BELANJA BERSAMA DAN BATASAN

1137 Words
“Apa anak-anak ada alergi?” Emmelyn menoleh ke arah Ronan yang sejak tadi berjalan di belakangnya sambil mendorong troli. Pria itu menggeleng pelan. “Nggak ada.” “Anda?” Ronan kembali menggeleng. “Jagung buat sup, kentang, wortel…” gumam gadis itu sambil memasukkan satu per satu ke troli. “Aku kira anak-anak benci wortel.” Emmelyn tertawa kecil. “Ya, memang. Mereka bilang kemarin. Saya bakal potong kecil terus campur di sup nanti. Biasanya anak-anak nggak sadar.” Ronan terkekeh pelan. “Licik juga.” “Ini namanya strategi ibu-ibu.” Kalimat itu membuat Ronan menoleh, menatap gadis pirang dengan rambut terurai di depannya. Emmelyn sendiri tampak tidak sadar dengan ucapannya, masih sibuk memilih bawang putih dan madu botolan. Namun Ronan justru terdiam sesaat. Strategi ibu-ibu. Aneh. Tapi mendengar itu keluar dari mulut Emmelyn terasa… pas. Ronan mengajak gadis itu pergi ke supermarket pagi ini. Bagaimanapun, makan malam semalam menggunakan bahan-bahan milik Emmelyn. Pria itu merasa tidak enak jika terus membiarkan gadis itu mengeluarkan stok pribadinya. Sementara itu Jacob dan Justin sengaja ditinggalkan Ronan di lantai dua, tepat di area permainan arcade. Tentu saja bukan benar-benar ditinggal. Ronan membelikan mereka banyak koin permainan dan menitipkan mereka pada petugas yang sudah ia kenal. “Kalau udah bosan, jangan ke mana-mana. Tunggu Papa di sini,” pesan Ronan tadi. “Iya, Papa!” jawab Justin semangat sambil menarik tangan Jacob menuju mesin capit boneka. Kembali ke supermarket. “Apa ada yang ingin Anda masak hari ini?” tanya Emmelyn, mengingat pria itu bilang ingin belajar masak juga. Ronan langsung menggelengkan kepalanya tanpa banyak berpikir. "Terserah kamu aja." katanya singkat. Emmelyn berhenti di depan rak daging ayam sambil berpikir. “Hm…” ia menoleh, “honey garlic chicken sama sup tofu, gimana?” Ronan mengangguk. “Boleh.” Emmelyn tersenyum kecil lalu mengambil dua pack paha ayam fillet. "Ambil lagi," titah Ronan membuat Emmelyn kembali mengambil daging ayam entah bagian fillet d**a, giling atau paha yang sudah dikemas. "Udah?" tanya Ronan melihat Emmelyn mengangguk-angguk sembari menatap catatan di ponselnya. Gadis itu mengangguk, "Udah." "Kalo gitu kita pindah ke rak snack. Saya sering ninggalin mereka berdua di rumah. Jadi, harus banyak stok makanan ringan." “Justin kayaknya lebih suka makanan yang manis dan Jacob lebih suka makanan gurih. Atau tebakan saya salah?” tanya Emmelyn akhirnya memilih berjalan di samping Ronan. “Ya...kamu orang yang teliti ya?” Emmelyn hanya tersenyum simpul. Ronan menatap gadis di sampingnya itu beberapa detik. Baru satu hari. Baru satu hari, tapi Emmelyn sudah tahu tipe makanan si kembar. Mereka berbelok ke lorong makanan ringan. "Kamu aja yang pilih, perempuan lebih tau mana yang boleh dan nggak buat anak-anak." kata Ronan memberikan izin pada Emmelyn memilih makanan ringan untuk si kembar. Tangan Emmelyn spontan mengambil beberapa bungkus biskuit berbentuk hewan, wafer cokelat, dan beberapa keripik buah. “Ada lagi?” tanya Ronan. Emmelyn berpikir sejenak, lalu matanya berbinar. “Puding! Biar saya yang buatkan nanti. Itu bakalan lebih sehat daripada makanan ringan kayak gini.” Tanpa menunggu jawaban, Emmelyn langsung berjalan ke rak produk s**u. Ronan hanya mengikuti dari belakang sambil mendorong troli. "Kamu suka?" Ronan bersuara saat Emmelyn sibuk menatap strawberry. Gadis itu mengangguk kecil, "Biar saya yang bayar nanti." katanya memasukkan satu pack strawberry ke troli. "Kenapa cuma satu?" "Oh ya, saya lupa buat anak-anak. Butuh berapa?" Ronan mengambil hingga enam pack strawberry ke dalam troli. "Harganya agak mahal," Emmelyn menahan tangan Ronan yang ingin mendorong troli. "Duit saya banyak." kata pria dengan baju polo hitam itu. Emmelyn meringis, ucapan Ronan bak menohok hatinya. "Dikira semua orang nggak punya duit kayak kamu apa." katanya monolog, terdengar kesal dengan diri sendiri. Saat mereka sampai di kasir, suara kecil terdengar dari belakang. “Mamaaaa!” Justin berlari kencang dari arah eskalator. Jacob menyusul di belakangnya dengan langkah lebih tenang. Justin langsung memeluk kaki Emmelyn. “Mama lihat! Justin dapet boneka dinosaurus!” Ia mengangkat boneka hijau kecil dengan bangga. “Wah, hebat!” Sementara Jacob diam-diam menunjukkan gantungan kunci robot dari tangannya. “Jacob juga dapet. Emmelyn tersenyum lembut. “Keren banget.” Ronan yang tengah mengeluarkan barang belanja dari troli menatap ketiganya. Justin yang menempel pada Emmelyn, Jacob yang berdiri di samping gadis itu, dan Emmelyn yang membungkuk menyamakan tinggi badan agar bisa melihat hadiah mereka. Sekilas…Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang sedang belanja akhir pekan. Pikiran itu membuat Ronan terdiam lebih lama dari seharusnya. _____ Dapur apartemen terasa hangat oleh aroma bawang putih yang mulai ditumis dan suara pelan air mengalir dari wastafel. Emmelyn berdiri di depan sink, mencuci daging ayam dengan teliti, sementara di belakangnya Ronan sibuk menyiapkan kopi. Bunyi mesin coffee maker memecah keheningan yang sempat menggantung di antara mereka. “Kamu punya pacar?” Gerakan tangan Emmelyn langsung terhenti. Ia menoleh cepat, nyaris memercikkan air dari ujung jarinya. “Hah?” Ronan berdiri bersandar di meja dapur dengan secangkir americano di tangan. Tatapannya terlihat santai, tapi pertanyaannya yang dalam datang begitu tiba-tiba. “Kamu masih muda,” katanya datar. “Biasanya perempuan seusiamu lagi sibuk jalan, kencan, atau mikirin nikah.” Emmelyn terkekeh kecil, lalu kembali menatap daging di tangannya. “Saya nggak punya niat buat nikah.” Satu alis Ronan terangkat. “Kenapa?” Emmelyn tersenyum tipis, meski sorot matanya sedikit berubah. “Saya punya alasan sendiri.” Ia membilas ayam itu sekali lagi. “Mungkin nanti saya cerita kalau waktunya pas.” Ia lalu menoleh sedikit ke arah pria itu. “Kenapa anda tiba-tiba tanya begitu?” Ronan terdiam sejenak sebelum menyesap kopinya. “Nggak ada alasan khusus.” jawabannya singkat, tapi beberapa detik kemudian ia kembali bicara, kali ini dengan nada yang lebih rendah. “Aku cuma nggak mau ada kesalahpahaman.” Ronan menatap permukaan kopi di cangkirnya, seolah memilih kata-kata. “Aku juga nggak berniat menikah lagi,” ucapnya pelan. Suasana dapur mendadak terasa lebih sunyi. Hanya suara air yang masih menetes dari keran. “Bukannya kepedean, tapi kamu pasti tau istilah cinta datang karena terbiasa.” Jantung Emmelyn berdetak sedikit lebih cepat. Ia tahu maksud pria itu. Emmelyn mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, lalu tersenyum tipis. Ia berbalik menatap pria yang belasan cm lebih tinggi darinya itu. “Tenang saja,” katanya lembut. “Saya tahu batasan.” Tatapan Ronan beralih padanya. Untuk sesaat, pria itu tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. “Bagus kalau begitu,” kata Ronan akhirnya. Ia berjalan meninggalkan dapur. Menyisakan Emmelyn sendirian di tengah aroma masakan yang mulai memenuhi ruangan. Namun entah kenapa, ucapan Ronan tadi justru membuat dadanya terasa sedikit sesak. Padahal sejak awal ia sendiri tidak pernah berniat lebih. Ronan sendiri yang menawarkan gaji lebih besar dari menjadi guru. Lalu kenapa… ucapan pria itu terdengar seperti kehadiran Emmelyn sedikit mengusik zona nyamannya sampai-sampai ia harus bicara jujur begitu? Emmelyn benar-benar bingung dengan apa yang barusan terjadi. Dia memilih kembali fokus dengan ayam di depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD