Matahari masih sangat terik di musim panas seperti saat ini, Marvel menuruti permintaan Deavenny yang ingin keliling Kota Helsinki. Tanpa rasa lelah, hanya perasaan bahagia yang ditularkan dari keceriaan Deavenny menyeruak di dalam hatinya. Ia menikmati perannya sebagai sepupu yang baik. Ia juga sudah mengajak Deavenny untuk makan siang karena perutnya sangat lapar.
Marvel pun melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Pulang, ya? Waktu yang diberikan Daddymu untuk bermain tanpa pantauan bodyguardmu sudah habis," ajaknya. Tangan kirinya ia lepaskan dari kemudi kendaraan roda dua itu untuk mengelus tangan Deavenny yang setia melingkar di perutnya.
Daddy Davis hanya memberikan waktu selama empat jam untuk Deavenny keluar bersama Marvel tanpa pengawasan. Bukannya ia tak percaya pada keponakannya itu, tapi ia tak ingin ada sesuatu hal lain yang kemungkinan bisa terjadi jika terlalu lama dibiarkan pergi berdua.
"Hm ...." Deavenny mengangguk menyetujui. Lagi pula, ia belum tidur siang juga.
"Kau mau pulang ke mana?" tanya Marvel sedikit berteriak. Suara kendaraan yang berlalu lalang di jalan dan juga hembusan angin itu membuatnya kesulitan berbicara dengan intonasi seperti biasa.
"Apartemenmu, boleh?" tawar Deavenny. Dagunya masih setia menempel di pundak Marvel.
Kepala Marvel sedikit menengok ke kiri, ia membenturkan pelan helmnya dengan pelindung kepala Deavenny, lalu kembali fokus ke depan. "Itu sih maumu. Maksudku, mau ku antar ke mansion Danesh atau mansion Dominique?" Ia pun meluruskan pertanyaannya tadi yang mungkin kurang jelas untuk Deavenny.
Deavenny terkekeh. "Aku masih belum rela berpisah denganmu." Ia semakin mengeratkan pelukannya dengan Marvel.
Kaki dan tangan Marvel bersamaan menekan rem saat lampu merah menyala. Marvel sedikit memiringkan duduknya hingga ia bisa melihat wajah Deavenny.
"Masih ada hari esok, daripada kau tak diizinkan lagi keluar berdua bersamaku jika melanggar aturan Daddymu," tutur Marvel membujuk Deavenny agar mau pulang. Tangan kanannya mengelus helm yang membungkus kepala sepupunya itu.
Dan, senyuman Marvel dengan pandangan mata yang menyejukkan serta mendebarkan hati itu mampu membuat Deavenny mengalah untuk pulang. "Ke mansion Danesh saja. Keluargaku pasti masih di sana," ucapnya.
Deavenny tak ingin terjadi seperti yang dikatakan oleh Marvel jika melanggar aturan Daddy Davis. Ia tak ingin dilarang bertemu Marvel. Bisa hampa hari-harinya tanpa sepupunya itu.
Roda dua itu mulai berputar lagi menuju kediaman anak pertama keluarga Dominique. Marvel melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, karena ia juga tak ingin melanggar yang sudah dikatakan oleh pamannya. Ia tak ingin dianggap ingkar janji dan tak dipercaya lagi oleh Daddy Davis untuk menjaga Deavenny.
Hanya sepuluh menit, Deavenny dan Marvel sudah sampai di tempat tujuannya.
"Deavenny, ayo turun," ajak Marvel. Sudah dua menit motornya berhenti, namun sepupunya masih saja memeluk dan menyandarkan kepalanya.
Tak ada jawaban dari wanita yang duduk di belakang Marvel itu. Ia pun menengok untuk melihat lawan bicaranya. Dan, dirinya bergeleng kepala dengan bibirnya tersenyum.
"Ternyata sedari tadi kau tidur, pantas saja tak mengajakku mengobrol lagi," gumam Marvel. Ia sangat gemas dengan Deavenny. Rasanya ingin mencubit hidung atau pipi wanita itu, namun ia urungkan. Takut membangunkan sepupunya.
Marvel pun melepas helmnya dan diletakkan ke atas spion. Lalu, ia mengurai tangan Deavenny yang melingkar di tubuhnya. Ia turun dari motor seraya tangannya mencoba untuk menahan tubuh Deavenny agar tak terjatuh.
Setelah berhasil berdiri dengan menopang beban tubuh Deavenny. Badan wanita itu Marvel sandarkan di perutnya, karena dirinya yang tinggi membuat Deavenny ketika duduk di motor hanya sebatas bagian tubuh berotot enam cetakan sexy itu. Sedangkan kedua tangannya mencoba melepaskan helm yang melindungi kepala sepupunya.
Pria jangkung itu tak ingin membangunkan Deavenny. Marvel pun memilih untuk menggendong wanita yang sepertinya sangat pulas tidurnya, karena ada dengkuran halus yang keluar dari bibir Deavenny.
"Kenapa dia?" Daddy Davis melihat Marvel menggendong putri satu-satunya itu langsung meninggikan suaranya. Ia mendekati keponakannya yang berhenti di ruang keluarga karena mendengar suaranya. Ia mengurungkan niat untuk bermain bersama cucunya di taman. Matanya sudah melotot menatap Marvel.
"Dia ketiduran, uncle," balas Marvel dengan sopan.
Daddy Davis melihat jam tangan, lalu beralih menatap Marvel. "Kau ajak ke mana dia? Sampai terlambat pulang sepuluh menit dari jadwal tidur siangnya," cecarnya.
"Maaf, uncle. Biarkan aku menidurkan Deavenny dulu. Nanti aku akan menjelaskannya padamu," pinta Marvel. Dia bukannya tak kuat menggendong Deavenny dalam waktu yang lama, tapi ia kasihan jika tidur sepupunya tak nyaman.
"Biar aku saja." Daddy Davis merentangkan kedua tangannya untuk mengambil alih putrinya.
Marvel tak bisa membantah pamannya. Ia pun memindahkan Deavenny ke gendongan Daddy Davis.
Tepat saat tubuh Deavenny berpindah, wanita itu membuka matanya. "Daddy ...," gerutunya. Ia mencebikkan bibirnya. "Turunkan aku," pintanya.
"Kau pura-pura tidur?" Daddy Davis menurunkan putrinya itu seraya matanya menatap Deavenny curiga.
Deavenny berdecak. "Tadinya aku ingin tidur sungguhan, tapi mana bisa aku ke alam mimpi jika di atas motor," balasnya. "Jadi aku akting saja agar digendong Marvel," imbuhnya berseloroh. Ia menunjukkan rantetan gigi putihnya kepada Daddynya dan Marvel, serta tangannya membentuk huruf v.
Marvel terkekeh dengan tingkah Deavenny, kepalanya pun bergeleng pelan. Di matanya, itu sangat lucu. Ia ingin mengacak-acak rambut sepupunya itu, tapi diurungkan saat pamannya semakin menatapnya tajam.
"Kau naik motor? Kenapa tak naik mobil? Bagaimana jika kalian jatuh?" Daddy Davis mengomeli Deavenny karena ia takut putrinya akan terluka. Ia memegang pundak Deavenny dan berjalan memutari tubuh kurus itu untuk melihat setiap inchi hasil karyanya dengan sang istri.
"Aku baik-baik saja, Dad. Marvel menjagaku sesuai janjinya padamu," ucap Deavenny yang masih melihat Daddynya berputar di sekitarnya. "Stop, Dad. Aku pusing," pintanya.
Daddy Davis pun menghentikan langkah kakinya. Tangannya memegang dagunya. "Oke, masih utuh," kelakarnya.
"Tentu saja, aku kan dijaga oleh Marvel." Deavenny pun membanggakan sepupunya agar Marvel tak mendapatkan omelan dari Daddynya.
Namun, Daddy Davis tetap belum puas karena waktu yang ia berikan dilanggar sepuluh menit. "Kau ajak putriku ke mana saja?" Ia mencoba menginterogasi keponakannya.
Marvel menatap sebentar Deavenny yang sedang tersenyum kepadanya. Ia paham dengan isyarat itu, ia seolah memiliki ikatan batin pikiran dengan sepupunya yang memintanya agar tak mengatakan tentang menolong mencarikan dompet Deavenny.
"Aku hanya mengajaknya berkeliling Kota Helsinki dan makan disuatu tempat yang sangat terkenal," ucap Marvel. Ia tak mengatakan bahwa tempat itu adalah surganya street food yang belum terpercaya kandungan gizi dan kebersihannya.
Marvel tak sepenuhnya berbohong, memang tempat itu sangat terkenal bagi penduduk Finlandia. Ia tahu sebenarnya sudah melanggar aturan makan Deavenny. Tapi, ia sangat kasihan dengan sepupunya yang terlihat ingin mencoba hidup layaknya warga biasa. Sehingga, ia meyakini Deavenny akan baik-baik saja jika tak sering jajan sembarangan. Lagi pula, ini baru yang kedua kalinya.
Daddy Davis menangkap tempat itu dengan restoran yang mahal dan terkenal. Ia bisa lega jika putrinya tak makan hidangan yang sembarangan. Karena ia tahu betul bagaimana kondisi putrinya itu yang sedari kecil sudah dikontrol gizi makanannya.