3. Kejutan untuk Tuan Puteri Manja

1411 Words
Terlahir menjadi anak tunggal di keluarga kaya raya membuat hidup Lera seperti seorang puteri kerajaan. Paras yang cantik dan juga otak cerdas adalah pelengkap kesempurnaan dirinya. Selama ini apapun yang diinginkannya akan selalu dikabulkan oleh sang Ayah tercinta. Seperti apartemen, mobil mewah, dan kartu unlimited yang ia dapatkan dari sang Ayah sangat menjamin kelangsungan hidupnya hingga saat ini. Akan tetapi, seperti yang pepatah katakan bahwa roda selalu berputar. Pagi ini Lera seperti baru saja terbangun dari mimpi indahnya dan dihadapkan dengan kenyataan terburuk dalam hidupnya. Lera terduduk di sisi ranjang, matanya menatap lemari berisi gaun-gaun indah miliknya yang telah dirantai dan digembok besar. Tidak hanya itu, bahkan isi kamarnya sudah kosong. Tidak ada Tv, tidak ada mini kulkas, bahkan meja riasnya sudah bersih dari jejeran make-up mahal miliknya. Oh, Tuhan ... mimpi buruk macam apa ini? Lera kembali memejamkan matanya, berharap saat ia membuka mata kembali maka mimpi buruk sialan ini akan berakhir dan semuanya kembali sediakala. Ya, ini pasti masih dalam dunia mimpi. "Cepat angkut semuanya!" "Baik boss!" Suara siapa itu? Kenapa di luar kamar terdengar berisik sekali? "Pastikan tidak ada yang tersisa kecuali lemari pendingin, sofa dan kompor!" Kening Lera berkerut, kalau ini mimpi, lalu kenapa suara orang-orang itu terdengar begitu jelas di telinganya? Belum lagi kata-kata mereka sangat ambigu. "Oh, Tidak!" Lera terpekik, dia membuka mata sebelum kemudian berlari keluar kamar. "Oh, Tuhan ..." ia menatap sekelilingnya dengan keterkejutan yang sama seperti ia baru membuka mata tadi. Di ruang tengah dan area dapur, Lera dikagetkan dengan keberadaan beberapa pria berbadan besar yang sedang berlalu lalang menjarah semua isi apartemennya tersebut. Seingatnya, ia sama sekali tidak memiliki hutang pada rentenir manapun. Lalu, apa mereka perampok? "Tunggu, apa yang sedang kalian lakukan?" Lera berseru panik saat orang-orang itu mulai mengangkut lemari berisi koleksi DVD dan juga koleksi komik kesayangan miliknya. Salah satu orang berjas hitam yang Lera yakini bahwa dia lah sang atasan dari orang-orang berbadan besar lainnya, saat ini sedang berjalan ke arahnya. Pria itu memberi senyum ramah sebelum akhirnya memberikan sebuah amplop pada Lera. "Maaf, Nona. Anda pasti terkejut dengan kedatangan kami di kediaman anda secara tiba-tiba. Tapi percayalah bahwa kedatangan kami di sini atas perintah Nyonya besar. Dan ini surat yang beliau titipkan untuk anda." Nyonya besar? Lera mengerutkan kening dibarengi dengan mulut yang mengerucut. Apa itu Omah? Lera merasakan bulu kuduknya berdiri saat nama Sinta Estanbelt berseliweran di dalam otaknya. Jika itu benar ulah Omah, maka sudah tamat hidupnya di sini. Memandang amplop yang disodorkan orang suruhan sang Nyonya besar Estan, Lera segera mengambilnya kemudian membuka surat itu dan membacanya. Dear Lera, Maafkan Omah atas kejutan di pagi hari yang tenangmu. Bersama surat ini Omah dan Ayahmu memberitahukan bahwa kami sudah sepakat untuk menyita semua aset yang kau miliki dan kami akan mengembalikan semua aset itu jika kau sudah bisa mengubah kelakuan buruk mu. Datanglah ke kantor Emo untuk meminta pekerjaan jika kau ingin tetap hidup, kami menyayangimu. With love, Omah :* Lera berkedip beberapa kali dan kembali membaca surat itu dengan lebih teliti. Namun setelah 10 kali membacanya, isi suratnya tetap sama. Matanya tidak mungkin salah, dan ia yakin kalau ini bukanlah mimpi. "Cih, menyayangi apanya!" sungut Lera, "kalau mereka menyayangiku, mana mungkin mereka berlaku setega ini!" Lera kembali bersungut setelah memeriksa isi dompetnya yang juga sudah kosong melompong, hanya menyisakan selembar uang seratus ribu. Padahal semalam dia sudah mengambil banyak uang dari kartu ATM sang sepupu dan barang belanjaan semalam juga telah raib. Double sial! . . . Estan Holding Company, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis jasa konstruksi dengan berfokus pada layanan kontraktor utama, layanan rancang dan bangun (Design and Build). Selain itu, EHC juga mengerjakan proyek Joint Operation untuk proyek-proyek yang besar. Pada akhirnya Lera memutuskan untuk datang ke perusahaan yang saat ini dipimpin oleh sang sepupu, Demon Estanbelt. Lera tidak memiliki pilihan lain karena menangis sampai air matanya mengering pun sang Omah tidak akan berubah pikiran. "Nona Lera," seorang sekertaris baru saja menegur Lera saat ia hendak membuka pintu ruang kerja Demon. "Tuan Estan sedang ada tamu. Kalau Nona berkenan, silakan menunggu terlebih dahulu." Apa dia bercanda? Menunggu katanya? Tck, yang benar saja! Lera memberikan death glare terbaiknya pada Geffy, nama sekertaris itu. Cih, menunggu tidak pernah ada dalam kamus Lera disaat kelangsungan hidupnya sedang diujung tanduk seperti saat ini. Persetan dengan tamu di dalam sana. Lera segera menerobos masuk bersamaan dengan suara debum pintu yang cukup keras. "Emo!" teriak Lera, "Omah, Em. Omah menyita seluruh asetku. Kau percaya itu?!" ujarnya masih dengan kekesalan yang menggunung. "Sial, aku kesal sekali! Bagaimana bisa sih Omah melakukan ini padaku, huh?" Lera kembali menyemburkan emosinya. Akan tetapi, melihat bagaimana reaksi Demon yang tidak begitu terkejut membuat Lera tahu bahwa sang sepupu pastinya sudah mengetahui rencana ini. "Kau juga bersekongkol dengan mereka?" tanya Lera tidak percaya, satu-satunya harapan yang ia punya, tameng yang mungkin bisa ia gunakan untuk melawan sang Nenek kini lenyap. Demon menarik sudut bibirnya, ia memberikan tatapan 'Kau harus menyerah, sayang. Ikuti aturan Omah dan kau akan tetap aman.' yang dibalas oleh Lera, 'Jangan bercanda! Aku tidak akan menyerah begitu saja.' "Istrimu?" Suara seseorang berhasil menginterupsi kegiatan dua orang yang sibuk adu tatapan itu. Suara berat ... entah mengapa Lera merasa tidak asing dengan suara orang tersebut, mengingatkannya pada seseorang. Emo berdecak, "Bukan, mana mau aku menikahi gadis manja sepertinya." jawab Demon sebelum menutup berkas yang telah ia tanda tangani. "Dia sepupuku, Lera. Dan Lera, kenalkan, dia Bian, rekan kerjaku." 'Bian? Tck, nama yang cukup manis.' Sebagai bentuk kesopanan, Lera memutuskan untuk menyalami rekan kerja sang sepupu tersebut, namun siapa sangka kalau rekan kerja sepupunya itu adalah pria kurang ajar kemarin siang. Lera menahan napas, ia mulai merasakan asap yang mengepul saat melihat pria itu sedang menyeringai ke arahnya. "Kau! Pria m***m yang mencuri-" Lera tak melanjutkan umpatannya karena di sana ada Demon. Demi Tuhan, Lera tidak mau menambah masalah di saat seperti ini. "Kalian sudah saling mengenal?" tanya Demon seraya menatap dua orang di depannya bergantian. Lera yang sedang mengepalkan kedua tangannya dengan wajah memerah dan Bian yang terlihat senang melihat emosi Lera tak kunjung meledak, maka Demon dapat menyimpulkan sendiri jawabannya. "Ya, kami bertemu kemarin." sahut Bian seraya mengedipkan sebelah matanya pada Lera. Emo mengangguk, "Dan Lera, apa yang sudah Bian curi darimu?" Ciuman pertamaku! Ciuman yang telah aku jaga selama 21 tahun aku hidup. Ciuman yang akan aku persembahkan untuk Kenan pujaan hatiku tapi sayang telah dicuri oleh si b******k itu! Ya, rasanya Lera ingin menyerukan hal itu, akan tetapi ia tidak bisa, "Tidak ada." jawab Lera kemudian. Lera tidak sudi menceritakan kejadian memalukan kemarin pada Emo. Belum lagi kejadian itu berlangsung di depan Erry, putra tersayang sepupunya tersebut. Lera akan terkena masalah jika Emo mengetahui hal itu. "Emo, aku ingin posisi yang bagus di perusahaan. Dan aku akan mulai bekerja besok pagi karena hari ini aku harus pergi menemui dosen pembimbingku." ucap Lera serius. Demon menyisir rambut dengan jemari panjangnya. Suatu kebiasaan disaat dia sedang gugup atau tertekan. "Hn, Omah sudah memberikan rekomendasi khusus untuk posisi yang akan kau tempati." Lera tersenyum senang. Ternyata Neneknya tidak terlalu jahat juga. "Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu. Silakan lanjutkan rapat kalian yang tertunda." Sebelum berbalik dan melenggang pergi, Lera sekali lagi menatap Bian untuk yang terakhir kalinya. Hatinya berdoa, semoga dia tidak akan lagi bertemu atau berurusan dengan pria menyebalkan itu. "Bad impression, huh?" ujar Emo setelah kepergian Lera dari ruangannya. "Bukankah seseorang akan selalu memikirkan kita karena keburukannya?" jawab Bian dengan kekehan kecil. Gadis yang kemarin ia temui di taman rupanya salah satu keturunan Estanbelt. Mengetahui hal itu membuat Bian mendapatkan peluang yang sangat tidak terduga. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Bian menyeringai saat sebuah ide muncul di kepalanya. "Mr. Estan, bagaimana kalau sepupu anda bekerja di perusahaan saya? Bukankah bekerja di perusahaan orang lain jauh lebih efektif untuk membentuk pribadinya daripada bekerja di perusahaan keluarga sendiri yang saya yakin bahwa dia akan tetap bersikap tidak dewasa?" Demon terdiam, ia sedang memikirkan tawaran rekan bisnisnya barusan. Jika menilik sifat seenak jidat dan manjanya Lera, ucapan Bian ada benarnya juga. Demon juga bisa membayangkan apa yang akan Lera lakukan di sini, yang pasti gadis itu tidak mungkin akan bekerja, tapi merengek sepanjang waktu padanya. "Aku akan membicarakan hal ini dengan Nenek kami terlebih dahulu. Nanti akan aku kabari lagi jika beliau setuju untuk mengirim Lera ke perusahaan mu." ungkapnya seraya menyerahkan map berisi dokumen yang telah ia tanda tangani. Bian tersenyum, "Aku akan menunggu kabar baik itu." ucapnya kemudian menyalami Emo dan pamit undur diri."I got you, Lera."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD