebih takut ditinggal wanita itu daripada Papanya. “Papa ke kantor sebentar ya,” katanya hati-hati. “Justin sama—” Kalimatnya terhenti. “Mama,” sahut Emmelyn pelan. “Justin sama Mama dulu, ya?” Justin mengangguk kecil. “Justin cuma mau sama Mama.” Emmy memberikan kode pada Ronan untuk tidak mengganggu space tenang Justin saat ini. Hal yang terpenting adalah demam Justin yang harus sembuh saat ini. Emmelyn tidak peduli kalau Ia harus dipanggil Mama oleh anak yang baru kemarin ia temui sekalipun. “Kalau gitu Papa berangkat dulu,” ucap Ronan akhirnya. Ia mengecup puncak kepala Justin singkat. “Oh ya, ini nomor HP saya,” tambah Ronan. “Kalau nanti ada apa-apa—” “Saya sudah simpan,” potong Emmelyn lembut. “Saya wali kelas baru mereka.” Ronan tampak bingung sesaat, lalu mengangguk. “Oh… iya bener. Saya lupa.” Emmelyn tersenyum kecil. Emmy tersenyum kecil. Wanita itu tetap pada posisinya, berdiri menggendong Justin sesekali berpindah satu dua langkah. Ronan sudah pergi keluar dari apart, dapat ditebak dari suara pintu apart yang ditutup. “Justin masih sakit?” suara kecil terdengar. Emmelyn menoleh. Jacob berdiri di ambang pintu dengan piyama kotak-kotak, rambutnya masih berantakan. “Masih, sayang,” jawab Emmelyn. “Jacob mau sarapan?” Jacob mengangguk kecil. Emmelyn keluar kamar sambil tetap menggendong Justin. Di meja makan, seperti yang Ronan katakan, sudah ada dua piring nasi goreng dengan telur mata sapi. Di salah satunya tertulis kecil: untuk Bu Guru. Emmelyn tersenyum tanpa sadar. "Justin mau minum s**u?" Jacob menghampiri Justin yang masih digendongan Emmy, ia mendongak, menatap kembarannya berharap jawaban. Justin mengangguk kecil. "Oke, aku bikinin." kata Jacob. Emmy ikut Jacob yang mengambil s**u dari laci, menakar hingga memasukkannya ke dalam gelas. Terakhir Jacob mengisi air panas dari dispenser. “Ah! Panas—” “Eh.” Emmelyn langsung berjongkok, memeriksa tangan mungil Jacob. “Masih sakit?" tanyanya setelah meniup beberapa kali. Jacob menggeleng. “Biar Ibu aja yang bawain,” kata Emmelyn lembut. Jacob menatapnya, ragu. “Tapi Ibu gendong Justin.” “Ibu bisa pakai satu tangan,” jawab Emmelyn sambil menunjukkan tangan yang bebas “Lihat.” Emmelyn menunjukkan satu tangannya yang bisa mengangkat nampan dengan dua gelas s**u di atasnya. “Hati-hati.” “Iya,” Emmelyn tersenyum. “Ayo ke ruang makan.” Tak lama kemudian, Jacob duduk di depan televisi dengan nasi goreng di pangkuannya. Justin tetap di pelukan Emmelyn, minum s**u pelan-pelan dibantu wanita itu. "Jacob suka nasi goreng Papa?" Jacob mengangguk tanpa menoleh. “Tapi bosen.” "Kenapa?" "Karna Papa cuma bisa buat nasi goreng." katanya. "Tiap hari dikasih bekal nasi goreng." keluhnya. “Mama… Justin mau makan,” rengek Justin lirih. “Bubur ya? Papa udah beliin bubur tadi.” Justin langsung menggeleng sambil menutup mulutnya. “Nggak enak,” rengeknya. “Justin mau makan sup. Mama buatin sup.” Tatapan matanya penuh harap. Emmelyn mengusap punggung Justin pelan. “Iya. Mama buatin.” ——— "Kapt, dokter forensik dapat bukti baru." Kenny, rekan satu tim Ronan datang ke ruangannya memberikan kabar. Ronan melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, niatnya dia hanya akan memberikan berkas ke kantor. "Dokter Gia bilang, kapten harus liat sendiri." sambung Kenny. Ronan, kapten tim detektif B tampak ragu. Ia berpikir sebentar, kemudian mengangguk dan mengajak Kenny masuk ke mobilnya. "Masuk dulu, aku mau kasih kabar anak-anak bentar." kata Ronan sesampainya mereka di parkiran depan sebuah gedung putih. "Siap, Kapt." Kenny langsung keluar dari mobil putih milik Ronan. "Papa pulang agak telat, ya? Ada urusan mendadak. I'm so sorry." kata Ronan sesaat setelah telpon berhasil terhubung. "Padahal ini weekend. Justin juga sakit." balas Jacob dari seberang. Suaranya tampak kecewa. "Papa minta maaf. Papa bakal cepet-cepet pulang kalo urusannya udah selesai. Bilang sama bu guru juga ya." "Iya." Ronan menghela napas, beberapa detik keduanya saling diam. "Jacob udah sarapan?" "Udah." balas Jacob lagi-lagi singkat. "Justin juga udah sarapan disuapin bu guru. Bu guru buatin sup ikan." sambungnya. Ronan terdiam beberapa detik. "Supnya enak. Jacob suka masakan bu guru daripada nasi goreng Papa." katanya kemudian sambungan telpon terputus mendadak, Jacob pelakunya. Ronan hanya bisa menghela napas panjang. Mungkin memang sudah waktunya ia berhenti kejar-kejaran dengan kasus dan mulai belajar jadi Papa sepenuhnya. "Hai. Habis ngabarin anak-anak?" Begitu pria itu masuk, seorang wanita berkacamata langsung menyapa Ronan. "Bukti apa?" tanya Ronan langsung menembak. Dokter Gia tampak kecewa pertanyaannya tidak dijawab. "Ayo." katanya mengajak Ronan ke sebuah ruangan. ——— Emmy menyisir rambut Jacob yang baru selesai mandi. Justin tengah terlelap setelah Emmy menempelkan kompres air hangat menggunakan sapu tangannya. "Enak?" tanya Emmy pada Jacob yang sedang menikmati buah potong. Jacob mengangguk, kemudian bocah itu menusuk potongan melon dan menyuapi Emmy. "Manis. Terima kasih." ucap Emmy membuat Jacob tersenyum. Wanita itu terkesiap, terharu melihat Jacob tiba-tiba mau tersenyum. Sejauh ini, Jacob tidak merepotkan Emmy sama sekali. Bocah itu memilih sibuk dengan lego atau menonton tayangan kartun. Sesekali ia masuk ke kamar dan menengok keadaan Justin. ——— Pukul lima sore, Ronan baru kembali ke apart. Televisi menyala tapi tidak ada siapapun yang menonton. Lalu pria itu berjalan masuk ke kamar anak-anaknya. Dan di sana, ia melihat Emmelyn tertidur di tengah ranjang, Justin dan Jacob di kedua sisinya. Tangan wanita itu memeluk tubuh kecil di sampingnya dengan luwes. Sebuah hal yang tidak pernah Ronan lakukan sedari dulu. Ronan berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekat, mengecek suhu tubuh Justin yang ternyata sudah mendingan. Kompres sapu tangan terjatuh di samping kepalanya, Ronan yang melihat akhirnya mengambil dan meletakkan benda itu di atas meja. Ia membetulkan selimut, kemudian mengatur suhu ruangan sebelum akhirnya keluar dari kamar. Hidungnya mencium aroma wangi. Pria dengan jaket kulit hitam itu berjalan mendekati sumber. Ronan membuka tutup sebuah pan di atas kompor yang ternyata berisi sup ikan, kuahnya terlihat sangat menggoda. Sudah lama ia tak makan masakan rumahan. Ronan mengambil sup itu ke dalam mangkuk. Ia menyeruput kuahnya. Lalu diam beberapa detik.. "Enak?" Ronan menoleh, sedikit kaget mendapati wanita pirang yang tadi pulas sudah berjalan menghampirinya. "Enak." kata Ronan, "Lebih enak dari nasi goreng buatan saya." Emmelyn menggeleng, "Nasi gorengnya enak. Bagian saya habis nggak tersisa. Lagipula nggak semua pria bisa masak." katanya. "Apa kamu mau bantu saya?" Emmelyn menatap Ronan yang nada bicaranya tiba-tiba berubah serius. "Ya?" "Ajarin saya masak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD