Danesh, Dariush, dan Delavar mengacak-acak rambut Deavenny bersamaan hingga berantakan. "Sorry, Girl," ucap mereka bersamaan. Kemudian ketiganya mengecup pipi si bungsu secara bergantian.
"Uw ... so sweet sekali kalian. Sini, ku ketekin lagi," canda Deavenny memperlihatkan ketiaknya.
Membuat ketiga pria tampan itu mundur memberi jarak dengan Deavenny. Dariush dan Delavar kembali ke tempatnya semula, serta Danesh semakin mendekati istrinya. Mereka juga berdecak dan bergeleng kepalanya merutuki tingkah si bungsu.
"Sudah mandi." Delavar tiba-tiba mengeluarkan suara dengan menunjuk dirinya sendiri hingga ia kini menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di area taman belakang itu.
Delavar mengucapkan kata yang sama secara terus menerus, namun dengan menunjuk Dariush, lalu bergantian Danesh, Felly, Daddy Davis, Mommy Diora, dan juga dua bayi munggil yang digendong oleh kakek neneknya.
"Belum mandi sendiri," celetuk Delavar menunjuk Deavenny.
"Yang penting aku tetap cantik," sahut Deavenny percaya diri. Ia mengibaskan rambut pirangnya yang belum disisir.
Danesh, Dariush, dan Delavar bersamaan menyeringai ke arah Deavenny.
"Mari kita mandikan dia," kelakar Dariush dengan nada tengilnya.
"Eits ... mau apa kalian." Deavenny langsung berdiri dari duduknya. Ia mengambil ancang-ancang untuk berlari.
"Memandikan adik bungsu kita yang paling pintar di dunia mimpi," seloroh Danesh. Ia melepaskan rangkulan tangannya dari sang istri.
"f**k, pasti kalian akan menjahiliku." Deavenny langsung mengayunkan kakinya untuk berlari. "Hei, kalian, tolong hadang kembaranku agar tak bisa menangkapku," perintahnya pada dua bodyguardnya.
Ketiga pria tampan itu mengejar si bungsu yang berlari, diikuti oleh bodyguard Deavenny yang mencoba menggagalkan aksi penangkapan itu.
Felly, Mommy Diora, dan Daddy Davis hanya menikmati keseruan kembar empat itu.
"Boleh aku merekam mereka? Sepertinya asik jika dijadikan film dokumenter keluarga," izin Felly pada kedua mertuanya. Ia masih belum berani melakukan seenaknya di keluarga sang suami. Meskipun keluarga Danesh sangat baik dan menerimanya dengan lapang d**a, namun tetap saja masih kurang nyaman jika melakukan sesuatu dengan seenaknya tanpa persetujuan.
"Tentu saja, lakukanlah jika kau senang." Mommy Diora yang menjawabnya. Ia tersenyum lembut pada menantunya itu.
Felly membalas dengan senyuman juga. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam seluruh kejadian di sana.
"Anakmu, My Wife. Katanya sudah tak ingin ikut menjahili, tapi sekarang dia yang paling cepat berlari menangkap Deavenny," ujar Daddy Davis menunjuk Danesh menggunakan dagunya.
Mommy Diora terkekeh, mengingat perkataan Danesh tadi yang mengatakan bahwa dirinya sudah tak pantas melakukan hal kekanakan. "Namanya kebiasaan, Dad. Kalau sudah biasa bergurau dengan kembarannya, pasti akan sulit meninggalkannya," terangnya.
Sementara itu, Deavenny berhasil ditangkap oleh Danesh karena Dariush dan Delavar bertugas mengecoh dua bodyguard si bungsu.
"Haha ... tertangkap juga, kau." Danesh membanggakan dirinya. Ia mengunci pergerakan adiknya dengan memeluk tubuh ramping itu dari belakang.
Dariush dan Delavar langsung mendekat. Keduanya tersenyum jahil ke arah Deavenny.
"Aku akan memegangi kakinya," cicit Delavar.
"Aku badannya," lanjut Dariush.
"Kalau begitu aku kepalanya," tambah Danesh.
Ketiganya membopong Deavenny dengan memegangi bagian tubuh yang tadi sudah disebutkan.
"Turunkan aku." Deavenny meronta, ia yakin akan terjadi sesuatu yang tak beres. "Kalian berdua, tolong bantu aku," pintanya menatap dua pria berwajah garang.
Bodyguard itu sudah mendekat ingin membantu nona mudanya yang setiap hari berada dalam pantauan mereka. Namun langkah keduanya berhenti saat Danesh bersuara.
"Jangan ikut campur urusan kami, kalian cukup diam saja. Atau, kalau kalian mau dipotong gajinya, lakukan saja perintah nona mudamu itu," ancam Danesh menyeringai. Ia tak sungguh-sungguh akan melakukan hal tersebut. Dia hanya tak suka jika kebersamaan itu diganggu.
"Maaf, Nona. Kami tak bisa membantu." Dua bodyguard itu diam di tempat. Mereka memilih mencari aman, sebab yang menggaji mereka adalah tiga pria yang tengah membopong Deavenny.
Deavenny hanya seorang wanita yang selalu dimanjakan oleh anggota keluarganya. Menjadi anak bungsu di keluarga kaya raya, ditambah ketiga kembaran yang menyayanginya memiliki otak cerdas semua, membuatnya tak perlu repot memikirkan masa depan keuangannya. Ia cukup memikirkan masa depan percintaannya dengan Marvel saja.
Byur
Danesh, Dariush, dan Delavar bersamaan menceburkan Deavenny ke dalam kolam ikan yang saat ini dipenuhi oleh hewan vertebrata tersebut.
"Selamat mandi bersama koi," ketiga pria tampan itu bersamaan berucap dan tertawa melihat Deavenny yang basah kuyup.
"f**k! Ini amis, s**t!" Deavenny mengumpat, tubuhnya menjadi bau tak sedap. "Kalian juga harus merasakannya." Ia mencoba menciprati kembarannya yang jahil semua.
"Tidak kena." Danesh, Dariush, dan Delavar berlari secepat kilat. Dan mereka menjulurkan lidah mengejek.
Deavenny mencoba keluar dari kolam ikan itu dibantu oleh bodyguardnya. Ia ingin memeluk kembarannya agar sama-sama merasakan amisnya air yang membuatnya basah.
"Deavenny ... mandi," perintah Daddy Davis. "Sudah cukup berguraunya," imbuhnya.
Deavenny mencebikkan bibirnya. "Kali ini kalian selamat karena Daddy." Ia pun menuruti perintah Daddy Davis. Kakinya mulai memasuki mansion.
Deavenny tak perlu repot meminjam pakaian Felly untuk berganti. Sebab, seluruh anggota Triple D memiliki kamar masing-masing yang memang disediakan oleh Danesh. Karena mereka sering berkumpul di mansion itu.
Dua pelayan wanita langsung berjalan menuju kamar Deavenny saat melihat nona moda itu menginjakkan kaki di dalam mansion. Mereka sigap menyiapkan air hangat dan juga pakaian ganti untuk majikannya. Memang tugas mereka melayani Deavenny ketika di mansion Danesh, khusus disiapkan oleh keluarga Dominique untuk si bungsu.
Selepas kepergian Deavenny, Delavar mengingat gelagat Marvel yang tadi menurutnya aneh. Ia ingin mengatakan hal itu pada keluarganya, selagi tak ada si bungsu.
"Kalian tahu tidak?" tanya Delavar belum selesai melanjutkan pertanyaannya.
"Tidak." Namun sudah dijawab terlebih dahulu oleh semua yang ada di area taman belakang mansion Danesh.
"Ck, aku kan belum ke intinya," gerutu Delavar.
"Ya sudah, kan tinggal kau lanjutkan saja," sahut Danesh dengan santai.
Delavar pun melanjutkan pernyataannya tadi. "Marvel memiliki kekasih, tadi aku sempat memergoki dia bersama seorang wanita."
Danesh, Dariush, Felly, Mommy Diora, dan Daddy Davis tak mengeluarkan suara. Mereka justru saling pandang satu sama lain.
"Memangnya kenapa jika dia memiliki kekasih?" celetuk Felly penasaran.
"Menurutku, hal itu justru bagus. Kita tak perlu memikirkan cara agar Deavenny berhenti menyukai sepupu kita itu," ucap Danesh.
Dariush ikut menganggukkan kepalanya. "Setuju."
"Ya ... tak masalah, sih. Hanya saja ada yang aneh saat tadi aku bertemu dengannya dan kekasihnya," balas Delavar.
"Aneh bagaimana maksudmu?" tanya mereka bersamaan.
Delavar pun menceritakan semuanya. Mulai dari permintaan Marvel untuk menyembunyikan hubungannya dari Deavenny, hingga tatapan mata Marvel yang terlihat berbeda pada si bungsu.
"Kalau penilaianku tak salah, sepertinya Marvel memiliki perasaan yang terpendam pada Deavenny," jelas Delavar mengutarakan isi hatinya.
"Sok tahu, sudah seperti paranormal saja kau itu, bisa membaca pikiran orang lain," kelakar Dariush. Ia melemparkan keripik kentang yang sedang ia makan.
"Sungguh. Jika dia tak menyukai Deavenny, untuk apa memintaku merahasiakan hubungannya?" balas Delavar seraya tangannya memasukkan keripik kentang yang jatuh di pangkuannya tadi ke dalam mulut.
"Tapi, jika dia menyukai Deavenny, untuk apa dia memiliki kekasih? Kenapa tak sekalian saja ia berkencan dengan si bungsu itu." Danesh mulai ikut mengeluarkan pendapatnya.
"Iya juga. Lalu untuk apa dia memintaku merahasiakan itu?" gumam Delavar menjadi bingung sendiri.
"Sudah, daripada kalian pusing dengan pemikiran masing-masing. Lebih baik kita tanyakan langsung pada orangnya, agar lebih jelas," tutur Daddy Davis menengahi kebingungan anak-anaknya.
"Nah, setuju," celetuk Dariush dengan menjentikkan jarinya.
"Bagaimana jika kita pertemukan dua keluarga sekaligus? Kita sidang dia bersama-sama," tawar Delavar.
"Boleh, sudah lama kita tak berkumpul dengan keluarga Giorgio." Mommy Diora langsung menyetujuinya.