Triple D Family

1078 Words
Kendaraan roda empat itu mulai memasuki halaman luas mansion milik Danesh, saudara kembar Deavenny juga, anak yang lahir pertama di keluarga Dominique. Hunian megah mulai terlihat. Delavar sudah memarkirkan mobilnya di depan pintu dan menyembulkan badannya keluar diikuti oleh Deavenny. "Masa kau tak percaya denganku? Di dalam mobil Marvel ada wanita." Deavenny masih tak berhenti mengoceh tentang sekelumit bayangan yang ia lihat tadi. Ia berjalan beriringan dengan Delavar, memasuki bangunan yang berdiri kokoh dan bergaya elegant. "Tidak, mungkin hanya halusinasimu saja. Jika ada, pasti saat aku menengok ke mobilnya pun akan melihat juga," balas Delavar yang tangannya penuh membawa belanjaan. Ia tetap fokus berjalan ke depan tanpa menengok Deavenny. "Biar saya bawakan barangnya, Tuan." Seorang pelayan yang melihat Delavar membawa papperbag berukuran besar itu menawarkan bantuan. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri," tolak Devalar. Ia tak ingin merepotkan pelayan di mansion Danesh dengan hal kecil yang bisa ia lakukan sendiri. "Kau kerjakan yang lain saja," imbuhnya. Lalu ia kembali fokus mendengarkan kembarannya. "Ish ... kau itu seharusnya percaya denganku, mataku kan masih normal," protes Deavenny. Bibirnya manyun ke depan, bahkan Delavar sangat gemas melihatnya. "Matamu memang normal, tapi otakmu yang tak normal," kelakar Dariush yang baru saja keluar dari arah dapur dan berpapasan  dengan dua saudaranya yang berjalan menuju taman belakang. Ia tak sengaja mendengar percakapan kembarannya itu, bibirnya langsung otomatis mengejek si bungsu. "Sialan, kau pikir aku gila," gerutu Deavenny menimpuk Dariush menggunakan tangannya. "Aku tak mengatakan kau gila, tapi kau sendiri yang merasa," seloroh Dariush. Lidahnya menjulur mengejek wanita berpiyama kuning itu. "Hiyuh ... jangan dekat-dekat dia, nanti kita tertular gilanya," kelakar Delavar ikut bercanda. Ia sedikit menjauh dari Deavenny dan beralih berdiri di dekat Dariush. Deavenny berpura-pura mencakar udara seraya meraung seperti harimau. "Aku gila, dan aku akan memakan kalian." Ia mulai mendekati Dariush dan Delavar. Namun, kedua pria itu sudah berlari untuk menghindar. Ketiganya pun saling kejar-kejaran menuju arah taman belakang. "Itu bukan gila, bodoh. Tapi kanibal," teriak Dariush disela larinya. Ia berlari mundur dengan menghadap ke arah Deavenny. Delavar tertawa dengan kelakaran Dariush. "Sejak kapan adik kita itu pintar," sahutnya ikut mengejek. Ia meletakkan asal papperbag yang ia bawa agar lebih mudah berlari cepat. "Awas, kalian. Jika tertangkap olehku, aku akan mengapit kepala kalian berdua di ketiakku yang belum merasakan segarnya air, sabun, dan deodoran." Deavenny semakin menaikkan ritme berlarinya. Tapi Dariush dan Delavar tak kalah cepat juga langkahnya. Keluarga Dominique memang sering mengejek satu sama lain. Tidak ada yang sakit hati jika diejek. Itu adalah salah satu bentuk kedekatan keempat sauadara kembar itu. Ya, Deavenny terlahir kembar empat dari pasangan pebisnis sukses di Eropa yaitu Drake Davis Dominique dan Diora Doris Dominique. Keluarga itu memiliki sebutan lain yaitu Triple D Family, karena seluruh anggota keluarga menggunakan nama dengan inisial tiga D. Mulai dari kedua orang tuanya, hingga empat kembaran itu. Dariush, Delavar, dan Deavenny menginjakkan kaki mereka di taman belakang. Di sana sudah ada kedua orang tuanya yang duduk di sofa dengan masing-masing memangku dua bayi mungil. Ketiganya masih saling mengejar.  "Kalian itu kenapa?" tanya Daddy Davis. Kepalanya bergeleng melihat tingkah laku anak-anaknya. "Mereka mengejekku, Dad. Aku ingin memberi mereka pelajaran. Tolong bantu aku menangkap dua anakmu yang tengil itu," jawab Deavenny sedikit berteriak, seraya tangannya menunjuk dua kembarannya. Daddy Davis terkekeh dengan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. "Kenapa kau susah-susah mengejarnya sendirian? Minta saja bantuan pada bodyguardmu," cetusnya memberikan ide pada si bungsu. Deavenny pun menghentikan langkahnya. Napasnya terengah-engah. Tangannya menepuk jidatnya sendiri. "Oiya, aku lupa dengan dua cecunguk yang selalu mengekoriku." Wanita itu sungguh tak ingat jika sedari tadi ada mobil yang mengikuti kendaraan milik Delavar. Itu adalah bodyguardnya yang bertugas menjaga Deavenny dua puluh empat jam. Dan untungnya, saat kemarin wanita itu kabur, aksinya membius dua pria berbadan kekar itu tak ketahuan oleh Daddynya. Tentu saja berkat Marvel yang menjelaskan jika Deavenny keluar bersama sepupunya itu, dan Marvel juga yang menjamin keselamatan Deavenny di depan Mommy Diora serta Daddy Davis.  Deavenny mendekati dua bodyguardnya. "Tolong tangkap Dariush dan Delavar sampai dapat," perintahnya. "Baik, Nona." Dua pria kekar itu langsung berlari mengejar Dariush dan Delavar. "Hei ... kau curang," teriak Delavar pada Deavenny. Ia berlari dengan pola zig zag untuk mengecoh agar tak mudah tertangkap. "Yah ... beraninya minta bantuan." Dariush mengacungkan jari tengahnya pada Deavenny. "Aku tak peduli." Deavenny yang berdiri tenang itu menjulurkan lidahnya. Tangan kanannya ia angkat ke atas, sedangkan tangan kirinya menggulung lengannya. "Ketiakku sudah menanti," kelakarnya. Ia mengelus bagian tubuhnya yang belum merasakan deodoran di pagi hari, karena ia tak sempat. "Jorok ...!" seru Dariush dan Delavar bersamaan. Deavenny bersorak menyemangati bodyguardnya dalam menjalankan misi menangkap Dariush dan Delavar. Hingga akhirnya kembarannya itu tertangkap juga setelah sepuluh menit berlalu. "Ini, Nona." Bodyguard Deavenny menyerahkan Dariush dan Delavar tanpa melepaskan kuncian tangannya. Deavenny tersenyum lebar, ia berdiri di tengah-tengah antara Dariush dan Delavar. "Rasakan kesegaran ini," kelakarnya. "Ampun ... jangan lakukan itu. Kami bisa pingsan mencium bau ketiakmu." Delavar mencoba berkompromi dengan Deavenny. Ia tak bisa membayangkan bagaimana aroma milik kembarannya itu, karena ia langsung menyeret si bungsu pergi tanpa memberi waktu membersihkan diri. "Tidak ada ampun untuk kalian." Deavenny mengapit kepala Dariush di ketiak kirinya dan Delavar di sebelah kanan. Ia tertawa puas bisa membalas kembarannya yang mengejek dirinya. "Rasakan keharuman alami ini." Sementara itu, Danesh dan Felly yang baru saja keluar dari dalam mansion langsung duduk di sofa kosong dekat kedua orang tuanya. "Mereka kenapa lagi?" tanya Danesh. "Biasa, kembaranmu kan memang selalu seperti itu," jawab Mommy Diora. "Kau tak ikut bergurau bersama mereka? Kalian berempat kan jika satu jahil semuanya akan ikutan." "Tidak, rasanya sudah tak pantas aku melakukan hal kekanakan seperti itu. Anakku saja dua, dan ada istriku di sini," tutur Danesh. Ia duduk merangkul Felly, istrinya, dan mengecup pelipis wanita itu. "Bisa jaga image juga anakmu itu, My Love," ucap Mommy Diora. Ia menyenggol suaminya yang masih fokus memandangi kedekatan anak-anaknya. "s**t! Bau sekali ketiaknya," bohong Delavar, karena saat kepalanya diapit, ia tidak mencium bau tak sedap sedikit pun. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa yang masing kosong. "Parah ... jika Marvel tahu yang Deavenny lakukan pada kita tadi, pasti dia akan ilfeel," tambah Dariush. Ia ikut duduk di samping Delavar. "Enak saja bau, wangi." Deavenny yang duduk di samping Danesh itu mengendus kedua ketiaknya sendiri. "Kau mau membuktikannya?" tawarnya pada Danesh. Delavar memberikan isyarat kepada Danesh dan Dariush. Keduanya paham dengan tatapan mata itu. Plak! Plak! Plak! Tiga geplakan sekaligus dari Danesh, Dariush, dan Delavar mendarat di kepala Deavenny. "Menjijikkan," ejek mereka bersamaan. "s**t! Penyiksaan terhadap kembaran." Deavenny mengusap kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD