KESEPAKATAN

1052 Words
“Enak?” Emmelyn menatap dua bocah di hadapannya yang baru saja mencicipi sup ayam buatannya. Di meja makan sederhana apartemen itu, semangkuk sup hangat ditemani tuna pancake tersaji rapi. “Enak! Justin suka!” seru Justin antusias. Syukurlah, demam bocah itu hanya sudah hampir hilang. “Jacob juga suka,” ujar Jacob singkat, tapi kali ini dengan mata berbinar. Senyum kecil terbit di wajah Emmelyn. Hatinya terasa hangat melihat keduanya makan lahap. Pandangannya lalu beralih pada Ronan yang duduk di samping meja, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan yang digulung. Pria itu mengangguk pelan. “Enak. Kamu pintar masak.” Pujian sederhana itu sukses membuat sudut bibir Emmelyn terangkat lebih lebar. “Mulai hari ini, Bu Gu— Mama yang bakal masakin kalian berdua,” ucap Ronan, menatap kedua putranya. Sore tadi mereka sempat bicara panjang soal Justin yang sampai demam hanya karena dilarang memanggil Emmelyn dengan sebutan Mama. Setelah melihat sendiri bagaimana Justin baru tenang saat dirawat Emmelyn, Ronan akhirnya mengalah. “Gini ya,” kata Emmelyn lembut, menatap Justin dan Jacob yang sudah mengenakan piyama tidur mereka, “mulai sekarang kalian boleh panggil Mama… tapi jangan di sekolah. Di sekolah tetap panggil Bu Guru, ya. Bisa?” Kedua bocah itu saling pandang, lalu menatap Ronan seolah meminta kepastian. Ronan mengangguk. “Iya. Tapi cuma di rumah. Di sekolah tetap Bu Guru, paham?” “Yeay!” Justin langsung bersorak. Ia turun dari kursinya dan memeluk Emmelyn erat. Emmelyn tertawa kecil sambil membalas pelukan bocah. "Justin paham nggak?" “Justin paham!” katanya semangat sebelum kembali duduk. Jacob yang sedari tadi diam tiba-tiba bertanya, “Jadi besok bekalnya nggak nasi goreng Papa lagi?” “Iya,” jawabnya sambil mengangguk, “Mama yang bakal masakin kalian setiap hari. Kalau Jacob sama Justin mau makan apa, tinggal bilang.” “YES!” Kali ini justru Jacob yang bersorak, membuat Ronan sampai menoleh dengan ekspresi terkejut. “Jacob senang?” tanya Emmelyn sambil tersenyum. “Iya,” jawabnya polos. “Jadi nggak perlu makan nasi goreng Papa lagi.” Hening sejenak. Ronan menatap putranya tanpa berkedip, seolah baru saja mendengar pengkhianatan terbesar dalam hidupnya. “Nasi goreng Papa nggak enak?” tanyanya pelan, suaranya terdengar terluka. Jacob mengunyah nasi dengan santai sebelum menjawab, “Enak… tapi tiap hari nasi goreng. Jacob bosan. Jacob jadi benci sama nasi goreng Papa.” “Iya,” Justin ikut menimpali sambil mengangguk serius. “Justin juga bosan. Masakan Mama lebih enak.” Ronan memegang d**a dramatis. “Wah, d**a Papa tiba-tiba sakit denger omongan kalian.” Emmelyn tak bisa menahan tawanya. Suasana meja makan yang tadinya biasa saja berubah jadi hangat dan penuh tawa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ronan merasa apartemennya benar-benar terasa seperti rumah. Matanya diam-diam tertuju pada Emmelyn yang sedang menyeka sudut bibir Justin dengan tisu, lalu membantu Jacob mengambilkan air minum. Ada pemandangan yang selama ini tak pernah ia bayangkan… namun terasa begitu pas. Seolah wanita itu memang ditakdirkan mengisi ruang kosong yang selama ini ada di rumah mereka. "Saya bayar kamu dua kali lipat dari gaji kamu jadi guru, semua belanja bulanan saya yang bayar." Emmelyn langsung setuju dengan tawaran Ronan sore tadi. Walaupun dirinya harus dipanggil Mama dan mengurus dua bocah. Emmelyn akan sangat menikmati hal itu. "Cita-cita saya jadi seorang ibu. Bukan hal yang sulit buat jagain mereka?" Emmelyn bahkan menjawab dengan enteng tanpa berpikir lama. ———— "Jadi, kamu berapa?" Ronan dan Emmelyn duduk di balkon apart setelah Jacob dan Justin pulas tertidur. "Dua puluh tiga. Belum ada sebulan saya lulus dari perguruan tinggi." jelas Emmelyn. Ronan mengangguk kecil, ia menyeruput americano miliknya. "Anda?" "Tiga dua." Emmelyn membelalakkan matanya. Terlihat kaget membuat Ronan menoleh. "Kenapa?" "Saya kira anda masih kepala dua." Ronan terkekeh kecil. "Jadi, dari mana asalmu?" "Jauh," balas Emmelyn singkat, "Anda? Asli dari kota ini?" Ronan menggeleng, "Bukan juga. Dari jauh." balas pria itu seakan mengikuti jawaban Emmelyn membuat gadis itu meliriknya singkat. ———— “Hahhh…” Emmelyn merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan bedcover merah muda kesayangannya. Kedua tangannya terbentang lebar, menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak bisa ia tahan. Sedetik kemudian, ia menendang-nendangkan kakinya di atas kasur sambil memeluk bantal. “Nggak sabar gajian,” gumamnya, teringat ucapan Ronan sore tadi yang akan membayarnya dua kali lipat dari gajinya sebagai guru. Emmelyn bukan dari kalangan berada, ia bahkan kuliah dengan beasiswa yang menanggung segala hal termasuk biaya hidup. "Ini nggak ngimpikan?" Emmelyn mencubit pipinya. "Aw..." katanya mengaduh, tapi sedetik kemudian ia kembali bersorak karena menyadari apa yang terjadi nyata. Beralih pada Ronan. Pria itu masih duduk di balkon apartemennya. Gelas americano di atas meja kecil sudah kosong tak bersisa. Kini yang tersisa hanyalah sebatang rokok di sela jemarinya, asap tipis mengepul ke udara malam. Lampu-lampu kota di kejauhan tampak berkelip, namun pikirannya jauh lebih ramai daripada pemandangan di depan mata. Sudah lama apartemen ini tidak seramai malam tadi. Biasanya anak-anak makan malam di depan televisi sembari menonton tayangan kartun. Tak jarang juga dia hanya memesan lewat aplikasi dan membiarkan mereka mengambil di depan pintu tanpa tau bagaimana mereka menikmati makanan itu. Intinya, Ronan sangat jauh dari anak-anaknya. Sebagian besar waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja. Detektif adalah impian Ronan sedari kecil. Ronan baru menyadari jaraknya dengan si kembar tadi. Masih ada sisa tawa Justin yang bersorak memanggil Mama. Masih terngiang ekspresi polos Jacob yang terang-terangan mengaku bosan nasi goreng buatannya. Juga celotehan keduanya tentang teman mereka di kelas. Ia mengembuskan asap perlahan. Ronan tahu dirinya bukan ayah yang sempurna. Jam kerjanya berantakan. Sering pulang larut. Kadang harus pergi mendadak saat anak-anak sedang tidur. Ada banyak hal yang mungkin Ronan lewatkan. Ronan pikir segalanya baik-baik saja selama ia masih bisa memberi makan anaknya dengan layak, membelikan mainan, dan uang saku yang banyak. Tapi ternyata itu tidak cukup. Ronan menoleh ke arah balkon Emmelyn. Baru kemarin ia bertemu dengan gadis itu, siapa yang mengira kedatangannya membuat ritme hidupnya berubah dalam sekejap. Ia mematikan puntung rokok di asbak, lalu menyandarkan punggung. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa sedikit ringan. Ia tersenyum lebar sesaat setelah memejamkan matanya. Cup "Justin sayang Papa." Suara kecil itu kembali terngiang jelas di kepala Ronan. Justin mengecup pipi Ronan sebelum ia berlari masuk ke dalam kamarnya untuk tidur tadi. "Aku harap kesepakatan tadi pilihan yang tepat." monolog Ronan teringat kesepakatannya dengan Emmelyn tadi sore.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD