4 Penculik Tampan

767 Words
"Uang seratus ribu, bisa jadi apa? kalau kupakai naik taksi, nanti bagaimana dengan makan siangku? Dan bodohnya lagi, aku lupa meminta uang pada Emo, tadi!" racau Lera seraya memandang selembar uang seratus ribu di tangannya. "Aaargh..." ia kemudian berteriak kesal, beberapa orang yang berlalu lalang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Tck, biar, biar saja orang-orang di halaman kantor ini menganggapnya gila. Lera sama sekali tidak peduli, kecuali mereka mau memberinya uang. "Semua ini gara-gara si b******k menyebalkan itu! Coba kalau tadi dia tidak memprofokasiku, maka aku tidak akan pergi dengan tangan kosong begitu saja." Lera masih sibuk dengan acara ngedumelnya. Bahkan karena perasaan kesal yang bermegah-megah di hatinya saat ini, ia sampai tidak sadar sudah berjalan kaki cukup jauh dari area kantor. Tin... Tin... Suara klakson mobil dari arah belakang membuat Lera tersentak kaget, hampir saja ia jatuh ke aspal kalau saja keseimbangan tubuhnya tidak cepat ia kuasai.  Tin... Tin...  Lera sudah menyisih ke pinggir jalan tapi mobil sialan di belakangnya kembali membunyikan klakson. Tin... Tin... Lagi, suara klakson kembali terdengar dibelakangnya. Demi Tuhan, apa maunya pengemudi gila di belakangnya itu. Lera bersumpah akan memuntahkan kejengkelannya, namun saat ia membalikkan badan, apa yang semula ingin ia muntahkan menguap dengan seketika. Lebih tepatnya digantikan dengan perasaan ingin membunuh. "Butuh tumpangan?" Dia Bian!  Apa yang bisa Lera harapkan dari pria b******k itu? Jawabannya tentu saja tidak ada.  "Tidak, terimakasih." Lera lebih memilih jalan kaki sampai kampus dari pada menumpang di mobil si b******k itu. Ayolah, tidak ada jaminan bahwa dia akan sampai tujuan dengan selamat dan utuh jika berada di dalam mobilnya itu. Bian menyeringai. "Kau yakin? Memangnya kau mau ke mana?" Lera menghentikan langkahnya, ia berbalik dan menatap Bian malas. "Kau tidak lihat? Aku mau ke kampus!" Lera menaikkan satu alisnya saat melihat Bian yang saat ini sedang tertawa seraya mengamati dirinya dari atas sampai bawah, terus begitu selama beberapa menit. Ada apa dengan pria itu? Tampan-tampan kok sinting? "Ke kampus dengan memakai celanan belel dan kemeja tak dikancing seperti itu?"  "Ada yang salah?" Bian mengendikkan bahunya bersamaan dengan bibir yang melengkung ke bawah, "Tidak. Hanya saja aku pikir kau mau mengamen dengan pakaian seperti itu." Huh? Pengamen dia bilang? Yang benar saja! sungut Lera dalam benaknya.  Lera benar-benar merasa tersinggung atas tatapan dan juga ucapan pria di dalam mobil itu. Kalau saja lemarinya tidak dirantai dan digembok oleh sang Omah, Lera juga tidak sudi mengenakan pakaian yang seperti itu.  Apa kata anak-anak kampus nanti? Lera yang biasa mengenakan baju trendy sekarang hanya memakai jeans yang warnanya sudah termakan usia dengan kemeja yang sering cuci pakai. Lera hendak memberikan serangan balasan untuk Bian namun kemudian ia urungkan. Dia masih cukup waras untuk tidak meladeni Bian. "Masuklah, aku akan mengantarmu." ucap Bian setelah membukakan pintu penumpang. Lera menggeleng, "Terimakasih atas tawarannya, tapi akan lebih aman jalan kaki dari pada duduk di dalam mobil mahalmu, Tuan." setelah itu Lera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Kenan sambil menjauh dari sana. "Hai, Ken." sapa Lera saat panggilan sudah tersambung. Kenan Dirgantara, teman sekelasnya yang pendiam itu telah lama menjerat hati Lera, tepatnya sejak OSPEK dulu. Tapi Lera tidak pernah mengatakan perasaannya pada Kenan. Ayolah, galak-galak begitu juga Lera masih seorang gadis. Dia tidak mungkin menyatakan perasaannya lebih dulu pada seorang pria walaupun dia tahu kalau pria itu juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.   'Lera? Tumben telpon. Ada apa?' Lera tidak bisa menahan senyuman terulas dibibirnya saat namanya baru saja dilafalkan oleh laki-laki yang disukainya tersebut. "Urm ... apa kau sudah berangkat ke kampus?" tanyanya malu-malu. 'Belum. Memangnya kenapa?' Senyum di wajah Lera seketika merekah sempurna. "Errrr... aku juga ingin ke kampus, tapi pagi ini aku mendapat masalah dari nenek-ku. Kau tahu, orangtua kadang suka bersikap berlebihan, mobil dan yang lainnya di sita oleh mereka. Kalau kau tidak keberatan, Apa kau menjemputku?" 'Oke, kau di mana?'  Oke? Dia bilang Oke? Rasanya Lera ingin berteriak saat mendengar jawaban Kenan barusan. Otaknya mulai membayangkan dirinya yang nanti akan duduk di jok belakang motor besar Kenan seraya memeluk perut pujaan hatinya itu. Akan ada berapa abs yang terbentuk di perut Kenan? Inner genitnya sedang kumat, wajahnya sudah ber-blushing ria karena imajinasinya itu. "Aku ada di-" Lera terkesiap ketika tiba-tiba saja seseorang merebut handphone miliknya dan dengan sekejap handphone-nya itu berseluncur di trotoar. Demi Tuhan, itu satu-satunya benda yang lolos dari sitaan sang Omah. Handphone kesayangannya kini telah hancur. "APA YANG KAU LAKUKAN, b******k!" amuk Lera, ia hendak meluncurkan tendangan mautnya namun ia kalah cepat, sekarang tubuhnya telah melayang dalam gendongan Bian. "HEY, TURUNKAN AKU!" "Diam atau kucium!" Ancaman yang sangat ampuh. Bian tersenyum puas dengan ketidak berdayaan Lera saat ini. Toloooong ada pria tampan yang menculikku!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD