2 tahun lebih telah berlalu..
Semuanya berjalan seperti apa yang Nino mau, ia menjadi sangat berubah dari biasanya. Ia bukan lagi anak pendiam dan cerdas yang selalu dibangga-banggakan guru dan sekolahnya. Nino anak yang paling sering di panggil BP karena ulah nya yang selalu membully teman teman sekolahnya.
Nino memasuki kelas B dan sekarang ia sedang mencengkram kerah baju seorang siswa yang nampak marah padanya kali ini.
“Kenapa lu gak mau gue suruh ke kantin b*****t? Bukannya lu kemarin gue tolongin buat jailin si Indra yang beloon itu?” teriak Nino tepat di depan wajahnya
Remaja itu terkejut “Nino, jangan katain itu” lirihnya kesal
Semua yang ada di kelas B nampak terkejut, apalagi dengan orang yang bernama Indra itu. Pasalnya kemarin ia kehilangan sepatu olahraganya untuk lomba lari padahal ia sangat membutuhkan itu dan akhirnya remaja yang sedang dicengkram Nino itu kemarin menggantikannya untuk lomba lari.
“Jadi lu yang udah sembunyiin sepatu gue Raihan? Lu bener bener kurang ajar” teriak Indra yang kemudian mendekati anak remaja bernama Raihan itu
Dengan sigap seorang gadis kini menahan langkah Indra dengan merentangkan tangan kirinya tepat di dadanya. “Indra! Hentikan” lirih gadis berambut pendek dengan tahi lalat di pipi kirinya
“Sacha hentikan! Gue bener bener kesel sama Raihan” teriak Indra kesal
Nino tertawa menatapi percakapan keduanya “Ahh kalian para sampah diam! Raihan, Indra dan satu lagi cewek gendut itu Sacha? Kalian bener bener sampah” gerutu Nino
“Lo berani bilang sampah? Bukannya lo lebih sampah” senyum Sacha menyungging menatapi Nino
Indra menatapi Nino kesal “Lagian selama ini lo adalah si pembuat onar di sekolah kita kan? Dan lo pikir semua murid akan takut sama lo? tidak bagi kita berdua” kesal Indra
“What? Apa gue salah denger? Kalian gak takut sama gue?” ujar Nino tersenyum merendahkan mereka
Nino melepaskan cengkramannya pada kerah baju Raihan itu dan sekaligus mendorong tubuh Raihan sehingga cukup terpental jauh. “Aww” dia beraduh kesakitan masih dengan tatapan kesal sekaligus takut pada Nino
“Boleh gue denger kalian barusan ngomong apa?” tanya Nino lagi dengan tatapan datarnya
Semua yang ada disana terlihat begitu tegang dengan remaja tampan berpenampilan berantakan itu, Nino tersenyum menatapi Indra dan Sacha yang masih saja terdiam kaku dengan tatapan kesal padanya.
“Kenapa? Takut?” senyum Nino menatapi Indra begitu dekat dan intensnya
Indra membuang nafasnya “Gue gak akan takut, karena gue gak sendirian” senyum Indra yang kemudian menatapi Sacha
“Tunggu? What kalian pacaran?” teriak Nino kemudian tertawa begitu kerasnya
Sacha menatapi Nino semakin kesal “Kami berteman, ahh jangan berbicara tentang pertemanan dengan dia, pasti dia gak akan faham” sinisnya kemudian tersenyum
“Kurang ajar! Jika aja lo cowok udah gue habisin lo”
Indra menghalangi Nino dari hadapan Sacha segera “Lo gak boleh ancam temen gue” ujarnya
“Ahhh berisik” teriak Nino kemudian mendorong tubuh Indra hingga membuatnya tersungkur jauh ke lantai
Semuanya berteriak nampak ketakutan berusaha untuk memisahkan tapi mereka takut melihat Nino. Nino berjalan mendekati Indra yang sedang berusaha untuk berdiri, namun Sacha segera berdiri dihadapannya dan kini membalas mendorong Nino.
“b******n!” teriak Sacha kesal
Semuanya termasuk Indra nampak terkejut dan Indra segera melindungi Sacha dari Nino yang terlihat kesal “Sacha! Apa sih yang lo lakuin”
“Gue kesel Ndra, dia bener bener gila” teriak Sacha memelototi Indra
Indra membiarkan Sacha berdiri di belakangnya “Diem lu jangan kemana mana oke?”
“Ahh kurang ajar banget itu cewek. Apa perlu gue anggep lu cowok aja” kesal Nino
Sacha memberontak “Dasar pengecut! Ternyata bener ya kata orang orang lo cowok ganteng, b******n yang gila” teriak Sacha menatapi Nino dengan tatapan tajam
“Kurang ajar” teriak Nino mencoba mendekati Sacha
Namun Indra tetap berdiri tegak untuk melindungi Sacha dari Nino “Nino, lu jangan kelewatan sama cewek! Dan perlu lo ingat ini bukan kelas lu” teriak Indra
“Apa? Maksud lo gue harus takut karena dia cewek dan ini bukan kelas gue? Lo tau apa tentang gue? Gue adalah Nino J yang gak akan pernah takut dengan hal apapun! Bahkan gue udah punya rencana suatu saat gue akan lebih kuat lagi dan membangun geng yang akan membuat siapapun takut akan kehadiran gue! Bahkan kalian semuanya akan tunduk!” teriak Nino menatapi Indra tajam
Sacha menatapi Nino tak percaya, ia begitu bingung kenapa cowok ini begitu gila dan terlihat seperti psikopat. “Gue akan membuat geng yang gak akan kalah hebatnya sama geng lo! camkan itu” teriak Sacha murka dengan semua perkataan bodoh Nino
“Ahh nyali lo kuat juga! Tapi ko gue gak percaya ya” senyum Nino dengan tatapan sinisnya
Nino hendak menyentuh kerah baju Sacha namun Indra segera menghalanginya dengan cepat “Kenapa sih lo halangin jalan gue terus?” teriak Nino di depan wajah Indra dan mendorong tubuh Indra hingga terpental
Indra terlihat marah dan tidak terima “Kurang ajar lu anjir” teriaknya kemudian berdiri
“Indra stop!” teriak Sacha mencoba menghentikannya
Nino dan Indra kini saling beradu jotos, tentu saja Indra akan kalah karena Nino yang merupakan preman sekolah ini tentunya akan sangat mudah mengalahkannya. Indra terkena pukulan keras dari Nino tepat ke wajah kirinya hingga kini terlihat memar. Indra terlentang di lantai cukup keras, Sacha segera mendekatinya.
“Lu gak papa Ndra?” tanya Sacha begitu cemas
Indra hanya terdiam dan mengangguk dengan memegangi area pipi yang sakit. Sacha terlihat kesal dan kini berdiri dihadapan Nino. “Mau lo apa? Heuh? Sampah” teriak Sacha murka di depan wajah Nino
“Gue salah apa? Dia yang nyerang duluan dan gue lawan lah masa gue diem aja” kesal Nino yang kemudian membalikan badannya dan hendak pergi
Nino seraya tersenyum “Hah, enek gue tiap hari ketemu sama sampah sampah gak berguna! Gak bisa di daur ulang lagi haha” teriak Nino melewati orang orang kelas B yang kini menatapnya takut itu
“Ehh b*****t!” teriak Sacha dengan cepat membalikan tubuh Nino hingga kini kembali berhadapan dengannya
Bukk!
Sacha menonjok dagu Nino hingga membuatnya terpental ke bawah lantai, tak sampai puas disitu Sacha meludah di lantai tepat berdekatan dengan lantai yang Nino pijaki. “Perlu gue perjelas! Yang sampah itu ELO!” ujarnya dengan ucapan yang penuh penekanan
“Lo!” teriak Nino kesal dan murka
Nino kini mencengkram kerah baju Sacha keras “Apa? Lo pikir gue takut sama lo? udah gue bilang kan suatu saat geng yang akan gue buat akan mengalahkan lo secara perlahan, tunggu aja!” senyum Sacha
“Gadis b******k!” kesal Nino yang kemudian hendak menonjoknya
Namun dari luar sana seseorang berteriak cukup nyaring “Nino! Hentikan bodoh!” teriak Andrean yang berlari macam dikejar setan itu
“Lo kenapa kesini sih?” kesal Nino yang masih memegangi Sacha itu
Andrean membuang nafasnya kesal “Ya ampun! Nino, apa yang lu lakuin sejauh ini itu buat apa sih? Hentikan Nino. Ini semua gak ada artinya, lo menyakiti diri lo dua kali lipat sekarang” lirih Andrean menatapi sahabatnya itu
“Hmm” lirih Nino membuang nafasnya kemudian melepaskan cengkramannya itu
Sacha menatapi Nino dalam dalam entah apa yang membuatnya sedikit mellow sekarang, mungkin tatapan Nino yang bermula menyeramkan kini seakan redup sendu tak bernyawa. Apa kah yang dilalui oleh pria gila ini sampai bisa sejauh ini berbuat jahat? Apa yang telah dirasakannya? Dan apa yang telah membuatnya jatuh? Begitu lah refleks pertanyaan Sacha yang timbul di dalam hatinya
“Kalian! Nino! Ya ampun Nino lagi gimana bisa anak pemilik sekolah terus berbuat kekacauan. Kalian semua ikut ke BP! Nino, Sacha, Indra dan Andre!” teriak guru BP yang tiba tiba memasuki ruangan kelas B itu
Andre memelotot “Pak! Andrean baru aja dateng ya ampun”
“Udah jangan banyak omong, kalian berempat ikut bapak. Bapak akan meminta wali kalian datang” teriak guru BP itu
Andre terlihat kesal “Ya ampun pak plis deh, Andre ini lembut gak suka perkelahian”
“Cepatt!” teriak pak guru membentak mereka semua
Nino berjalan lebih awal mendahului mereka dengan tatapannya yang kini redup “Sial, bagaimana pun juga orang bodoh itu gak akan datang” umpatnya berlalu
“Nino tunggu! Ahh gue jadi kebawa bawa lagi” kesal Andre berlarian menyamakan langkah bersama Nino
Sacha menatapi kepergian Nino “Orang bodoh?” gerutunya bertanya tanya
“Sacha! Gimana ini katanya wali mau dipanggil, aduh mampus gue kena marah bokap nyokap” teriak Indra yang kemudian berdiri
Sacha membantu Indra berdiri dan berjalan perlahan menuju BP “Ahh gue juga mampus nanti! Lagian bokap sama nyokap lagi sibuk, kayaknya gue panggil wali sepupu aja” senyum Sacha terlihat jahat
“Lu enak punya sepupu” iri Indra menatapi Sacha
Sacha kini menatapi Indra “Dra? Lu tau kenapa alasan si Nino kelas A itu terus terusan berbuat onar?” tanya Sacha tiba tiba
“Engga lah, mungkin dia emang jail aja” kesal Indra
Sacha membuang nafasnya “Kayaknya engga begitu deh” gerutunya
“Maksud lo apaan sih Sha?” gerutu Indra
Sesampainya di ruangan BP. Mereka berempat langsung saja diberikan beberapa pertanyaan, apalagi Nino sebagai pelaku utama meskipun dia anak pemilik sekolah tetap saja orang tuanya selalu meminta Nino agar diperlakukan seperti murid biasa. Indra dengan mukanya yang bonyok dan Nino dengan dagunya yang lebam, sungguh itu membuat semua guru BP kewalahan bukan main.
“Nino bapak gak habis pikir deh sama kelakuan kamu kenapa bisa bisanya kamu selalu aja menjadi orang yang paling bermasalah di SMP ini. Kami sebagai bawahan ayah kamu merasa kecewa” gerutu guru BP itu
Nino menatapinya dengan sinis “Tolong pak, jangan bawa bawa nama ayah saya! Saya perjelas itu hanya status yang melekat padanya, perilakunya sama sekali tidak mencerminkan ayah bagi Nino” jelas Nino
“Nino, tahan semuanya” lirih Andre menatapinya khawatir
Sacha dan Indra kini menatapi Nino penuh pertanyaan “Sudah kuduga, dia adalah broken home” pikir Sacha
“Kasihan juga sih lihat dia berantakan karena orang tuanya, meski gue sedikit kesal juga” pikir Indra
Guru BP perempuan kini datang menemui mereka berempat, ia kemudian menyodorkan lembaran kertas tepat di meja depan mereka.
“Ini kalian isi nomor wali kalian, kami pihak sekolah akan memintanya untuk datang kemari” ujar si guru cantik itu
Nino menatapi mereka tajam “Ahh lucu, saya udah beberapa kali masuk ruang BP dan kalian selalu meminta nomor wali. Saya masukin nomor ayah saya tapi yang datang hanyalah angin? Haha saya yakin dia meminta kalian mewakilinya kan” gerutu Nino menumpangkan satu kakinya ke kaki yang lain
“Kalian isi!” perintah guru BP lalu mereka pergi ke bangku nya masing masing
“Lihat! Berani sekali dia” gerutu Indra berbisik pada Sacha
Sacha masih dengan tatapan sendunya “Orang tuanya tidak pernah memenuhi panggilan sekolah? Apa mereka sesibuk itu?” pikir Sacha
“Ahh masalah besar ini, gue bisa bisa dimarahin bokap Nino” kesal Andre menatapi Nino
Nino tersenyum “Lo gak usah takut nanti gue jelasin semuanya ke mereka”
“Hmm lo pikir orang tua gue bakalan percaya sama ucapan lu” kesal Andre