Setelah membayar seluruh barang belanjaannya, kekasih Marvel yang sering dipanggil Debora oleh pria jangkung itu sudah menunggu Marvel di tempat parkir. Ia tak mendengar ataupun berniat menguping pembicaraan antara Marvel dan Delavar, karena ia tak suka mencampuri urusan orang lain yang bukan kepentingannya.
Namun, karena sang kekasih tak kunjung menyusulnya. Setelah dua puluh menit dirinya menunggu di samping mobil Tesla berwarna abu-abu, ia memutuskan pergi ke toilet yang ada di pusat perbelanjaan yang dikenal dengan nama Forum Shopping Center.
Kekasih Marvel sengaja pergi ke toilet, sebab dirinya mendadak sakit perut. Ia tak tahan jika harus menahan lebih lama lagi keinginannya untuk membuang kotoran dalam tubuhnya.
Wanita itu mencuci tangannya setelah menyelesaikan aktivitasnya. Tas dan papperbag belanjaannya ia taruh di Samping wastafel.
"Nona, sepertinya ponselmu bergetar." Seorang wanita yang kira-kira usianya sudah memasuki kepala tiga itu memberitahukan pada kekasih Marvel. Ia mendengar ada bunyi yang tak terlalu kencang seperti gerakan ponsel di marmer pelapis wastafel, suara itu ia yakini dari dalam tas. Tadinya ia mengira itu adalah miliknya, ternyata setelah ia cek, ponselnya tak menunjukkan ada tanda-tanda panggilan masuk.
Kekasih Marvel menengok ke samping menatap wanita yang berbicara padanya tadi. "Oh, iya. Terima kasih atas informasinya," balasnya dengan senyuman ramah. Kemudian ia mengeringkan tangannya yang masih basah terlebih dahulu.
Jemari lentik yang biasa ia gunakan untuk bekerja itu meraih tasnya. Ia mengambil ponselnya yang berada di paling bawah tas dan mengecek siapa yang menghubungi dirinya.
"Marvel?" gumamnya. Ia lupa tak mengabari kekasihnya jika sedang berada di toilet. "Pasti dia mencariku."
Wanita bertubuh sintal itu berniat ingin menelepon balik Marvel, namun layar ponselnya sudah kembali menunjukkan nama sang kekasih. Tanpa berlama-lama lagi, ia memencet tombol hijau dan menempelkan benda canggih itu ke telinganya.
"Halo, Marvel," sapanya dengan suara lembutnya.
"Kau di mana? Aku sudah di tempat parkir, tapi kau tak ada," tanya Marvel. Suara beratnya terdengar jelas di telinga sang kekasih.
"Aku di toilet. Tunggu di sana, aku akan segera datang," sahut kekasih Marvel.
Panggilan telepon itu pun diputus sepihak oleh wanita yang usianya sama dengan Marvel. Ia meraih tas dan belanjaannya. Mengayunkan kakinya untuk keluar dari toilet.
Kakinya yang terbalut high heels boots terdengar mantap hentakannya. Tubuh semampainya yang indah berlenggak lenggok layaknya seorang model profesional. Untuk menuju tempat parkir yang ada di basement, ia harus turun menggunakan lift terlebih dahulu.
Telunjuknya memencet tombol lift, wanita itu menunggu pintu terbuka. Namun, ia sangat sebal mendengar ada seseorang yang memanggil dirinya. Bukan tak suka jika ada orang yang mengenalinya, tapi ia tak suka dengan si pemilik suara itu.
"Hi," sapa pria bernama Alexis. Ia tak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenal setelah selesai membeli minuman beralkohol dan buru-buru ia mendekat. Tubuhnya ia sandarkan di tembok, matanya menatap penuh kekaguman melihat penampilan wanita yang dulu ia tinggalkan itu.
Kekasih Marvel hanya membalas dengan mengangkat sudut bibirnya sinis, ia malas meladeni orang itu.
"Makin cantik saja, kau. Setelah putus dariku, ternyata hidupmu lebih bahagia, ya?" Alexis mencolek dagu sang mantan dengan genit.
Tangan lentik itu menepis tangan Alexis dengan kasar, ia tak suka dengan pria kurang ajar itu. Tepat saat pintu lift terbuka, ia langsung masuk.
"Tentu saja aku lebih bahagia, lepas dari pria perhitungan, genit, dan kasar sepertimu sungguh membuat hatiku lega," cibir kekasih Marvel setelah ia masuk ke dalam lift dan membalikkan badannya untuk memencet tombol lokasi tujuannya, hingga ia bertatapan dengan mantan kekasihnya.
Alexis sungguh tak terima, ia tak suka jika mantan kekasihnya baik-baik saja. Ia memutuskan wanita yang kini menjadi kekasih Marvel karena pekerjaan wanita itu jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan dirinya. Ia tak suka disaingi, apa lagi oleh seorang wanita. Ia seakan terinjak harga dirinya jika memiliki pasangan yang karirnya lebih mapan.
Alexis memutuskan sepihak dengan harapan wanita itu akan menyesal tak menuruti keinginannya agar berhenti bekerja. Namun, ternyata dugaannya salah. Mantannya itu justru tak merasa kehilangan dirinya.
Satu langkah saja, Alexis sudah berada di dalam lift bersama sang mantan. Ia menatap tajam wanita yang tak pernah mau menuruti ucapannya itu. Wanita yang berpendirian teguh jika masalah pekerjaan.
"Kau pasti menjual dirimu pada bosmu itu, kan? Hingga karirmu semakin menanjak," tuduh Alexis sembarangan. Ia ingin memancing emosi mantan kekasihnya.
"Jaga bicaramu. Jika kau merasa karirmu tersaingi olehku, sebaiknya kau berusaha untuk membenahi kekuranganmu, bukan menuduh orang sembarangan," balas kekasih Marvel, ia mencoba tetap tenang dan tak terpancing emosinya.
Ting!
Lift berbunyi, menandakan sampai ke lantai tujuan diikuti terbukanya pintu berbahan stainless itu.
Tanpa basa-basi, wanita itu langsung melangkahkan kakinya dengan anggun menuju mobil Marvel berada. Ia malas berlama-lama bersama mantannya.
Tapi, Alexis tetap mengikutinya. "Hei ... berapa bosmu membelimu? Sepertinya hargamu sangat mahal, ya? Kau kan belum aku cicip. Tapi, aku tak masalah mendapatkan bekas orang lain. Asalkan itu tubuhmu."
Pria itu sungguh tak gentar ingin membuat mantannya marah. Bahkan jika perlu hingga memukuli dirinya sampai babak belur, agar ia bisa mengkasuskan mantan kekasihnya ke pihak berwajib. Ia ingin mantannya merasakan setidaknya kesulitan setelah lepas darinya.
Namun, sang mantan tetap diam. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa menanggapi Alexis yang ia anggap gila.
Decakan sebanyak tiga kali keluar dari bibir Alexis. Ia berjalan mundur di depan sang mantan. Ia kesal, mantan kekasihnya masih saja terlihat tenang. "Seharusnya kau membagiku hasil jual dirimu, karena aku belum mencoba tubuhmu hingga kau bisa mendapatkan harga yang tinggi." Ia tak gentar dan terus mengoceh. "Atau, kita bermain sekarang di sini. Sepertinya akan seru," lanjutnya.
Kekasih Marvel itu menghentikan langkah kakinya. "Kau bisa diam atau tidak? Ocehanmu sungguh tak berbobot! Pantas saja kau tak pernah naik jabatan, karena pemikiranmu pun sangat sempit," hinanya. Ia membalas mantannya dengan nada bicaranya yang tegas. Semakin didiamkan, Alexis justru semakin kurang ajar.
Alexis bertepuk tangan, bibirnya menyeringai. "Wah ... wah ... wah. Rupanya ada Nona sok pintar di sini." Ia sedikit membungkukkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah mantannya. "w************n sepertimu tak pantas menasehatiku." Seringai mengerikan tercetak di wajahnya, ia semakin maju ke depan hendak mencium mantan kekasihnya.
Habis sudah kesabaran kekasih Marvel, ia melayangkan tamparan yang sangat kuat di wajah mantannya. "Jangan kurang ajar!" serunya. Ia langsung berlari agar segera sampai ke mobil Marvel yang terparkir di ujung basement.
Alexis pun ikut mempercepat langkahnya untuk mengejar. Ia tak ingin melepaskan mantannya hingga wanita itu setidaknya merasakan penderitaan. "Jangan takut, Sayang. Aku juga bisa memuaskanmu," teriaknya.
Suara pertemuan heels dengan lantai itu menggema di basement, membuat Marvel penasaran. Ia yang menunggu di samping mobil pun merubah posisinya menjadi di belakang mobil untuk melihat suara gaduh apa itu.
"Debora?" panggil Marvel. "Kenapa kau berlari?"
Wanita yang dipanggil itu berdiri di samping kekasihnya dengan napas terengah-engah. Ia belum bisa menanggapi Marvel, karena tengah menstabilkan diri.
Tangan Marvel langsung melingkar di pundak sang kekasih. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya lagi seraya tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik nan anggun.
Sementara itu, Alexis yang kalah cepat berlari pun berhenti. Ia mendengus saat melihat betapa perhatiannya Marvel pada mantan kekasihnya. "Cih! Ternyata benar kau menjadi simpanan seorang bos," gumamnya. Ia tahu siapa Marvel, pemegang kekuasaan tertinggi di Triple G Corp.