Permintaan Maaf Marvel

1003 Words
Deavenny bergelayut manja di lengan Daddynya. Ia tak ingin Marvel dimarahi akibat menuruti keinginannya. "Daddy, lapar," rengeknya. Ia mencoba mengalihkan perhatian Daddynya yang masih menatap tajam pria pujaan hatinya. Daddy Davis mengernyit dan mengalihkan pandangannya menjadi menatap putrinya. "Bukankah kau baru saja makan bersama Marvel?" tanyanya heran. Deavenny memutar bola matanya mencari alasan lain. "Iya, tapi sudah lapar. Aku ingin makan masakan Daddy. Buatkan aku mac and cheese seperti biasanya, ya?" pintanya dengan merengek. Daddy Davis yang tadinya ingin mengomeli keponakannya karena membawa putrinya keluar menggunakan motor itu pun mengurungkan niatnya. Sifat manja putrinya membuatnya luluh dan meruntuhkan segala kecemasannya. Ia sangat senang putrinya seperti itu, sebab ia belum rela jika putri kesayangannya akan berubah seperti tiga anak-anaknya yang sudah tak membutuhkan dirinya lagi karena terlalu mandiri. "Oke, Deavenny, putri Daddy yang paling manja." Daddy Davis pun menyetujui. Ia mengecup kening putrinya sekilas. Lalu kembali menatap Marvel. "Kau, pulanglah. Terima kasih sudah menemani putriku jalan-jalan," usirnya pada keponakannya.  Namun, kornea Daddy Davis mencoba mendalami tatapan mata Marvel pada anaknya itu. Ia tak ingin gegabah menyimpulkan seperti Delavar. Tapi ia tak sabar menunggu hari esok untuk bersama-sama menyidang keponakannya. Marvel menganggukkan kepalanya. "Oke, aku pamit dulu. Maaf karena terlambat mengantarkan putri kesayanganmu, uncle," ucapnya sopan. "Hm ... pergilah, sekarang waktuku untuk berdua bersama putriku." Daddy Davis pun mengibaskan tangannya agar Marvel meninggalkan kediaman putranya. "Aku pulang dulu, Dea. Semoga harimu menyenangkan," pamit Marvel pada sepupunya. Ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat dan mengayunkan kakinya menuju pintu. Daddy Davis yang melihat keponakannya mengarah keluar pun ikut berbalik untuk ke arah dapur. "Kau mau bantu Daddy memasak?" tanyanya pada Deavenny sebelum kakinya melangkah. Deavenny menggoyangkan telunjuk kanannya. "Aku terima jadi saja, Dad. Aku akan memberimu semangat," jawabnya. Ia pun sedikit menjinjit dan mengecup pipi Daddy Davis. Tangan yang sudah sedikit keriput itu membelai rambut putrinya. "Daddy pasti merindukanmu yang seperti ini jika suatu saat kau beranjak dewasa." Ia meninggalkan putrinya sendiri dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak makan siang Deavenny. Wanita berambut pirang itu langsung berlari keluar menyusul Marvel setelah Daddynya meninggalkan dirinya. Untung saja pujaan hatinya belum menancap gas. Ia sampai di depan dengan napas terengah-engah. "Kenapa?" tanya Marvel. Ia baru saja menaiki motornya dan memakai helm. Tiga puluh detik saja Deavenny datang terlambat, pasti tak akan bertemu dengan Marvel karena pria itu sudah siap akan menarik tuas gas. Cup! Bukannya menjawab, Deavenny justru mengecup bibir Marvel. Ia pun tersenyum dengan rentetan gigi putihnya yang terlihat. "Terima kasih untuk hari ini, suami masa depanku." Ia pun langsung mengambil langkah seribu untuk masuk ke dalam mansion karena pipinya merona akibat malu sudah lancang menempelkan bibirnya dengan milik Marvel. Marvel menatap kepergian Deavenny dengan bibirnya yang tersenyum. "Ciuman pertamaku." Ia memegang bibirnya yang masih ingat betul bagaimana rasa kecupan itu. Itu adalah kali pertama bibir Marvel bertemu dengan milik seorang wanita. Bahkan, ia belum pernah melakukannya dengan sang kekasih. Ia hanya berpelukan, tidur satu ranjang, dan cium pun sebatas kening atau puncak kepala saja. Ia belum berani melakukan hal yang melebihi batas. Bukannya tak ingin, tapi ia selalu terlintas wajah seseorang jika akan melakukan perbuatan itu.  Karena Marvel sudah pernah hendak mencoba melakukannya, namun berhenti belum ada seperempat jalan. Hasratnya tak keluar saat bersama kekasihnya. Ia juga tak paham mengapa bisa seperti itu. Mengingat kekasihnya, Marvel menghentikan motornya di pinggir jalan. Ia lupa jika memiliki janji kencan. Ia pun mengambil ponselnya yang sedari tadi dimode senyap olehnya. "Ternyata dia menghubungiku hingga dua puluh kali," gumam Marvel saat melihat notifikasi panggilan tak terjawab dan lima pesan dari kekasihnya. Jempolnya menyentuh layar untuk membuka ponsel, ia membaca chat dari sang kekasih. Marvel balik menelpon kekasihnya untuk menanyakan keberadaan. Namun tak tersambung. Ia pun memilih untuk pergi ke apartemen yang tadi pagi ia tinggalkan. Kaki jenjang itu berjalan cepat menuju lantai di mana unit apartemen kekasihnya berada. Ia memasukkan pin pengaman pintu itu. Tubuh Marvel mematung saat melihat kekasihnya tertidur di ruang santai dengan rok pendek berwarna hijau pastel dan baju bergaya crop top berlengan panjang yang senada dengan bawahannya. Ada perasaan bersalah pada wanita itu. Ia pun melangkah masuk ke dalam dan menutup pintu perlahan agar tak berisik. "Sepertinya dia menungguku," gumam Marvel. "Bahkan dia sudah berdandan rapi," lanjutnya. Kaki Marvel semakin mendekati kekasihnya yang menelungkup dengan kedua tangan sebagai bantalan. Ia merendahkan tubuhnya dengan berjongkok di samping sang kekasih. Tangan Marvel menyibakkan rambut yang menutupi wajah anggun milik sang kekasih. Ia membelai dengan lembut. "Maaf, aku sungguh tak bisa menolak permintaan Deavenny," sesalnya. Bibirnya mendarat di puncak kepala kekasihnya memberikan kecupan. "Engh ...." Kekasih Marvel itu melenguh. Ia mengerjapkan mata karena tidurnya terganggu. Tubuhnya ia tegakkan untuk duduk normal. "Kau sudah datang?" Wanita itu tetap mencoba tersenyum walaupun sedikit kecewa. "Iya. Maafkan aku yang pergi tanpa pamit." Marvel mengelus pipi kekasihnya, sangat lembut sentuhan itu hingga membuat hati wanitanya menghangat. "Hm ... tak apa. Pasti urusanmu sangat penting," balas kekasih Marvel lembut. "Kau sudah makan?" tanyanya kemudian. "Sudah," jawab Marvel singkat. Helaan napas keluar dari bibir tipis milik kekasih Marvel. Empat jam lebih ia menahan lapar demi menunggu kekasihnya agar ia bisa makan bersama dengan sang kekasih. Tapi ternyata Marvel sudah mengisi perut. Kekasih Marvel itu tetap mencoba tersenyum. Walaupun hatinya merasakan kekecewaan, tapi dia bisa apa. Dia sadar diri bukan siapa-siapa. Hanya sebatas kekasih yang belum ada ikatan pernikahan. Tubuh sintal itu berdiri. Ia masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Dirinya memilih untuk berganti pakaian santai. Marvel menghela napasnya kasar, ia mengusap wajahnya sendiri. Ia ikut berdiri dan duduk di sofa menunggu kekasihnya keluar. "Kita tak jadi pergi? Kenapa kau berganti pakaian santai?" tanya Marvel saat melihat kekasihnya keluar kamar. "Tidak, kau kan sudah makan. Dan tujuan kita kan ke festival kuliner. Tak nyaman jika aku makan sendirian di sana, sedangkan kau tidak," jawab kekasih Marvel. Kakinya menuntun tubuhnya untuk ke dapur. Ia membuka lemari penyimpan, mencari mie instan untuk dia masak. Marvel bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke dapur dan menyandarkan sebagian tubuhnya di meja yang bisa menatap kekasihnya. "Maafkan aku. Maukah kau memaafkan pria yang selalu membuatmu kecewa ini?" ucapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD