2. Rahasia

1013 Words
Lera mematung di tempatnya kala mendapat hadiah dari sang sepupu. Astaga, ini sangat tidak bisa dipercaya. Ia sekali lagi memandang Emo di sofa yang sedang sibuk menyuapi Erry makan dengan telaten. "Ini bukan jebakan, kan?" Lera memberikan tatapan menyelidik. Oh, ayolah, dia Demon Estanbelt, sosok yang kejamnya satu dua dengan lucifer itu mana mungkin memberikan satu Credit Card Platinumnya dengan cuma-cuma begini kalau tidak ada hal yang dia rencanakan. Gerakan tangan Demon yang membawa sendok berhenti tepat di depan mulut Erry, ia melirik Lera dari sudut matanya. "Kalau kau tidak mau ya sudah, letakkan saja di atas meja."  Lera ingin tersenyum lebar, namun dia harus menjaga ekspresinya agar tidak terlihat terlalu senang. "Kalau kau memaksa ya sudah, kau tahu sendiri aku tipe orang yang tidak bisa menolak kalau sudah dipaksa." ucapnya dengan suara dibuat sepasrah mungkin, seolah dia memang dipaksa untuk mengambil Credit Card itu untuk menemaninya berkeliling mall. Saat memgalihkan tatapan pada Erry, bocah itu ternyata menatapnya balik dengan tatapan jahil. Kedut dibibirnya membuat Lera tahu kalau dia akan berbicara pada ayahnya. Oh, tidak! Jangan bilang bocah itu akan mengatakan apa yang terjadi di taman siang tadi? "Ayah, saat di taman tadi Tante Lera-"   "Erry!" Lera segera menginterupsi, ia tidak mau CC yang didapatkan dengan cuma-cuma ini kembali disita oleh Emo. "Kau mau mainan Lego-kan? Mau ikut dengan Tante berbelanja?" ujar Lera tidak begitu yakin. "Dia sedang makan, Lera. Pergi saja sendiri sana!" ketus Demon sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat pengusiran. Lera menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak mengumpat. Dalam hatinya yang paling dalam, maunya juga pergi ke mall sendiri, memangnya siapa yang mau mengajak anak ingusan pergi berbelanja huh? Sangat merepotkan dan membuang-buang waktu. Tapi masalahnya, kalau ia tidak mengajak Erry maka akan ada bencana besar. Mulut anak-anak sangat tidak bisa dijaga dan dipercaya! Tidak, tidak, tidak! Lera tidak bisa mempercayai mulut anak kecil. Erry itu antara polos dan jail. Kalau dia menceritakan kejadian dimana dia dicium oleh pria asing maka tamatlah riwayatnya. Emo pasti akan membunuhnya karena sudah memberikan contoh buruk di depan anak kesayangannya itu. "Erry tidak mau Lego, Erry ingin main ke timezone." Timezone? Oh, Tuhan ... ini pilihan yang sulit. Benar-benar sulit!  Lera pernah sekali menemani Erry bermain di timezone dan itu bukan satu sampai dua jam, anak itu menghabiskan waktunya sejak siang sampai sore. Dan bahkan Ery sempat mengamuk tidak mau pulang. Oke, mari buat perjanjian sejak awal dengan anak ingusan ini. "Hanya 1 jam, oke?" tawar Lera. "Dua jam." Dua jam? Lera menatap bocah itu tidak percaya, "Deal!" Anak lelaki itu lekas tersenyum, dia meloncat turun dari sofa dan mulai merengek pada ayahnya. "Ayah ... Erry ingin main dengan Tante Lera." Emo mendelik kesal ada Lera, akan tetapi dia tidak akan bisa berkutik karena Erry sedang melayangkan tatapan memelas padanya. "Jangan pulang terlalu malam, besok kau harus berangkat sekolah." "Horeeee!" Lera tersenyum. Kelangsungan hidupnya akan tetap aman, setidaknya untuk saat ini. "Dan Lera," suara Emo menginterupsi puji syukur yang sedang Lera panjatkan pada Tuhan. "Belanjalah sesuatu yang bermanfaat." ujar pria itu. "Tentu saja Emo," jawab Lera kemudian menggandeng Erry pergi. Emo menyandarkan kepalanya di kepala sofa, kedua matanya terpejam. Besok dia akan mendapat badai besar. Keputusan yang dibuat Nenek mereka memang sangat baik, tapi itu akan membuatnya kerepotan. Selain Erry, nanti akan bertambah satu lagi orang yang merengek padanya seperti bayi. . . . "Ini, ini juga!" Lera sudah memilih beberapa gaun, tapi matanya masih saja sibuk bergeril ya. "Kenapa mereka terlihat lucu semua sih?" gerutunya pada gaun-gaun yang digunakan oleh maneqin-maneqin. "Kalau aku ambil beberapa baju lagi, Emo akan mengamuk karena tagihan kartu kreditnya akan membengkak bulan depan." Lera kembali bermonolog. "Ada tambahan lagi, Nona?" seorang pramuniaga bertenya, senyum palsu tercetak dibibirnya. Lera mengangguk, untuk yang kesekian kalinya ia meneguhkan hati bahwa dia akan meninggalkan gaun-gaun itu tetap di sini. "Kapan Erry main, Tante?"  Astaga ...  Seakan baru saja sadar dari alam mimpi, Lera cukup kaget saat menyadari bahwa ada Erry bersamanya. "Setelah ini ya, sayang."  Anak lelaki itu mengerucutkan bibirnya, tatapannya menyampaikan bahwa dia sama sekali tidak percaya alias ragu karena dua puluh menit yang lalu juga tantenya mengatakan hal itu tapi kenyataannya setiap ada toko baju, sepatu atau tas, tantenya tersebut akan mengatakan, "Sebentar saja ya, Tante mau lihat ada barang terbaru soalnya." "Janji?" dan Erry memutuskan untuk membuat pink swear. Lera mendengkus, dengan berat hati ia mengulurkan jari kelingkingnya yang kemudian ia tautkan dengan jari kelingking Erry. "Iya, janji deh." "Oke, Lets go!" . . . Ruangan yang biasanya damai kali ini begitu tegang. Seorang wanita tua sedang dibuk menarikan pena di atas kertas putih, sedangkan pria di seberang sofa hanya bisa duduk pasrah. "Ibu melakukan ini bukan karena membenci Lera." ucap wanita itu seraya melirik sang menantu yang terlihat begitu sedih. Tumbuh besar tanpa seorang Ibu membuat semua orang menaruh perhatian berlebihan pada Lera. namun Sinta maupun Aditama tidak memperkirakan efek sampingnya. Lera jadi terlalu manja, segala keinginannya selalu harus terpenuhi, menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting dan pergi ke salon sudah seperti kebutuhan hidupnya, hal itu membuat kepala Sinta ingin meledak setiap harinya. "Kau tahu kita sudah terlalu jauh dan terlalu lama memanjakan Lera. dia sudah besar Adi, dia harus berubah. Dia harus belajar mandiri mulai dari sekarang." Aditama menghela napas, "Apapun yang Ibu lakukan akan saya dukung jika itu bertujuan baik untuk putri saya." Sinta telah selesai menulis, ia memasukkan kertas putih itu ke dalam sebuah amplop yang kemudian ia berikan pada orang suruhannya. "Kita sudah sepakat untuk melakukan operasi ini saat Lera tidur. Atm, mobil dan barang-barang yang mendukung sifat manjanya harus disita. Ibu hanya akan memberikan uang tunai 100 ribu per minggu untuk menunjang hidupnya. Selain itu Ibu akan menyuruhnya untuk bekerja di perusahaan. Jangan tersinggung, Adi. Ibu akan menempatkan Lera dibagian cleaning service. Hal itu Ibu lakukan agar dia bisa melakukan pekerjaan rumah." Aditama meneguk ludah saat mendengar penjelasan Ibu mertuanya. Lera, putri semata wayangnya, calon pewaris Aditama group akan bekerja sebagai cleaning service mulai besok? Adi meneguhkan hati, dia akan mematikan ponselnya sampai jangka waktu yang tidak bisa ditentukan untuk menghindari rengekan maut putrinya nanti. 'Ayah melakukan ini karena Ayah menyayangimu, Nak. Maafkan Ayah.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD