BATASAN YANG TERASA NYATA

1371 Words
Pagi ini suasana apartemen Ronan terasa berbeda dari biasanya. Biasanya, suasana selalu sunyi pada jam-jam seperti ini. Hanya ada suara televisi dari ruang tengah yang dibiarkan menyala untuk menemani Justin dan Jacob sarapan, atau langkah kecil kedua bocah itu yang berlarian dari kamar ke sofa. Namun pagi ini, suara yang terdengar justru bunyi alat masak dari dapur. Samar-samar aroma mentega dan roti panggang memenuhi ruangan. Ronan yang baru selesai mengenakan kemeja kerja berhenti sejenak di ambang pintu kamar. Alisnya sedikit terangkat saat melihat meja makan yang biasanya kosong kini telah terisi dua piring sarapan. Roti isi telur dan sosis dipotong kecil-kecil, lengkap dengan irisan buah di sisi piring. Justin duduk di kursinya sambil menggoyangkan kaki. “Papa, lihat! Mama bikin ini!” Ronan menatap Emmelyn yang tengah berdiri di dapur sambil menuang s**u ke dalam dua gelas kecil. Perempuan itu mengenakan blouse panjang warna krem. Rambut panjangnya dijepit dengan jepit rambut berwarna hitam, beberapa helai rambutnya jatuh membingkai wajah. Emmelyn menoleh dan tersenyum tipis. “Anda sudah saya buatkan sayur tumis dan sambal udang, anak-anak bilang anda lebih suka sarapan nasi.” Ronan hanya mengangguk pelan. "Terima kasih."" Kalimat itu terdengar singkat, tapi bagi Ronan, mengucapkan terima kasih pada orang lain untuk urusan rumah adalah hal yang jarang ia lakukan. Emmelyn hanya mengangguk kecil, tidak menanggapinya berlebihan. "Mama sarapan dulu." kata Justin menahan tangan Emmelyn yang akan kembali ke dapur untuk menata bekal si kembar. Emmelyn melirik pada Ronan, pria yang sudah duduk di kursi makan itu menatap Emmelyn lalu mengangguk kecil. "Duduk aja." katanya singkat, memberikan izin pada Emmelyn. Jacob turun dari duduknya kemudian mendorong satu kursi untuk Emmelyn duduk. Jacob memang tidak seaktif Justin. Bocah itu lebih banyak diam, tetapi sejak Emmeline datang, Ronan mulai melihat perubahan kecil. Emmelyn kemudian ikut duduk di kursi yang Jacob dorong setelah berterima kasih dan mengelus puncak kepala bocah itu. "Hari ini Papa keluar kota, mungkin bakal pulang malem." kata Ronan menatap dua anaknya. Justin yang sedang menggigit roti langsung mengangkat kepala. “Lama, Pa?” Ronan menyendok sedikit nasi ke piringnya sebelum menjawab singkat. “Sebentar. Kalau urusannya selesai cepat, Papa pulang malam ini.” kata Ronan mengelus kepala Justin yang sedikit berubah murung, sementara Jacob yang sejak tadi diam hanya menunduk menikmati potongan sosis di piringnya. Emmelyn menangkap perubahan itu, tetapi memilih tetap diam. Ronan menatap kedua anaknya beberapa detik, lalu melanjutkan, “Selama Papa pergi, kalian sama Mama.” Panggilan itu terdengar asing keluar dari mulut Ronan. Bukan karena ia menganggap Emmelyn lebih dari kesepakatan mereka, tetapi karena itu adalah cara paling mudah agar Justin dan Jacob mengerti. Mau tidak mau, Ronan harus memanggil gadis yang baru kemarin ia kenal itu dengan "Mama". Justin langsung mengangguk cepat. “Okay Papa! Justin bakal nurut sama Mama.” Jacob juga ikut mengangguk pelan. Ronan lalu mengalihkan pandangannya pada Emmelyn. "Kalo ada apa-apa nanti usahakan chat aja, saya biasanya lagi mantau orang. Emmelyn mengangguk, "Ya." katanya. Emmelyn hanya sarapan satu roti yang ia lapisi dengan selai strawberry, ia membawanya dari apart saat datang ke apart Ronan. "Habisin ya, Mama mau siapin bekal kalian." katanya pada si kembar sembari berdiri dari duduknya. "Okay, Mama" jawab Justin membuat Emmelyn tersenyum padanya. Perempuan itu lalu sibuk menata bekal di dapur. Ronan memilih diam mendengar panggilan itu. Kesepakatan mereka sudah jelas kemarin, bahkan keduanya tanda tangan di atas materai dengan Ronan sebagai pihak pertama yang memberikan biaya pengasuhan dan gaji, juga Emmelyn pihak kedua yang bersedia merawat Jacob dan Justin serta dipanggil 'Mama' oleh keduanya hingga kontrak diputuskan dengan kesepakatan. Tak lama kemudian, Ronan ke dapur membawa piring kotor dan mencucinya di wastafel. "Waoww." seru Justin berjinjit melihat kotak bekalnya berisi nasi yang dikepal dan ditaburi nori, udang garlic, chicken roll yang disisipi satu cup mini saus, dan nanas potong. "Justin siap-siap pakai kaos kakinya." kata Ronan membuat bocah dengan sweater biru itu berlari ke rak sepatu. "Ada yang bisa dibantu?" tanya Ronan tiba-tiba. "Udah semua, tinggal dimasukkan ke tas anak-anak." Ronan mengangguk, ia berjalan menjauh kemudian kembali sembari menentang dua tas gendong bergambar karakter hero milik si kembar. Ia meletakkannya di atas meja makan yang sudah bersih. “Yang ini Justin, yang ini Jacob.” Emmelyn menoleh sekilas, lalu mengambil kedua tas itu untuk memasukkan kotak bekal dan botol minum yang sudah ia siapkan. “Terima kasih.” Ronan tidak menjawab. Ia hanya berdiri di dekat meja sambil menatap bekal yang Emmelyn siapkan. Dari penampilan saja bekal yang biasa ia berikan kalah jauh dari buatan Emmelyn. "Kamu nggak bawa bekal?" "Saya bawa strawberry yang kemarin." kata Emmelyn. Ronan hanya mengangguk kecil. "Saya panasin mobil dulu, nanti kamu ke basement bareng anak-anak aja." Emmelyn mengangguk. Ronan mengambil kunci mobil dari atas meja, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh ke arah dua anaknya yang sedang sibuk memakai sepatu. "Papa duluan, nanti ke bawah sama Mama ya." nada bicara pria itu agak melembut. "Okay Papa." balas Justin. Tak lama kemudian, Emmelyn tiba di basement sembari menggandeng Jacob dan Justin di kedua sisinya. Emmelyn selalu sama, berjalan dengan sepatu haknya yang mengeluarkan suara tak tak tak yang elegan. "Kamu duduk di belakang ya." kata Ronan. Emmelyn mengangguk, "Ya, nggak masalah." katanya. "Kenapa Mama di belakang? Sebelah Papa kan kosong?" Jacob bersuara. "Jacob nggak mau duduk bareng Mama?" Emmelyn berakting sedih. "Mau, mau! Justin mau duduk sama Mama." kata Justin cepat, "Ayo masuk Mama." sambungnya menarik Emmelyn masuk ke dalam mobil. Ronan yang sedari tadi diam tak menjawab pertanyaan Jacob akhirnya hanya saling bertatapan dengan bocah itu, sampai akhirnya Jacob memilih masuk ke dalam mobil. "Jangan lupa panggil Mama apa di sekolah?" "Bu guru!" jawab Jacob dan Justin bersamaan, tapi dengan nada yang berbeda, santai dan riang. "Pintar!" balas Emmelyn tertawa kecil. Ketiganya saling mengobrol di sepanjang perjalanan, entah membicarakan orang yang mereka lihat di jalan, teman di sekolah, yang pasti topiknya tak habis habis. Ronan hanya diam sepanjang jalan, hanya matanya yang sesekali mengintip melalui spion tengah. "Udah sampai, pamit dulu sama Papa sebelum turun." kata Emmelyn. “Justin sekolah dulu, Papa.” Justin berpamitan sambil mencium pipi Ronan dengan cepat. Ronan yang duduk di kursi kemudi menoleh dan mengusap puncak kepala putranya. “Iya. Yang nurut sama Bu Guru ya.” “Iyaaa.” Jacob ikut mendekat. Tidak banyak bicara, bocah itu hanya sedikit mendongak lalu mencium pipi ayahnya. Ronan membalas dengan menepuk lembut kepala Jacob. “Jaga adikmu.” Jacob mengangguk kecil. Ronan lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua lembar uang. “Ini buat uang saku.” Ia mengulurkan uang itu ke arah Justin dan Jacob. Namun Jacob justru menatap uang di tangan Ronan beberapa detik sebelum menggeleng pelan. “Kasih ke Mama aja.” Jacob memandang Emmelyn yang duduk di sampingnya sambil memegang tas bekal. “Biar Mama yang simpan. Nanti kalau Justin mau jajan suka habis.” Justin yang mendengar namanya langsung bersungut kecil. “Justin nggak boros.” Jacob hanya menatap adiknya datar, membuat Emmelyn menahan senyum. Ronan terdiam sesaat. Tatapannya beralih pada Emmelyn. Perempuan itu tampak sedikit kikuk. “Nggak usah, nanti kalau mereka jajan biar pakai uang saya dulu.” Ronan tidak menjawab. Ia justru menarik dompet kulit hitam dari saku bagian dalam jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu debit. Emmelyn langsung menggeleng cepat. “Buat jaga-jaga.” Nada suara Ronan tetap datar, tanpa banyak ekspresi. “Kalau mereka mau jajan, butuh beli sesuatu, atau ada keperluan mendadak pas saya kerja, pakai itu.” Emmelyn masih ragu. “Bisa pakai uang saya dulu.” Ronan menatapnya lurus. “Jangan.” Suaranya tegas, hampir seperti perintah. “Itu untuk anak-anak.” Emmelyn terdiam. Ronan lalu mengambil tangan perempuan itu dan meletakkan kartu tersebut di telapak tangannya. “PIN-nya tanggal lahir Justin dan Jacob.” Emmelyn menatap kartu itu, lalu kembali menatap Ronan. “Tapi…” “Simpan.” Kali ini nada Ronan tidak memberi ruang untuk penolakan.Emmelyn akhirnya menghela napas kecil dan mengangguk. "Baik." kata Emmelyn akhirnya. Tak lama dari itu Ronan menancap gas, meninggalkan Emmelyn yang semakin merasakan batasan dengan perilaku pria itu pagi. "Mama, ayo masuk." Justin menggoyangkan tangan Emmelyn, membuat perempuan itu tersadar dari lamunannya. "Bu guru." Jacob menyahut, mengingatkan Justin yang membuat Emmelyn tersenyum. "Bu guru, jangan lupa sayang." ucap Emmelyn pada Justin. "Justin lupa." katanya menepuk jidat. Emmelyn tertawa, kemudian mengajak dua bocah itu masukke dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD