"Apa dia yang mengganggumu?" Marvel mengajukan pertanyaan lagi pada kekasihnya. Ia menatap Alexis yang masih berdiri dengan santai seraya kedua tangan pria itu dimasukkan ke dalam saku celana, seolah tak pernah melakukan apa pun pada kekasih Marvel.
"Hm." Kekasih Marvel mengangguk sekilas. "Hanya orang gila yang tak suka dengan kehidupan orang lain," imbuhnya menjelaskan. "Biarkan saja, lebih baik kita pergi dari sini. Kita sama saja gila jika meladeni orang seperti itu," ajaknya kemudian. Ia tak ingin Marvel ribut dengan mantannya.
Ajakan tersebut membuat Marvel mengurungkan niatnya untuk mendatangi pria berwajah angkuh yang seperti menantang dirinya. Tadinya ia ingin menegur dan memperingatkan pria itu agar tak mengganggu kekasihnya lagi. "Ya sudah, ayo." Ia dan kekasihnya pun berbalik badan, tangannya merangkul pundak sang kekasih untuk menuntun menuju sisi samping mobilnya.
Alexis tak terima dirinya diabaikan. Ia menyeringai, terbesit sebuah ide licik di pikirannya. "Hei, Bos Besar Triple G Corp!" serunya dengan nada suara menantang. "Apa selera wanitamu serendah itu? Mau saja kau dirayu dengan w************n seperti dia," hinanya dengan sengaja.
Alexis ingin memancing amarah Marvel. Jika ia babak belur, ia bisa mengancam akan membawa ke ranah hukum hingga ia mendapatkan kompensasi uang.
Tepat, Marvel yang sedang membukakan pintu mobil untuk kekasihnya pun menengok ke arah pria yang tak ia sukai. Perangainya sudah jelek di matanya sejak pertama kali melihat Alexis.
Marvel melepaskan tangannya dari pintu mobil, ia mengepal di bawah sana. Matanya tajam menghunus pria yang berkata seenaknya itu. Ia tak suka ada orang yang merendahkan diri orang lain. Apa lagi yang dihina adalah kekasihnya.
"Mau ke mana?" Kekasihnya memegang tangan Marvel yang sudah melangkahkan kakinya. Ia menghentikan sang kekasih agar tak terpancing emosi Alexis.
"Memberi pelajaran pada pria bermulut sampah seperti dia," sahut Marvel tanpa menatap lawan bicaranya. Tangannya menunjuk Alexis yang kian mendekat.
Memang gila, Alexis justru semakin menantang Marvel. Ia memberikan isyarat menggunakan tangannya agar Marvel maju ke depan. "Ayo, hajar aku jika kau mau memberiku pelajaran," tantangnya dengan sombong. "Asal kau tahu saja. Wanita yang sedang bersamamu itu sengaja menjual dirinya pada bos besar demi menaikkan karirnya. Jika kau sudah tak dibutuhkan, pasti dihempas juga." Ia semakin mencoba menyulut emosi.
Marvel tak percaya dengan semua ocehan Alexis. Ia tahu betul siapa kekasihnya. Ia tak mungkin salah memilih pasangan. Bahkan ia memilih wanita yang masih memegangi tangannya itu sebagai kekasihnya pun dilakukan dengan penuh pertimbangan. Kekasih Marvel adalah wanita yang mandiri, cerdas, tak mudah terprovokasi, dan pekerja keras. Ia sangat kagum dengan beberapa kepribadian wanita itu. Namun ada juga yang ia kurang suka, terlalu mandiri hingga ia sering merasa tak dibutuhkan.
"Lepas, biarkan aku menghajar pria tak berguna seperti dia." Marvel mencoba mengendurkan tangan kekasihnya yang sangat kencang memegangi pergelangan tangan miliknya.
Wanita itu tak mau melepaskan. "Jangan kau ladeni. Dia sengaja memprovokasi dirimu agar terpancing emosi. Dia akan semakin senang jika orang lain termakan ucapannya," cegahnya.
Marvel menengok ke samping dengan sedikit menunduk untuk menatap kekasihnya. "Tapi dia keterlaluan, dia menghinamu," tolaknya.
Kekasih Marvel itu tersenyum lembut, kepalanya mendongak menatap kekasihnya yang begitu tinggi. Tangannya terulur ke atas, memberikan usapan lembut pada rahang Marvel. "Jangan siram api dengan bahan bakar, lebih baik siram api dengan air es. Kau akan rugi jika meladeni orang seperti dia," peringatnya.
Marvel menumpuk tangannya di atas tangan kekasihnya yang masih di pipinya. "Memangnya dia siapa? Bagaimana bisa kau bertemu orang seperti dia?" Suaranya yang tadi sempat terdengar marah kini perlahan melembut.
"Nanti aku akan ceritakan padamu," balas kekasih Marvel. "Lebih baik kita masuk mobil," ajaknya.
Marvel mengalah, ia menuruti perkataan kekasihnya. Lagi pula ada benarnya juga. Jangan membalas amarah dengan hal yang sama, karena masalah bukannya teratasi tapi akan semakin lebih rumit. Ibarat kobaran api disiram bensin, pasti kian besar.
Sepasang kekasih itu pun masuk ke dalam kendaraan roda empat yang bodinya mengkilap. Keduanya mengabaikan Alexis.
"Damn! Aku tak berhasil," umpat Alexis saat mobil Marvel mulai melaju. Tangannya menggebrak mobil yang ia jadikan sandaran hingga berbunyi.
"Sial!" Alexis segera berlari pergi saat ada suara teriakan dari sang pemilik mobil yang ia jadikan sasaran pelampiasan amarah itu datang membawa barang belanjaan yang cukup banyak. Ia tak ingin ditagih untuk ganti rugi.
Sementara itu, Marvel mulai menanyakan tentang pria yang tak ia kenal tadi. "Memangnya dia siapa? Kenapa dia seperti tak suka padamu?"
Wanita itu menarik napasnya terlebih dahulu, ia menghembuskan perlahan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Marvel. "Dia Alexis, mantan kekasihku." Ia pun menceritakan semua kejadian mulai dari alasannya diputuskan hingga kronologi yang terjadi pada saat ia keluar dari toilet tadi.
Ada perasaan bersalah di hati Marvel. Kekasihnya tak akan diganggu oleh sang mantan jika dirinya tak memerintahkan untuk pergi dahulu. "Maafkan aku, seharusnya tadi aku tak memintamu untuk meninggalkanku dengan Delavar," sesalnya. Ia membelai lembut rambut kekasihnya.
"It's okay, lagi pula aku bisa mengatasinya." Ada senyuman yang terlukis indah untuk Marvel.
Tangan Marvel kembali memegang stir kemudi dan fokus melihat jalan raya. "Barang belanjamu habis berapa? Biar aku ganti semuanya."
"Tidak perlu, ini semua kebutuhanku. Jadi, sudah sewajarnya aku menggunakan uang pribadiku," tolaknya dengan halus.
"Aku pria, dan aku kekasihmu. Wajar jika aku membayar semua tagihanmu." Marvel masih teguh dengan keinginannya. "Lagi pula, aku senang jika wanita bergantung padaku. Walaupun aku tahu kau wanita yang mandiri," imbuhnya memberitahu sedikit kriteria yang dia inginkan.
Kekasih Marvel memiringkan duduknya dan menatap pria pengisi hatinya. "Jika kau ingin aku menjadi wanita yang bergantung padamu, maka nikahi aku," tegasnya.
Marvel menghentikan mobilnya tepat saat lampu rambu lalu lintas menunjukkan warna merah. Ia pun menatap ke kanan di mana kekasihnya duduk. "Suatu saat, jika waktunya tiba, aku pasti akan menikahimu." Entah, untuk saat ini ia masih belum yakin mengajak kekasihnya ke tingkat hubungan yang lebih serius.
Kekasih Marvel itu tak menanggapi lagi, ia cukup tersenyum saja. Ia tak ingin berharap lebih dengan Marvel, takut kecewa jika harapannya tak sesuai kenyataan. Untuk saat ini, ia akan menikmati masa-masa indah berkencan.
"Menunduk," pinta Marvel. Tanpa menunggu jawaban, tangannya memaksa kepala kekasihnya agar merendah hingga tubuh wanita itu tak bisa terlihat dari luar. Tangan satunya ia gunakan untuk melambaikan tangan ke luar menyapa seseorang yang ada di mobil sebelahnya. Kakinya langsung menancap gas secepat mungkin untuk menghindari mobil tadi setelah lampu hijau menyala.
"Kenapa?" tanya kekasih Marvel heran. Ia merapikan rambutnya dan duduk normal lagi.
Marvel tersenyum. "Maaf." Ia tak ingin menjelaskan apa pun.
Sementara itu, Deavenny yang tadi sempat sekilas melihat bayangan seorang wanita di dalam mobil sepupunya masih kukuh berdebat dengan Delavar. "Sungguh, aku melihat Marvel bersama seseorang."
Ya, orang yang dilihat Marvel adalah Deavenny. Kedua sepupunya juga keluar dari pusat perbelanjaan tak lama setelah mobilnya melaju, sehingga jarak kendaraan keduanya tak terlalu jauh.
"Mana ada, aku hanya melihatnya sendirian," elak Delavar. Ia memang menengok saat kekasih Marvel sudah menunduk.
"Ck! Kau itu, aku tak membual. Aish ... siapa kira-kira wanita itu? Apa jangan-jangan Marvel sudah punya kekasih?" Deavenny melengkungkan bibirnya cemberut. Tangannya membentuk hati di d**a dan ia pisahkan. "Retak hatiku jika dia memiliki wanita di sisinya," keluhnya.
Namun seketika ia kembali ceria. "Eits ... mana mungkin Marvel memiliki kekasih. Hidupnya saja untuk bekerja terus dan tak ada waktu untuk berkenalan dengan wanita," ujarnya percaya diri.
Delavar bergeleng kepala, ia membiarkan kembarannya mengoceh sendirian. Namun ia terus memikirkan tentang Marvel yang dia anggap aneh.