Kembali, tanpa orang tuanya!

1736 Words
Indra kemudian menulis nomor walinya “Terpaksa gue panggil bokap gue kemari, coba aja kalau gue gak terlibat semuanya gara gara si berengsek Nino” kesal Indra “Ahh gue juga harus tulis nomor sepupu gue, tapi untungnya dia pasti bakalan bisa gue bungkem” senyum Sacha jahat Indra menatapinya dalam dalam “Sepupu lo baik banget anjir” “Ahh dia bukan baik, dia bodoh” tambah Sacha yang kemudian menulis nomor sepupunya itu disana Andre menatapi mereka berdua “Kalian udah?” tanyanya datar “Nih udah” jawab Sacha cepat lalu memberikan lembaran itu pada mereka Nino kini tersenyum miris pada keduanya “Pasti lo semua takut kan? Halah buat apa sih takut sama kesalahan kecil” gerutunya “Hei! Takut sama orang tua itu hal yang wajar yang gak wajar itu kelakuan lu yang kurang ajar” jawab Sacha segera kesal dengan ucapan Nino Indra memegangi tangan Sacha “Sacha, mending kita gak usah ikut ikutan sama urusan dia aja deh” bisik Indra “Lo bener bener berani ya, siapa nama lu tadi? Sacha? Gadis yang berniat mau hancurin geng gue di masa depan?” senyum Nino tipis Andre menatapi Nino kesal “Nino udah, ini ruang BP lo harus jaga sikap” “Perlu gue ingatin Ndre, sekolah ini didirikan oleh bokap gue dan lo sendiri tahu kan gimana sikap bokap gue? Jadi buat apa gue harus jaga sikap sedangkan bokap gue b******n?” ujar Nino menatapinya dengan tatapan tajam Beberapa menit kemudian para wali dari murid pun datang. Ayah dari Andre, ayah dari Indra dan sepupu Sacha, Juna Devano. “Andre! Masalah apa lagi yang kamu buat anak kurang ajar” teriak ayah Andre yang baru saja datang dengan memberikan tatapan membunuh pada anak lelakinya itu Andre menutupi matanya segera “Engga yah, ini semua cuma kesalah pahaman kok Andre gak terlibat” gerutu Andre “Indra! Apa apan kamu, udah kelas tiga dan buat masalah? Kamu pengen dikeluarin pihak sekolah apa?” teriak ayah Indra dari luar sana Indra segera bersembunyi di belakang Sacha “Anjir mampus gue Sacha, bokap gue galak banget” gerutunya “Ahh lemah” gerutu Nino dalam hati menatapi mereka Sementara itu wali Sacha datang dari kejauhan sana ia nampak menatapi Sacha begitu datar, Juna kemudian menarik tangan Sacha yang membuatnya kini berdiri dan berhadapan dengannya. “Sacha, lo tau kana bang lo ini masih SMA! Kenapa lo jadiin gue wali? b*****t! Gue lagi ada kelas dan lo tau gue bela belain kesini dan minta ijin dulu ke SMA gue, lo bener bener ya” gerutu Juna menatapi Sacha kesal Sacha melepaskan genggamannya lalu membuang mukanya “Bang, lo mau tutup mulut kan sama bokap nyokap gue?” ujar Sacha kemudian tersenyum pada Juna “Hah? Maksud lo apaan? Malesin lah, gue bilangin semuaya ke om Revan nanti” jawab Juna cepat Sacha tersenyum seakan menggodanya kali ini “Oke, kalau gitu gue juga bakalan laporin soal kelakuan lo yang pernah bolos berhari hari ke sekolah demi main game! Dan lo ingat? Gue punya semua buktinya” ujarnya kini tersenyum bak iblis di hadapan Juna “What? Lo bener bener licik b*****t” gerutu Juna menatapi Sacha kesal Nino yang sejak tadi memerhatikan percakapan mereka kini tersenyum “Lo ternyata cewek ular ya. Gue tertarik” senyum Nino “Hah?” ujar Sacha yang kemudian menatapi Nino yang masih tersenyum itu Juna menatapi Nino dan melihat dagunya yang memar “Apa itu ulah lo Sacha?” tanya Juna menatapi Sacha curiga “Ya, gue kesel banget sama si berengsek ini. Dia so jagoan bang, lo tau? Semua temen kelas gue di bullying sama dia” teriak Sacha kesal Juna memelototi Sacha supaya tidak berteriak “Sacha! Hentikan. Lo jangan teriak” bisik Juna “Faktanya! Semua murid di sekolah ini akan takut sama gue. Lo cewek ular yang bisanya ngancam gue dengan kata kata aja? Gak ada apa apanya buat gue” kesal Nino Juna menarik tubuh Sacha yang terlihat akan memberontak itu kemudian ia membuatnya duduk di sampingnya. “BAngsatt emang lo Nino!” teriak Sacha lagi “Sacha” lirih Juna menatapi Sacha kesal “Hentikan, lo malu maluin gue yang jadi wali lo” tambahnya Nino tertawa “Cihh” Para guru BP pun telah berbicara langsung dengan semua wali murid. Semua murid juga mendengar pembicaraan mereka, berbeda dengan Nino yang justru memakai hedset dan memakai ponsel padahal itu jelas jelas dilarang. “Anak itu, sangat misterius” lirih Sacha menatapi Nino yang nampak menutup mata sambil mendengar alunan music ditelinganya Nino tidak ingin mendengar dan melihat ini. Dimana wali wali itu habis habisan membela si murid yang salah satu anggota keluarganya, mereka terlihat begitu menjaga dan melindunginya. Nino muak dengan ini semua, Nino tak akan mau melihat drama romance di keluarga. Beberapa tahun kemudian… Nino telah masuk ke dalam SMA terbaik di pusat kotanya, bukan karena prestasi atau apapun yang berhubungan dengan kecerdasan. Itu karena Nino adalah pemilik anak sekolah itu, Nino sebenarnya muak dan enggan masuk ke dalam sekolah yang dipegang oleh keluarganya itu. itu menyebalkan dan sangat lucu. Lucu bisa masuk ke sekolah yang penuh aturan, sementara ayah dan ibunya di rumah selalu saja bertengkar bahkan menyalahi peraturan dalam berumah tangga. Namun di sisi lain ia telah merasa bersyukur karena ada seorang teman yang kini selalu bersamanya, Andrean Barrak selalu ada untuk Nino ia selalu memberi nasihat terbaik ala alanya. Andrean Barrak juga ikut masuk ke SMA yang sama dengannya. Sehingga kali ini Nino lebih percaya diri karena memiliki teman. Nino mengendarai mobil sport miliknya hasil balapan tadi malam, ia memenangkan juara nomor satu dan mendapatkan mobil sport edisi terbaru itu. Ia bersama dengan Andre di sampingnya. Setelah Nino keluar dari SMP, ia langsung membuat gangster yang diberi nama STARK. Geng Nino berisi anak anak yang suka balapan menggunakan mobil dan motor sport kelas atas. Geng Nino bukan sembarangan geng, mereka cukup ditakuti meskipun geng ini sangat sangat masih baru. “Andre, lo gak ada niatan banget gitu masuk geng gue?” tanya Nino yang menatapi Andre kesal Andre yang sedang memainkan game itu segera menggelengkan kepalanya “Gak! Sama sekali engga, lagian apa untungnya buat gue?” jawab nya cepat “Lo bisa dapetin puluhan mobil dan motor sport!” jawab Nino cepat Andre tersenyum “Ah, gue gak terlalu suka mobil sport dan motor sport di dunia nyata” “Lo itu kenapa sih? Gue mulai ragu lo temen gue atau bukan” kesal Nino Andre membuang mukanya “Perlu lo ingat! Orang yang dari dulu sama sama bareng lo siapa b*****t?  Orang yang bikin percaya diri lo nambah siapa?” teriak Andre kesal “Oke, oke itu lo!” jawab Nino cepat lalu memukul kepala Andre keras “Gue pengen tahu aja apa alasan lo gak mau masuk geng! Sedangkan kalau gue sama anak anak kumpulan lo suka ikut” tambah Nino Andre menatapi Nino “Itu karena gue temen lo bodoh! Gue gak peduli sama geng lo. gue mau jadi temen yang baik, mereka belum tentu baik kan jadi temen lo” jawab Andre cepat “Haha, alesan lo masuk akal. Gue terhibur” senyum Nino Andre menendang kaki Nino cukup keras “Gue bicara bener! Bukan mau ngehibur” “Haha oke oke ampun” **** Mereka memasuki gerbang dan mulai mencari kelasnya. Nino berhenti tiba tiba, hal itu juga membuat Andre yang berada di sampingnya berhenti. “Apaan?” tanya Andre refleks Nino menunjuk seorang siswa yang sedang berdiri disana sendirian “Itu, bukannya si Indra Cassano itu ya?” gerutu Nino terlihat begitu tidak percaya “What?” Andre terkejut setelah melihat yang Nino katakan ternyata benar Nino berjalan mendekati Indra yang masih belum sadar akan keberadaan Nino dan Andre itu. “Oy! Lo anak yang waktu itu gue jotos kan?” tanya Nino tiba tiba Indra nampak terkejut dan menatapi ke sumber suara dengan pelan pelan “b*****t! Dia Nino. Kenapa sih gue diharuskan masuk SMA ini sama bokap gue” gerutunya dalam hati “Hmm sory? Lo ngomong sama gue?” tanya Indra pura pura Andre tertawa “Lo pikir sama pohon?” ujarnya “Ahh dimana cewek temen lo yang so berani itu, gue pengen tahu apa dia bener bener punya geng” senyum Nino sinis Indra nampak terdiam “Lo pikir Sacha main main, setelah kena masalah karena lo. si Sacha benerr bener buat geng yang isinya cowok semua, b*****t! Gue sampai gak percaya si Sacha bisa seserius itu” pikirnya lagi “Eh lu budek ya?” ujar Andre Indra membuang mukanya “Soryy, gue gak kenal kalian mungkin kalian salah orang!” gerutunya kemudian membalikan badannya “What? Lo pikir kita salah orang? Lo gila apa pura pura lupa?” gerutu Nino masih menatapinya tajam Indra melihat seorang siswa yang sedang berjalan sendirian disana “Oy! Bro, anjir kemana aje lu gue udah tungguin dari tadi kampret” teriaknya lalu pergi menuju siswa itu “Hah? Siapa?” gerutu pria itu yang kini menatapi Indra heran Indra kemudian menarik lengan pria itu pergi dan menyeretnya dari sana. “Anjir! Si Indra udah bener bener lupa? Dia amnesia apa takut sama lu Nino?” senyum Andre menatapi kepergian Indra dengan senyum diwajahnya “Lemah, sorry gue gak akan serang orang yang lemah sekarang” ketus Nino kemudian melangkahkan kakinya pergi dan tentu saja Andre segera menyusulnya Sementara itu Indra yang sudah berada jauh dari Nino dan Andre kini ia melepaskan pria yang sepertinya seusia dengannya itu. “Lo siapa sih?” gerutu siswa itu menatapi Indra aneh “Oh sorry ya gue tiba tiba bawa lo. gue barusan takut banget anjir, sori ya” gerutu Indra yang berusaha mengatur nafasnya itu Siswa itu nampak berpikir “Sama dua orang tadi? Kenapa lo harus takut?” senyumnya “Panjang ceritanya, mereka musuh gue pas di SMP dan gue ternyata harus ketemu lagi sama mereka” jawab Indra cepat yang mendapat anggukan darinya “Ohh gitu” Indra kini menatapi siswa itu “Oh ya nama lu siapa? Gue Indra Cassano” senyum Indra kemudian mengulurkan tangannya “Gue Pero Heryan” ujar Pero menatapi pria itu datar Indra tersenyum “Indra? Nama yang sangat kuno, orang ini kayaknya penakut akut dan juga bodoh gue bisa andelin dia haha” pikir Pero menatapi Indra dengan rinci “Oy lo masuk kelas apa?” tanya Indra menatapi Pero dan membuyarkan lamunannya Pero membuang nafasnya “IPS 1 kalau lo?” “Ahh sama anjir, ya udah kita buruan cari kelas aja yu” semangat Indra kemudian menarik tangan Pero Pero nampak terkejut “Ehh anjir dia cewek apa cowok si?” gerutunya dalam hati ***** Nino nampak duduk di luar, saat istirahat ia memilih untuk keluar dan mencari cafe sendirian. ya, ia satu satunya siswa yang berani keluar disaat istirahat berlangsung. Siswa baru yang benar benar ingin dikejar oleh aturan itu, ia memang gila. Nino duduk dengan santai sembari menikmati ramainya jalanan yang terhalang oleh kaca. Nino tersenyum sejenak “Hidup ini semakin membuat gue muak” gerutunya Beberapa menit berlalu, Nino masih diposisi yang sama namun sesuatu sekarang mengejutkannya. Dimana ia melihat seorang gadis berpakaian SMA ditambah jaket jeans penuh robekan yang ia pakai di tubuhnya, rambutnya yang pirang dari lahir terlihat begitu indah meskipun dipotong pendek olehnya. “Gadis gila ada disini? Kok bisa?” senyum Nino kemudian keluar dari kafe dan berusaha mendekati Sacha yang nampak ada di sebrang jalan dengan kebingungan itu Nino menonjok punggung Sacha pelan “Oy! Gadis gila lu kenapa ada disini?” ujar Nino tiba tiba membuat Sacha begitu terkejut, Sacha pun menoleh ke belakang. “Eh? Lu ko ada disini?” ujar Sacha terkejut memelot padanya kesal Nino tersenyum “Gue yang harus tanya, gue sekolah didekat sini. Dan lo?” “Gak penting. Buat apa gue ngomong sama lo” kesalnya kemudian pergi Nino mengkuti langkah Sacha “Kenapa lu ikutin gue sih?” teriak Sacha kesal “Hmm” senyum Nino
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD