Kau Seperti Dondurma

1090 Words
Marvel dan Deavenny sudah mengantri di depan outlet dondurma, es krim khas Turki. Banyak pengunjung yang mengerumuni outlet tersebut. mereka bukan sekedar ingin membeli saja tapi juga melihat aksi yang ditunjukkan oleh penjaga outlet dondurma itu. Marvel sengaja mengajak Deavenny ke sana karena ia penasaran. Bagaimana bisa si penjual es krim mengecoh pembelinya. "Mereka niat berjualan atau tidak? Orang ingin beli tapi dipermainkan seperti itu," keluh Deavenny memberikan komentar. Ia ikut gemas saat es krim tak juga di tangan pembeli, justru di putar-putar yang membuatnya ikut pusing melihatnya. Marvel terkekeh dengan ocehan Deavenny. "Itu daya tarik es krim ini. Aku justru penasaran dengan trik mereka untuk mengecoh pembeli," sahutnya. "Kenapa penasaran? Aku justru akan kesal jika diperlakukan seperti itu. Kita kan membayar dengan uang dan ingin menikmati es krimnya, tapi harus dibuat pusing dengan penjualnya." Deavenny justru heran dengan sepupunya itu, hal yang sangat mudah tapi diperumit saja disenangi. "Dan anehnya, banyak juga yang mau mengantri untuk membelinya," imbuh Deavenny seraya berdecak dan kepalanya bergeleng. "Itu namanya trik marketing. Mereka selain menjual es krim, juga menyuguhkan sebuah aksi yang unik, sehingga banyak orang yang penasaran. Termasuk aku," jelas Marvel mencoba memberitahukan pada Deavenny tentang dondurma. "Astaga ... jika bukan kau yang menginginkan es krim ini, pasti aku sudah kabur membeli gelato," kelakar Deavenny. Ia menyandarkan kepalanya di lengan Marvel, pusing sekali matanya melihat es krim yang diputar-putar tak jelas untuk mengecoh pembeli. Tangan kanan Marvel terangkat, ia menepuk lalu mengelus rambut sepupunya. "Kau itu seperti dondurma, unik," gumamnya. Dua sudut bibirnya terangkat bersamaan. "Ha? Tak maulah aku disamakan dengan es krim yang memusingkan itu," protes Deavenny yang mendengar suara Marvel. Ia menjauhkan kepalanya dari lengan sepupunya dan sedikit mendongak ke atas menatap wajah tampan dengan bulu halus itu. "Lagi pula, kenapa kau mengatakan aku unik seperti dondurma? Kembaranku saja suka menyebutku bodoh," tanyanya penasaran. Sulitnya menjadi pria tinggi, ia harus sedikit menundukkan kepalanya agar sejajar dengan Deavenny. Kasian juga jika sepupunya itu sakit lehernya karena terlalu lama mendongak. Pasti satu keluarga Dominique akan heboh karena anak bungsu itu sakit. "Karena dondurma itu tak mudah meleleh, membuat penjualnya dengan mudah melakukan pertunjukannya, dan pembelinya pun banyak yang rela mengantri untuk es krim yang unik itu walaupun ada juga yang memilih pergi. Sama seperti dirimu. Sekeras apa pun aku menolak, kau tetap bertahan dengan perasaanmu yang tak pernah goyah," ungkap Marvel menyampaikan pemikirannya. "Apakah itu artinya kau mencintaiku? Karena kau selalu berada di sisiku," tanya Deavenny memastikan. Dari bahasa yang disampaikan oleh Marvel tentang es krim dondurma itu seperti mengarah ke sana. "Maksudku, kau akan banyak yang menyukai, walaupun itu bukan diriku. Kau tahu sendiri, kan? Keluarga kita sangat dekat," balas Marvel meluruskan. "Yah ... aku pikir, tadi adalah ungkapan cinta darimu," desah Deavenny sedikit kecewa. Tapi tak apa, selagi tempat catatan sipil belum ada nama Marvel menikah dengan wanita lain, dia tak akan lelah untuk berjuang. Keduanya pun kembali menunggu mendapatkan giliran. Beberapa kali Deavenny menguap. Ia juga menggerak-gerakkan kakinya karena pegal berdiri. Hingga dua jam berlalu, akhirnya mereka dapat juga es krim yang membuat Deavenny kesal. Kesal karena dia menjadi korban keisengan penjual dondurma. "Huft ... untung es krim nya enak. Kalau tidak, aku akan menyuruh Daddyku untuk membeli seluruh outletnya agar mereka tak berjualan lagi," kelakar Deavenny yang saat ini tengah duduk berdampingan dengan Marvel. Setelah mendapatkan yang mereka beli, ia langsung mengajak Marvel untuk duduk. Meskipun bibirnya kesal, tapi tetap saja memakan dondurma itu hingga habis. "Tidak boleh seperti itu. Menutup mata pencaharian orang lain itu tak baik. Dan menyalahgunakan kekuasaan yang kita miliki itu juga tak patut dilakukan," nasihat Marvel sangat lembut. Deavenny menyengir. "Aku kan hanya bercanda," ungkapnya jujur. Dia memang tak sungguh-sungguh dengan pernyataannya, dirinya juga memiliki hati yang tak tegaan. Tapi masalah kekesalannya dengan sang penjualnya, nyata ia rasakan. Marvel berdiri dari duduknya saat melihat ada wanita yang sudah tua kebingungan mencari tempat duduk. "Di sini saja, Nyonya," ia menunjuk tempatnya tadi. "Terima kasih." Wanita itu pun duduk di samping Deavenny. Ia menunggu anaknya yang tengah membelikannya makanan. Deavenny tersenyum melihat Marvel yang sangat peduli dengan sekitarnya. Ia memegangi salah satu tangan Marvel yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. Sedangkan tangan satunya tetap memukuli kakinya yang terasa pegal akibat terlalu lama berdiri. Marvel yang melihat Deavenny melakukan kekerasan terhadap diri sendiri itu pun berjongkok dengan lutut sebelah kanannya menyentuh aspal. Ia melihat Deavenny terlalu keras memukul kaki. "Lelah?" Marvel memijat betis Deavenny dengan lembut. "Kita pulang saja, ya? Daripada Daddymu mengomel jika melihatmu seperti ini," ajaknya. Deavenny mengangguk. "Boleh." Marvel pun berdiri, dia mengatungkan tangannya di hadapan Deavenny untuk membantu sepupunya berdiri. "Ayo." Saat Deavenny menyatukan tangannya dengan Marvel. Wanita tua yang tadi duduk di sampingnya itu tiba-tiba berbicara. "Kalian sepasang kekasih? Sangat cocok." "Inginku seperti itu." Deavenny langsung menyahut antusias. Namun Marvel buru-buru meluruskan. "Bukan, dia sepupuku." "Oh ... aku pikir kalian ada hubungan spesial, karena dari penglihatanku, kalian berdua sangat manis menjadi sepasang," balas wanita tua itu. "Aku juga ingin seperti itu. Bahkan, kalau bisa sampai kami menikah," seloroh Deavenny dengan bangga ia menyampaikannya. Marvel pun segera menarik tangan Deavenny, tidak terlalu kasar. Ia hanya ingin menuntun sepupunya agar berjalan dan tidak berbicara melantur dengan orang lain. Keduanya kembali membelah jalanan ibu kota negara Finlandia itu pada teriknya sinar matahari di musim panas. Sementara itu, kekasih Marvel masih setia menunggu di apartemennya. Ia sudah berpakaian rapi. Duduk di sofa ruang santainya dan terus menatap ponselnya. Berharap ada panggilan dari sang kekasih hati. "Apakah Deavenny memiliki masalah yang serius? Sehingga kau tak bisa menghubungiku sebentar saja? Sekedar memberi kabar," gumamnya. Kekasih Marvel sengaja bersiap agar saat urusan Marvel selesai dan pria itu datang menjemputnya, ia tak harus membuat sang pujaan hati menunggunya lama untuk berdandan. Tapi nyatanya, sudah dua jam setengah dia menunggu seperti orang bodoh. "Apa aku menghubunginya saja? Mungkin dia lupa," cetusnya. Ia pun meraih ponselnya dan mencoba menelepon Marvel. Namun tak juga diangkat. Akhirnya, ia mengirimkan pesan pada kekasihnya itu untuk menanyakan tentang janji mereka jadi dilaksanakan atau tidak. Jika tidak, ia akan berganti pakaian santai dan tak menunggu lagi. Sedangkan orang yang dihubungi masih fokus mengendarai motor dengan Deavenny memeluk dirinya. "Kita jalan-jalan dulu, ya? Keliling Kota Helsinki saja," pinta Deavenny. Ia masih ingin berlama-lama di atas motor bersama Marvel, karena ia bisa lebih dekat dengan pujaan hatinya. Bahkan, tak akan ada yang mengomelinya saat ia sedekat itu hingga tanpa jarak bersama sepupunya. "Iya." Lagi-lagi Marvel menuruti permintaan sepupunya. Ia melihat ekspresi Deavenny dari kaca spionnya yang memperlihatkan raut kesenangan. "Astaga ... kau itu manis sekali, hanya hal kecil seperti ini saja sudah bahagia," gumam Marvel sangat lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD