“Jadi, mutasinya dibatalkan Kap?”
Ronan yang sedang meneliti dokumen di atas meja kerjanya mengangkat pandangan saat Matthew masuk ke ruangan sambil membawa setumpuk berkas.
Tatapan Ronan datar, hanya satu alisnya yang sedikit terangkat sebagai respons.
Matthew menyeringai tipis.
“Berarti sudah ada calon Mama buat mereka?”
Nada godaannya terdengar jelas.
Ronan kembali menunduk pada dokumen di tangannya.
“Berisik.”
Jawaban singkat itu justru membuat Matthew tertawa kecil. Jarang sekali ia melihat kaptennya terlihat terusik oleh hal-hal di luar pekerjaan.
Matthew melangkah mendekat lalu meletakkan berkas di atas meja.
“Hasil otopsi dari Dokter Gia.”
Ia mengetuk pelan map cokelat itu.
“Katanya semangat kerjanya, Kap.”
Ronan tak peduli ucapan Matthew terakhir, lebih memilih membuka berkas tersebut.
Sikap acuh itu sudah biasa bagi Matthew.
Namun bukannya pergi, pria itu justru menarik kursi di depan meja Ronan dan duduk santai.
“Udah dua tahun, masih belum luluh juga, Kap?”
Ronan tetap fokus membaca laporan.
Matthew kembali melanjutkan dengan nada menggoda.
“Cantik, baik, pekerjaannya juga jelas. Kurang apa lagi?”
Ronan menutup map itu perlahan, lalu menoleh ke arah Matthew.
“Kalau tertarik, silakan Mat.”
Matthew tertawa pendek sambil menggeleng.
“Bukan tipe.”
Tatapan Ronan tetap tenang.
“Sama.”
Satu kata itu keluar datar. Matthew menatap Ronan beberapa detik, lalu menyandarkan punggung ke kursi.
“Tapi soal mutasi, serius dibatalin, Kap?”
Ronan mengangguk, “Untuk sementara.”
“Terus anak-anak?”
Ronan terdiam sejenak.
Bayangan Justin dan Jacob yang mulai beberapa kali memprotes kesibukannya sempat terlintas di kepala. Beberapa minggu terakhir, keduanya terus meminta agar dirinya lebih sering ada di rumah. Itulah alasan ia sempat mengajukan perpindahan ke divisi kantor.
Namun keadaan kini berbeda.
"Udah ada yang jagain mereka sekarang." jawaban Ronan singkat, tetapi cukup bagi Matthew untuk mengerti.
Senyum tipis kembali muncul di wajah pria itu.
Bagi Ronan, keputusan membatalkan mutasi bukan karena sesuatu yang rumit.
Selama Justin dan Jacob terurus dengan baik, tidak ada alasan baginya meninggalkan posisi yang selama ini ia perjuangkan.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bisa tetap menjalankan pekerjaannya tanpa dibayangi kekhawatiran tentang rumah.
____
"Aku juga kurang tau soal Mama mereka sejak awal." kata Ruby kala Emmelyn bertanya tentang Mama si kembar lebih dalam.
Emmelyn hanya ingin tau sedikit saja, mengingat sekarang dirinya sekarang adalah pengganti sosok itu. Sosok yang harusnya dipanggil "Mama" oleh Jacob dan Justin.
"Tapi kalaupun nanti Mama mereka kembali, dia ngga ada hak untuk marah sama kamu, Em. Karna dia nggak pernah ada buat mereka sampai manggil kamu 'Mama' dan kamu juga udah tandatangan perjanjian di atas materai."
Emmelyn mengangguk, "Aku juga kepikiran soal itu, takutnya nanti jadi masalah besar."
"Papa mereka harus belain kamu kalau itu terjadi nanti." kata Ruby sembari tertawa kecil, sedikit memecah suasana serius di antara keduanya.
"Mama, lapar."
Justin datang menghampiri mereka di taman sekolah.
Bocah itu berjalan cepat sambil menangkupkan kedua tangannya di depan mulutnya, seolah berusaha menyembunyikan gerakan bibirnya dari orang lain. Suaranya pun terdengar seperti bisikan kecil yang hanya ditujukan untuk Emmelyn.
Ruby spontan tertawa pelan melihat tingkah lucu bocah itu.
“Kenapa bisik-bisik begitu?”
Justin menoleh ke kanan dan kiri, lalu mendekat ke Ruby.
"Mama bilang jangan panggil 'Mama' di sekolah." katanya pada Ruby.
"Kan Mama udah buatin Justin bekal tadi, udah habis?"
Justin mengangguk.
Emmelyn menggelengkan kepalanya, kemudian ia membuka kotak makan miliknya yang berisi strawberry.
Justin duduk di sebelah Emmelyn sembari menyandarkan kepalanya pada perempuan itu. Sesekali bocah itu menyuapi Emmelyn dan menawari Ruby.
"Jacob di mana?"
"Sibuk rakit robot sama teman lain." kata Justin.
Emmelyn ber-oh singkat, ketiganya duduk di sana sampai bel berbunyi yang menandakan kelas kembali dimulai.
____
"If you happy and you know it clap your hand"
Prok prok prok
Suara tepukan anak-anak yang kurang kompak menyatu di ruangan.
"Tepuknya harus kompak ya, setelah Bu Guru selesai nyanyi kalian baru prok prok prok." jelas Emmelyn.
"Alright?!"
"Aigh!" jawab anak-anak kompak.
Belum sempat Emmelyn memulai kembali nyanyiannya, seorang gadis dengan rambut brunette berteriak.
"Bu guru, Madison pipis di celana!"
"Pipisnya jatuh ke lantai!" salah satu anak cowok berteriak.
Emmelyn refleks menoleh ke arah Madison.
Bocah perempuan berambut brunette itu berdiri kaku di tempatnya, wajahnya memerah, air mata mulai mengalir deras di pipinya.
Beberapa anak lain mulai berbisik dan menunjuk ke arah lantai.
“Ewww…”
“Madison pipis…”
Suara-suara kecil itu justru membuat tangis Madison semakin keras.
Emmelyn segera berjongkok agar sejajar dengan tinggi anak itu.
“Hey, nggak apa-apa, sayang.”
Suaranya lembut, berusaha menenangkan.
Ia menoleh pada murid-murid lain.
“Teman-teman, nggak boleh bilang begitu, ya. Itu nggak sopan.”
Ruangan yang semula riuh perlahan mulai tenang.
Emmelyn tersenyum lembut pada Madison.
Bocah itu masih terisak sambil mengusap matanya dengan punggung tangan.
Emmelyn mengulurkan tangan.
“Ayo, ikut Bu Guru ke toilet, ya.”
Madison mengangguk pelan.
Sebelum berdiri, Emmelyn menoleh ke arah anak-anak lain.
“Semua duduk yang rapi. Nanti Bu Guru balik lagi, kita lanjut nyanyi.”
“Iyaaa…” jawab mereka kompak.
Emmelyn membawa Madison keluar kelas menuju toilet kecil di dekat ruang guru.
Di dalam toilet, ia membantu membersihkan kaki Madison dengan tisu basah dan mengganti rok seragamnya dengan pakaian cadangan yang memang selalu tersedia di loker kelas.
"Udah, nggak usah nangis lagi. Tapi lain kali kalo Madison pengen pipis bilang sama Bu Guru ya?"
Bocah itu mengangguk kecil.
Setelah Madison lebih tenang, Emmelyn menggandeng tangannya kembali ke kelas.
Saat pintu dibuka, suasana kelas ternyata masih cukup tertib.
Anak-anak hanya memandang Madison, tak ada lagi yang mengoloknya. Emmelyn langsung bernyanyi lagi, mengalihkan pusat perhatian anak-anak yang tertuju pada Madison.
“If you’re happy and you know it, clap your hands…”
Kali ini tepukan anak-anak terdengar lebih kompak.
“Prok prok prok!”
"Good job!" seru Emmelyn
_____
"Tadi Jacob sama Justin ikut mengolok Madison?" tanya Emmelyn mendekati si kembar yang sibuk dengan camilan mereka sembari menonton tv.
Emmelyn mengajak mereka ke apartnya, walaupun ia sudah tau pin apart Ronan, tapi di apart tanpa si pemilik membuatnya tak nyaman.
"Nggak, Justin sama Jacob diam aja kok Mama. Mengolokkan nggak sopan." balas Justin.
"Pintar." kata Emmelyn.
Belun sempat Ia mengobrol lebih panjang, suara ponselnya yang berdering membuat Emmelyn bergegas mengambil.
"Mama angkat telpon dulu,"
"Okay, Mama." balas Justin dengan nada riangnya. Jacob sendiri tak menjawab, namun kepalanya terus menatap Emmelyn yang memilih keluar ke balkon.
"Kamu bilang mau kirim uang buat Tante? Mana uangnya? Tante udah ditagih bank, kalau bulan ini telat bunganya naik lagi."
Suara perempuan paruh baya langsung membuat Emmelyn menghela napas panjang.
"Tante, Emmelyn baru keterima kerja kemarin. Bahkan bulan ini Emmelyn belum terima gaji." jelas perempuan itu.
"Tante nggak mau tau, Em. Pokoknya kamu yang harus bayar utangnya. Jangan lupa kamu numpang hidup di sini dari dulu, jangan lupa balas budi."
Sambungan telepon langsung terputus sepihak, padahal Emmelyn belum membalas. Perempuan itu memejamkan mata, ia menunduk beberapa detik sebelum akhirnya memutuskan menatap pemandangan depan apart. Menatap orang orang yang sibuk dengan urusannya sendiri.
Ujung baju Emmelyn terasa ditarik, membuat ia menundukkan kepalanya. Jacob berdiri di sana sembari menodongkan permen lolipop pada Emmelyn.
"Buat Mama?" tanya Emmelyn.
Jacob mengangguk.
"Makasih, sayang."
Jacob kembali mengangguk, "Mau hujan, masuk aja." kata bocah itu.
Emmelyn kembali mendongakkan kepalanya, ia baru sadar kalau langit sudah mendung.
"Oiya, Mama angkat jemuran dulu." kata Emmelyn lalu mengambil keranjang baju dan mengangkat pakaian di balkon apartnya.
Ronan tidak pernah menjemur pakaian, ia selalu laundry. Jadi, balkon kamar pria itu hanya ada sofa dan meja untuk menyantai. Berbeda dengan balkon Emmelyn yang menjadi tempat jemur pakaian.